
"Ana!", seru Nyonya Rima kegirangan. Ken, Nyonya Rima dan juga Tuan Dion masih berdiri di depan mobil yang akan mereka tumpangi. Mertuanya itu sangat senang melihat kedatangan Ana dan Sam dari arah dalam rumah sakit.
"Halo Bunda, Ayah!", Ana melambaikan tangannya kepada ibu dan ayah mertuanya dengan senyum ceria. Sedangkan pria yang berada di sebelah mereka kini sedang mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Hai, sayang!", dengan senyuman ceria tanpa dosa Ana menyapa suaminya yang kini sedang terheran-heran. Namun sebisa mungkin Ken menyembunyikan ekspresinya di depan semua orang. Ana langsung menyambar lengan Ken lalu memeluknya erat-erat. Suaminya itu menatap Ana dalam, meminta penjelasan dengan apa yang kini ada di hadapannya.
"Nanti aku jelaskan!", bisik Ana pelan di telinga Ken dibarengi dengan kecupan di pipinya.
"Ya, jelaskan! Atau kau akan mendapat hukuman!", balas Ken di telinga Ana. Sudah membuatnya bingung, istrinya ini malahan memancing raja singanya untuk makan. Lihat saja nanti malam, raja singa ini akan menelannya bulat-bulat.
"Sam, bagaimana bisa kau datang bersama dengan Ana?", tanya Tuan Dion pada putra bungsunya yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
"Aku juga penasaran, Ayah!", Sam menatap Ana penuh arti.
Ana yang ditatap seperti itupun berasumsi bahwa Sam belum sepenuhnya percaya padanya. Tapi sayangnya Ana tak peduli. Yang terpenting adalah tadi Sam tidak berhasil menemui Sarah lagi.
"Ana, bukankah tadi Ken mengatakan bahwa kau sedang ada urusan? Lalu mengapa tiba-tiba sekarang kau sudah berada di sini?", tanya Nyonya Rima sambil mengelus lembut punggung tangan Ana.
"Sebenarnya aku ingin memberi kejutan kepada Sam. Aku merasa bersalah karena tidak datang dua hari kemarin. Jadi hari ini aku berniat memberikannya kejutan dengan datang untuk menjemputnya. Tapi sayangnya, Sam lebih dulu melihatku saat baru keluar dari toilet. Benar begitu kan, sayang?!", Ana selesai menjelaskan kepada kedua mertuanya. Lalu ia tersenyum sangat ramah kepada suaminya.
"Ya, seperti itu! Ana mengatakan untuk tidak memberitahu siapapun. Jadi ya begitulah! Ia ingin memberi kejutan kepada Sam", Ken langsung paham dengan maksud dari senyuman istrinya. Karena Ana sudah berpesan tadi bahwa akan menemani Sarah pulang dari rumah sakit. Dan lagi tentang Sarah yang tak ingin bertemu dengan Sam, Ana juga sudah memberitahukannya kepada Ken.
"Terima kasih, sayang! Kau baik sekali!", puji Nyonya Rima seraya mengusap rambut Ana dengan penuh kasih sayang.
"Baiklah, ayo kita pulang!", ajak Sam malas pada yang lainnya. Jauh di dalam benaknya, ia masih menaruh curiga terhadap Ana. Kakak iparnya itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Saat dalam perjalanan, Nyonya Rima sempat mengangkat nama Sarah di antara perbincangan keluarga mereka. Hal itu langsung membuat Sam menatap Ana lekat-lekat.
__ADS_1
"Oh iya, Ana! Bagaimana kabar tentang Sarah? Bagaimana keadaannya sekarang?", semua mata mulai mengalihkan pandangan ke arah Ana. Menanti jawaban yang dapat memuaskan dahaga mereka akan informasi tentang wanita itu.
"Tidak tau, Bunda! Terakhir aku bertemu dengannya itu dua hari yang lalu saat aku melihat kekasih Sam yang genit itu datang", Ana melihat Sam yang berasa si kursi belakang melalui spion tengah. Ia menatapnya dengan tatapan sengit. Ia blak-blakan mengenai saudara tirinya itu di depan kedua mertuanya. Ana tidak takut berbicara seperti itu, toh memang benar apa yang dikatakannya. Ana tidak sedang mengada-ada saat ini.
"Hey, dia bukan kekasihku, kak! Setidaknya sudah bukan! Hehe!", Sam mengoreksi ucapan Ana mengenai wanita itu. Lalu ia mengggaruk kepalanya yang tak gatal karena merasa ucapannya terasa sama saja. Tak ada gunanya, bahkan media pun tau siapa wanita itu bagi Sam.
"Saat itu kondisinya jelas tidak baik-baik saja. Tapi setelah itu, aku tidak tau lagi. Karena Sarah seakan menghindari ku, Bunda. Dia bahkan tak mau menemuiku lagi!", Ana tertunduk dengan wajah sedih tak menghiraukan ucapan adik iparnya.
"Ohh sungguh kasihan, Sarah! Baru saja Bunda berniat untuk mengunjunginya. Bunda ingin sekali bertemu dengannya, Ana!", ujar Nyonya Rima dipenuhi ketulusan.
"Baiklah, Bunda! Nanti jika Ana sudah mendapat kabar tentang Sarah, aku akan mengajak Bunda untuk menemuinya", begini sajalah jawaban yang ia berikan. Hanya itu yang terlintas di otaknya. Tidak mungkin juga Ana menolak permintaan ibu mertuanya itu, akan tidak sopan menurutnya.
"Setuju!", ucap Nyonya Rima kepada menantunya itu.
"Bertemu Sarah?!", gumam Sam dalam hati.
"Tidak! Sarah seperti itu jelas karena dirimu. Lagipula itu entah kapan dan dimana keberadaannya saja aku tidak tau sekarang!", jawab Ana ketus pada adik iparnya itu. Ia harus menahan emosinya saat ini. Padahal dalam hati ia sudah sangat tidak sabar untuk memberinya hukuman karena telah menyakiti hati sahabatnya.
Sam yang mendengar hal itupun kembali membungkam mulutnya. Ia memilih melihat keluar jendela sambil matanya menerawang sesuatu. Iya, Sam sadar ini memang karena dirinya. Ini memang salahnya. Latar belakangnya yang merupakan seorang playboy tak dapat dengan mudah diterima oleh seseorang. Dan lagi Sam merasa ada masalah besar lainnya yang harus ia cari tau sendiri setelah ini.
Ken yang berada dia sebelah Ana pun melirik ke arah istrinya itu. Sambil mengemudikan mobil, tangan yang satunya ia gunakan untuk menggenggam tangan istrinya. Dari belakang pasangan ini terlihat begitu romantis. Tapi nyatanya, saat ini Ken tengah mengeratkan rahangnya sambil mempererat genggaman tangannya pada tangan sang istri.
Ken tersenyum penuh arti ke arah Ana. Yang disambut oleh senyuman juga. Namun tangan Ana berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya itu.
"*Berani ya berbohong pada orangtua ku?!", batin Ken sambil menatap Ana.
"Ayolah sayang, aku hanya membantu sahabat ku!", balas Ana memelas.
__ADS_1
"Jika tidak mau membantu, yasudah! Tapi jangan harap kau dapat jatah lembur malam, huh!", ancam Ana sambil berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Baiklah, sayang! Aku setuju!", Ken kalah*.
"Bunda, lihatlah kakak dan kakak ipar! Apa mereka tidak ada rasa empati sedikitpun terhadap pria yang sedang patah hati ini?!", Sam merajuk kepada Nyonya Rima sambil memeluk lengan ibunya itu.
"Sam, kau ini apa-apaan sih?! Lihat umurmu berapa saat ini? Apakah pantas kau masih manja seperti ini?! Pantas aja tidak ada yang mau menjadi istri seorang yang manja seperti dirimu!", Nyonya Rima berucap kesal sambil berusaha melepaskan tangan putra bungsunya yang melilit lengannya.
"Ada! Sarah pasti mau!", sahut Sam penuh percaya diri.
"Hey, kau jangan macam-macam ya! Perbuatanmu yang terakhir saja belum kuberi hukuman. Jadi jangan coba-coba dekati Sarah lagi!", Ana menoleh seraya mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Sam dengan wajah penuh emosi.
-
-
-
-
-
-
aku usahakan hari ini akan crazy up ya teman-teman 😉
jadi mohon dukungan kalian ya kasih like sama votenya jangan lupa, biar akunya makin semangat lagi buat menghibur kalian,, okeh 😘
__ADS_1