
Kenapa kakaknya itu selalu mengganggunya, sih?! Apa orang itu tidak ingat?! Saat momennya terganggu sedikit saja, bagaimana rupa kakaknya itu jika sudah marah?!
Sam kesal, kakaknya merusak momen romantis yang baru saja ia ciptakan ini. Wajahnya menghitam seperti pantat panci.
Adapun Ana di sebelah Ken melemparkan pandangan yang begitu mengejek pada sahabatnya itu. Bahkan ia juga sengaja tertawa kecil di depan Sarah, memprovokasinya.
"Selamat pagi, Tuan!", meskipun ia sama kesalnya dengan Sam, tapi Sarah masih menyempatkan diri untuk menyapa. Tatapannya kentara jengkel dengan tingkah ibu hamil di sebelah orang yang disapanya.
"Panggil kakak ipar saja! Sekarang kita ini keluarga!", meskipun dingin nada bicara Ken padanya, tapi Sarah tau jika ucapan orang itu tulus. Ia bisa menilai dari sorot matanya.
"Baik, Kak,,, Kakak ipar!", memang cukup canggung mengawalinya. Tapi ini lumayan juga menurut Sarah.
Ken dan Ana meninggalkan pasangan itu. Tidak menunggu respon lebih banyak lagi dari keduanya. Lagipula jika berlama-lama yang ada Sam akan mengoceh pada kakaknya, dan Sarah akan mengomel pada sahabatnya. Sungguh itu bukan sarapan yang mereka inginkan di pagi yang cerah ini.
"Jangan terus menggodanya! Kau sendiri bahkan melakukannya di pagi-pagi buta sampai kita telat begini!", Ana menegur suaminya yang terkadang suka tidak sadar diri.
"Tapi mereka tidak tau!", begitu saja Ken menjawabnya. Tanpa ekspresi dan mimik wajah yang nyata. Seakan tidak memiliki salah apa-apa.
Wah! Suaminya ini memang luar biasa! Sebenarnya siapa yang lebih tidak tau malu di antara kedua kakak-beradik itu?! Tentu saja mereka berdua sama saja. Tapi di sini Ken yang selalu menindas adiknya. Jadi sesekali Ana perlu mengingatkan hal itu. Suaminya ini memang kejam dan tidak pandang bulu.
Setelah Ken dan Ana bergabung dengan yang lainnya, lalu Sam dan Sarah pun datang. Tak perlu menunggu lama lagi, karena orang-orang yang mereka tunggu sudah ada di sini, jadi mereka bisa memulai sarapan pagi yang telat ini.
Diiringi dengan perbincangan ringan hingga ke yang paling berat, suasana meja yang memanjang itu terlihat sangat hangat. Bagi Nyonya Rima dan Tuan Dion, rasanya entah kapan terakhir kali mereka merasakan kehangatan keluarga seperti ini. Apalagi jika sudah ada cucu-cucu mereka di sini, pasti akan terasa sangat ramai dan riang. Kedatangan Ana dan Sarah memang membawa banyak perubahan di dalam keluarga mereka yang sebelumnya terkesan dingin dan membosankan.
Sepasang suami-istri senior itu saling berpandangan. Bergandengan tangan di bawah meja dengan senyum teduh dan tatapan penuh cinta. Kini keluarga mereka bahagia. Dan akan bertambah bahagia lagi saat cucu-cucu mereka nanti hadir ke dunia untuk menemani hari tua mereka.
***
__ADS_1
Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan senja pun mengiringi kepulangan seluruh keluarga yang kemarin baru saja melaksanakan perhelatan besar itu.
Seluruh keluarga, termasuk para pengantin memilih untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing. Sedangkan untuk pengantin baru, Sam dan Sarah, mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen milik Sam.
Meskipun baik Nyonya Rima maupun Ibu Asih sudah membujuk keduanya untuk tinggal di rumah salah satunya, tapi Sam tetap bersikeras untuk mengajak istrinya itu tinggal di apartemen miliknya.
Sarah bingung, tapi ia juga tidak bisa menolak keinginan suaminya. Karena bagaimanapun juga saat ini ia harus mengikuti kemana langkah suaminya pergi.
Para orang tua masih menginginkan kehadiran anak-anak itu di tengah mereka. Rasanya masih seperti mimpi melepas keduanya ke jenjang dimana mereka sudah harus menentukan kehidupan mereka sendiri. Para orang tua itu masih ingin menghabiskan beberapa waktu lagi dengan keduanya.
Tapi Sam berkilah, pria itu berhasil menenangkan hati para orang tua dengan alasan bahwa mereka tidak pergi kemana-mana, hanya berbeda tempat tinggal saja. Ia dan Sarah masih dapat mengunjungi orang tua mereka kapan pun waktunya. Lagipula memang masih ada satu hal lagi yang ingin ia lakukan dengann penuh privasi, agar dunia terasa hanya milik ia dan Sarahnya saja.
Yasudah, mau bagaimana lagi! Para orang tua pun tak bisa memaksakan kehendak mereka. Jadi Sam dan Sarah dibiarkan untuk mengambil pilihan mereka sendiri. Dan memang benar jika mereka masih tinggal di dalam kota yang sama. Jadi mereka masih dapat bertemu kapanpun untuk melepas rindu.
***
"Kita makan malam dulu, bagaimana?", tanya Sam pada Sarah di tengah perjalanan mereka yang terasa hening itu.
"Memangnya kau sudah lapar?", Sarah yang sejak tadi melihat keluar jendela pun menoleh ke arah suaminya itu. Wajahnya nampak berpikir.
"Aku belum lapar!", jawab Sam sambil menggelengkan kepalanya. Ekspresi wajahnya polos.
"Aku juga belum lapar!", Sarah menjawab sambil mengedikkan kedua bahunya.
"Tapi kau harus makan untuk mengisi tenagamu, Sayang!", mata pria itu mengerjap beberapa kali. Memasang wajah lugu.
Perlu waktu beberapa saat sampai akhirnya Sarah bisa mencerna maksud ucapan pria itu. Hingga akhirnya satu pukulan mendarat pada bahu suaminya itu.
__ADS_1
"Saamm!", seru wanita itu kesal.
"Iya,, ampun! Ampun!", pria itu berusaha menangkap tangan Sarah menghentikan kekerasan yang ia alami saat ini.
Tapi bukan sakit yang ia rasakan, melainkan rasa lega karena sudah mendengar suara istrinya kembali. Meskipun ia tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Sarah. Tapi Sam sudah merasa cukup bosan dengan kesenyapan yang sudah terjadi semenjak mobil ini melaju.
Baginya, lebih baik ia menghadapi Sarahnya yang luar biasa galak. Ketimbang ia harus menghadapi Sarah yang diam tanpa tau penyebabnya. Sebab Sam menjadi khawatir, takut-takut ia telah membuat kesalahan terhadap istrinya itu. Padahal dalam hati ia tidak ingin menyakiti istrinya sama sekali.
"Ini baru Sarah yang ku kenal!", ucapnya serasa tersenyum hangat setelah berhasil menangkap tangan istrinya itu.
Ia genggam jemari tangan wanita yang jarang memiliki kelembutan itu. Lalu ia kecup punggung tangannya. Meninggalkan bekas lembabnya cinta yang dimilikinya pada wanitanya itu.
"Tapi ucapanku serius bahwa kau memang harus benar-benar mengisi tenagamu!", Sam mengangguk kecil beberapa kali dengan tatapan seriusnya.
"Kau,,,!", Sarah berusaha menarik kedua tangannya. Rasanya ia ingin sekali memukul kepala pria yang sudah berganti status menjadi suaminya itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat sepasang pengantin baru itu sampai di apartemen. Akhirnya Sam memaksa Sarah untuk makan malam di sebuah restoran tadi.
Sam pikiri mau makan apa di apartemennya?! Sedangkan di lemari esnya saja hanya ada minuman kaleng saja. Tak ada bahan makanan sama sekali, karena ia tidak ahli bermain dengan satu pun perlatan dapur. Biasanya juga dia akan memesan makanan dari luar ataupun pulang ke apartemen dalam keadaan kenyang. Jika roti tawar dengan selai saja tentu ada. Itu makanan paling simpel yang bisa ia buat.
"Sepertinya besok kita harus rumahku!", ucap Sarah setelah meletakkan kedua koper miliknya dan juga milik suaminya di dalam walk in closet yang Sam miliki.
"Ada apa?", Sam yang sedang membuat dua cangkir coklat panas lantas melihat ke arah istrinya itu.
"Aku tidak membawa pakaian lebih. Hanya tinggal ini saja, karena ku pikir malam ini kita akan kembali ke rumah. Jadi aku tidak membawa banyak pakaian kemarin", wanita itu menerima secangkir coklat panas dari tangan suaminya lalu bersama mendudukkan diri di depan meja bar mini yang berada di hadapan dapur yang selalu bersih itu.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mengataknnya sejak tadi?! Jadi kita bisa mampir membeli beberapa di perjalanan tadi!", seru Sam seraya menyeruput minuman pekat yang masih mengepulkan asap itu.
"Tidak apa-apa! Masih ada, sih! Tapi ku rasa itu tidak bisa disebut dengan pakaian", pertama wanita itu tersenyum, lalu ia menoleh seraya menggerutu pelan saat mengingat masih ada beberapa gaun malam yang tipis di dalam kopernya itu. Tentu saja itu adalah berkat para sahabatnya yang mengesalkan itu. Huh!