
"Ana!", seru Ben dengan suara yang begitu lembut.
Perlahan Ana mengerjapkan matanya. Pandangannya saat ini masih kabur dan berkabut. Ia mengerutkan alisnya karena di saat yang bersamaan keningnya terasa nyeri dan begitu pening. Tangan Ana bergerak perlahan untuk menyentuh bagian keningnya yang terasa sakit. Dan mata wanita itu akhirnya terbuka sempurna setelah menyadari ada kain yang membebat di sana.
"Sisstt.. sakit!", gumamnya pelan.
"Hati-hati, Ana!", ucap Ben lembut dengan rasa khawatirnya.
Ana menoleh perlahan saat mendengar suara pria yang terasa tak asing baginya. Matanya membuka lebar setelah pandangan matanya saling bertemu dengan Ben.
"Kakak!", seru Ana lemah.
Ia berusaha untuk duduk dan mencerna semua yang terjadi, namun usahanya gagal karena sakit kepala hebat menderanya dengan tubuh yang masih begitu lemah. Ben segera membantu Ana untuk merebahkan tubuhnya lagi di ranjang itu. Ana memperhatikan ke sekitar ruangan tempatnya dirawat kini yang tak seperti ruangan rumah sakit pada umumnya.
"Aku dimana kak?", tanya Ana masih mengawasi keadaan sekitarnya.
"Kau ada di rumahku, Ana!", jawab Ben dengan tenang.
"Rumah?!", seru Ana sendiri sambil mengerutkan alisnya.
"Ken! Dimana Ken, kak?", tanya Ana terdengar sangat penasaran. Akhirnya ia ingat terakhir kali ia bersama dengan Ken dan mengalami sebuah kecelakaan.
"Ken dirawat di rumah sakit dan belum sadarkan diri", jawab Ben masih terdengar tenang.
"Lalu kenapa aku di sini, kak? Bukan di rumah sakit!", seru Ana lagi. Tapi kali ini tatapannya penuh selidik ke arah Ben.
"Karena... yang semua orang tau adalah bahwa kau sudah meninggal dunia, Ana", ucap Ben perlahan sambil mengelus kepala Ana dengan penuh rasa kasih sayang. Matanya berubah sendu menatap Ana saat ia harus menyampaikan kenyataan yang sebenarnya.
Ana mencengkeram tangan Ben yang masih ada di atas kepalanya, namun hal itu tidak menyakiti Ben sama sekali lantaran tenaga yang Ana keluarkan sangatlah kecil akibat kondisi tubuhnya yang baru saja siuman. Wanita itu menyingkirkan tangan Ben sambil memberi tatapan tajam ke arahnya.
"Meninggal?!", tanya Ana dengan nada tak percaya. Di dalamnya juga terselip nada kesal dan marah saat mendengar kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Atau semua ini memang adalah ulah kakak?", tuduh Ana. Dengan keras kepalanya, ia mencoba untuk mendudukkan diri dan memberi tatapan menusuk kepada Ben. Sejenak ia melupakan sakit yang ia rasa pada tubuhnya.
Relly baru saja masuk ke ruangan kamar itu dan sempat mendengar tuduhan Ana kepada Ben yang membuatnya makin bersalah kepada bosnya itu. Ditambah lagi bosnya itu masih diam dengan tenang, ia belum memberi jawaban apapun. Hal itu makin menyakiti hati nurani Relly.
"Katakan, kak?!", seru Ana setengah berteriak. Wajahnya telah memerah dengan emosi yang membuncah.
"Nona!", Relly berseru untuk menghentikan emosi Ana yang mulai meradang. Ia tak ingin bosnya jadi disalahkan atas hal ini.
Seketika Relly bersimpuh di samping ranjang Ana. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil terus membungkuk. Ia sedang meminta pengampunan atas kebodohan yang telah ia perbuat.
"Maafkan saya, Nona! Ini semua salah saya, Tuan Ben tidak tau apa-apa sama sekali. Justru Tuan yang telah menyelamatkan anda, Nona", iaa masih bersimpuh di sana tanpa mau menatap Ana maupun Ben di sana.
"Apa maksud ucapanmu?", tanya Ana dingin.
"Saya telah dibodohi oleh wanita licik bernama Joice Alexander. Wanita itu mendekati saya agar bisa mendapatkan bantuan untuk mencelakai anda, Nona. Dia tidak pernah menyebutkan siapa sebenarnya target yang ia tuju sejak awal. Dia tau bahwa saya menyukainya, jadi dia memanfaatkan saya untuk melancarkan semua keinginannya".
"Saya mengetahui nama Nona yang menjadi targetnya sesaat setelah rencana terakhir di jalankan. Dan Tuan Ben mengetahui hal itu. Taun sangat marah kepada saya, tapi Tuan lebih khawatir kepada anda, Nona. Saya sangat menyesal karena tidak mengetahui hal ini sejak awal. Saya tidak mungkin sengaja mencelakai Nona. Saya tau bahwa Tuan sangat menyayangi Nona Ana, jadi saya tidak mungkin mengkhianati Tuan. Segera setelah mengetahui hal ini, kami bergegas untuk menyelamatkan anda, Nona", tutur Relly dengan penuh penyesalan.
"Itu adalah rencanaku! Hanya dengan begitu kita bisa membalas mereka satu persatu dan tanpa tersisa. Aku ingin menghancurkan mereka hingga ke sumsum tulangnya!", seru Ben penuh amarah.
"Tapi kak.. ayah.. Ken.. ", ucapan Ana tertahan. Dalam hatinya, ia membenarkan apa yang Ben ucapkan. Tapi ia juga tak menampik bahwa saat ini Ana sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya dan juga Ken yang pasti sangat terpukul atas berita duka yang mereka terima.
"Orangku berjaga di sekitar ayah Danu dan kekasihmu itu. Segera setelah kau membaik kita akan melihat keadaan mereka. Dengan samaran tentunya", jelas Ben.
"Dan sementara kau harus banyak belajar untuk mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu. Bram, si rubah tua itu juga harus mendapat apa yang sudah seharusnya ia terima", kali ini Ben meluruskan pandangannya ke depan. Matanya menyipit, menatap udara dengan amat tajam.
"Baiklah!", ucap Ana akhirnya menyetujui penuturan rencana yang telah Ben atur untuknya.
# FLASHBACK OFF
"Kau akan sakit jika seperti ini!", Ben merentangkan selimut yang sengaja ia bawa untuk membalut tubuh Ana sehingga melindunginya dari terpaan angin yang lumayan kencang.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, kak! Terima kasih!", ucap Ana pelan seraya mengambil alih rengkuhan selimut pada tubuhnya itu. Ia memeganginya dengan erat supaya tak terlepas.
"Maafkan aku, Ana!", ucap Ben yang sudah bersandar pada pinggiran balkon dengan kedua tangannya sebagai sanggahan. Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Tak ada yang perlu dimaafkan, kak! Semuanya sudah takdir yang Tuhan tentukan", ucap Ana tenang dan kembali bersandar pada pinggiran balkon itu. Menghadap ke arah yang sama dengan Ben.
"Tapi ayah Danu ...", Ana langsung memotong ucapan Ben.
"Mungkin ayah memang sudah lelah, kak!", Ana tak ingin membuat Ben merasa bersalah atas kondisi dan situasi yang terjadi kini.
"Kau tau, Paman Reymond pernah berkata bahwa ayah sudah sangat lelah dan ingin sekali menyusul ibu ke sana", ucap Ana riang. Kali ini ia menghadapkan dirinya ke arah Ben yang masih terdiam.
"Paman bilang, bahwa saat ini adalah waktunya bagiku. Sekarang adalah pertempuranku, kak! Aku juga tidak ingin lagi membebani ayah dengan masalah ini, kak", ucap Ana tenang seraya memegang lengan Ben lembut.
"Jangan merasa bersalah lagi, oke!", ucap Ana sambil tersenyum ke arah Ben yang sedang menoleh ke arahnya.
"Kau memang adikku!", Ben mengacak-acak rambut depan Ana seraya tersenyum.
"Bersiaplah, besok kita akan mulai pertempuranmu", ucap Ben kembali menatap lurus ke depan. Wajahnya menyimpan begitu banyak rencana yang tak dapat Ana tebak satu persatu.
Ana tak menjawab ucapan Ben, namun matanya menyiratkan sebuah antusiasme yang tinggi untuk membalas mereka semua yang telah membuat hidupnya seperti ini.
"Joice Alexander! Aku akan membuat perhitungan denganmu!", batin Ana penuh ambisi.
***
Sudah tiga hari semenjak kepergian mendiang Tuan Danu. Rumah mewah itu nampak sepi. Hanya para pelayan yang sibuk dengan kegiatan sehari-hari mereka. Tak ada lagi tuan mereka yang biasanya sedang korannya, dan tak ada lagi celoteh riang dari putri kesayangannya itu. Majikan mereka yang amat baik tentu saja memberi kesan tersendiri terhadap diri mereka masing-masing.
Bi Rani tengah mengelap beberapa pajangan di ruang tamu. Tangannya mengarah pada bingkai foto dimana terdapat foto mendiang Tuan Danu beserta Ana sedang bertamasya di taman ria sewaktu Ana masih sekolah. Dan matanya mengarah pada bingkai foto lainnya yang menunjukkan deretan foto-foto Ana dari kecil hingga dewasa. Tanpa terasa air matanya tumpah dan jatuh tepat pada bingkai foto yang sedang ia pegang. Kesedihan yang mendalam ia rasakan, bagaikan kehilangan keluarga sendiri.
"Selamat siang, Nyonya!", sebuah suara berasal dari ambang pintu rumah besar itu.
__ADS_1
Bi Rani menyeka air matanya sebelum menoleh ke arah sumber suara yang nampak tak asing baginya.