
"Tidak apa-apa, Nona! Saya sudah mengatakan kepada yang lainnya untuk mengikuti Nona Sarah. Mungkin Nona Sarah hanya malu saja!", pengawal itu tersenyum. Dan penjelasannya berhasli menenangkan Krystal.
Wanita itu duduk kembali. Benar juga apa yang pengawal itu katakan padanya. Sarah pasti malu makanya tidak mau diikuti oleh pengawal. Dirinya mungkin terbiasa, tapi wanita itu, Sarah bukan dari kalangan seperti dirinya. Menghadapi situasi seperti ini mungkin masih canggung baginya. Jadi biarkan Sarh beradaptasi pelan-pelan saja.
"Baiklah! Pastikan keselamatannya, jangan samapi kalian lengah!", wajah Krystal sudah agak santai sekarang. Ia menaikkan kedua alisnya lalu menikmati cocktailnya lagi.
***
Sarah sudah menuntaskan hajatnya. Kini ia sudah keluar dari toilet. Dan berniat untuk kembali menemui Krystal lagi lalu mengajak sahabatnya itu untuk pulang saja.
Yang pertama, tujuannya sudah selesai, karena memang tujuannya ke sini adalah untuk sekedar berbasa-basi dengan Manajer Toni mengenai pengunduran dirinya.
Yang kedua, karena menurut Krystal situasinya belum bisa dipastikan, maka ada baiknya jika mereka pulang saja demi menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan.
Tapi baru berjalan beberapa langkah, tangannya sudah ditarik paksa oleh seseorang. Sarah yang tidak siap pun hanya bisa pasrah tubuhnya terbawa tarikan itu hingga berputar. Hingga akhirnya tubuhnya berhenti di dalam pelukan seorang pria.
Kepalanya terasa pusing untuk beberapa saat akibat putaran dadakan itu. Namun kemudian wangi parfum maskulin yang familiar menyeruak ke dalam hidungnya.
"Sam!", Sarah berseru pelan saat ia sudah mengangkat wajahnya untuk memastikan wajah seseorang ini.
"Sarah, apa kau baik-baik saja?", pria itu melonggarkan pelukannya untuk menilai kondisi wanitanya itu saat ini dengan wajah sangat khawatir.
"Kenapa kau bisa ada di sini, Sam? Bukannya tadi kau bilang sedang banyak pekerjaan?", Sarah malah melemparkan pertanyaan balik pada pria itu.
__ADS_1
"Kau bohong, ya! Kau datang ke sini untuk bersenang-senang dengan wanita lain, kan?!", melihat pria itu hanya diam saja, Sarah menjadi kesal.
Ia mendorong tubuh Sam dengan keras sehingga di antara mereka berdua kini tercipta sebuah jarak.
Padahal bukan begitu maksud Sam. Pria itu tengah menilai kondisi calon istrinya itu saat ini. Apakah ada yang kurang atau ada yang tidak benar dengan tubuh istrinya itu. Setelah mengetahui bahwa Megan ada di sini, ia tak dapat berhenti khawatir mengenai Sarah. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanitanya itu dan segera mengetahui kondisi pastinya.
# FLASHBACK ON
Tadi itu Sam baru saja menyusuk kakaknya yang sangat lama berada di toilet. Lalu saat ia akan keluar, tanpa sengaja ia melihat Sarah melewatinya yang masih berada di dalam ambang pintu toilet itu. Segeralah ia keluar untuk mengetahui tujuan wanita itu. Lalu hatinya merasa lega ketika wanita itu masuk ke dalam toilet di sebelahnya, toilet wanita.
Sam hampir saja kesal karena tidak ada satu pengawal pun yang menjaganya saat ini. Padahal ia sudah mengerahkan begitu banyak pengawal untuk menjaga calon istrinya itu. Jadi untuk apa mereka sebenarnya digaji?!
Ia sudah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang yang ditugaskan untuk memimpin pengawalan ini. Sam sudah siap dengan ceramah panjang kali lebarnya untuk meluapkan kekecewaannya atas pekerjaan mereka. TIba-tiba seseorang datang menghampirinya.
"Baiklah, kau boleh pergi!", Sam mengibaskan tangannya sambil memejamkan mata.
Oke! Ia sudah mengerti sekarang. Sarahnya itu memang tidak seperti mereka yang terbiasa dengan pengawalan seperti ini. Apalagi pengawalan kali ini terbilang cukup ketat Sam berikan padanya. Mengingat liciknya Megan Aira yang sedang mereka hadapi, Sam jadi tidak bisa main-main jika menyangkut keselamatan calon istrinya itu.
# FLASHBACK OFF
"Benarkan, kau ke sini untuk bertemu dengan wanita lain sehingga kau berbohong kepadaku?! Apa jangan-jangan kau ingin bertemu dengan Megan Aira yang genit itu, ya?!", Sarah sudah berkacak pinggang sambil mengangkat kepalanya. Menunjukkan wajah khas garangnya ke arah wajah Sam.
"Tentu saja tidak, Sayang! Aku ke sini bersama kakakku. Tadi dia mampir ke kantor lalu meminta aku menemaninya bertemu seorang klien di sini", Sam berusaha menurunkan tangan Sarah yang menempel ke pinggang.
__ADS_1
"Aku tidak percaya!", wanita itu pun menghempas tangann Sam dengan kasar. Jadilah kini tangannya tetap berkacak pinggang seperti semula.
"Benar, Sayang! Aku tidak mungkin berbohong kepadamu! Aku bisa bersumpah untuk membuktikannya!", Sam terus merayu dan membujuk Sarah agar mau mempercayainya.
"Aku tidak percaya! Titik! Pokoknya aku tidak percaya!", Sarah melemparkan tatapannya ke arah lain. Ia malas melihat wajah Sam saat ini.
Cap playboy yang dulu pernah disandang pria itu membuat Sarah harus ekstra hati-hati dalam memberikan kepercayaannya kepada pria itu. Sarah tak dapat memercayai Sam begitu saja meskipun ia sudah sangat mencintainya. Ia masih memerlukan bukti jika pria itu sudah benar-beanr insyaf dari kebiasaan lamanya.
"Benar, sayang! Aku ke sini memang untuk menemani Kakak Ken untuk menemui kliennya. Ayolah Sayang, percaya padaku! Meskipun tadi itu sebenarnya aku memang bertemu dengan Megan Aira. Tapi kau benar-benar tidak tau jika ia memang dirinya. Kakaklah yang menyadari jika waniita yang aku tabrak itu adalah dia. Aku belum sempat menyadariny jika itu adalah Megan Aira, karena wanita itu buru-buru melarikan diri dari kami!", Sam mengoceh memberikan alasannya. Secara juur dan gambalang tanpa menyadari perubahan wajah Sarah yang sudah memerah karena kesal saat ini.
Sarah tak dapat mendengar dengan jelas penjelasan Sam tadi. Ia langsung naik pitam ketika nama wanita rubah itu disebutkan. Dan bahkan tanpa sadar prianya itu menyebutkan bahwa ia telah bertemu dengannya tadi. Sarah terlalu marah untuk mendengar semua penjelasan Sam sampai akhir.
"Dasar playboy cap kentut! Keluar juga kan akhirnya ucapan jujurmu itu! Jadi benarkan kau telah bertemu dengan si Megan Aira itu! Dasar pembohong! Bisa-bisanya kau masih belum jera juga padahal kita sudah akan menikah!", Sarah terus meracau.
Wanita itu melampiaskan seluruh amarahnya dengan menarik rambut Sam kuat-kuat sambil terus membacakan seluruh kalimat yang mengungkapkan isi hatinya yang sangat kesal sekarang ini.
"Sakit, Sayang, sakit! Tolong lepaskan aku dulu! Kan sudah aku bilang tadi, aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Lagipula aku juga bersama kakak tadi. Dan orang yang pertama menyadari bahwa itu adalah Megan juga kakak. Jadi tolong lepaskan aku sekarang, ya!", selain karena merasa tak bersalah, Sam juga merasakan perih pada rambutnya yang sedang ditarik paksa oleh calon istrinya itu. Rambutnya serasa akan lepas dari kulit kepalanya sebentar lagi.
"Jangan membuat alasan lagi! Aku tidak akan percaya dengan begitu saja pada ucapan playboy terkutuk macam dirimu ini!", Sarah makin menarik rambut Sam dengan kencang.
"Aduh,, aduh,,, sakit, Sayang! Sakit,, sakit,, sakit!", saat ini rambutnya pasti sudah berteriak minta tolong juga jika bisa berbicara.
Sam memegangi tangan Sarah yang sedang menguasai rambutnya saat ini. Sekilas senyumnya samar terbentuk sebelum kemudian wajah memelasnya kembali hadir.
__ADS_1
"Sayang, tolong lepaskan aku, ya! Aku tau, kau seperti ini karena kau sangat mencintaiku, kan! Karena Sarahku sedang cemburu, kan sekarang?!", pria itu mengeluarkan kata-kata yang dapat dengan sangat mudah memprovokasi Sarahnya yang mudah marah itu.