Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 89


__ADS_3

"Apa syarat yang kau berikan?", tanya Yohan serius.


"Aku akan melepaskanmu jika kau bisa menjadi mata-mata ku. Dan ingat, aku membenci pengkhianatan", Ken menyipitkan matanya menanti tanggapan dari lawan bicaranya.


"Konsekuensi yang akan kau tanggung akan lebih dari yang kau bayangkan. Apalagi menyangkut ibu dan adikmu", Ken memberi peringatan dengan nada yang begitu tajam.


Ya, berurusan dengan Presdir Ken yang terhormat ini hanya memiliki dua kemungkinan, pertama menjemput ajalmu atau kedua dijemput oleh pihak berwajib dan diberikan hukuman seberat-beratnya. Kedua pilihan yang tak akan bisa untuk kau sanggupi.


Yohan sempat membulatkan matanya saat Ken menyebutkan ibu dan adiknya sebagai taruhan dari apa yang sudah ia putuskan , bahwa ia akan membelot dari Tuan Bram. Tapi kemudian ia bisa menguasai dirinya, karena ia begitu serius dengan apa yang akan ia lakukan. Yohan memang benar-benar harus memilih pada kubu mana ia harus berdiri.


"Kau bisa memegang kata-kataku, Tuan!", Yohan mengudarakan kalimat singkat namun pasti. Matanya tersirat ambisi yang besar. Ia sudah tak ingin lagi terkungkung dalam perbudakan yang ia alami dengan Tuan Bram.


Ken menatap lekat Yohan dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Ia menyelidik setiap bahasa tubuh pada diri Yohan. Alisnya berkerut dan matanya menyipit mengarah pada Yohan yang nampak tenang duduk di hadapannya. Ken tak menemukan keraguan sedikitpun atas kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut Yohan.


"Baiklah! Lepaskan dia Han!", perintah Ken singkat setelah ia membuat sebuah keputusan yang nampak pasti.


Han mengangguk seraya berjalan ke arah Yohan. Pandangannya begitu tajam hingga hampir menusuk ke dalam bola mata Yohan. Sejujurnya ia tak menyetujui jika tuannya itu melepaskan Yohan begitu saja. Ia ingin Yohan menerima hukuman yang sepantasnya terlebih dahulu. Tapi, ia tak dapat meragukan keputusan yang telah dibuat oleh Ken. Karena tuannya itu pasti memiliki perhitungannya sendiri.


Tali yang mengikat tubuh Yohan telah terlepas. Ia sudah bisa bangkit dari duduknya yang sudah begitu lama. Ia memandang Ken dengan begitu bangga. Pria tampan ini memang pantas jika begitu disanjung oleh banyak orang. Pembawaan Ken yang begitu kharismatik dan berwibawa, juga aura pemimpin yang sangat lekat pada dirinya membuat orang-orang menjadi segan dan otomatis menghormatinya.


"Cehh! Jangan sampai kau juga terpesona kepadaku", tegur Ken dengan congkaknya seraya bangkit dan membalikkan badannya untuk melangkah pergi. Ia menyadari pandangan Yohan padanya sudah seperti para wanita-wanita itu kebanyakan.


"Heh, apa otaknya bermasalah!", Yohan mencibir bibirnya. Ia menyesal karena sempat kagum pada orang itu. Tapi senyum terbit kemudian menghiasi bibirnya.


Yohan merasa tak salah sudah berada di pihak Ken. Bagaimana pun tangan dingin Ken dalam mengurus masalah, ia yakin bahwa Ken masih memiliki sisi kemanusiaan. Tidak seperti Tuan Bram yang selalu menganggap dirinya layaknya budak yang harus menuruti segala keinginannya baik itu benar ataupun salah. Dengan berada di sisi Ken, paling tidak nyawa ibu dan adiknya akan aman saat ini.


FLASHBACK OFF


***


Ana membuka knop pintu ruangan ayahnya tak sabar. Ia memaku langkahnya di ambang pintu seraya menelisik keadaan ayahnya di ranjang sana. Matanya berkaca-kaca saat mendapati kenyataan yang menyatakan bahwa Tuan Danu telah membuka matanya dan sedang melambaikan tangan ke arahnya, seperti isyarat agar Ana mendekat ke sana.


Cairan bening menetes beriringan dengan langkahnya yang semakin mendekat ke bibir ranjang Tuan Danu. Ana tak kuasa menangis haru, karena doa dan harapannya telah terkabul saat ini.


"Ya Tuhan, terima kasih!", batin Ana penuh rasa syukur.


Ana langsung menghambur pada ayahnya yang masih dalam posisi berbaring. Ia benar-benar menumpahkan air matanya saat ini. Kebahagiaan yang telah ia tunggu selama berhari-hari kini telah menjadi kenyataan.


"Uhuk, uhuk! Mengapa sekarang kau menjadi berat sekali, Ana!", tegur Tuan Danu pada Ana yang merebahkan kepalanya pada dada ayahnya itu.


"Ah, maaf ayah!", Ana membenarkan posisinya dengan duduk rapih pada kursi di samping ranjang sambil terus memegangi satu tangan ayahnya dengan erat.

__ADS_1


"Aahh, lihatlah! Baju ayah jadi basah!", semua orang di sana tertawa bersama.


"Kau Samuel kan, adiknya Ken! Lalu siapa wanita ini, apa dia kekasihmu?", sapa Tuan Danu dengan suara yang masih lemah namun cukup dapat membuat kedua manusia yang sedang berdiri itu tersenyum malu. Sam dan Sarah membuang muka dengan canggung.


"Iya ayah, dia adiknya Ken. Dan di sebelah Sam adalah Sarah sahabatku. Mereka belum dalam tahap itu, tapi sedang menuju menjadi sepasang kekasih", Ana terkekeh riang karena berhasil menggoda Sarah.


"Ana, hentikan!", Sarah membulatkan matanya pada Ana.


"Lagipula itu memang benar", tambah Sam menggantung dengan senyum terselubung. Ia langsung mendekat ke sisi ranjang di samping Ana duduk tanpa menunggu respon Sarah yang ternyata sedang mematung dengan wajah memerah.


"Sam, kau bisa membuat wajahnya seperti kepiting rebus, nanti!", tegur Ana. Ia dan Sam pun terkekeh bersama.


"Apa paman sudah baik-baik saja?", tanya Sam mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya ia juga menghindari amukan Sarah maka dari itu ia langsung memulai untuk bicara.


"Aku sudah baik-baik saja, Sam! Dimana kakakmu? Kurang ajar sekali dia! Calon mertuanya sudah sadar bukankah seharusnya dia datang ke sini!", gerutu Tuan Danu masih dengan suara yang lemah. Hal itu lantas membuat ketiga orang lainnya tertawa bersama.


Ana tersipu ketika ayahnya menyebut dirinya sebagai calon mertua. Ia sungguh tak menyangka jika hubungannya sudah sampai pada tahap ini. Dimana jenjang yang mereka tapaki sudah makin serius. Padahal mereka belum lama saling mengenal.


"Ken sedang ada mengurus sesuatu yang penting ayah! Mungkin sebentar lagi ia akan sampai", jelas Ana seraya mengelus-elus lengan ayahnya.


"Dan lagi kehadiran kami memang kakak yang mengatur agar sementara tadi kakak ipar dapat kami temani", tambah Sam.


"Jadi kau sudah mendapat restu dari Keluarga Wiratmadja?", Tuan Danu menyentuh tangan putrinya.


Kalut, perasaan Ana saat ini. Ia tak mungkin mengatakan pada ayahnya bagaimana nyonya besar itu tak menyukainya hingga tak memberi restu sedikit pun pada hubungan Ana dan putranya. Bahkan nyonya besar itu telah menyiapkan seorang wanita untuk menjadi calon istri untuk Ken. Tak mungkin Ana menjabarkan semuanya di saat kondisi ayahnya yang masih lemah seperti ini.


Saat ini Ana hanya bisa memasang senyum manisnya. Ia enggan menjawab ia ataupun tidak. Kebenarannya akan ia sembunyikan, akan ia tutupi dari ayahnya hingga nanti ayahnya sudah lebih baik. Pikir Ana seperti itu sekarang.


"Baiklah!", sesungguhnya Tuan Danu menangkap hal aneh yang disembunyikan oleh putrinya itu. Belasan tahun ia merawat Ana, tentu saja ia tau setiap detail kecil gelagat Ana. Tapi ia juga paham sekeras apa pun Ana menyembunyikan sesuatu darinya, suatu saat ia pasti akan mengatakannya langsung pada ayahnya.


"Emmh, paman kami permisi dulu. Nanti kami akan kembali lagi!", Sam sudah menggenggam tangan Sarah dan menariknya perlahan agar mereka berjalan beriringan. Sarah yang tiba-tiba ditarik oleh Sam pun tertegun, wajahnya memerah menatap tangannya yang sedang di genggam oleh pria itu kemudian ia mendongakkan kepalanya untuk melihat ekspresi Sam yang ternyata memasang wajah datarnya.


"Jangan terus melihatku, nanti kau suka!", Sam berucap dengan wajah datar. Membuat Sarah akan menyahut kesal.


"Beri ayah dan putri itu waktu untuk bicara", baru saja akan membuka mulutnya, Sam sudah kembali meneruskan ucapannya dengan wajah serius. Genggaman tangan itu terasa lembut namun kokoh tak dapat terlepas. Sarah hanya bisa menurut saat ini. Mereka berjalan beriringan di lorong sunyi rumah sakit itu.


***


"Sayang!", panggil Tuan Danu sambil mengelus kepala putrinya.


"Ayah, Ana rindu sekali dengan ayah!", Ana memeluk lengan ayahnya sayang.

__ADS_1


"Ayah juga rindu kamu, putriku", Tuan Danu kembali mengusap-usap pucuk kepala Ana.


"Tapi ayah lebih rindu ibumu, sayang! Ayah sudah lama tak bertemu dengan ibu", ucap Tuan Danu sendu.


"Ayah! Apa yang ayah katakan?! Jangan berpikir macam-macam ayah", kecam Ana namun tetap mempertahankan pandangan lembutnya.


"Ayah hanya rindu saja, apa salahnya?! Memangnya kau tidak rindu dengan mendiang ibumu?", tanya Tuan Danu acuh.


"Tentu saja Ana rindu ayah, sangat rindu. Tapi Ana tak mungkin menemui ibu, bukan?!", mata Ana berubah sendu. Ia menundukkan kepalanya dalam.


"Sayangku, ingat untuk selalu mengirimkan doa untuk mendiang ibumu. Dengan begitu ia akan selalu menjagamu dari sana", Tuan Danu menunjuk ke atas dimana mendiang istrinya sudah tenang di alam yang berbeda.


"Dan ketika ayah nanti menyusul ibumu, kau juga harus terus mengirimi kami doa ya sayang!", Tuan Danu mengelus lagi pucuk kepala Ana.


"Ayah, kumohon hentikan!", tangis Ana pecah karena tak tahan mendengar ucapan-ucapan yang mengisyaratkan suatu keanehan.


"ceklek!", suara pintu terbuka dari luar.


"Ken!", seru Ana dengan suara gemetar karena isak tangisnya.


"Ana, ada apa?", Ken berjalan cepat ke arah Ana.


"Hey bocah! Apa bahkan kau lupa dengan sopan santunmu!", celetuk Tuan Danu seraya tersenyum.


"Oh, astaga! Maaf Paman aku melupakanmu", Ken memeluk Tuan Danu yang masih berbaring.


"Syukurlah, akhirnya Paman siuman juga", ucap Ken seraya melepas pelukannya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Ana yang sedang tertunduk.


Ken membuat isyarat mata dengan Tuan Danu.


"*Ada apa dengan Ana, Paman?", tanya Ken yang matanya melirik ke arah Ana sekilas.


"Entah lah!", Tuan Danu menjawab dengan mengedikkan bahunya.


"Biarkan Ana keluar, ada yang harus aku bicarakan hanya berdua denganmu, Ken!", perintah Tuan Danu dengan mengarahkan matanya ke arah luar ruangan.


"Baiklah!", Ken menganggukkan kepalanya tanpa bersuara*.


"Emmh, sayang! Aku meninggalkan sesuatu pada Sam. Bisakah kau mengambilnya untukku!", pinta Ken hati-hati pada Ana


"Apa-apaan ini! Aku tau mereka pasti akan membicarakan hal serius kali ini. Aku harus tau sesuatu!", gumam Ana dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2