
Sepasang kekasih itu baru saja turun dari jet pribadi yang tadi mereka naiki. Sarah tak melepaskan senyumannya sama sekali di setiap langkahnya saat ini. Ia begitu bahagia, dan itu tak ada yang bisa mencegahnya sekarang.
Pria di sampingnya pun tertular senyuman yang terkembang di bibir Sarah. Ia juga sama bahagianya karena akhirnya bisa mewujudkan salah satu keinginannya, yaitu melamar wanita yang dicintainya secara langsung. Apalagi ia malahan mendapatkan bonus ungkapan cinta dari Sarah tadi. Mau kurang apalagi kebahagiaannya saat ini?!
***
Langit biru yang semula cerah kini mulai pudar dan dinodai oleh semburat jingga yang membentang di sepanjang mata memandang. Semilir angin itu pun mulai terasa sejuk khas sore hari, tidak gersang dan panas seperti siang tadi. Sam dan Sarah sedang berada di dalam mobil mengarungi jalan raya menuju mansion Krystal, yaitu dimana Sarah tinggal saat ini.
"Apa? Jadi ada kakaknya Krystal di sana? Dan,,, dan berarti akan ada seorang laki-laki tinggal bersama kalian? Tidak, tidak! Itu tidak bisa terjadi!", Sam berseru sedikit keras. Laki-laki itu tidak terima jika wanitanya harus berada satu atap dengan laki-laki lain, apalagi mereka belum menikah saat ini. Maksudnya Sam dan Sarah baru hanya lamaran saja.
"Kau ini! Itu hanya kakaknya Krystal! Jadi apa masalahnya?! Jika dia sudah mengetahui statusku saat ini yang merupakan calon istrimu, apakah mungkin dia masih akan menggangguku?! Lagipula memangnya semua lelaki akan tertarik padaku? Kurasa hanya kau saja yang mau!", Sarah menolak protes yang Sam keluarkan.
Setelah berbincang selama di perjalanan, akhirnya mereka sampai pada topik tentang kakaknya Krystal yang baru saja datang dari luar negeri. Dan akhirnya mereka pun menyadari jika setelah ini, pria itu pasti akan tinggal di rumah besar itu. Karena memang tujuan awalnya adalah untuk menjaga adiknya, Krystal.
Sam yang menyadari tentang kejanggalan itu pun segera tak sabar untuk memerintahkan Sarah keluar dari rumah itu. Susah payah Sam mendapatkan hati Sarah. Jadi ia akan menjaga wanita itu dari pria lain. Baik pandangannya maupun pikirannya, sehingga ia berpikir jika ada baiknya Sarah tidak tinggal lagi di sana. Dan Sam menyarankan untuk tinggal di apartemen miliknya untuk sementara ini sebelum hari pernikahan mereka.
"Tidak! Ti,,, dak! Kau berkata seenaknya saja! Apa kau tidak berpikir jika aku pasti akan merasa tidak enak hati jika tiba-tiba mengajak ibu keluar dari rumah itu. Sedangkan selama masa aku kesulitan itu, dia dengan sukarela mau membantuku. Bahkan menyuruhku menganggap rumah itu seperti rumahku sendiri. Lihatlah, betapa baiknya Krystal! Jadi aku mana mungkin pergi dari sana karena alasan konyol seperti ini", jelas Sarah secara gamblang apa yang ada di pikirannya saat ini.
Bukan ia tidak mau, hanya saja ia bingung bagaimana cara mengatakan selamat tinggal kepada Krystal. Terlebih wanita itu memang mengharapkan keluarga di dalam rumah besarnya itu. Maka ia sudah menganggap Ibu Asih sudah seperti ibunya sendiri.
Lagipula, jika ia mau untuk keluar pun Sarah tidak akan mau untuk tinggal di apartemen milik Sam itu. Ia masih mempunyai rumah, meski kecil dan sederhana tapi itu tetaplah rumahnya, peninggalan ayahnya yang berharga. Dan Sarah masih sadar diri dimana tempat awalnya berada.
"Ayolah Sam! Aku tidak melarang dirimu untuk cemburu. Hanya saja, tolonglah cemburu yang sewajarnya saja!", pinta Sarah tidak dengan nada memelas tapi juga masih sedikit tegas.
"Bagaimana bisa aku tidak menjadi khawatir berlebihan seperti ini, Sarah! Kita belum menikah dan kita akan menikah tentunya, tapi sebelum itu kau sudah akan tinggal bersama seorang pria asing di bawah satu atap. Tentu saja perasaan dan pikiranku menjadi kacau sekarang", Sam mendesah frustasi. Ia mengusap wajahnya kasar seraya membuang pandangannya keluar jendela.
"Aku bahkan belum pernah tinggal satu atap denganmu!", keluar keluhan yang begitu lirih dari mulut pria itu. Sam sedang menggerutu.
Langsung saja Sarah emosi saat menangkap dengar apa yang pria itu ucapkan. Tangannya melayang memukul bahu pria itu dengan begitu kuat. Seakan ia sedang meluapkan kekesalannya lewat pukulannya pada Sam. Karena bahkan wajah Sarah sampai berubah jelek, saking gemasnya.
"Jangan sembarang bicara! Yang kemarin terjadi kemarin malam, lalu yang waktu itu setelah makan malam di rumah keluargamu, apa itu namanya bukan tinggal satu atap?! Bahkan kita sudah tidur satu ranjang!", ucapnya lantang tanpa sadar apa yang dia ucapkan. Matanya melotot begitu besar dengan kedua tangan yang bertengger di pinggang.
uhukk,,, uhukk
Pak supir yang berada di depan pun menjadi terbatuk mendengar penuturan Sarah yang begitu lugas barusan. Ia tidak melakukan apapun, bahkan hanya tak sengaja mendengarnya. Tapi wajahnya ikut merah saat mendengar ucapan Sarah tadi. Sadar tuannya sedang melihat ke arahnya, ia segera fokus menyetir kembali. Dengan wajah datar seakan tak terjadi dan tak mendengar apapun tadi.
Sam terkekeh, ia tersenyum penuh kemenangan ke arah wanita di sebelahnya. Senyumnya tersungging begitu tinggi pada bibirnya. Ia tak mengatakan apapun, hanya saja dari pandangan matanya, Sarah merasa Sam sedang mengejek dirinya saat ini.
Sarah memiringkan tubuhnya hingga membelakangi pria itu. Ia memukul-mukul mulutnya sambil merutuki diri sendiri. Oh betapa bodohnya Sarah, ia seperti sedang menggali lubang sendiri. Ia tau setelah ini Sam pasti akan menyiksanya dengan godaan-godaan dan menyebalkan sampai dirinya puas.
__ADS_1
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!", wanita itu terus memukuli mulutnya sambil mengomel sendiri .
Sam tak tinggal diam, ia juga tak ingin wanita yang dicintainya itu terus menyakiti dirinya sendiri. Maka Sam pun membalikkan tubuh Sarah sehingga kini mereka duduk berhadapan kembali.
"Jangan memukuli mulutmu sendiri! Biar aku saja yang melakukannya, bagaimana?", Sam menatap manik mata Sarah begitu dalam. Tapi bibirnya menipis seakan menahan senyuman. Pria itu sudah menangkup wajah Sarah di kedua sisinya.
cup,, cup,, cup
Gerakan Sam cepat sehingga ia tak dapat mengelak. Pria itu mengecup singkat bibir Sarah beberapa kali dengan begitu cepatnya. Tapi bagi Sarah, ia merasa habis dipatuk oleh Sam. Seperti burung pelatuk, kecupannya cepat dan kuat. Hingga wanita itu menggelengkan kepalanya dengan keras agar bisa terlepas dari tangan si pria.
"Kau ini manusia atau burung sih?!", wanita itu protes sambil memegangi bibirnya.
Orang yang diprotes juga tak dapat menghentikan kekehannya. Malahan menjadi, hingga ia mengeluarkan tawanya.
"Aku tidak bilang akan menciummu, kan! Aku hanya melakukan apa yang sesuai dengan ucapanku tadi, yaitu menggantikanmu memukul mulutmu sendiri dengan mulutku! Jadi aku tidak salah, bukan?!", Sam mengangkat alisnya sambil tersenyum santai. Wajahnya terlihat sungkan dan polos, namun sebenarnya di sana tersembunyi banyak ejekan untuk Sarah karena tak akan bisa menang dari dirinya. Haha,,,
"Apa? Sekarang kau ingin aku menciummu sungguhan, ya! Sini,, sini,, kuberi banyak ciuman untukmu. Ini gratis, tenang saja!", Sam sudah merentangkan tangannya ke dengan untuk meraih Sarah dengan begitu percaya dirinya. Senang sekali ia bisa menggoda wanitanya itu.
"Saaammm!", Sarah berteriak seraya melayangkan tasnya ke arah kepala pria itu.
Pak supir yang duduk di depan seorang diri menjadi iri dan berharap ada istrinya di sini. Tapi di luar itu, ia merasa begitu senang karena akhirnya Tuan Sam mendapatkan cintanya. Apalagi wanita itu tidak seperti wanita lainnya yang biasa mendatangi tuannya. Mereka biasanya manja dan malahan suka jika Sam meminta apa yang diinginkannya. Sedangkan Pak Supir akan jijik melihat bahkan melirik ke arah mereka. Bahkan jika mereka berasal sari kalangan terpandang pun, sifatnya jauh sekalu dengan nonanya yang sekarang ini. Nonanya sopan dan sangat baik, bahkan terlihat jelas bahwa tak ada yang diinginkan wanita itu dari tuannya selain cinta.
***
"Barus saja Ibu membalas pesannya! Katanya ia akan menginap di rumah lama saja malam ini", memang benar, saat Krystal datang Ibu Asih baru saja meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Kebetulan sekali Ibu Asih sedang memotong beberapa buah untuk dijadikan salad yang memang akan ia sajikan untuk para tuan rumah.
"Lho,, memangnya ada apa, Bu?", Krystal penasaran dengan alasan Sarah juga penasaran dengan rasa salad buah di depannya.
Sepertinya ia akan mendapatkan jawaban dari rasa salad buah itu terlebih dahulu, karena tangannya terlalu gesit untuk menyendok salad buah itu ke dalam mulutnya sendiri. Enak! Maka wanita itupun kembali mengayun sendoknya lagi.
"Sebenarnya Sam melarangnya tinggal di sini lagi", jawab Ibu Asih sambil menata salad buah itu pada wadah saji.
"Hey, beraninya Tuan Sam itu! Wah,, lihat saja akan aku adukan pada Ana nanti! Sembarangan sekali pria itu membuat keputusan!", Krystal mengomel dengan mulut penuh dengan makanan. Saking semangatnya, ia sampai menunjuk-nunjuk udara dengan sendoknya. Seakan Sam memang berada di depan matanya.
"Kamu jangan tersinggung ya, Krystal! Sebenarnya alasannya begini, Sam bilang ia tidak rela jika Sarah tinggal bersama pria lain di dalam satu rumah ini. Bagaimanapun juga kan sekarang sudah ada Nak Adam, sayang!", pelan Ibu Asih menjelaskan kepada Krystal agar wanita itu mau mengerti.
uhukk,,, uhukk
Krystal dibuat tersedak oleh penjelasan Ibu Asih. Tapi juga karena terlalu banyak makanan yang berusaha ia telan. Jadilah ia hampir memuntahkan makanan itu.
__ADS_1
"Hey, tapi itu hanya kakakku!", Krystal lagi-lagi protes setelah mendengar jawaban Ibu Asih itu. Pasti pria itu menyangka jika ia sedang kesulitan mengontrol emosinya. Pasti bosnya itu menyangka jika kakaknya merupakan sebuah ancaman baginya. Hah sudahlah, terserah pria itu saja. Semakin memikirkan, semakin pusing kepalanya.
"Ibu, apapun yang terjadi nanti. Meskipun Sarah sudah menikah nanti, mau kan Ibu tetap tinggal di sini? Setelah Mama meninggal, lalu Papa masuk penjara, aku merasa sangat kesepian. Lalu Ibu dan Sarah datang, hidupku menjadi lebih bahagia dan tentram. Rumah ini juga jadi lebih ramai", pinta Krystal dengan wajah sendunya. Ia menggenggam tangan Ibu Asih dengan begitu erat saat membayangkan kehampaan yang pernah ia rasakan di saat-saat papanya baru saja dijebloskan ke dalam penjara. Rumah itu menjadi sangat sunyi karena hanya ditempati oleh dirinya sendiri.
"Nak!", Ibu Asih pun merasa iba. Ia membawa Krystal ke dalam pelukannya, mengusap kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang ia punya.
"Ibu, Ibu mau ya tetap tinggal di sini? Dan nanti ajak Sandi juga ke sini. Aku senang sekali jika rumah ini menjadi ramai", ucapan Krystal riang namun tak sejalan dengan air mata yang mengalir tiba-tiba dari matanya.
Sesungguhnya ia merindukan kehangatan sebuah keluarga. Melihat ada Ibu Asih dan juga Sarah di sini membuatnya merasa ia memiliki keluarga yang benar-benar keluarga. Hangat, iya sangat menghangatkan hatinya. Apalagi ia juga rindu memiliki kasih sayang seorang ibu. Ia sangat menginginkannya. Itu berubah saat ini, padahal dulu ia menolak secara terang-terangan jika Tuan Bram membawa topik ini ke permukaan. Tapi dengan Ibu Asih, ia merasakan kasih sayang yang tulus. Apalagi ia juga sudah ketagihan dengan perhatian yang Ibu Asih berikan. Maka sekarang, ia sedang berusaha menahan Ibu Asih untuk tetao berada di sisinya.
"Tapi Krystal, bagaimana dengan kakakmu? Ibu juga sudah terlalu banyak merepotkanmu, nak. Ibu merasa tidak enak dan akan merasa terbebani jika kau meminta berlebihan begini. Ibu berasal dari keluarga sederhana, tidak sepantasnya Ibu berada di rumah ini. Ini bukan rumah Ibu, Krystal. Ibu tidak ingin membebani kamu lagi", tentu saja Ibu Asih merasa sungkan. Ia tidak serakah dan merasa aji mumpung ketika Krystal menawari hal menggiurkan ini. Baginya hal ini malahan akan menjadi bebannya karena tidak mampu membalas kebaikan Krystal yang sudah terlalu banyak untuknya dan putrinya.
"Memangnya ada apa denganku, Bu?", suara bariton terdengar menyahut dari arah lain. Adam datang ke arah mereka dengan tatapan dinginnya. Ibu Asih sampai menjauhkan diri dari Krystal dan menundukkan kepala. Karena ia pikir Adam pasti akan memarahinya.
"Aku tentu setuju dengan apa yang Krystal ucapkan! Tinggallah di sini, Bu! Kami yang sangat beruntung memiliki Ibu Asih di antara kami yang rindu sosok ibu ini. Jadi, mau kan ibu tetap tinggal di sini?", wajah Adam berubah hangat.
Sebenarnya sudah sejak tadi Adam berdiri tak jauh dari mereka. Ia juga mendengarkan semua pembicaraan Ibu Asih dan adiknya. Ia tak pernah melihat adiknya yang sombong akan itu mau memohon dan meminta. Apalagi ini menyangkut masalah keluarga yang rentan dan riskan. Adiknya itu tak akan menunjukkan kelemahannya di depan orang lain. Lalu saat ini sungguh bertolak belakang, adiknya malahan sangat berharap Ibu Asih tetap berada di sisinya dengan sekuat tenaga. Adam paham, mungkin Krystal sudah sangat rindu dan menginginkan sosok ibu yang sebenarnya hadir di antara mereka. Dan ia menemukannya pada sosok ibunya Sarah itu. Maka ia tentu juga akan menyetujuinya, meski ia belum terlalu mengenal Ibu Asih. Tapi ia yakin penilaian adiknya pasti tidak akan salah.
"Baiklah, Ibu setuju!", Krystal segera memeluk Ibu Asih dengan penuh suka cita. Air matanya bahkan tak kuasa ia tahan lagi hingga membentuk air terjun bahagia.
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
__ADS_1
love you semuanya π
keep strong and healthy ya