Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 267


__ADS_3

"Kakak! Ini gawat! Sarah dan Krystal hilang lagi!", adiknya itu segera memberi laporan dengan suara frustasi.


"Apa maksudnya?", wajah Ken jelas kebingungan.


Hilang lagi?! Apa maksudnya itu?! Tapi, melihat wajah semua orang masih tenang seperti air di kolam, maka ia hanya bisa menyangka sesuatu.


Dan Ken pun tidak jadi mengikuti jejak adiknya itu yang sekarang sedang panik dan frustasi. Kini ia sudah tertular suasana tenang di ruangan itu.


"Katakan saja untuk pergi menuju Jalan XXX, pada persimpangan kedua, anak buahku sudah menunggu di sana!", Ben yang mengerti situasi pun membuka mulutnya untuk membantu Ken memberikan jawaban pada adiknya itu.


Karena tadi ia sudah mendapatkan laporan mengenai tugas yang anak buahnya itu jalankan beserta hasil yang ia inginkan. Semuanya sesuai dengan keinginannya. Ben juga sempat mendesah, jika sebenarnya orang yang sedang berusaha mengincar Keluarga Wiratmadja itu bukan apa-apa baginya. Masih terlalu ceroboh dan amatiran.


"Datanglah ke Jalan XXX, Sarahmu sudah ada di sana!", begitu jawab Ken singkat dan segera menutup teleponnya.


***


Tidak tau saja Ken, jika saat ini adiknya yang tidak secerdas dirinya itu sedang mengumpat pada layar ponselnya sendiri. Belum jelas padahal informasi yang kakaknya itu berikan padanya. Tapi kakaknya itu sudah seenaknya menutup sambungan telepon darinya itu.


"Kapan sebenarnya ia tidak akan semena-mena lagi?!", Sam memutar bola matanya dengan ekspresi malas.


Kakaknya itu memang selalu berbuat seenaknya. Maksudnya Sam harus menuju ke jalan itu, kan?! Lalu ada siapa sebenarnya di sana?! Apakah Sarahnya masih baik-baik saja saat ini?! Mengapa kakaknya itu tidak berbicara sampai tuntas saja, sih?!


"Ayo, jalan!", ajaknya pada para pengawal yang ia bawa.


"Kemana, Tuan?", salah satunya memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan.


"Tentu saja menyelamatkan calon istriku! Memangnya mau kemana lagi? Pulang?!", wajah Sam menggelap. Ia menggertakkan giginya tak sabar ke arah pengawal itu.


"Maaf, Tuan! Tentu saja saya tidak akan bernai berpikir begitu!", dan orang itu pun membungkukkan tubuhnya berulang kali dengan wajah takut.


Ekspresi Sam saat sedang marah tidak berbeda jauh dengan kakaknya Tuan Ken, yang mereka takuti itu. Jika sehari-hari Sam masih bisa menampilkan senyumnya, maka saat sedang genting seperti ini, ia berubah menjadi serigala yang haus darah.


Dan pulang yang Sam maksud tentu saja adalah untuk pulang selama-lamanya. Tidak usah kembali lagi untuk bekerja pada keluarga mereka lagi. Tentu saja itu sama sekali tidak diharapkan oleh orang itu. Sudah sangat beruntung dirinya bisa masuk dan bekerja untuk keluarga paling terpandang ini.


***


Kembali ke rumah sakit,

__ADS_1


"Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan selanjutnya?", tanya Ana pada suami dan kakaknya itu. Ia menolehkan ke arah dua orang itu secara bergantian.


"Itu mudah! Tapi aku ingin tau dulu cerita dibalik kabar yang membuatku berpikiran buruk mengenai anakku!", Ken melipat kedua tangannya di depan dada sambil memiringkan kepalanya. Ia sudah menunggu istrinya itu untuk berbicara. Alisnya mengernyit dan tatapannya terlihat serius.


Dan Ana pun yang tadinya sangat santai kini menjadi sedikit tegang, bulu kuduknya meremang. Sekuat apapun dirinya sebagai wanita, jika sudah dihadapkan lelakinya yang memiliki tatapan seperti itu, ia akan segan juga.


Benar dugaannya jika suaminya itu akan membahas masalah dimana ia membawa-bawa anaknya itu ke dalam masalah ini. Hanya saja, mau bagaimana lagi memang harus seperti ini agar permainan ini berjalan sempurna.


"Aku minta maaf! Ku harap kau tidak marah padaku, ya! Lagipula aku tidak apa-apa, kan!", sambung Ana lagi sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.


Wajah istrinya yang memelas itu, bagaimana Ken bisa tahan untuk mengabaikannya. Mana mungkin ia bisa marah pada istri tercintanya itu. Apalagi sikap yang diambilnya sangatlah cerdas.


"Aku tidak marah. Aku hanya khawatir saja, Ana! Aku hanya berharap kau bisa memberitahuku terlebih dahulu!", raut wajah serius itupun berubah dengan senyuman yang meluluhkan hati Ana. Ditambah lagi suaminya itu kini tengah membelai kepalanya dengan begitu banyak kasih sayang.


Tidak ada kemarahan sama sekali di dalam hatinya. Ken hanya khawatir setengah mati saat mendengar kabar itu. Ia merasa hampir gila saat membayangkan kenyataan terburuk akan terjadi.


"Jadi bagaimana dengan darah itu! Darah yang dikatakan Bunda dan Tuan Louis itu?!", gerakan tangan Ken berhenti. Tangannya masih berada di atas kepala istrinya itu, namun tatapannya berubah menjadi sangat penasaran.


"Hehe,,, itu sebenarnya sirup strawberi yang aku campur pewarna makanan agar menjadi lebih pekat warna merahnya. Awalnya kupikir, aku hanya akan bersandiwara sendirian, tapi kemudian Bunda datang. Jadi aku meminta bantuan agar sandiwara ini makin terlihat nyata. Lalu datang lagi Louis, jadi aku makin senang karena sandiwaraku semakin memiliki banyak pemeran. Dan aku hanya ingin orang yang berada di balik ini semua merasa di atas awan karena baginya rencana yang ia miliki telah berhasil. Aku pintar, kan?!", Ana menurunkan tangan Ken di kepalanya sambil menuturkan apa semua hal itu.


"Ya! Istriku memang yang paling pintar!", Ken mencubit kecil hidung istrinya itu sambil tersenyum gemas.


"Ada apa denganmu, Tuan?! Apa kau memiliki masalah?!", Ken malah sengaja merangkul bahu istrinya itu lalu memberikan sebuah ciuman di dahinya. Lalu menatap Ben dengan penuh kesombongan.


Jelas saja pria eksentrik itu makin kasar mendenguskan nafasnya. Seperti kerbau yang siap menyerang lawannya. Ben sangat kesal sekarang. Jadilah ia memalingkan wajahnya, menatap dinding rumah sakit lebih baik menurutnya.


"Baiklah, Tuan-tuan! Ini sudah hampir larut malam! Apakah kita akan meringkus orang itu sekarang juga? Atau menunggu hari terang saja?", lalu Louis menyelak di antara suasana yang mulai panas itu.


"Jangan menunda lagi, Ken!", Ana sangat tau apa yang dipikirkan oleh suaminya itu. Jadi buru-buru ia membuka suaranya.


Ken menurunkan pandangannya, menatap wajah istrinya itu yang sedang menengadah. Ada kesungguhan terpatri jelas di sana. Tapi ia benar-benar mengkahwatirkan kesehatan istrinya yang sedang hamil muda itu. Apakah baik jika ia menyelesaikan semuanya malam ini juga?!


"Jangan khawatirkan aku, Ken! Aku berjanji akan baik-baik saja! Sepertinya aku hanya perlu makan agar aku dan anakku tetap kuat dan sehat!", sontak ucapan Ana itu membuat gelak tawa di antara mereka semua. Termasuk Ben yang ikut menyunggingkan senyumannya.


"Kau ini sebenarnya sedang hamil atau sedang kelaparan?!", kembali Ken mencubit hidung istrinya itu sambil merangkulnya erat-erat.


***

__ADS_1


Di sisi lain kota,


Seorang paruh baya sedang menikmati kopi hitam yang sebelumnya masih mengepul di atas meja di hadapannya. Senyumnya penuh dengan rasa bangga dan puas karena semua orang suruhannya telah mengabarkan bahwa rencana mereka berjalan dengan lancar.


Matanya yang sudah agak berkerut pun menatap foto seorang wanita muda yang berdiri tak jauh dari cangkir kopinya. Dan itu masih berada di hadapan pandangan matanya. Ia mengambilnya lalu ia tatap bingkai foto itu lekat-lekat.


"Joice, kau tak usah khawatir lagi, Sayang! Apa yang kau alami saat ini, mereka semau akan mendapatkan balasannya!", ibu jarinya juga mengusap bagian wajah foto wanita muda itu.


Joice di dalam foto itu terlihat begitu cantik dan elegan. Dalam balutan setelan formal berwarna cokelat, ia nampak benar-benar terlihat begitu sempurna untuk seorang wanita.


Saat itu, siapa yang tidak mengenal Joice Alexander?! Dia adalah salah satu eksekutif wanita tersukses dan termuda. Kecantikan yang dimilikinya menjadikan dia banyak digandrungi oleh rekan bisnis pria. Tapi sayang, hatinya hanya mengizinkan Presdir Ken terhormat saja yang memilikinya.


Hingga kenyataan harus membuatnya menggunakan segala cara untuk mendapatkan pria yang sejatinya tidak menaruh hati sama sekali pada dirinya.


Meskipun Tuan Alexander sendiri menyesali apa yang dilakukan putrinya itu. Tapi ia tidak bisa melihat keadaan putri kesayangan dan yang paling ia banggakan itu menjadi hancur seperti gambar video yang sedang diputarnya pada layar laptopnya.


Itu adalah kondisi Joice terkini. Sekarang putrinya dikurung di dalam sel yang terpisah, lantaran kondisi kejiwaannya yang telah divonis hampir gila.


Hati seorang ayah ini menjadi rapuh saat melhat kondisi putrinya yang amat menyedihkan itu. Dan ia sangat ingat wajah-wajah yang telah membuat putrinya jadi sampai seperti ini. Tuan Alexander sudah berjanji dalam hati bahwa ia akan membuat orang-orang itu membayar perbuatannya.


***


Sam sudah sampai di Jalan XXX yang tadi disebutkan oleh kakaknya itu. Matanya sudah sibuk melihat ke kanan dan ke kiri sejak mereka mulai memasuki jalanan ini. Meskipun para pengawalnya sudah sibuk memasang mata mereka, namun ia tetap ingin mempercayai indera penglihatannya yang tajam ini.


Simpangan pertama sudah mereka lewati, namun belum juga ada tanda-tanda keberadaan Sarahnya. Jalanan itu nampak sepi, dan hanya beberapa kendaraan saja yang melewatinya. Dan mata mereka masih waspada saat ini.


Kini mereka sudah melewati simpangan kedua. Salah satu di antara pengawal itu melihat di depan mereka terdapat empat buah mobil berwarna hitam sudah berbaris rapih di bahu jalan.


"Tuan, itu!", pengawal yang duduk di sebelah pengemudi menunjuk tangannya ke depan, memberi informasi yang ia lihat pada bosnya itu.


"Mungkinkah itu yang Kakak maksud?", mata Sam mengikuti arah telunjuk pengawalnya itu.


-


-


maaf teman-teman segini dulu ya,,,

__ADS_1


asam lambungku lagi kumat,, nanti kalo udah mendingan aku lanjut lagi 🙏


__ADS_2