
Sam sudah akan mengambil salah satu menu di hadapannya, tapi Ken langsung meneriakinya lagi, "Saam".
***
Suasana menjadi tegang lagi saat Ken kembali meneriaki Sam. Ana sekilas melirik ke arah Ken yang kini duduk di sebelahnya. Kemudian dia menatap Sam yang sedang duduk di seberangnya.
"Kau! Aku harus jadi yang pertama untuk mencicipi masakannya", ucap Ken datar.
Ana mengulum bibirnya untuk menahan tawa, sedangkan Sam mencebik kesal pada kakaknya.
"Ya, ya, makanlah makan kak. Kau yang pertama, silahkan!", ucap Sam malas. Dia menyangga dagunya dan memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menggerutu. "Mau makan saja jadi repot begini. Apakah dia tidak tahu betapa sibuknya aku, hingga menjadi kelaparan begini", gerutu Sam dengan nada terendahnya.
"Jika kau begitu sibuk, kau bisa makan di luar", ucap Ken yang masih menangkap dengar gerutuan Sam.
"Tidak kak, aku tidak sibuk. Tenang saja, aku masih banyak waktu untuk menghabiskan makanan lezat ini", Sam memasang senyum palsunya sambil melambaikan tangannya ke arah Ken.
Ken menikmati setiap hidangan yang Ana buat. Matanya terpejam mencoba merasakan setiap kenikmatan yang Ana berikan pada masakannya. "Lumayan", ucap Ken sambil terus melahap makanannya.
Merasa kini gilirannya, Sam mengambil beberapa hidangan untuknya sendiri. Sam melahapnya dengan begitu rakus.
"Apanya yang lumayan kak. Ini sangat enak. Masakan kakak ipar setara dengan kepala kokimu, tahu!", ucap Sam sambil menguyah makanannya.
"Terima kasih", Ana tersenyum pada Sam. Dia senang jika ada orang lain yang mau menikmati hasil masakannya. Sejujurnya Ana tak peduli bagaimana penilaian orang lain, yang terpenting dia telah melakukannya dengan senang hati.
"Kau memang cocok menjadi kakak iparku, kak", Sam membalas senyuman Ana.
"Ya? Kakak ipar?", Ana terheran mengapa lagi-lagi Sam selalu menyebutnya dengan kakak ipar.
"Kau memang calon istriku", jawab Ken seakan tahu isi pikiran Ana.
"Apa maksudmu Ken?", Ana mengehentikan makannya dan menatap Ken.
"Bukankah sudah kukatakan, hanya kau yang pantas untuk menikah denganku. Dan aku juga sudah melamarmu tadi", jelas Ken dengan santainya.
__ADS_1
"Tapi aku belum siap untuk menikah Ken", ucap Ana serius.
"Aku akan memberikanmu waktu untuk siap menikah denganku. Tapi bukan berarti aku melepaskan mu. Kau tetap adalah milikku. Kau adalah wanitaku. Mengerti?!", ucap Ken yang kini menggenggam jemari Ana dan mengecupnya. Ana mengangguk setuju dengan penuturan Ken. Mereka berdua saling memandang dan tersenyum.
"Hey, abaikan saja manusia yang sebatang kara ini. Anggap saja aku tidak ada. Silahkan nikmati waktu indah kalian!", sindir Sam dengan wajah masamnya.
Ken dan Ana terkekeh mendengar ucapan Sam. "Segera kau carilah wanita milikmu. Jangan hanya bermain saja kau!", ucap Ken.
"Coba lihatlah dia kakak ipar! Betapa sombongnya dia setelah memiliki dirimu. Padahal sebelum bertemu denganmu, mana pernah kakakku ini mengurusi kehidupan pribadi ku. Hah, sungguh beruntungnya dia bisa bertemu denganmu. Kau tau kak, kakakku ini tidak pernah menyukai seorang wanita mana pun apalagi menyentuhnya. Kau adalah wanita pertama baginya. Jadi bisa kau bayangkan nanti bagaimana...tunggu..tunggu", Sam menghentikan racaunya saat matanya menangkap satu tanda kemerahan di leher Ana.
Ana menatap Sam yang memandangnya dengan tatapan menyelidik. Ana mengerutkan alisnya dalam.
"Apakah ada serangga yang menggigitmu? Apakah serangganya begitu besar hingga bisa meninggalkan jejak sebesar itu? Apakah serangganya begitu menyukaimu, hingga menandai kepemilikannya padamu?!", Sam memberondong pertanyaan pada Ana sambil menyeringai.
"Uhuk, uhuk, uhuk", Ana langsung terbatuk mendengar berondongan pertanyaan dari Sam.
Ken menyodorkan gelas berisi air putih agar Ana meminumnya. "Terima kasih", ucap Ana padanya.
"Apakah terlalu kelihatan, Ken", bisiknya pada Ken.
"Ken, kau!", ucap Ana sambil mengeratkan rahangnya.
"Apakah kau mau lagi?", tanya Ken yang sengaja menggoda Ana.
"Ken!", Ana mencubit pinggangnya gemas. Dia tak habis pikir, di saat dia sedang menahan malu, Ken malah menggodanya lagi. Ana tak memperdulikan Ken yang mengaduh kesakitan.
Sam memandang kedua pasangan di hadapannya dengan senyum damai. Akhirnya kakak kesayangannya bisa berubah. Dia yang dulu sangat dingin terhadap wanita, kini bahkan dirinya mau mengaduh kesakitan seperti ini. Dulu mana ada yang berani menyentuh atau bahkan mendekatinya pun sudah membuat takut dan mengurungkan niatnya.
"Oh iya kak, bagaimana dengan makan malam di rumah besar. Apakah kakak ipar sudah mengetahuinya?", pertanyaan Sam menghentikan aktifitas Ana dan Ken.
"Ah, aku hampir lupa!", ucap Ken kemudian menatap Ana lekat.
"Minggu ini orang tuaku mengundang kami untuk makan malam bersama. Mereka memerintahkan kami untuk membawa calon menantu untuk mereka. Atau jika tidak, orang tuaku akan membawakannya untuk kami", jelas Ken pada Ana. Ana tak merespon, dia masih mencerna ucapan Ken.
__ADS_1
"Jadi maukah kau ikut denganku untuk makan malam bersama orang tuaku?", tanya Ken sedikit ragu.
"Jadi kau melakukan semua ini, menyatakan cinta padaku dan sebagainya hanya agar bisa membawaku ke sana agar kau tidak dijodohkan dengan wanita lain?", Ana menarik kesimpulannya sendiri sambil mengawasi ekspresi Ken.
Kini Ken memposisikan duduknya menghadap Ana. Dia menggenggam kedua tangan Ana dan mengusapnya lembut. Ken menatap mata Ana dalam.
"Tentu saja tidak! Mereka mengatakan padaku setelah aku yakin telah jatuh cinta padamu. Kebetulan situasinya sangat pas jika aku membawamu sebagai calon istriku. Karena aku hanya akan menikah denganmu saja, sudah kukatakan bukan", Ken menjelaskannya dengan tenang.
Ana menatap Ken dalam. Dia berusaha mencari jejak kebohongan di matanya. Tapi nyatanya Ken jujur, tak ada jejak kebohongan atau apa pun di sana. Nada Ken berbicara pun terdengar tulus. Ana berusaha meyakinkan dirinya untuk mempercayai Ken saat ini.
"Baiklah untuk saat ini aku mempercayaimu!", ucap Ana datar. Dia mencoba melepaskan genggaman tangan Ken padanya.
"Tidak, kau belum mempercayaiku", Ken menahan tangan Ana.
"Apa buktinya?", tanya Ana menantang.
"Kau mau apa? Semuanya akan kuberikan padamu. Saksi-saksi, rekaman cctv kantor dan juga rumahku, apa itu cukup?!", ucap Ken sungguh-sungguh yang menegaskan pada Ana bahwa dia serius mencintai Ana bahkan jika orang tuanya tak mengundangnya sekali pun.
"Ya, ya, baiklah. Aku percaya padamu", Ana akhirnya menguarkan senyumannya.
"Bisakah kalian menghentikan drama romantis ini. Tidakkah kalian mengasihani diriku?!", ucap Sam memelas sambil mengunyah makanannya.
"Ayo kita lanjutkan makan siangnya", ucap Ana pada Ken seraya tersenyum manis.
Mereka bertiga pun melanjutkan makan mereka hingga tanpa terasa makanan di sana sudah habis tak tersisa.
"Wah, aku kenyang sekali!", ucap Sam sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
"Heh! Apa kau sudah tidak makan 3 hari ?!", sindir Ken padanya.
"Memangnya kenapa?! Heh! Selain masakan Bunda, masakan kakak ipar memang yang paling enak", Sam mengacungkan kedua ibu jarinya pada Ana.
Ken memandang bangga pada Ana yang sedang tersenyum ke arah Sam. Dirinya memang tidak salah jatuh cinta pada wanita yang tengah duduk di sebelahnya itu. Begitu banyak bakat yang dia punya, bahkan Ken belum mengetahui semuanya. Ken mengusap lembut kepala Ana, dan Ana pun memandangnya sambil tersenyum. Mereka mentransfer perasaan mereka lewat senyum yang mereka lempar pada satu sama lain.
__ADS_1
"Oh ya kak, kalau tidak salah dengar Bunda mengatakan bahwa Joice akan datang", ucap Sam tanpa rasa bersalah.
"Joice?", tanya Ana lambat-lambat dengan penuh penekanan sambil menatap Ken dengan tatapan menyelidik.