Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 56


__ADS_3

"Brughh!", seseorang menabrak Sam dan jatuh dalam pelukannya.


***


Sam dengan sigap mendekap tubuh itu agar tak terjatuh.


"Kau lihat sendiri bukan?! Akan ada saja wanita yang dengan sengaja melakukan hal ini demi mendapatkan perhatianku!", ucap Sam dengan seringainya. Ia merasa menang, karena ucapannya tadi sudah mendapatkan buktinya langsung.


Tubuh wanita itu tak bergeming. Malahan seakan tak berdaya dan hilang kesadaran. Sera menyadari hal itu dan berjalan mendekat ke arah Sam. Ia memegangi kening wanita itu, suhu badannya sangat panas. Sera membulatkan matanya menatap Sam.


"Dia demam, Sam!", ucapnya pada Sam.


Sam melonggarkan dekapannya dan mencoba mengecek kening wanita itu dengan tangannya sendiri. Dan saat Sam menyelidik ke arah wajahnya, memang benar wajah itu terlihat pucat pasi. Akhirnya ia menyadari bahwa ucapannya itu salah. Tiba-tiba gurat khawatir hadir pada raut wajah Sam. Ia melihat sebuah nama terpampang di sudut dadanya.


"Sarah", ucapnya dalam hati.


"Lalu kita harus bagaimana?", tanya Sam sedikit panik.


"Hey, kenapa kau panik! Dia bukan istrimu!", ledek Billy dengan seringai.


"Kurasa dia seorang karyawan di sini!", ucap Roy yang melihat wanita itu memakai seragam dengan logo club ini.


Beberapa karyawan lainnya melewati mereka. Dan Sera pun berinisiatif memerintahkan para karyawan itu untuk membawa Sarah yang pingsan ke ruang kesehatan. Setelahnya Sam, Billy, Roy dan Sera melanjutkan tujuan mereka datang ke tempat ini. Tapi entah mengapa gurat khawatir pada wajah Sam itu kadang hadir kadang hilang.

__ADS_1


Mereka sudah memasuki ruangan VIP. Roy dan Sera terlihat bercengkrama dengan mesra. Sedangkan Billy tengah asik menggoda wanita di sampingnya. Mereka menikmati kegiatan masing-masing tapi tidak dengan Sam. Padahal sudah ada dua orang wanita cantik dengan tubuh seksi yang sangat menggoda, tapi tak urung membuatnya merasa menikmati malam ini.


Kedua wanita itu menempel erat pada lengan Sam di sisi kanan dan kirinya. Menggoda Sam dengan mengelus-elus dada bidangnya. Pria itu tak bergeming, pandangannya lurus ke depan namun kosong.


Saat Sam memandang wanita di sisi kirinya, yang nampak malah bayangan Sarah dengan wajah pucatnya yang sedang pingsan tadi. Ia menggeleng pelan mencoba menjernihkan pikirannya. Kemudian ia menoleh ke arah kanan dan tetap sama, bayangan Sarah muncul lagi mengganggu benaknya.


Sam meraup wajahnya kasar. Ia menyingkirkan tangan-tangan nakal yang menjelajah pada dada bidangnya. Ia mencondongkan tubuhnya dan menopang wajahnya dengan kedua tangan. Sam terlihat risau, ia pun menangkup seluruh wajahnya agar tak terlihat oleh teman-temannya.


Sera tengah berbisik pada Roy sambil terkekeh. Roy melirik ke arah Sam dengan seringai juga. Ternyata sejak tadi, dua orang itu sudah memperhatikan gerak-gerik Sam. Mereka terkekeh bersamaan melihat Sam yang makin gusar.


Sepasang tangan lentik berhasil meraih lengan Sam untuk menarik perhatiannya.


"Tuan Sam!", wanita di sebelah kirinya memanggil dengan manja. Sam menoleh ke arahnya dengan wajah datar, tak seperti biasanya ia akan dengan senang hati meladeni wanita yang mulai bermanja-manja padanya. Ia merebahkan tubuhnya pada punggung sofa masih dengan tatapan datarnya.


"Apakah kau ingin aku membuatmu senang? Sepertinya perasaan Tuan sedang tidak baik", dengan berani wanita itu berucap dengan nada menggoda.


"Pergilah!", ucap Sam lembut namun terdengar menuntut.


"Tapi Tuan!", dengan berani ia memainkan jarinya lagi pada dada Sam.


"Pergi! Jangan sampai aku mengulanginya lagi!", bentak Sam padanya. Dan otomatis semua yang di sana menoleh ke arah Sam.


Billy memberi isyarat pada dua wanita di sebelah Sam yang terlihat gemetar. Billy memerintahkan mereka untuk pergi keluar dengan isyarat matanya. Dan langsung dipatuhi oleh dua wanita itu. Mereka langsung terbirit-birit keluar ruangan.

__ADS_1


Setelah dua wanita itu pergi, tak ayal Sam langsung menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Mereka terbahak bersamaan. Seorang Samuel Wiratmadja yang selama ini dikelilingi wanita bisa terganggu pikirannya oleh seorang pegawai club malam yang jatuh pingsan dalam dekapannya. Mereka tertawa hingga bulir air mata menggenang di sana.


"Sial!", umpat Sam dengan wajah suramnya. Ia sudah berusaha keras menahan sabar sejak tadi. Sudah 15 menit Sam menjadi bahan tertawaan. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan itu.


"blamm!", Sam membanting pintu ruangan yang para penghuninya masih tertawa di sana. Dengan wajah kesal ia memilih pergi dari tempat itu.


Sam melangkah menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Dia berkomat-kamit selama perjalanannya menuju mobil. Bibirnya mencibir kesal mengingat malam ini ia hanya dijadikan bahan tertawaan oleh teman-temannya. Sam kembali mengingat wajah Sarah yang nampak pucat dan polos.


Ia sudah memasuki mobil, tapi tak urung ia menjalankannya. Sam memaku di dalam sana saat ia melihat seseorang tengah di berjalan sempoyongan. Matanya menyipit menyelidik ke arah bayangan samar orang itu. Hingga tiba-tiba bayangan itu hilang dari pandangannya, Sam bergegas keluar dari mobilnya. Matanya menyapu tempat terakhir orang itu berdiri, benar saja terdapat tubuh seseorang tersungkur tak jauh dari mobilnya.


Sam mendekat ke arah tubuh itu. Ia menggapainya dan membalikkan badannya agar ia bisa melihat siapa gerangan tubuh yang tak sadarkan diri itu. Matanya melebar saat tau yang ada di tangannya ialah Sarah, pegawai wanita yang ia selamatkan sebelumnya juga dalam keadaan pingsan. Sam menyentuh keningnya lagi, merasakan panas yang menjalar akibat demamnya yang tak kunjung turun juga.


Akhirnya ia memutuskan untuk menggendongnya dan membawa Sarah bersamanya. Sam merebahkan tubuh Sarah pada kursi bagian belakang. Kemudian ia melajukan mobilnya sambil sesekali melirik ke arah Sarah yang tengah tak sadarkan diri. Kerutan-kerutan kekhawatiran menghiasi wajahnya.


***


Sarah terbangun dari lelapnya yang ia tak tau kapan mulanya. Kepalanya masih sedikit berat dan ia sedang bersusah payah mengerjap agar matanya membuka. Samar-samar ia melihat langit-langit putih nan luas dan beberapa perabot mewah ada di sana. Bukan, ini bukan kamarnya. Ini lebih seperti kamar hotel atau kamar seseorang yang memiliki harta.


Ia merasakan ada sesuatu yang lembab di keningnya, itu adalah handuk kecil bekas kompres yang ia tau setelah merabanya. Dan ada sepasang tangan melingkar dengan kuat pada pinggangnya. Sarah meraba tangan itu yang ia rasa merupakan tangan seorang pria.


Kesadarannya dipaksa untuk pulih seketika. Ia berusaha menoleh ke arah belakang untuk menyelidik siapa pria yang ada bersamanya saat ini. Seorang pria tampan sedang tidur nyenyak di belakangnya. Ia tak mengenali wajah pria itu.


Sarah mengecek keseluruhan pakaiannya, tapi tak ada yang berkurang satu pun. Semuanya masih lengkap, hal itu membuatnya menghela nafas lega. Ia berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum dirinya tak sadarkan diri. Akhirnya yang ia ingat adalah ia sekuat tenaga berjalan setelah mendapatkan ijin untuk pulang karena sedang tidak enak badan. Dan akhirnya ia terhuyung dan tak mengingat apa-apa lagi.

__ADS_1


"Mungkinkah orang ini sudah menyelamatkan aku?!", gumamnya dalam hati.


Sarah menyapu keadaan sekitar, benar saja ia kini tengah berada di sebuah kamar hotel nan mewah. Pandangannya teralihkan pada tasnya yang nampak masih utuh sedang bersandar pada sofa empuk di sana. Kemudian ia menoleh ke arah Sam yang masih lelap dengan tatapan waspada.


__ADS_2