Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 90


__ADS_3

Kebetulan saat itu Ana sedang memegang ponselnya. Benda pipih itu memberikannya sebuah ide.


"Emmh ya, baiklah!", Ana memasang wajah ragu dan meletakkan ponselnya di atas nakas dekat ranjang ayahnya. Kemudian ia melangkah keluar ruangan itu. Setelah menutup pintu, Ana pun tersenyum. Karena sebelumnya ia telah menyalakan perekam suara pada ponselnya agar ia dapat mengetahui apa yang akan dibahas oleh ayah dan kekasihnya itu.


"Jangan harap kalian bisa menyembunyikan sesuatu dariku!", kecam Ana dalam hatinya sambil tersenyum.


***


Tuan Danu berusaha mendudukkan dirinya di ranjang dengan sedikit tenaga yang ia punya. Ken mengetahui hal itu langsung berinisiatif membantunya.


"Bukankah tadi Paman sempat kritis? Lalu bagaimana sekarang Paman bisa terlihat baik-baik saja?", tanya Ken seraya membantu Tuan Danu untuk duduk.


"Benarkah? Yang aku tau saat ini aku merasa lebih baik", jawab Tuan Danu dengan santainya seperti tak pernah terjadi sesuatu pada dirinya.


"Sudah begini bisa-bisanya Paman masih bercanda!", tegur Ken sambil menggelengkan kepalanya melihat pria paruh baya yang berusaha terlihat tak ada masalah dengan dirinya.


"Aku tidak bercanda, aku serius! Aku merasa baikan, dan yang aku rasakan kini hanyalah sebuah rindu, rindu yang sangat besar pada mendiang istriku!", ucap Tuan Danu mengalihkan pandangannya ke arah depan.


Ken memahami maksud perkataan Tuan Danu. Ia lalu menatap pria tua itu dengan mata sendu. Sepertinya ia tau alasan apa yang membuat Ana menangis tadi saat ia masuk. Tapi sungguh saat ini Ken sedang tak memiliki kalimat-kalimat menghibur atau sebagainya untuk diucapkan kepada Tuan Danu. Karena pikirannya sedang bercabang dengan urusannya untuk membuat perhitungan kepada Tuan Bram, biang kerok semua permasalahan ini.


"Tolong jangan mengatakan apa pun lagi, Paman! Ana masih membutuhkan dirimu", Ken pikir hanya kalimat itu yang tersirat di benaknya saat ini. Dimana hanya Ana alasan yang dapat ia buat supaya Tuan Danu mau kembali berjuang untuk kehidupannya.


"Ya, ya, Baiklah!", Tuan Danu tak ingin berdebat.


"Kau sudah menyelidiki kecelakaan yang terjadi padaku?," Tuan Danu telah merubah ekspresinya menjadi serius.


"Tentu saja!", Taun Danu mengangguk mendengar jawaban pasti dari Ken.


"Beberapa hari yang lalu seseorang datang berkunjung. Orang itu mengatakan bahwa ia adalah salah satu orang suruhan Bram. Tapi anehnya ia tidak melakukan apapun padaku. Malahan orang itu hanya mengingatkan aku untuk segera menyelamatkan putriku dari bayang-bayang keserakahan Bram. Selagi ia belum mencapai tujuannya, maka Bram akan terus berusaha untuk menyingkirkan aku dan putriku. Begitulah pesannya padaku", jelas Tuan Danu pada Ken yang menatapnya lekat.


"Orang itu tidak berbohong kepadaku!", batin Ken yang merajuk pada Yohan.


Tuan Danu menghela nafasnya panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. Karena peringatan yang Yohan berikan kepadanya cukup membebani hati dan pikirannya saat ini. Sesungguhnya ia tak ingin mengumandangkan perang dengan adiknya sendiri, saudara sedarah yang hanya ia miliki. Tapi mengingat tabiat adiknya yang sangat buruk, apalagi yang bisa ia lakukan selain melindungi harta berharganya, Ana.


"Ken, selidiki dari mana Bram bisa mendapatkan saham yang sebesar itu. Aku mencurigai sesuatu, karena tidak mungkin ia mempunyai uang sebanyak itu", pinta Tuan Danu pada Ken yang masih mendengarkannya dengan seksama.

__ADS_1


"Baik, Paman!", Ken berpikiran sama dengan Tuan Danu. Pasti ada seseorang yang lebih besar dibalik semua ini.


"Ah ya, Paman! Tapi bagaimana bisa kebetulan Paman kembali tak sadarkan diri setelah orang itu masuk ke ruangan ini?!", Ken tiba-tiba teringat dengan kondisi Tuan Danu setelah kedatangan Yohan.


Butuh beberapa waktu bagi Tuan Danu untuk mengatakan alasan kondisinya yang tiba-tiba menurun saat itu. Ia kembali menghela nafas beratnya. Dadanya masih terasa nyeri akibat kecelakaan waktu itu, pula dengan otaknya yang terus memikirkan Ana.


Sebenarnya rasa lelah telah bergelayut membebani bahunya sejak lama. Kini saat ia terbaring dan tak mengurus satu masalah pun, rasanya ringan sekali beban yang ia tanggung sekarang. Ia lelah mencampuri urusan duniawi ini, urusan yang tak akan pernah terselesaikan bila menyangkut uang.


Ditambah lagi sudah belasan tahun ia sendiri, memikul tanggung jawab besar sebab memainkan peran sebagai ayah maupun ibu bagi Ana. Rasanya ia sudah ingin menemani mendiang ibunya Ana itu di surga sana. Rasanya sudah tak ingin ia mencampuri urusan yang tak ada habisnya ini.


Tapi entahlah, pasti akan selalu ada hikmah dibalik semua kejadian. Pun sama dengan dirinya yang sadar kembali. Pasti ada sebuah alasan ,setiap kali Tuhan menentukan nasib seseorang.


"Aku sudah mengatakan sebelumnya bukan! Aku sangat rindu dengan mendiang istriku", Tuan Danu membuang mukanya ke arah lain agar Ken tak melihat ekspresinya saat ini.


"Paman!", tegur Ken mencoba menghentikan pembicaraan yang makin membuat hatinya ngilu.


"Ken, jagalah putriku dengan baik. Lindungi dia, Ken. Cintai dia sepenuh hatimu walau dunia menentang hubungan kalian. Hanya kau yang bisa aku andalkan saat ini, Ken!", Tuan Danu masih melempar pandangannya ke arah lain.


"Aku menitipkan Ana padamu!", kali ini Tuan Danu menoleh ke arah Ken dengan raut kesedihan yang terpampang nyata dalam wajahnya.


"Baik, Paman! Sebelumnya aku juga telah berjanji kepadamu, bukan! Kalau begitu, ini janjiku Paman, janjiku padamu dan pada Ana bahwa aku akan selalu menjaganya, melindunginya dan tentu selalu mencintainya. Aku berjanji Paman", ucap Ken mantap dengan nada yang terdengar tegas.


"Baiklah, aku tenang sekarang! Kemarilah biar aku memelukmu dulu, mungkin nanti aku tak akan bisa memelukmu lagi!", ucap Tuan Danu dengan nada gurauann namun bibirnya mengukir senyum penuh ironi.


"Paman!", Ken mendekat dan merangkul tubuh pria itu. Dada Ken sesak mendengar kalimat candaan yang terdengar lebih seperti ucapan selamat tinggal itu. Ia tak bisa membayangkan jika Ana yang mendengarkan langsung. Bagaimana hancurnya hati Ana nanti, Ken tak sanggup melihat Ana menangis lagi.


"Ayah! Ken!", seru Ana yang tiba-tiba saja masuk bertepatan dengan dua pria yang saling melepas pelukannya.


"Apa yang kalian lakukan? Apakah sekarang kau lebih menyukai ayahku, heh!", Ana mencibir seraya berjalan mendekat. Tangannya meraih ponsel di atas nakas dengan hati-hati agar kedua pria itu tidak menyadarinya. Kemudian ia bergelayut manja pada lengan Ken.


"Kau cemburu pada ayahmu sendiri, heh!", Tuan Danu menggeleng seraya tersenyum haru melihat Ana dan Ken berdiri bersama. Kini ia telah menyerahkan sepenuhnya putri kesayangannya itu kepada laki-laki yang amat ia percayai. Karena entah bagaimana, mereka bisa bertemu dan saling mencintai. Mungkin takdir yang menuntun langkah mereka untuk bertatapan satu sama lain.


"Kau ini!", Ken mencubit kecil hidung Ana dengan gemasnya.


"Kau berbohong kan! Sam mengatakan kau tidak meninggalkan apa pun padanya", ucap Ana berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.

__ADS_1


"Benar! Mungkin dia lupa", Ken memasang wajah datarnya agar Ana tak dapat membaca ekspresinya. Tapi itu terlambat, karena Ana sudah mengetahui mereka telah berbicara serius meskipun entah apa yang dibicarakan.


"Ya sudah, aku mau ke toilet dulu! Kalian lanjutkan lagi saja mengobrolnya. Tapi ingat, dilarang membicarakan wanita lain, oke", ancam Ana dengan garangnya tapi kemudian ia tersenyum seraya melangkah keluar.


"Lihat, paman! Putrimu benar-benar menakutkan!", kedua pria itu menggeleng bersamaan.


***


Ana memilih toilet di lantai yang sama, karena di lantai itu memiliki sedikit pengunjung sehingga kemungkinan besar toilet itu akan sepi. Ana memasuki salah satu bilik kamar mandi dan meraih ponselnya di dalam tas kecil yang ia bawa.


Ia memutar rekaman suara itu. Awalnya ia begitu serius mendengar dengan alis berkerut. Tapi di saat kalimat-kalimat terakhir itu terdengar, wajah Ana mulai memerah. Matanya panas hingga menimbulkan genangan air di sana. Hingga akhirnya tumpah dan banjir ketika ia mendengar kalimat terakhir yang ayahnya ucapkan pada Ken.


"Baiklah, aku tenang sekarang! Kemarilah biar aku memelukmu dulu, mungkin nanti aku tak akan bisa memelukmu lagi!".


Ana membungkam mulutnya dengan satu tangan. Ia menahan tangisnya agar tak bersuara. Di dalam bilik itu, Ana menangis pilu. Kembali ia merasakan sakit yang teramat sangat pada dadanya. Relung hatinya tersayat-sayat mendengar kalimat dimana seakan-akan ayahnya mengucapkan salam perpisahan. Dinding bilik itu menjadi saksi Ana menangis dalam diam.


***


Di sebuah supermarket, terlihat Louis dan Krystal sedang berbelanja. Louis dengan santainya mendorong troli saat Krystal tengah sibuk memilih barang-barang belanjaan. Namanya wanita, pasti akan sangat lama baginya memilih barang satu ke barang lainnya. Tapi Louis tetap sabar menemani Krystal yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya itu.


Krystal menggunakan pakaian casualnya dan ia menggunakan topi untuk sedikit menutupi wajahnya. Sedangkan Louis, ia menggunakan hoodie hitam untuk menutupi kepalanya. Mereka yang notabene merupakan seorang public figure harus menjaga privasi mereka, ditambah lagi sepasang kekasih itu belum mengumumkan hubungan mereka ke media. Jadi mereka harus ekstra hati-hati agar tak menimbulkan gosip-gosip miring.


"Lou, apakah kau lelah? Maaf membuatmu menemaniku berbelanja selama ini", Krystal menoleh ke arah Louis sambil tersenyum sendu.


"Aku sudah terbiasa menunggu, sayang. Jangankan menunggumu berbelanja, menunggumu membalas cintaku saja aku bisa", Louis menaikkan kedua alisnya seraya tersenyum manis kepada Krystal.


"Lou, aku serius", ucap Krystal pelan seraya memalingkan wajahnya yang sudah merah karena malu.


"Aku juga serius!", ucap Louis tegas. Hal itu malah membuat Krystal makin memanas wajahnya.


"Lou, masak untukku yah!", ucap Krystal manja sambil menggoyang-goyangkan hoodie yang Louis pakai.


"Apa saja akan aku lakukan untukmu, tuan putri!", Louis mengusap kepala Krystal dengan penuh kasih sayang.


Krystal begitu gembira masih memegangi tangan Louis agar bertahan di kepalanya. Ia berjalan mundur sambil tersenyum manis ke arah Louis. Hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2