Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 180


__ADS_3

"Permisi Nona! Tuan Ken sudah datang menjemput Nona Ana. Tuan sedang menunggu di ruang tengah", salah satu pelayan memberikan informasi kepada keempatnya.


"Baiklah, terima kasih!", Ana menjawab ucapan pelayan tadi seraya berdiri. Pelayan itu pun segera undur diri.


"Baiklah, sudah waktunya aku pulang!", Ana meraih tasnya yang tergantung di belakang kursinya.


"Hah! Kenapa suamimu cepat sekali sih menjemputmu! Rasanya kau baru sebentar bersama kami! Harusnya nanti saja atau besok saja dia menjemputmu, biar kami puas bermain denganmu", gerutu Krystal kesal sendiri.


"Katakan saja langsung padanya jika kau berani!", Sarah menyahuti ucapan Krystal yang semena-mena itu. Lagipula itu Tuan Ken, dia Presdir Ken yang terhormat, siapa juga yang berani melawannya. Dirinya saja masih merasa seram ketika melihat wajah suami sahabatnya itu.


"Aku,,, bicara langsung padanya? Heh!", Krystal bergaya congkak.


"Mana berani!", suaranya melemah sambil terkekeh sendiri dengan ucapannya.


"Aku kan hanya bicara sembarangan saja!", tambahnya lagi membela diri.


"Dasar kau ini! Yasudah aku pulang dulu, ya!", Ana melangkah lebih dulu ke arah dalam.


"Tunggu, kami akan mengantarmu sampai depan!", Krystal dan Sarah kompak meraih Ana ke dalam rangkulan mereka. Hingga kini Ana berada di antara keduanya.


"Geser sedikit! Kalian menghimpitku! Kasian anakku merasa sesak, tau!", Ana melepaskan tangan keduanya yang telah bertengger di kedua bahunya.


"Baiklah, maafkan kami ya sayang!", Krystal kembali mengusap perut Ana dengan suara dibuat seimut mungkin.


Akhirnya ketiganya hanya berjalan beriringan menuju ke arah ruang tengah. Sedangkan Ibu Asih menyusul di belakang dengan senyum teduhnya. Ia memandangi punggung putrinya. Kemudian ia juga menyapu punggung kedua wanita di sebelahnya. Ibu Asih tersenyum teduh, ia merasa benar-benar sangat beruntung bahwa putrinya di kelilingi orang-orang baik seperti Ana dan juga Krystal. Ibu Asih merasa sangat berterima kasih karenanya.


"Sayang!", Ana menghamburkan ke dalam pelukan suaminya.


"Jangan berlari!", Ken memperingati istrinya dengan lembut. Ia langsung membalas pelukan istrinya itu dan menghadiahinya sebuah kecupan yang amat dalam di pucuk kepala Ana.


"Eherm! Masih ada kami di sini!", selain Sam yang sering protes dengan adegan romantis ini adalah Sarah. Wanita itu selalu mengekspose kehadirannya jika pasangan suami istri itu sedang menampakkan keharmonisannya yang tak mengenal tempat.


"Kau ini iri saja! Makanya segeralah punya pasangan!", Krystal tiba-tiba merasakan mulutnya sudah salah bicara ketika ia melihat wajah Sarah berubah murung. Dan lagi kini Ana sedang melempar tatapan tajam ke arahnya.


"Sungguh aku tak sengaja!", Krystal berucap tanpa suara ke arah Ana dengan wajah panik. Ia sungguh tak bermaksud membuat Sarah bersedih.


"Sarah! Maafkan aku! Sungguh aku tidak bermaksud melukai perasaanmu!", dengan tulus Krystal memohon maafnya kepada Sarah. Ia yang sekarang sudah berubah, ia akan meminta maaf jika memang yang dilakukannya adalah salah. Krystal yang sekarang bukan lagi Krystal yang arogan seperti dulu.


Sejenak terdiam sambil membuang wajahnya ke arah lain, akhirnya Sarah mau mengangkat kepalanya sambil tersenyum kepada mereka semua.


"Sudah tidak apa-apa! Aku tau kau tidak seperti itu. Lihat! Aku baik-baik saja, kan!", Sarah mencoba sebisa mungkin tersenyum ceria. Menahan getir di hatinya yang kembali menyeruak.


Ibu Asih sangat tau bahwa putrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Ia adalah ibu kandungnya, maka Ibu Asih dapat merasa apa yang anaknya rasakan saat ini. Tapi ia juga tidak dapat menyalahkan siapa-siapa. Karena ia juga percaya bahwa Krystal tidak mungkin sengaja mengatakan kalimat yang membuatku teringat tentang seseorang lagi.

__ADS_1


brum,,,, brum


Sebuah mobil kembali memasuki halaman parkir kediaman mewah ini. Ken sempat panik, jika yang datang adalah Sam. Pasalnya tadi ia secara tidak langsung mengatakan jika Sarah berada di dalam perlindungannya. Ken pikir mungkin adiknya itu sudah mengirimkan seseorang untuk mengikutinya. Dan pria itu menjadi was-was saat ini.


"Sayang!", suara khas itu membuat Ken menghembuskan nafasnya lega.


"Ada apa?", bisik Ana pelan. Ia merasa khawatir karena ekspresi suaminya terlihat berbeda, seperti sedang menyembunyikan sesuatu pikirnya.


"Tidak ada!", jawab Ken sambil mengelus pipi istrinya. Berharap Ana akan percaya kepadanya.


Ana masih mengernyitkan ujung alisnya dalam-dalam, masih meminta diberi penjelasan. Dirinya seakan tak puas dengan jawaban yang Ken berikan tadi.


"Baby, sayang!", kali ini suaranya sudah sangat dekat dengan mereka.


"Oh baby!", sapa Krystal juga segera menghambur ke dalam pelukan Louis yang baru saja datang.


"Hai semuanya! Halo juga Tuan Ken! Selamat kau akan menjadi ayah sebentar lagi!", sapa Louis setelah melepaskan pelukannya dengan Krystal.


"Iya, terima kasih!", jawab Ken datar.


"Ana! Selamat ya kau akan segera menjadi ibu!", ucap Louis riang.


"Jangan memelukku! Nanti suamimu akan marah lagi padaku!", Louis buru-buru berucap mengingat kejadian tempo hari di rumah sakit saat mendiang Tuan Danu dirawat di sana.


"Hey, Tuan! Mengapa kau menjadi begitu kaku begini?! Mereka hanya teman, okey!", Krystal menggelengkan kepalanya sambil mendesah pasrah.


"Tidak boleh, ya tidak boleh! Ana hanya milikku seorang, tidak ada yang boleh menyentuhnya!", sahut Ken ketus merasa benar dengan apa yang dilakukannya.


"Baiklah! Aku memang hanya milikmu seorang, okey", Ana menenangkan suaminya yang selalu posesif itu. Bahkan kadar over, hehe. Hanya dia yang mampu menenangkan raja singanya jika sudah tidak suka. Lalu ia menoleh kepada sepupunya memberi isyarat untuk tidak melanjutkan lagi perdebatan mereka.


"Sudahlah, sayang! Kau tidak akan menang jika sudah mulai berdebat dengan Presdir Ken yang terhormat ini!", sindir Louis sambil melempar senyum manisnya pada Krystal yang berdiri di sebelahnya.


"Kau!", Ken sudah menggeram marah.


cup


Akhirnya Ana mendaratkan satu kecupan di pipi suaminya. Benar-benar berharap amarahnya akan mereda. Ken segera menoleh saat tiba-tiba mendapati pipinya disentuh oleh bibir lembut istrinya.


"Lagi!", perintahnya sambil menunjuk pipinya yang sebelah kiri.


Ana mendesah lagi sebelum menuruti kemauan suaminya itu. Pria ini selalu saja minta jatah lebih jika sudah diberi kesempatan seperti ini. Suaminya itu tak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan.


cup

__ADS_1


Seperti biasa, dengan ide yang ada, tiba-tiba ia menoleh ke arah wajah Ana. Lalu bukannya pipi, melainkan bibirnya yang tersentuh bibir ranum merah muda istrinya. Ken sengaja melakukan hal itu untuk mendapatkan keuntungan yang sebenarnya. Ana sontak memukul pelan lengan atas suaminya sambil menunduk menahan malu karena menjadi tontonan orang-orang. Namun untungnya Ibu Asih sudah tidak ada di sana yang entah sejak kapan pun mereka tidak mengetahuinya.


"Ternyata Tuan Ken juga tidak tau malu, ya!", komentar Louis tiba-tiba.


"Jangan iri, sayang! Sini,,,", Krystal pun akan memberikan sebuah ciuman di pipi kekasihnya.


cup


Louis menolehkan kepalanya hingga ia pun mendapatkan satu kecupan di bibirnya. Lalu ia pun tersenyum penuh kemenangan ke arah Ken yang berada di seberangnya.


"Plagiat!", sindir Ken yang tentu saja ia tujukan kepada Louis tentunya.


"Tak masalah! Tidak melanggar hak cipta!", sahut balik Louis kepadanya dengan wajah sangat tenang.


Jelas hal itu membuat wajah Ken memerah. Ana berdecak dalam hati. Kenapa prianya ini susah sekali mengontrol emosi jika sudah menyangkut pria lain di hadapan mereka. Apalagi ini Louis yang notabene sudah cinta mati dengan Krystal. Tapi kenapa masih saja mereka selalu memiliki perselisihan setiap kali bertemu.


Di luar lingkaran kebahagiaan kedua pasangan itu. Masih ada Sarah yang kian menundukkan kepalanya dalam-dalam. Perasaannya kacau saat ini. Bukan karena rasa iri, tapi karena rasa sakit yang harus ia terima saat mengingat perasaannya yang mulai tumbuh rasa cinta seperti ini. Ia sedang mengingat Sam yang biasanya di situasi seperti ini akan selalu menggodanya dan membuatnya kesal. Tapi sayangnya, saat itu lelakinya tak ada di tempat mereka berkumpul bersama.


"Aku permisi kembali ke kamar dulu, ya! Kalian lanjutkan saja obrolannya", ucap Sarah tiba-tiba seraya berlari ke arah tangga. Tangannya kelihatan seperti bergerak menyeka air mata. Keempatnya memandangi punggung Sarah yang makin menjauh dengan pemikirannya masing-masing.


-


-


-.


-


-


sekian dulu ya teman-teman,,, kita lanjut lagi besok ya 😊


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘

__ADS_1


keep strong and healthy ya πŸ₯°


__ADS_2