Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 282


__ADS_3

"Mau aku bantu?", pria itu bertanya dengan canggung pada wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.


Barang-barang Sarah sudah dipindahkan ke kamar Sam semua. Karena sekarang mereka berdua sudah sah, maka sudah seharusnya mereka menempati kamar yang sama.


Sarah sedang duduk di depan sebuah meja rias. Ia baru saja menghapus riasannya. Dan sekarang ia sedang berusaha membebaskan rambutnya yang masih disanggul itu. Meskipun itu hanya sanggul sederhana yang tidak terlalu rumit, tapi Sarah rasa ia masih perlu bantuan seseorang untuk melepaskan beberapa jepit rambut yang tak dapat ia jangkau.


"Jika kau tidak keberatan!", Sarah tersenyum canggung pada Sam yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.


Penampilan Sam sudah lebih santai. Ia sudah melepaskan jasnya dan juga sudah menggulung lengan kemejanya. Membuka dua kancing kemejanya agar ia bisa bernafas dengan leluasa.


Sam maju ke arah Sarah. Ia berdiri di belakang wanita itu. Mereka saling menatap pada pantulan diri mereka masing-masing di dalam cermin. Tapi membuang rasa canggung di antara mereka berdua, Sarah langsung mengarahkan tangan Sam untuk membantunya melepaskan jepit rambut yang menyusahkan.


Sebenarnya ada penata rias yang akan mengurusinya sepanjang waktu, bahkan untuk melakukan hal sepele seperti ini. Karena toh dalam beberapa jam lagi, wanita itu akan kembali di rias kembali untuk perayaan besar pernikahannya bersama dengan Ana.


Tapi Sarah memilih untuk menolak. Untuk saat ini ia sepertinya bisa menangani hal ini sendiri. Lagi pula ia ingin istirahat walau sebentar saja tanpa diganggu oleh siapa pun. Karena malam nanti pasti akan menguras banyak tenaganya. Keluarga besar itu pasti memiliki banyak sekali tamu yang harus mereka sambut nanti.


Tak terasa rambut Sarah sudah terbebas semua. Sam mengambil seluruh rambut hitam panjang itu untuk ia hirup aromanya.


Ada perasaan gugup dan was-was yang muncul saat tanpa sengaja jemari pria itu menyentuh kulit lehernya. Tubuhnya seperti tersetrum, bergetar sedikit. Dan beruntung Sam tidak memperhatikan hal ini.

__ADS_1


Pria itu sibuk memejamkan mata sambil menciumi aroma wangi dari rambut istrinya itu. Itu adalah aroma yang akan ia ingat dan akan membuatnya kecanduan sepanjang waktu.


Tak lama ia menurunkan rambut itu untuk ia letakkan ke salah satu bahu Sarah. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas tengkuk leher yang mulus dan putih itu. Ingin sekali Sam menciumnya, merasakannya dengan lidahnya. Tapi jika ia melakukan hal itu, pasti buntutnya akan menjadi panjang.


Sam tidak ingin melakukan hal itu sekarang. Masih ada satu momen lagi yang tak bisa mereka lewatkan. Jadi, Sam tak ingin membuat Sarah kehilangan daya nanti jika pria itu memilih melakukannya sekarang juga.


Baiklah, Sam hanya menyentuhnya. Menyapukan ibu jarinya pada tulang belakang leher itu. Dan ia bisa merasakan bulu kuduk Sarah yang meremang di sekitar sana. Sam tersenyum akan hal itu.


Tidak tau saja, dengan semua hal yang pria itu lakukan padanya. Jantung wanita itu berdegup dengan amat keras di dalam sana. Bahkan Sarah sudah tidak peduli lagi itu akan terdengar atau tidak. Matanya hanya terpejam merasakan setiap sentuhan yang Sam berikan.


Sekarang ia sudah sah sebagai istrinya. Jadi ia tidak bisa menolak jika memang Sam menginginkannya sekarang juga. Meski dalam hati ia belum siap, karena masih ada satu lagi acara yang memerlukan tenaga ekstra. Tapi mau bagaimana, cepat atau lambat hal itu aan terjadi juga.


Ada tatapan panas saat Sam mulai mencondongkan wajahnya ke arah Sarah. Pria itu mengurungnya dengan kedua tangan di sisi tubuhnya.


"Aku tidak akan melakukannya sekarang, Sarah! Tapi biarkan aku menciummu sampai puas!", nafas hangat Sam sengaja semprotkan ke telinga istrinya itu.


Sarah tertegun sejenak. Tubuhnya kembali tersengat sesuatu yang tak nyata. Tapi kemudian ia tersenyum setelah menyadari apa yang Sam ucapkan barusan. Berarti pria itu memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya. Sarah senang karena Sam tidak serakah dan egois. Pria itu masih memikirkan tentang dirinya.


Meskipun begitu, ia tau sangat sulit memadamkan api yang menyala di dalam dirinya seorang pria. Jadi ia tetap akan memberikan apa yang Sam minta. Meskipun begitu, kesadarannya harus tetap terjaga agar situasinya tidak menjadi semakin panas. Sarah mengangguk setuju.

__ADS_1


Kening mereka menyatu, lalu hidung mereka saling bersentuhan. Dan sekarang bibir lembut mereka sudah saling bertautan. Sarah membuka bibirnya agar Sam mudah melakukan apa yang diinginkannya.


Hangat dan lembut, perpaduan bibir mereka dipenuhi perasaan cinta. Menyatakan perasaan mereka pada saat sama lainnya.


Lalu,, hal itu menjadi lebih panas dan keras ketika ciuman itu dibumbui dengan sedikit nafsu. Tangan Sarah bahkan sudah melingkar pada leher suaminya itu. Dan Sam, ia juga sudah menarik tubuh Sarah. Agar tubuh mereka saling merekat erat. Tangannya yang saat ia gunakan untuk menopang tengkuk leher Sarah. Dan yang satunya lagi ia gunakan untuk memeluk pinggang istrinya itu dengan begitu posesif.


Sekarang Sam mendudukkan dirinya di atas kursi yang tadi Sarah gunakan untuk menghapus riasannya. Dan ia membuat Sarah duduk menyamping di atas pangkuannya. Tapi ciuman itu belum berakhir. Sam hanya mengubah posisi karena ia lelah berdiri. Mungkin duduk akan lebih nyaman. Dan keduanya masih terjerat untuk beberapa saat kemudian.


Tangan Sam yang tiba-tiba turun dan memegang salah satu gundukan miliknya. Membuat Sarah kaget dan melepaskan ciuman itu secara paksa. Ia bukannya tidak mau, tapi wanita itu hanya terkejut dan belum siap. Karena tadi Sam hanya mengatakan untuk berciuman saja. Huh! Betapa payahnya dirinya! Sarah memang tidak memiliki pengalaman tentang hal ini!


"Maaf!", ujar Sam seraya menautkan keningnya pada kening Sarah.


"Maaf aku jadi serakah!", tambahnya lagi sambil berusaha tersenyum di tengah sulitnya mengambil nafas.


Pria itu menyapukan ibu jarinya ke bibir Sarah. Ia telah membuat bibir milik istrinya itu agak bengkak dan memerah. Tindakan konyol ini, bagaimana dengan mereka yang telah menyetujui hal itu terjadi. Akan bagaimana nanti bentuk tubuh istrinya itu setelah dilahap oleh Sam yang serakah ini?! Sam terkekeh sendiri membayangkan hal itu.


"Tidak,, bukan begitu! Aku hanya,, aku hanya terkejut saja! Aku tau,, sekarang aku adalah milikmu!", Sarah juga masih belum lancar saat berbicara. Nafasnya masih pendek-pendek saat ini.


"Tidak apa-apa, Sarah! Beruntung kau menghentikan aku. Karena jika tidak, mungkin aku sudah akan melakukannya sekarang!", pria itu terkekeh sambil mengusap lembut pipi kenyal milik istrinya itu. Senyumnya mengusir rasa canggung yang Sarah miliki.

__ADS_1


Sarah bernafas lega, ternyata Sam tidak marah padanya. Oh, betapa beruntungnya dia memiliki suami yang pengertian seperti Sam ini. Meskipun lebih seringnya pria itu bertingkah sangat konyol.


__ADS_2