Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 131


__ADS_3

Sebuah tangan dingin menyentuh bahunya. Getaran tubuhnya makin hebat. Kepalanya makin dalam ia sembunyikan.


"Nona, anda tidak apa-apa?", suara seorang pria datang dari belakang tubuhnya.


Tubuh Joice seketika menegang. Ia terkejut karena itu bukan suara hantu, melainkan suara pria asing.


"Nona, ada apa? Apa nona baik-baik saja?", Pria itu mengguncang bahu Joice selagi tak mendapat jawaban.


"Tidak!", seru Joice reflek seraya menoleh ke belakang. Didapatinya seorang petugas keamanan tengah berbungkuk dengan tangan yang berada di bahunya.


"Ma,, maksudku aku ti,, tidak apa-apa!", petugas keamanan itu membantunya berdiri.


"Pa, aku ingin,, ingin bertanya sesuatu!", ucap Joice ragu.


"Ada apa, nona?", wajah petugas keamanan itu terlihat tenang.


"Apakah, apakah tadi ada orang lain di sini? Se,,, seorang wa,, wanita?", tanya Joice terbata karena sebenarnya ketakutan itu masih menyelimuti dirinya saat ini.


"Apa maksud anda, nona?! Tidak ada siapapun sejak tadi selain nona di area parkir ini. Saya baru saja berkeliling untuk memeriksa keamanan", jawab pria itu. Nada bicaranya terdengar serius.


"Benarkah?!", tanya Joice heran. Tubuhnya kembali bergetar lantaran kenyataan yang baru saja ia dengar.


"Mari nona, sebaiknya anda istirahat dulu di sebelah sana!", Tangan petugas keamanan itu menghela agar Joice bisa ikut dengannya.


"Emmhh,,, ", Joice nampak berpikir sejenak. Ia ragu, tapi juga ia tak akan mau jika ditinggalkan di tempat ini sendirian lagi. Lagipula waktunya masih sempat jika ia sejenak menenangkan diri dulu saat jiwanya tengah terguncang seperti saat ini.


"Baiklah!", jawab Joice dengan sedikit pasrah. Toh hal ini lebih baik, ketimbang dia harus bertemu hantu Ana lagi. Mereka berjalan ke arah pos kemanan di sudut area parkir. Di pos itu, Joice diberi air minum untuk bisa menenangkan diri dan beristirahat sejenak.


Sedangkan sepeninggalan Joice dan petugas keamanan itu, seorang wanita dengan tampilan hantu yang seperti Joice lihat tadi keluar dari dalam mobil yang dianggap mobil milik Joice itu. Dengan seringai yang begitu lebar, seperti nampak puas dalam dirinya. Lalu satu persatu keluar dari persembunyiannya.


"Aktingmu bagus juga! Kau lihat wajahnya yang pucat tadi?! Dia benar-benar ketakutan! Kau hebat, Sarah", puji Risa sambil menepuk-nepuk bahu Sarah.


"Benar, aku benar-benar puas melihat wanita licik itu menjerit ketakutan. Lucu sekali wajahnya saat ketakutan melihat hantu. Sepertinya kau cocok jadi hantu seperti tadi itu!", Sam bermaksud memuji Sarah. Namun kalimat yang keluar malah membuat semua orang salah paham dan menatapnya tajam.


"Jadi kau menyumpahi aku supaya aku cepat mati dan jadi hantu?!", pekik Sarah begitu kesal kepada Sam. Dan pria itu jadi kebingungan karena sudah tersalahpahami.


"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi! Lebih baik kita selesaikan pekerjaan ini. Dan Sarah, kau bisa membersihkan riasanmu sekarang. Kau juga tidak ingin kan, wajahmu seperti ini sampai rumah nanti?!", Risa berusaha menengahi keadaan agar tidak makin kacau oleh kebodohan Sam dan kemarahan Sarah.


"Hehe,, tentu saja tidak mau kak!", Sarah menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Baiklah, aku akan memindahkan mobil ini dulu!", ucap Han seraya memasuki mobil yang tadi mereka pakai. Sebenarnya mobil itu adalah mobil yang Ken pesan untuk melakukan misi kali ini. Ken sengaja memilih mobil yang sama persis dengan yang Joice miliki, lalu ia mengganti plat nomornya dengan plat nomer palsu sesuai dengan plat nomor milik Joice. Dan milik wanita itu yang sebenarnya, ia sembunyikan dengan mobil derek di salah satu sudut lainnya. Sehingga Joice tak menyadari keanehan apapun pada saat mereka menjalankan aksinya. Lalu keempatnya pergi meninggalkan tempat itu dan melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Hari ini cukup sampai di sini. Masih ada pembalasan untuk esok hari.


***


Di tempat lain, di jalan raya yang membentang, nampak mobil yang Ken dan Ana kendarai melesat dengan amat cepat. Si pengemudi sudah mulai tidak tahan dengan efek yang terjadi pada tubuhnya. Jika itu di gedung kantornya, mungkin Ken sudah akan melakukannya meski itu harus di area parkir. Ia akan dengan mudah mensterilisasi area itu. Namun saat ini Ken tak sampai hati, mengingat masih ada beberapa orang lainnya dan lagi Ken sangat menghormati Ana sehingga ia memilih untuk melakukannya di tempat yang amat aman bagi privasi dirinya dan juga istri tercintanya.

__ADS_1


Mereka sudah sampai pada sebuah hotel mewah yang merupakan salah satu bisnis yang Ken miliki. Ken mengarahkan mobilnya menuju area parkir basement. Segera setelah keluar ia menggenggam tangan Ana erat dan membawanya memasuki sebuah lift khusus. Tak berapa lama pun mereka sampai di lantai paling atas gedung itu. Bak di atas awan, Ana dibuat terperangah oleh pemandangan yang menyejukkan matanya. Tapi baru beberapa detik, Ken segera menariknya memasuki kamar suite presidential yang sangat amat mewah. Mata Ana dibuat melebar lagi dan lagi hingga mulutnya tanpa sadar sedikit terbuka ketika ia sibuk dengan ruangan yang begitu mempesona.


"Maaf, sayang! Kau bisa menikmatinya nanti. Tapi sekarang kita harus melakukan beberapa hal dulu, dan aku yakin kau juga akan menikmati hal yang satu ini!", bisik Ken di telinganya. Sambil memeluknya dari belakang, ia menghembuskan nafas hangatnya pada tengkuk leher Ana yang terbuka. Karena baru saja ia menyibakkan seluruh rambut istrinya ke samping, agar tak mengganggunya mentransfer senyar yang sudah ia rasakan.


"Ken!", seru Ana sambil bergidik karena tubuhnya bergetar oleh sentuhan yang Ken berikan.


Ana membalikkan tubuhnya lalu melingkarkan tangannya ke belakang leher suaminya itu. Ia paham apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, tentu saja menyembuhkan perasaan tidak nyaman pada tubuh Ken saat ini. Lalu sepasang pengantin baru itu menikmati siang hari dengan begitu indahnya.


***


Di sisi kota lainnya, di terik mentari yang sama. Nampak sebuah mobil ikut meramaikan lalu lintas kota. Setelah setengah jam, mobil itu mengarah ke pinggiran kota yang lalu lintasnya mulai sedikit lengang. Gedung-gedung bertingkat juga sudah berkurang, berganti dengan pepohonan tinggi menjulang pada setiap sisi jalan. Ben, pria dengan topi koboi itu membuka jendela mobilnya lalu ia nyalakan sebatang rokok yang sudah menempel pada bibirnya. Kepulan asap pertama mulai membumbung bersama lajunya kendaraan itu. Matanya yang tajam bagai elang, menerawang, membelah setiap sudut jalan tanpa orang tau apa arti tatapannya.


Saat ini ia harus menemui salah satu teman lamanya. Mereka pernah sama-sama menjadi kaki tangan Tuan Danu sebelumnya. Namun karena keluarganya, orang itu keluar dari Geng Harimau Putih dan lebih memilih untuk berkumpul bersama keluarganya. Tinggallah Ben seorang yang menjadi kaki tangan paling setia hingga akhirnya ia dijadikan ketua menggantikan Tuan Danu yang memilih untuk meneruskan bisnis ayahnya.


Mobil mereka sampai di pekarangan sebuah rumah, tidak terlalu mewah namun tetap memiliki kesan tak sederhana. Tengah malam tadi, tiba-tiba temannya ini menghubunginya dan meminta sebuah bantuan. Dan tidak mungkin juga bagi Ben untuk menolak permintaan yang sekiranya memiliki nilai urgensi ini. Namun dirinya masih bertanya-tanya ada masalah apa gerangan, hingga ia memintanya langsung datang ke rumahnya. Pertanyaan ini ia simpan hingga nanti ia bisa langsung mengajukannya sendiri.


"Silahkan, Tuan! Tuan Victor sudah menunggu anda di kamarnya", seorang pelayan menyapanya di ambang pintu rumah. Lalu membimbingnya menuju kamar utama tuan rumah itu.


"Silahkan Tuan!", setelah sampai pada kamar yang dituju pelayan itu membukakan pintu dan menghela tangannya untuk Ben memasuki kamar itu beserta Relly yang selalu setia mengekorinya sejak tadi.


Beberapa langkah ia memasuki kamar itu. Yang sampai pada indera penciumannya adalah wangi disenfektan khas rumah sakit. Ia tak membenci aroma ini, hanya ia tak nyaman dengan hal yang berbau rumah sakit. Baginya hal itu mengingatkan dirinya dengan sudah berapa nyawa yang terenggut oleh tangannya sendiri. Namun apa mau dikata, memang itulah apa yang ia jalankan saat ini. Pikiran itu mungkin akan datang sambil lalu.


"Ben, kau kah itu?", suara lemah seorang pria tiba-tiba terdengar dari arah ranjang.


"Victor!", seru Ben seraya menghampiri teman lamanya itu.


"Aku jelas baik-baik saja. Lalu ada apa denganmu?", tanya Ben balik yang bingung dengan keadaan temannya ini.


"Leukimia, Ben. Aku telah lama mengidap penyakit ini, bahkan sebelum aku memutuskan untuk pergi", senyum pria itu terurai meski tak sesuai dengan keadaannya saat ini. Tubuhnya kurus kering dan rambut di kepalanya hanya menyisakan beberapa helai saja yang terlihat hampir botak.


"Apa maksudmu, teman?", Ben mengernyitkan alisnya dalam.


"Setelah mengetahui aku mengidap penyakit sialan ini, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kalian. Awalnya aku berpikir untuk kembali ke negara ku dan berkumpul dengan keluargaku di akhir masa hidupku. Nyatanya keluarga kami malah berantakan setelah ayahku memutuskan untuk menikah lagi, lalu aku kembali pergi ke sini untuk menenangkan diri sampai tiba nanti ajal menjemput", tutur Victor dengan gamblang.


"Hentikan ucapanmu!", Ben benci mendengar hal-hal yang menyangkut kematian. Rasanya miris sekali saat mendengar seorang pesakitan mengucapkan kalimat-kalimat terakhirnya.


"Baiklah, baiklah! Aku ingin meminta bantuanmu, Ben. Itu pun jika kau masih menganggapku sebagai temanmu", pria itu menampilkan senyum termanisnya pada wajahnya yang sudah sangat tirus.


"Hey, apa maksud ucapanmu?! Katakanlah bagaimana bisa aku membantumu?", ucap Ben.


"Temukanlah adikku!", Victor memasang wajah seriusnya.


"Sebelum aku pergi, aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku menyesal tidak membawanya pergi bersamaku waktu itu. Kudengar ia sering kali disiksa oleh istri ayahku. Tolong temukan dia dan bawa dia kepadaku! Aku tak ingin menyesal karena belum menyelamatkan dia dari neraka itu", jelas Victor sungguh-sungguh.


"Baiklah! Aku berjanji!", keheningan membentang sebelum akhirnya Ben memberi jawaban.

__ADS_1


"Terima kasih, teman!", begitu senangnya Victor kembali memeluk Ben dengan eratnya.


"Apa kau mau membunuhku?!", Victor terkekeh setelah sadar membuat temannya kesulitan bernafas.


"Siapa namanya?", tanya Ben singkat.


"Rose Benneth!", ya karena dia sendiri bernama Victor Benneth. Dengan seksama Ben mengingat hal itu dalam benaknya.


"Rose Benneth!", ucap Ben dalam hatinya.


***


Dalam perjalanan kembali ke hotel, Ben kembali mengepulkan asapnya keluar jendela dengan tatapan yang sulit diartikan. Di tangannya terdapat sebuah foto seorang gadis dengan rambut pirang keemasan tengah memegang sekeranjang bunga dan tersenyum ceria. Rasanya menghangatkan memandangi foto itu hingga ia sejenak berpikir bahwa senyuman itu ditujukan kepadanya. Lalu ia merutuki kebodohannya sendiri.


"Bodoh!", gumamnya dalam hati.


"Relly, kau ingat apa yang harus kita lakukan selanjutnya?", tanyanya pada pria yang tengah duduk di balik kemudi.


"Saya ingat, Tuan! Han sudah mengabari saya untuk menjalankan bagian kita besok, karena hari ini nampaknya wanita itu terlaku shock", jelas Relly pada bosnya itu.


"Cih, apa kita masih harus berbelas kasihan kepada wanita licik itu?!", ucapan Ben pelan tidak bernada tinggi namun sangat tajam hingga mampu menusuk ke dalam.


"Mata ini?!", gumam Ben dalam hati.


Ben kembali memandangnya foto yang ia pegang. Kembali mengepulkan asap rokoknya keluar, mata pria itu juga kembali menerawang.


"Relly, segera cari informasi mengenai wanita ini. Secepat mungkin! Aku tak ingin mengecewakan temanku yang satu ini", Ben paham waktunya sempit. Hidupnya entah bertahan sampai kapan lagi, meskipun dokter memvonis hidupnya masih beberapa bulan lagi, namun umur manusia siapa yang bisa mengaturnya.


"Rose Benneth!", gumam Ben lagi dalam hatinya.


-


-


-


-


-


-


-


Ga berasa ya novel ini sudah memasuki babak akhir. Tapi jangan sedih setelah ini author akan mengangkat kisah percintaan Ben, si pria eksentrik itu. Nah tadi itu di atas adalah awal mula cerita Ben dimulai.

__ADS_1


ayo-ayo jangan lupa untuk selalu kasih like, vote sama komentar kalian ya 😊


selalu author tunggu lho 😉😘


__ADS_2