Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 126


__ADS_3

Dua orang pelayan tengah menyiapkan beberapa menu makan malam pada sebuah nampan besar. Han berdiri tak jauh dari mereka untuk mengawasi pekerjaan yang diperintahkan oleh bosnya itu. Tak lama kemudian, Risa dan Sarah datang mendekat ke arah meja makan disusul Sam, Ben maupun Relly.


"Apa yang mereka lakukan?", tanya Sam mendekat ke arah Han.


"Mereka sedang menyiapkan makan malam untuk Tuan Ken dan Nona Ana", jawab Han datar.


"Kenapa harus disiapkan?! Kakak dan kakak ipar bisa mengambilnya sendiri bukan nanti!", seruan Sam langsung mendapat tatapan sengit dari Sarah.


"Aish, selalu saja bodoh!", gerutu Sarah dalam hati.


"Aaahh!", akhirnya Sam mengerti arti tatapan Sarah terhadapnya.


"Mungkin kakak dan kakak ipar tidak memiliki cukup tenaga untuk turun makan malam bersama kita!", ucapnya lagi sambil melenggang santai lalu duduk di kursi sebelah Han.


"Lalu bagaimana kita akan membahas rencana kita selanjutnya?", tanya Ben serius pada Han. Sebelumnya mereka telah sepakat akan membicarakan mengenai langkah-langkah yang akan mereka ambil untuk melancarkan aksi balas dendam Ana setelah makan malam.


"Tuan Ken berpesan bahwa kita akan berbicara satu jam setelah makan malam di ruang perpustakaan. Tuan bisa melakukan hal lainnya sambil menunggu", jelas Han sopan.


"Emmhh, dasar bocah tengik itu! Apa dia tidak bisa menahannya sampai nanti malam!", umpat Ben dengan wajah datar. Sontak saja, ucapannya membuat yang lainnya tersenyum tidak jelas.


"Jika kau iri maka cepatlah menikah, Tuan!", sahut Sam. Dan ucapannya berhasil membuat semuanya diam seketika, lantaran Sam dengan berani malah mengusik seseorang yang notabene adalah seorang bos mafia.


"Kenapa kalian diam?! Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?!", ucap Sam tanpa rasa bersalah. Lalu dengan santainya ia mengambil beberapa hidangan untuk ia letakkan pada piringnya yang masih lapang.


Saat ia akan mengambil sepotong daging dengan garpunya, sebuah garpu juga menahan potongan daging tersebut. Dengan susah payah Sam berusaha mengambil bagiannya itu.

__ADS_1


"Jika saja ini bukan hari bahagia adikku tersayang, maka aku sudah menusuk perutmu dengan garpu ini!", Ben menampilkan aura dingin yang suram saat ia mengucapkan kata-katanya pada Sam sambil menunjuk garpu yang ia pegang ke arah wajah Sam.


"Ba,, ba,, baiklah! Maaf Tuan, potongan ini untuk dirimu saja!", ucap Sam takut-takut sambil meletakkan potongan daging itu ke atas piring Ben yang berada di sebelahnya.


Sam masih menyangka bahwa Ben kesal karena mereka berebut potongan daging tak berharga itu. Sedangkan Ben sedikit menipiskan bibirnya, karena memang ia tak berniat melakukan apapun pada adik dari Ken itu. Ia hanya sedikit menggertak supaya Sam tau akibat karena telah mengusik seseorang seperti dirinya. Bagi Ben menggoda seseorang itu sangatlah mengasyikan.


Kedua pelayan itu mulai berjalan ke arah tangga menuju kamar Ken dan Ana berada. Dua orang pelayan lagi datang dari arah lain dengan membawa nampan berisi dua gelas air minum dan susu, sesuai permintaan dari tuannya. Saat sedang melangkah, pelayan yang membawa nampan berisi air itu tak sengaja terjatuh karena kakinya terselip dengan kakinya sendiri.


"prang!".


Air yang ia bawa tumpah berantakan dan sedikit mengenai celana yang Ben kenakan. Semua orang yang berada di meja makan segera menghentikan kegiatan mereka dan melihat ke arah sumber suara. Si pelayan yang membawa nampan nampak terluka di bagian telapak tangannya karena terkena pecahan kaca. Dan yang membuat Ben menatap tajam ke arahnya adalah, terlihat pada bagian rambutnya bahwa ia sedang menggunakan rambut palsu berwarna hitam yang kontras dengan rambut aslinya yang berwarna keemasan. Dan dilihat dari wajahnya, pelayan itu bukanlah warna negara ini.


"Siapa kau?", tanya Ben dengan wajah kejamnya. Kini ia telah berjongkok tepat di hadapan pelayan wanita itu sambil tangannya mencengkeram erat kerah dari seragamnya.


Suasana menjadi mencekam, temannya yang datang bersamanya pun menjadi panik dan bingung harus melakukan apa. Ia bertindak impulsif untuk pergi dari sana untuk memanggil kepala pelayan di area dapur.


"Sa,, sa,, saya tidak ada niat jahat, Tuan! Saya hanya bekerja di sini!", ucapnya setelah membuka mata dan dengan berani ia menatap dalam ke arah mata Ben meski hanya sejenak. Ia berharap tuan yang ada di hadapannya ini dapat melihat kejujuran dalam dirinya lewat matanya. Ia tak ingin menjelaskan banyak hal, karena hal itu tak akan berguna pikirnya.


"Dan rambutmu! Bagaimana kau menjelaskannya? Kenapa kau harus menggunakan rambut palsu?", tanya Ben menuntut setelah menarik paksa rambut palsu dari kepala pelayan wanita itu sampai terhempas jauh.


"Ini,, ini,,,,,!", pelayan itu bingung harus berkata apa karena tak mungkin juga ia mengungkapkan alasan sebenarnya.


Ben menggeram marah karena baginya pelayan wanita itu hanya sedang mencari-cari alasan saja untuk menyelamatkan dirinya saat ini. Ia menarik kerah pakaian pelayan itu ke atas hingga posisi mereka berdiri berhadapan. Ben tak melepaskan tatapan tajamnya.


"Kenapa kau tak bisa menjawabnya, hah?! Katakan untuk siapa kau bekerja! Apa tujuanmu datang ke tempat ini?", ucap Ben dengan rahang yang mengetat seraya mengencangkan cengkeramannya pada kerah itu.

__ADS_1


"Maaf, Tuan! Tapi saya di sini memang murni untuk bekerja di villa ini. Tak ada niatan apapun. Saya bersumpah!", ucap pelayan wanita itu dengan suara tersekat karena lehernya yang makin terasa tercekik.


Pelayan yang tadi bersamanya datang bersama kepala pelayan dari arah dapur dengan terburu-buru. Wajah mereka begitu panik lantaran hal tak terduga ini bisa terjadi. Sedangkan Sam dan yang lainnya yang sekarang berdiri dari posisi mereka sebelumnya tak mampu berkata-kata. Mereka masih mencoba mencerna situasi saat ini. Apalagi aura yang Ben keluarkan begitu suram hingga tak ada seorang pun yang berani mendekat, termasuk Relly yang merupakan asisten setianya.


Ben begitu murka saat ini. Ia tak habis pikir karena di saat-saat bahagia untuk adiknya ini malahan muncul orang asing yang mencurigakan. Dan jika memang orang itu akan membahayakan nyawa adik tersayangnya atau siapapun yang berada di villa ini, maka ia tak akan segan-segan untuk mencabik-cabik orang itu meskipun dia adalah seorang wanita.


"Maaf Tuan, maaf atas ketidaknyamanan ini! Tapi bisakah Anda melepaskan pelayan ini dulu. Saya akan menjelaskannya kepada Anda. Dan saya juga yang bertanggung jawab atas dirinya", ucap kepala pelayan dengan tenang sambil membungkuk memberi permintaan maaf sedalam-dalamnya.


"Lebih baik kau jelaskan dulu, baru aku pertimbangkan akan melepaskan dia atau tidak!", ucap Ben dengan membulatkan matanya besar tanpa menoleh ke arah kepala pelayan itu, karena ia masih menatap tajam ke arah pelayan wanita di hadapannya. Ucapannya ia beri tekanan supaya kepala pelayan itu benar-benar mengerti bahwa ia tengah sangat-sangat serius saat ini.


-


-


-


-


-


-


**Maaf ya teman-teman semuanya karena terlambat update. Dan untuk menebusnya aku kasih crazy up untuk kalian.


Selamat membaca ya teman-teman 😉

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya 😊😘**


__ADS_2