Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 164


__ADS_3

Wajah yang semula lesu, mata yang semula sendu, harapan yang nampak hampir habis, tiba-tiba kembali menyala. Kini matanya penuh dengan kobaran semangat untuk berusaha lebih keras lagi mengejar cintanya.


Sam kemudian berjalan menuju mobilnya dengan wajah penuh semangat. Hatinya menyimpan sedikit kelegaan mengetahui bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Sarah dan meluruskan keadaan. Meskipun semua kegundahan itu akan hilang jika Sarah telah benar-benar mengerti dan menerima cintanya yang baru ia rasa kali ini. Secara teori Sam handal dalam memanjakan wanita dan menyayanginya, tapi dalam urusan mengejar cintanya. Nilai praktek Sam masih terbilang kecil untuk bisa sampai mendapatkannya. Maka dari itu gelisah yang ada di dalam hatinya, cukup besar ia rasa.


"Ayo kita pulang, Tuan!", ajak pak supir kepadanya dengan sopan setelah merasa sudah cukup waktunya.


"Ayo!", Sam memasuki mobilnya dengan wajah yang lebih tenang. Tidak seperti saat berangkat menuju ke sini, wajahnya dipenuhi rona kekhawatiran.


Mobil itu memutar arah lalu melaju dengan kecepatan sedang bahkan hampir lamban. Karena jalanan di daerah ini tidak terlalu luas seperti jalanan di perkomplekan mewah yang biasa ia lewati. Sebenarnya cukup untuk dua mobil yang melintas berlawanan, hanya saja orang yang mengendarainya harus ekstra hati-hati karena jarak antara mobil mereka sangat dekat.


Sam membuang pandangannya ke arah luar jendela. Ia sedang mengatur strategi tentang apa saja yang harus ia katakan kepada Sarah di hari esok saat bertemu dengannya. Wajahnya bahkan sampai terlihat gugup membayangkan hal itu terjadi. Ya, itu karena Sam tidak pernah menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada seorang wanita. Biasanya mereka yang akan datang menawarkan diri kepada dirinya.


Sebuah mobil akan melintas dari arah berlawanan, otomatis supir yang mengendarai mobil yang Sam naiki mengurangi kecepatannya. Pria itu masih membuang pandangannya ke arah luar. Dan,,, betapa ingin dia berteriak bahwa yang dilihatnya di dalam mobil itu adalah Sarah. Sam terlalu terkejut saat ini hingga ia masih tak bergeming dari tempatnya.


"Itu Sarah! Itu Sarah!", batinnya meyakinkan diri sendiri.


"Berhenti, pak! Berhenti!", perintah Sam tidak sabar. Tak disangka, tak perlu lagi menunggu hari esok, karena saat ini juga ia akhirnya bisa bertemu dengan wanitanya.


Tapi sayangnya mobil itu berhenti setelah mobil yang Sarah naiki mulai pergi menjauh meski masih dengan kecepatan lambat.


Dengan tergesa-gesa, Sam keluar dari mobilnya. Dilihatnya mobil itu makin memiliki jarak dengannya. Sam tak peduli, dan ia juga tak dapat berpikir lagi kali ini. Ia langkahkan kakinya untuk sedikit berlari.


"Sarah! Sarah!", tangannya juga berusaha menggapai-gapai udara.


Sam mati rasa. Ia sudah tak mempedulikan apapun yang ia rasa tentang lukanya, bahkan pula dengan tubuhnya yang makin melemah karena pria itu belum juga makan sejak siang. Ia terus berlari padahal sudah mulai terlihat noda merah pada kemeja yang ia kenakan kali ini.


Sarah mempercepat kepulangannya setelah seharian penuh liburan dengan ibu dan adiknya. Rasanya sudah terlalu lelah, jadi mereka memutuskan untuk pulang saja. Padahal rencana awal mereka akan pulang besok siang.


Sarah membuka jendela mobil taksi online yang sedang ia naiki untuk sekedar menghirup udara malam yang dingin dan segar. Sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Makin lama makin jelas ia rasa. Lalu wanita itu menoleh ke asal suara. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok pria yang ingin dihindarinya sedang berlari di belakang mobilnya dengan wajah pucat dan noda darah di bagian perutnya.


Sarah sempat khawatir, tapi lalu ia segera menepis perasaannya. Dan ditutuplah jendela kaca mobil itu agar ia tak mendengar lagi teriakan Sam memanggil namanya. Bahkan ia memejamkan matanya untuk menolak keinginan yang berasal jauh dari hatinya untuk menghampiri pria itu.


"Kakak, dia,,, ", Sandi berhenti bicara saat melihat kakaknya memejamkan mata seraya menggelengkan kepala. Adiknya itu juga melihat ada seorang pria yang tengah berlari mengejar mobil yang mereka naiki. Tapi niatannya untuk memastikan malahan menjadi tau sendirilah jawaban apa yang Sandi inginkan. Sandi menghargai apa yang kakaknya mau dan memilih untuk kembali diam.

__ADS_1


Sam semakin tak berdaya. Tubuhnya makin lemas, dan darah yang keluar makin banyak dari lukanya. Keringat dingin, wajah pucat, ia sudah tak sanggup lagi, hingga tiba-tiba semuanya menjadi hitam di matanya.


brugh


Tubuh pria itu jatuh ke tanah. Supir Sam yang melihat hal itu dari kaca spion pun menjadi panik dan memutuskan keluar dari mobil untuk menolong tuan mudanya.


"Sarah, dia pingsan!", seru Ibu Asih dengan wajah khawatirnya. Ia mengguncang bahu Sarah agar mau melihat apa yang terjadi pada pria yang tadi mengejarnya.


"Pak, berhenti pak!", Ibu Asih meminta kepada supirnya setelah melihat anak masih keras kepala. Ia berniat akan turun sendiri untuk membantu menolong pria itu. Bagaimanapun juga mereka masih sesama manusia, mereka harus saling tolong menolong, pikirnya sederhana.


Setelah mobil itu berhenti, bukannya Ibu Asih yang keluar, melainkan Sarah yang langsung melesat terlebih dahulu keluar. Sedetik ia tertegun melihat sosok itu begitu mengenaskan. Lalu ia bawa kakinya berlari menuju Sam yang tergeletak di tanah. Ibu Asih dan Sandi pun menyusul di belakangnya.


Sarah lalu mengangkat sebagian tubuh pria itu agar bisa ia angkat ke pangkuannya. Dengan hati yang luluh lantak dan air mata yang berderaian di seluruh wajahnya, Sarah makin merasa bersalah.


"Maafkan aku, Sam! Maafkan Aku!", ia peluk erat sebagian tubuh yang mampu ia dekap.


"Bangun, Sam! Kumohon bangunlah!", tangis pilu kembali menjerit dari mulutnya. Ibu Asih yang selaku wanita dan ibu dari Sarah pun ikut meneteskan air mata. Ia ikut merasakan apa yang putrinya derita.


"Sepertinya Tuan ini pingsan karena kelelahan. Dia masih bernafas, tapi denyut nadinya lemah. Lebih baik kita segera bawa dia ke rumah sakit", ujar Sandi setelah melakukan pengecekan pada tubuh Sam. Apalagi setelah melihat darah yang merembes banyak dari perutnya, adik dari Sarah itu juga ikut merasakan kekhawatiran yang ada.


"Baiklah! Segera hubungi kami jika sesuatu terjadi!", Sandi mengelus kepala kakaknya dengan tatapan penuh kasih sayang setelah membantu memapah tubuh Sam masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, pasti! Terimakasih, Sandi!", Sarah tersenyum tulus kepadanya tapi tak mengehentikan deras air matanya.


Pintu mobil itu ditutup dari luar oleh Sandi, lalu ibu dan adiknya itu melambaikan tangannya ke arah Sarah. Bersamaan dengan itu pula mobil yang ia naiki melesat meninggalkan ibu dan adiknya di belakang.


***


Sam telah ditangani dengan baik oleh dokter dari pihak rumah sakit. Pak supir menyarankan agar Sam dibawa ke rumah sakit yang masih berada di bawah naungan keluarga Wiratmadja, karena di sana penanganannya lebih bagus dengan fasilitas medis kelas atas. Dan pikir pak supir juga agar nanti ia tidak terlalu disalahkan atas apa yang terjadi pada tuan muda keduanya itu. Pak supir memutuskan untuk kembali ke kediaman besar untuk mengabari Tuan Dan Nyonya di sana agar tidak lebih khawatir lagi. Toh sudah ada Sarah yang setia menjaga tuan mudanya itu di sana.


Sepanjang malam, mata Sarah terjaga menemani Sam yang kondisinya sangat lemah di sebelahnya. Air matanya seakan tiada habisnya memikirkan lelaki itu. Perasaan bersalahnya makin menjadi-jadi melihat keadaan Sam yang makin memburuk akibat dirinya lagi.


Tadi, seandainya setelah ia tau bahwa Sam sedang berlari ke arahnya, harusnya Sarah langsung menghampirinya, sehingga tidak akan ada kejadian seperti ini. Kemarin Sam mengorbankan nyawanya untuk dirinya, lalu hari ini pria itu tak menghiraukan lukanya juga karena dirinya. Cap 'pembawa sial' rasanya makin melekat pada dirinya. Seperti luka dalam hatinya makin menganga.

__ADS_1


Sarah merasa tak pantas bahkan untuk saat ini menjaga pria itu di sana. Sarah merasa buruk dengan dirinya sendiri saat ini. Ia terus mengutuki dirinya dengan tangis pilu yang kian membahana di seluruh ruangan itu. Hingga akhirnya ia lelah menangis, Sarah terbawa arus mimpi dan terlelap dengan tangan yang menggenggam tangan pria di sebelahnya.


***


Waktu bahkan belum sampai fajar ketika perlahan Sam membuka matanya. Masih dini hari gumam Sam pelan. Setelah matanya mengerjap dan membuka lebar, ia memastikan dirinya berada dimana. Lalu ia menghela nafas panjang. Lelah rasanya ia harus kembali lagi ke rumah sakit. Bau disenfektan khas ini, jarum suntik yang menembus kulitnya ini, obat-obatan yang harus ia minum tepat waktu, Sam benar-benar benci tempat ini.


Tapi saat teringat kejadian terakhir sebelum ia tak sadarkan diri membuat hatinya jadi ikut sakit. Semua rasa sakit yang ia rasa saat ini terkalahkan oleh nyeri yang menembus sampai ke ujung hatinya. Apakah begitu nista rasa cintanya hingga wanita itu tak mau menerima bahkan melihatnya sedikitpun. Sam yakin bahwa saat itu Sarah mendengarnya memanggil-manggil dirinya. Kepalanya tiba-tiba terasa pening dan Sam ingin memijitnya. Tapi kenapa tangannya sulit digerakkan, seperti ada benda berat yang menimpanya.


Sam menoleh ke arah samping. Wah, matanya membulat besar. Dadanya berdegub kencang, tubuhnya gemetar menahan gugup tak karuan. Benarkah ini kenyataan, ataukah ini hanya sebuah impian.


-


-


-


-


-


maaf ya updatenya ga banyak,, tapi diusahakan akan ada 1 episode lagi setelah author kelar nulis ceritanya babang Ben.. ditunggu aja ya teman-teman πŸ˜‰


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘

__ADS_1


keep strong and healthy ya πŸ₯°


__ADS_2