Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 212


__ADS_3

Pusat perbelanjaan itu sudah ramai oleh pengunjung kala mentari telah mencapai puncaknya. Itu adalah salah mall terbesar di pusat kota dengan toko-toko barang branded berjejeran di sana. Jadi,, seseorang yang datang ke sana pun bukanlah orang sembarangan. Mereka kebanyakan juga seseorang yang memiliki kantong tebal untuk berbelanja atau sekedar menghabiskan waktu di sana.


Di salah satu toko pakaian wanita ternama, seorang wanita dengan dress maroon nan seksi dengan percaya dirinya tengah memilih beberapa pakaian untuknya. Kacamata hitamnya yang besar seakan tengah menutupi separuh jati dirinya saat ini. Gayanya angkuh sambil meliuk-liukkan tubuhnya ke sana dan kemari. Para pegawai wanita malas melayaninya karena sudah tau sifat pengunjung tersebut, rewel. Jadi yang maju adalah pegawai pria yang dengan senang hati sambil mencuci matanya.


"Dimana koleksi terbaru kalian? Aku ingin melihatnya!", itu perintah yang pongah keluar dari mulut Megan Aira. Ia meletakkan bokongnya yang sudah lelah pamer ke salah satu kursi empuk di sana. Lalu menyilangkan kaki dan mengangkat dagunya untuk menambah kesan superiornya, bukan tapi itu gaya keangkuhannya.


"Di sebelah sana, Nona! Sebentar saya akan ambilkan", dalam hati ia enggan. Karena bisa saja wanita yang seperti artis ini berjalan sendiri ke deretan pakaian keluaran terbaru yang sudah berbaris di bagian depan toko. Hanya saja demi kesopanan dan pepatah yang mengatakan bahwa tamu adalah raja, maka ia mau menuruti perintah wanita tersebut. Lagipula pegawai itu masih belum puas cuci matanya. Ia meninggalkan Megan duduk di sana menuju ke deretan pakaian keluaran terbaru dari toko tersebut.


"Sayang, lihatlah! Apa ini cocok untukku?!", suara seorang wanita yang ia kenal membuatnya menatap ke arah asal suara.


"Cih!", bibirnya mencibir mengejek akan kemesraan pasangan kekasih itu. Mereka adalah Krystal dan juga Louis yang sedang memilih sebuah dress cantik berwarna baby pink.


Krystal memasangkan dress itu di depan tubuhnya lalu berputar untuk melihat ke arah cermin yang ternyata berada di sebelah Megan Aira. Wajahnya yang semula cerah, tiba-tiba berubah masam malahan memandang wanita itu dengan kejam. Ia bahkan tanpa sadar membanting dress yang ia pegang ke samping tubuhnya.

__ADS_1


"Ada apa sayang? Kurasa apapun akan selalu cocok denganmu!", Louis juga memutar tubuhnya saat menyadari suasana di sampingnya tiba-tiba berubah senyap. Dan pria itu segera membulatkan mulutnya, ber'oh ria dengan wajah kaku. Apalagi saat ia melihat kekasihnya yang tengah memasang wajah geram ke arah wanita itu.


Louis mengusap lengan Krystal untuk membuatnya bersabar. Ia menggeleng pelan saat Krystal menatapnya. Di sini tempat umum, tidak baik jika mereka membuat keributan di sini. Apalagi mereka semua merupakan public figure, akan sangat mudah bagi seseorang untuk membuat berita. Meskipun ia tau bagaimana kesalnya Krystal pada wanita itu setelah mendengar semua cerita dari Sarah dimana wanita itu telah sangat berani menggoda bos mereka demi mendapatkan pekerjaan lagi baginya.


Dan terlepas dari hal itu, antara Krystal dan Megan adalah masih seorang rival dalam dunianya. Dimana Megan selalu ingin mengalahkan popularitas yang Krystal miliki. Karena capnya yang sebagai aktris nomer satu saat ini. Dan yang lebih membuatnya jengkel dan iri setengah mati adalah kenyataan bahwa kekasihnya juga merupakan aktor nomer satu, yang saat mereka bersanding di manapun mereka berada selalu dielu-elukan oleh semua orang.


"Hah! Baju ini jelek!", Krystal melakukan penekanan seraya menoleh ke arah Megan dengan tatapan tidak suka. Yang ditatap membulatkan matanya ingin menyerang balik.


"Jangan tersenyum pada wanita tidak tau malu itu!", seru Krystal yang menghentikan langkahnya tiba-tiba. Lalu menoleh dengan wajah galaknya. Dan tatapan itu ia lemparkan ke arah Megan Aira yang tengah tersenyum puas. Padahal di mata Krystal wanita itu tengah bertingkah bodoh. Ia sangat mengenal kekasihnya itu. Yang pria itu keluarkan hanya kepalsuan belaka demi basa-basi dan sopan santun saja. Tapi ia tidak suka prianya bertingkah seperti itu pada orang yang tidak sepantasnya.


"Katakan saja aktris nomer satu kita ini, Krystal Winata tidak mampu belanja di sini!", Megan bangun dari duduknya lalu berjalan menghampiri mereka. Tatapan laparnya mengarah pada Louis yang memiliki ketampanan sama seperti yang Sam punya. Yang membuat ambisinya memburu untuk memiliki semua pria tampan yang sempat hadir di matanya. Apalagi tadi pria itu sempat tersenyum kepadanya, ia jadi semakin yakin bahwa pria itu sebenarnya juga memiliki ketertarikan kepada dirinya.


"Nona! Ini semua edisi terbaru yang kami miliki", pegawai lelaki yang tadi datang dengan temannya beserta deretan pakaian keluaran terbaru dari toko mereka. Mereka membawa semua pakaian itu dengan mendorongnya hingga menjadi pembatas antara Megan dan sepasang kekasih itu.

__ADS_1


"Terimakasih!", dengan tidak tau malunya Megan mengedipkan sebelah matanya pada kedua pegawai itu hingga wajah mereka memerah karena bahkan artis wanita itu memberikan mereka ciuman di udara.


"Kalau begitu biarkan aku memilih dulu!", Sempat mematung, akhirnya keduanya sadar untuk menyingkir dari hadapan para pelanggan mereka itu setelah mendengar Megan melanjutkan kata-katanya.


"Jadi benarkan, jika aktris terkenal ini tidak mampu untuk membeli satu helai saja dari toko ini?", Megan membelah deretan pakaian itu menjadi dua bagian hingga mereka bisa saling bertatapan. Ia tersenyum dengan tatapan meremehkan. Lalu ia mengambil salah satu dress hitam pendek yang ia rasa cocok dengan seleranya, tak lupa ia sematkan senyuman menggoda ke arah lelaki di sebelah Krystal.


"Oh! Jadi sekarang kau pintar menerawang ya, seperti penyihir!", Krystal memasang wajah mengejeknya yang luar biasa sedang menahan kesal saat ini.


Penyihir, disebutkan seperti itu membuat darah Megan menjadi mendidih. Penyihir di dalam bayangannya itu adalah wanita jelek yang memiliki punuk dan berbadan bungkuk. Dan hidungnya panjang dengan bintik-bintik dan hampir bengkok ke bawah. Membayangkannya saja ia sudah bergidik ngeri. Dan hal itu tentu sudah membuat mimik wajahnya yang semula ceria kini menjadi muram.


"Dan ah, yang harus dipertanyakan itu adalah isi kantongmu. Apakah masih cukup untuk membeli hanya satu dress ini saja?", dengan kasar Krystal menarik dress yang berada di tangan Megan.


"Hey, kalian! Bayar ini untukku!", perintah Megan pada pegawai yang tengah berdiri dengan wajah serba salah di tengah aura peperangan ini. Sambil menahan geramnya, Megan mengeluarkan kartu kreditnya itu. Ia menarik kembali dress yang berada di tangan Krystal dan menyerahkan kartu kreditnya beserta pakaian itu kepada salah satu pegawai.

__ADS_1


__ADS_2