
"Silahkan, Nona!", supir ingin membukakan pintu untuk Ken terlebih dahulu, tapi ketika ia membuka sabuk pengaman, tuannya itu sudah membuka pintunya sendiri. Jadi ia memutuskan untuk segera membukakan pintu untuk nonanya, yang kebetulan berada tepat di belakangnya.
Ana sedikit kebingungan, tapi juga ada perasaan enggan untuk keluar. Tapi ia juga penasaran tempat seperti apa yang mereka tuju ini. Karena dari pandangan wanita itu, hanya berjajar beberapa tempat makan saja di hadapannya.
Saat ia keluar dari mobil, semilir angin langsung menyapanya. Membelai rambut panjangnya hingga beberapa anak rambutnya melayang-layang sebentar. Rasanya amat sejuk udara di sana, Ana dapat merasakannya saat menghirup nafasnya dalam-dalam. Ada aroma rerumputan yang khas di tempat itu. Sungguh menenangkan sekali.
Saat ia hanyut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba sebuah tangan menelusup ke belakang punggungnya lalu merangkul bahunya erat-erat. Dia tentu saja suaminya, Ken. Pria itu memamerkan senyumannya sebentar kepada istrinya itu.
"Ayo!", ajak pria itu seraya membimbingnya menuju suatu arah.
Ana yang masih linglung lantaran wajah tampan nan mempesona suaminya itu, hanya bisa terbawa saja. Wajahnya perlahan bersemu membuat pipi kenyal miliknya lama kelamaan berubah menjadi warna merah. Ini memanglah sebuah pengakuan lama, jika suaminya itu sangatlah tampan. Sangat-sangat tampan. Hingga ia selalu merasa bersyukur karena kini telah memilikinya.
"Ayo, duduk!", Ken menahan senyumannya lantaran terus dipandang oleh istrinya itu. Dia sendiri sebenarnya tersipu di dalam hati. Karena dengan begini, itu membuktikan jika istrinya itu sangat mengagumi dirinya. Lelaki itu membimbing Ana untuk untuk duduk di sebuah bangku taman.
"Hem?!", Ana akhirnya sadar dari pikirannya yang sedang kemana-mana itu saat Ken mengarahkannya untuk duduk.
Matanya lalu menyapu seluruh pemandangan indah di hadapannya itu. Seluas matanya memandang adalah hamparan genangan air yang sangat melimpah. Sebuah danau terbentang di hadapan matanya. Kakinya juga menginjak barisan rumput hijau yang menambah kesan asri tempat itu. Tapi Ana seperti mengenali tempat yang sekarang ini ia singgahi.
"Ini bukannya,,, ", Ana menolehkan wajahnya ke samping dengan ekspresi bertanya yang juga bercampur perasaan gembira. Sebenarnya ia hanya ingin memastikan saja bahwa ini adalah tempat yang ia maksud di dalam pikirannya.
"Iya,, malam itu aku dan Sam menemukan dua orang wanita tertidur sambil duduk di tempat ini. Beruntung kami yang menemukan kalian! Bagaimana jika orang lain?! Bagaimana jika mereka berniat jahat pada kalian berdua?! Hem!", Ken sudah menautkan jari-jemarinya ke jari-jari lentik milik istrinya. Lalu diciumnya punggung tangan itu dengan lembut.
"Waktu itu hatiku sedang resah dan galau karena Bunda belum merestui hubungan kita. Setelah banyak bicara, kami lelah dan tertidur juga akhirnya. Lagipula ada orang-orang itu kan yang menjagaku! Lalu dimana mereka?", Ana terkekeh ringan seraya memainkan jarinya yang digenggam oleh suaminya itu sambil bercerita.
"Ahh,, aku mengusir mereka!", dan pria itu pun pamer senyum tak bersalahnya.
"Kau ini,, selalu seenaknya!", Ana terkekeh ringan. Ya memang begitulah suaminya itu yang sok berkuasa. Perintahnya bahkan tidak bisa dicegah oleh siapa pun.
"Permisi, Tuan! Ini pesanannya!", supir mereka datang membawa sebuah kantung plastik berukuran sedang dan menyerahkannya kepada Ken. Setelah itu ia langsung undur diri untuk kembali ke tempat mobil mereka terparkir lagi.
"Ini?", Ana melepaskan genggaman tangan mereka lalu menerima kantung plastik itu. Kemudian ia membuka isinya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Waaahh!!!", wajahnya segera berubah senang. Matanya berbinar seperti baru saja menemukan harta karun yang sangat langka.
__ADS_1
"Kau memang yang terbaik, Sayang!", spontan Ana mencium pipi suaminya itu karena terlalu senang.
Di saat wanita itu sedang asyik memilih-milih beberapa varian es krim dengan gembiranya. Si suami malahan tertegun sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium. Apalagi baru saja istrinya itu memanggilnya sayang. Jarang-jarang ia mendapatkan bonus dua kali lipat seperti ini. Meskipun ia bisa mendapatkan lebih dari itu. Tapi mendapatkan inisiatif dari istri sendiri itu sangat berbeda rasanya. Manisnya bahkan melebihi selai strawberi.
"Kau mau yang mana, Ken?", Ana bertanya dengan antusias.
Sedetik pria itu meniupkan nafas pasrahnya. Baru saja ia senang dipanggil sayang, tapi nyatanya harus segera menerima nasib. Lagipula mau bagaimanapun istrinya itu memanggilnya. Yang jelas, selalu ada sentuhan cinta di sana. Apapun panggilannya, Ken tetap suka.
"Untukmu saja semuanya!", pria itu menaikkan kedua sudut bibirnya.
"Kau ingin membuatku sakit perut, ya!", Ana merengut tapi kemudian tak peduli dan tetap memilihkan sebuah es krim untuk suaminya itu. Ken terkekeh melihat wajah gemas istrinya itu.
Ada lima buah es krim di dalam kantong plastik itu. Jadi mana mungkin ia menghabiskannya sendirian. Paling bisa mungkin hanya dua mangkuk es krim saja yang ia mampu untuk dihabiskan.
"Ini! Bantu aku habiskan!", Ana menyerahkan satu es krim dengan rasa cokelat kepada orang di sebelahnya. Lalu ia ambil dia es krim dengan rasa berbeda. Yang satu adalah es krim mangkuk rasa vanila, dan yang lainnya adalah es krim cone rasa strawberi. Sisanya masih di dalam kantung plastik, ia letakkan di samping.
"Kalau begitu terima kasih, Sayang!", meskipun begitu, sebenarnya Ken tidak terlalu suka makanan manis seperti ini. Tapi untuk istri tercintanya, apapun akan ia lakukan. Apalagi dalam kondisi hamil seperti ini, bisa-bisa Ana akan merajuk lagi nanti.
"Kenapa?", suaminya itu pun mulai dengan es krim cokelatnya.
"Tentu saja karena aku ingin melahirkan dengan proses normal. Aku harus mengontrol berat badan bayi kita agar tidak terlalu besar. Dan itu dapat mempermudah proses persalinanku nanti!", Ana menyampaikan sedikit informasi yang ia dapatkan dari dokter kandungannya.
Sebelumnya ia telah berkonsultasi mengenai nafsu makannya yang tinggi selama kehamilannya ini. Selama trimester pertama, dokter tidak mempermasalahkannya. Dan sekarang Ana sudah masuk di trimester kedua kehamilannya, ia hanya harus mengurangi sedikit saja karbohidrat yang masuk. Pasalnya berat bayi di dalam kandungannya sudah termasuk cukup. Dan nanti, ketika ia memasuki trimester ketiga, Ana benar-benar harus mengontrol asupan makanannya, jika memang ia masih menginginkan proses persalinan secara normal. Tentu saja Ana langsung setuju dengan saran dokternya.
Sebagai wanita, jika bisa, jika Tuhan mengizinkannya, tentu saja ia ingin melahirkan dengan proses normal. Ia ingin merasakan nikmatnya menjadi seorang wanita yang utuh. Meskipun ia juga ketahui bahwa melahirkan dengan proses cesar pun memiliki resiko dan pengorbanannya sendiri.
Tapi bagaimana kontraksi itu berlangsung, bagaimana ia harus menahan rasa sakit yang luar biasa itu, Ana sangat menantikannya. Terlepas dari bagaimana pun itu perjuangannya nanti, ia harus yakin bahwa ia bisa melewatinya. Karena ia memiki Ken di sisinya. Pria itu selalu ada untuknya. Itulah yang membuat Ana tenang dan lebih bersemangat lagi untuk bisa melahirkan dengan proses normal.
"Aku akan berada di sisimu saat itu!", pria itu menyandarkan punggungnya lalu merangkul bahu Ana. Ia duduk dengan santai. Kakinya yang panjang, ia naikkan pada salah satu kakinya yang lain.
"Terima kasih, Sayang!", tentu saja ia tahu jika suaminya itu adalah suami siaga. Maka dari itu ia harus memberikan satu hadiah lagi untuknya.
cup
__ADS_1
Tapi saat Ana hendak mencium pipi lelaki itu lagi, Ken menolehkan wajahnya dengan cepat. Sehingga bibirnya yang mendapat sentuhan lembut dari bibir Ana.
"Aku mau hadiahnya di sini!", pria itu seperti tahu isi pikiran istrinya itu yang merasa berterima kasih. Tapi bukan di situ tempatnya, tadi kan sudah. Sekarang ia mau di tempat yang lain, tempat favoritnya. Pria itu menunjuk bibirnya yang seksi setelah mendapat satu kecupan tidak sengaja.
Ana baru saja akan menoleh lagi dan menggerutu karena suaminya itu selalu curang pun akhirnya ditahan. Wajahnya sudah dikuasai oleh suaminya itu untuk tetap menghadap ke arah lelaki itu.
cup
Satu kecupan yang sangat dalam terjadi dalam beberapa detik sebelum Ana berhasil untuk mendorong tubuh suaminya itu menjauh.
"Ken, kita sekarang berada dimana?!", Ana melotot seraya memperingati suaminya yang kadang tidak tahu malu itu.
"Bukan masalah bagiku!", pria itu acuh dan menikmati es krimnya lagi.
"Lebih manis bibirmu ketimbang es krim ini!", Ken lalu berkomentar dengan wajah acuhnya itu.
"Ken! Bukan masalah bagimu, tapi masalah untukku! Aku malu, tahu!", suara Ana yang semula agak keras saat menegur suaminya itu lalu berubah drastis menjadi sangat kecil di akhirnya.
"Ya, sudah! Kalau begitu ayo pindah ke tempat yang membuatmu tidak malu!", tiba-tiba Ken berdiri. Dengan begitu semangat ia menarik tangan Ana untuk ikut bersamanya.
"Ken!", seru Ana menahan kesal bercampur malu. Tapi ia masih menahan tangan suaminya itu. Ternyata yang ia nikahi ini memanglah seorang pria yang tidak memiliki rasa malu sama sekali!
-
-
**maafkan aku ya kemarin tidak update π
kemarin aku lagi ga fit,, kecapean,, jadi ga ada tenaga buat nulis,,
mohon maaf ya teman-temanπ
keep strong and healthy ya semuanya π**
__ADS_1