
Ken tersenyum kepada istrinya, senyuman hangat yang menenangkan. Ia mengangguk, lalu kedua tangannya menarik Ana hingga wanita itu akhirnya berdiri walau ekspresinya yang masih meragu belum juga berubah.
"Tapi Ken...", kali ini Ana benar-benar dibawa mengikuti langkah kaki Ken. Bukannya tak peduli, hanya saja menurut Ken, istrinya itu harus menghapus kecemasannya yang tidak berarti itu.
"Bunda!", suara Ken membuat Nyonya Rima mau tak mau akhirnya menoleh ke arah putranya.
Di hadapannya, kini Ken sudah berdiri bersanding dengan Ana yang sudah resmi menjadi istrinya. Ana memilih untuk menatap tangannya yang digenggam oleh suaminya. Hingga Ken menggoyangkan genggaman itu, Ana akhirnya mau menatap ke arah Nyonya Rima yang sudah menjadi ibu mertuanya saat ini. Tatapan Nyonya Rima yang sulit diartikan membuatnya bingung harus berbuat apa.
"Se,, selamat ss,,siang Nyonya!", akhirnya Ana memutuskan untuk menyapa lebih dulu. Karena bagaimanapun juga demi sebuah sopan santun, Ana yang lebih muda sudah seharusnya menyapa terlebih dahulu. Meski gugup dan gemetar, Ana berusaha memberanikan diri untuk bersuara pertama.
Hening,, tak ada jawaban. Hanya tatapan yang Nyonya Rima berikan. Ana sulit menerka apa yang saat ini mertuanya itu pikirkan dengan tatapannya. Ana kembali akan menunduk namun tiba-tiba tubuhnya diserbu sebuah pelukan. Dan tangannya yang digenggam Ken akhirnya terlepas, meski begitu Ken tetap tersenyum. Ia malah tersenyum bahagia, sangat bahagia.
"Ana!", seru Nyonya Rima di dalam pelukannya.
"Nyo,,nyonya!", balas Ana canggung karena tiba-tiba mertuanya itu memeluknya. Pertama kali dan sebelum-sebelumnya, wanita paruh baya ini selalu terang-terangan bersikap tidak suka pada dirinya. Tapi saat ini perubahan sikap ini membuat Ana mengernyitkan alisnya menatap Ken dengan penuh tanda tanya. Dan bukannya menjawab, Ken malah terus tersenyum membuat Ana makin bingung dibuatnya.
"Bunda, panggil aku Bunda, Ana!", pinta Nyonya Rima dengan lembut namun juga terdengar emosional.
Permintaan itu membuat mata Ana berkaca-kaca. Ia tak menyangka bahwa mertuanya itu membuat permintaan yang membuatnya begitu terharu.
"Bun,,bunda!", Ana gagap lalu tangannya membalas pelukan mertuanya itu.
"Maafkan Bunda atas sikap Bunda yang kasar selama ini ya, Ana. Dan terima kasih karena kau masih hidup, sehingga kau bisa memberikan kebahagiaan untuk putraku", ucap Nyonya Rima tulus.
Ana mengelus lembut punggung mertuanya itu sebelum akhirnya melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Nyonya Rima dalam, mengulik kejujuran dan ketulusan di matanya. Ia tak ingin terjebak dalam intrik apa pun. Hingga akhirnya mata itu malahan ikut berkaca-kaca seperti halnya mata Ana.
"Terima kasih, Bunda! Terima kasih karena sudah menerima Ana", istri dari Ken itu kembali memeluk Nyonya Rima dengan begitu eratnya yang langsung disambut hangat oleh dekapan tangan mertuanya itu.
__ADS_1
Ana menitihkan air mata bahagia. Ia tersenyum ke arah suaminya dengan mata yang mengatakan begitu banyak terima kasih di sana. Ken mengangguk seraya tersenyum kepada istrinya. Ana memejamkan mata menikmatinya dekapan yang tak pernah ia rasakan selama belasan tahun belakangan. Pelukan hangat seorang ibu yang telah lama pergi ke surga. Ana bahagia, benar-benar bahagia, akhirnya ia mendapatkan restu dari orang yang telah ia nanti sebelumnya.
"Kau cantik sekali, Ana!", Nyonya Rima membelai lembut pipi Ana setelah melepas pelukannya.
Memang benar, kali ini Ana sedang mengenakan gaun pengantin yang sama seperti apa yang akan Joice kenakan nanti. Tampilannya yang bak seorang putri membuat semua orang, bahkan seorang wanita pun terpana kepadanya.
"Bunda terlalu berlebihan!", Ana tersipu mendengar pujian pertama dari mertuanya itu.
"Baiklah, kita bisa meneruskan momen bahagia ini nanti. Sekarang sudah saatnya kita beraksi karena Joice baru saja sampai di area parkir!", sela Sam setelah mendapatkan pesan dari salah satu orangnya yang berjaga di luar area butik ini.
Mereka semua mengangguk mengerti. Tadi saat di jalan Nyonya Rima sudah dijelaskan oleh Ken garis besar rencana yang akan mereka jalankan hari ini. Nyonya Rima hanya harus bersikap seperti biasanya kepada Joice, seakan-akan ia tidak mengetahui apapun. Sejenak pandangan mata Sarah dan Nyonya Rima bertemu. Nyonya Rima segera memberikan senyuman yang amat tulus, karena meminta maaf panjang lebar waktunya pun sedang tak memungkinkan. Sarah segera membalasnya dengan anggukkan kepala dan sebuah ukiran senyuman di bibirnya. Segera setelahnya Nyonya Rima mengikuti langkah Sam yang sudah keluar terlebih dahulu.
"Cantik!", puji Ken serata mengecup punggung tangan istrinya itu. Sontak rona merah langsung menyembur di sekitar pipi Ana. Wanita itu tetap saja malu jika suaminya memuji dirinya dengan sikap yang sangat manis.
"Rasanya aku jadi ingin menikah lagi!", ucapan Ken malahan membuat Ana gagal paham. Wajah yang semula merona kini malah merah menyala. Tatapan tajam tak urung ia lemparkan kepada suaminya itu. Mulutnya mengerucut hingga rasanya ingin Ken lahap bibir itu sekarang juga.
"Bukan begitu maksudku, sayang! Kau sangat cantik dengan gaun pengantin ini. Aku jadi ingin mengadakan pesta pernikahan lagi nanti. Yang besar dan mewah, karena aku ingin sekali membuatmu bahagia, sayang!", tutur Ken lembut. Matanya jelas memberikan sebuah kejujuran dalam ucapannya.
"Aku tidak membutuhkan pesta yang mewah dan meriah. Memiliki cintamu yang besar dan megah itu hanya untukku saja, sudah cukup bagiku", kali ini Ana telah mengulas senyumnya.
"Ya ampun, Ana! Aku sangat bahagia memiliki dirimu untuk selamanya. Hatimu sungguh benar-benar mulia. Aku sangat mencintaimu, sayang", Ken meraih pinggang Ana dan mendekapnya lalu ia mengecup pucuk kepala Ana dalam hingga matanya terpejam. Ia kecup dan ia hirup aroma istrinya yang manis itu dalam-dalam. Ken ingin seluruh indera penciumannya mati rasa dengan aroma wanita lainnya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Ken!", Ana ikut memejamkan matanya menikmati pernyataan cinta kasih yang suaminya berikan kepadanya.
"Aku akan ke bawah dulu melakukan tugasku. Kau di sini sampai nanti Sarah memberitahumu, oke. Maaf aku harus meninggalkanmu dan menghampiri wanita itu", mata Ken penuh penyesalan sambil tangannya membelai lembut pipi istrinya.
"Tentu saja, aku akan tetap memantaumu dari sini! Kau pikir aku akan rela dengan begitu saja saat suamiku harus berdekatan bahkan melakukan sesi foto prewedding dimana kalian akan melakukan pose-pose mesra nanti?! Heh, jangan harap!", kini Ana memasang wajah garangnya sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Jika kau macam-macam,,,,!", tangan Ana memberi isyarat dengan menyayat lehernya sendiri.
"Tamat riwayatnya, Tuan!", Ana menyelesaikan ancamannya sambil melempar pandangan ke arah lain dengan wajah acuhnya.
"Uuhh, aku takut!", seru Ken dengan nada yang dibuat-buat. Dan Ana langsung menoleh dengan jawaban Ken yang membuatnya hampir murka.
Sebelum Ana sempat mengucapkan satu kata pun, Ken sudah membungkam mulut Ana dengan bibirnya. Ken sudah menahan perasaannya sejak pertama kali masuk dan melihat istrinya yang begitu cantik ini, ia sudah ingin menyerang Ana sejak tadi. Tapi niatnya harus ia tahan tatkala masih ada orang lain di sana. Dan saat ini ketika tinggal hanya mereka berdua, apalagi saat Ana malah menunjukkan sikap cemburuannya dan akhirnya menampilkan ekspresi yang amat menggemaskan itu, Ken sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Ia segera meraih pinggang Ana hingga tubuh mereka merapat sempurna. Lalu tangan yang satunya ia gunakan untuk menahan tengkuk leher Ana dan memperdalam ciuman mereka. Sejak awal Ken tak memberi ampun, sejak awal Ken sudah memulai kegiatan panas pada bibir mereka. Dan akhirnya Ana melepaskan ciuman itu pertama setelah nafas mereka saling memburu, terengah-engah akibat ciuman panas yang Ken mulai sebelumnya.
"Mataku buta untuk wanita lain, hidungku pun tak dapat menghirup aroma wanita lain dan telingaku tuli untuk mendengar wanita lain memanggilku. Sedangkan bibirku hanya ku gunakan untuk menciummu. Aku tak akan pernah tergoda oleh siapa pun, Ana. Itu adalah janjiku!", Ken membelai lagi pipi istrinya dengan begitu lembut. Matanya, ia menatap mata istrinya hingga ke dalam supaya Ana tau bahwa Ken diciptakan hanya untuk dirinya.
-
-
-
-
-
-
teman-teman jangan lupa ikutin terus ya akhir-akhir cerita ini,, dan ikutin juga ya ceritanya Ben dan Rose di sana..
🌹"Hey you, I love you!"🌹
__ADS_1
Dan aku ingetin sekali lagi,, jangan pernah lupa buat kasih like, vote sama komentar kalian di sana maupun di sini ya teman-teman 😘
keep strong and healthy ya guys 😉