
"*Tidak mungkin!", kedua wanita itu merapalkan hal yang sama dalam batinnya.
"Apa maksud dari semua ini Tuan", ucap Han dalam hati yang juga masih dalan keterkejutannya*..
***
Tuan Dion bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan putra sulungnya.
"Ken!", beliau memeluk putra sulungnya.
Nyonya Rima akhirnya bangkit dari keterkejutannya dan ikut menyambut putranya. Dia masih berharap ini bukan kenyataannya.
"Ken!", Nyonya Rima memeluk Ken dan mengusap punggung Ken sayang.
"Bagaimana kabarmu?", tanya Tuan Dion pada Ken.
"Luar biasa, ayah! Ayah lihat sendiri bukan!", Ken merentangkan tangannya dengan wajah ceria.
"Ya, kau nampak bahagia nak", ucap Tuan Dion tak mempedulikan wajah Joice yang sudah berubah dengan topeng cerianya.
"Tentu saja, ayah! Oh, dan kenalkan ini adalah...", belum selesai Ken berucap Nyonya Rima sudah memotongnya. Dia akan memastikan sendiri siapa wanita yang berada di antara mereka.
"Oh ada Han, bagaimana kabarmu?", tanya Nyonya Rima memasang wajah ramahnya.
"Baik, Nyonya!", jawab Han sopan. Sebenarnya Han sudah paham akan situasi yang terjadi. Tapi dia tetaplah orang luar yang sengaja dijebak masuk ke dalam permainan bosnya. Han lebih memilih untuk mengamankan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Pasti ini adalah kekasihmu, iyakan Han?!", ucap Nyonya Rima lagi mengacu pada Ana yang sedang berdiri menatapnya dengan senyum penuh ironi.
Ana sudah menyadari hal ini akan terjadi, dimana ibu dari kekasihnya tidak akan menerimanya dengan mudah. Tapi Ana juga bukan wanita lemah yang akan seenaknya ditindas oleh orang lain.
"Perkenalkan, saya Ana Nyonya!", Ana mengulurkan tangannya dan berucap sopan pada Nyonya Rima. Ia masih menahan fakta bahwa dirinya adalah kekasih dari putranya.
Tapi Ken melihatnya dengan geram.
"Dia adalah calon istriku, Bunda!", ucap Ken berusaha tenang. Menurut Ken, kedua orangtuanya harus mengetahui siapa Ana baginya. Terlebih lagi bundanya yang jelas-jelas akan menjodohkannya dengan Joice.
"bbam!", pipi Joice memerah seperti ditampar keras oleh kenyataan.
"Oh ya, silahkan duduk!", ucap Nyonya Rima sekenanya kemudian kembali duduk di tempatnya. Begitu pun dengan Tuan Dion yang beranjak ke ujung meja sambil menipiskan bibirnya.
Ken menarik kursi untuk Ana dan mendudukan diri di sebelahnya, sedangkan Han duduk di sebelah Ken setelah sebelumnya dia hanya berdiri karena merasa canggung berada di tengah keluarga bosnya. Mereka duduk di seberang Nyonya Rima dan Joice yang sedang menatap mereka dengan penuh selidik.
"Apa yang Ken lakukan?! Dia tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Wanita itu memang cantik, tapi terlalu sederhana untuk menyaingi Joice. Hanya Joice yang pantas mendampingi putraku", gumam Nyonya Rima dalam hati.
"Eherm! Bisa kita mulai makannya sekarang?" Tuan Dion memecah keheningan di antara mereka yang berperang dengan pikirannya sendiri.
"Ya, ya, tentu saja! Mari makan! Ayo Joice makanlah yang banyak", ucap Nyonya Rima sambil menatap Ana datar. Ia sengaja mengucapkannya sambil menatap Ana untuk memprovokasinya.
"Ya, baiklah tante. Masakan di sini pasti sangat enak karena dimasak oleh koki terbaik di sini kan tante!", ucap Joice sambil menyunggingkan senyumnya merasa menang karena lebih diperhatikan oleh Nyonya Rima.
Ana memperhatikan interkasi keduanya dengan tatapan datar. Ia berusaha menekan emosinya agar tidak mengecewakan Ken. Ia tak ingin merusak acara makan keluarga ini. Karena bagi Ana, berkumpul bersama keluarga adalah hal yang langka yang tak pernah ia dapatkan lagi sejak kecil.
__ADS_1
"Mari makan, Ana", ucap Tuan Dion yang sedari tadi juga ikut memperhatikan interkasi keduanya. Ia menengahi situasi saat ini.
"Iya, terima kasih Tuan!", jawab Ana sopan dan mengalihkan pandangan pada Tuan Dion yang berada di ujung meja.
"Ayo Ken, Han! Kalian makanlah yang banyak. Kalian harus mencharge tubuh kalian untuk aktifitas besok" lagi Tuan Dion berucap pada Ken dan Han.
"Tentu saja, ayah!", Ken mengambilkan beberapa lauk ke piring Ana. Sontak hal itu membuat semua yang ada di ruangan menganga melihat kelakuan Ken, terkecuali Han tentunya. Selama hidupnya, Ken selalu bersikap dingin bahkan pada wanita pun sikapnya tetap sama. Jadi wajar saja jika orang-orang terdekatnya pun melonjak kaget melihat tingkahnya. Tidak dengan Han yang sejak awal melihat perubahan dari bosnya setelah bertemu Ana.
Tentu saja Nyonya Rima dan Joice melempar pandangan tak suka pada mereka. Nyonya Rima menggenggam tangan Joice dalam pangkuannya seakan menyalurkan semangat untuknya. Namun Joice hanya bisa tersenyum getir menanggapinya saat ini
"Ah, Joice! Bukankah kau baru saja menyelesaikan tugas papamu di luar kota?!", ucap Tuan Dion tiba-tiba sambil tersenyum penuh arti. Beliau ingin menguji ketangguhan mental calon menantunya kelak, baik itu Ana ataupun Joice. Tapi sontak pertanyaan itu membuat Ken mengalihkan pandangannya yang tajam ke arah ayahnya. Matanya memberi sorotan tanda tanya. Tapi Tuan Dion tak mengubah ekspresinya.
"Oh, iya paman. Aku selesai mengembangkan anak cabang perusahaan di Kota S hanya dalam waktu 6 bulan saja. Padahal papa memberiku waktu 1 tahun untuk mengerjakannya", jelas Joice riang. Dia cukup bangga dengan prestasi yang ia punya. Dirinya makin di atas awan saat calon mertuanya itu menanyakan hal itu lagi.
"Tapi paman sudah pernah menanyakan hal ini sebelumnya. Apakah paman sengaja menanyakannya lagi untuk membuat diriku terlihat bagus di depan Ken", ucap Joice dalam hati diiringi dengan seringainya.
"Bagus sekali, Joice! Kau memang wanita yang cerdas. Tante sungguh iri padamu. Kau yang begitu cantik ditambah lagi dengan kecerdasan yang kau punya", Nyonya Rima lagi-lagi menyanjungnya terang-terangan. Ana masih tak bergeming, dia sibuk menikmati makanannya tanpa menghiraukan isi pembicaraan orang-orang di hadapannya. Tuan Dion menipiskan bibirnya melihat respon Ana yang masih tenang.
"Kau ingat kan Ken, Joice selalu dekat denganmu dulu di sekolah. Bahkan dalam hal prestasi pun dia selalu berada tepat 1 poin di bawahmu. Sepertinya dia tak bisa jauh darimu bahkan dalam urusan prestasi pun", kali ini Nyonya Rima memuji Joice lagi dengan ekstrem.
Ken menatap bundanya tidak suka. Ia menggenggam tangan Ana di bawah meja untuk menahan amarah. Amarahnya mau amarah Ana kini sedang diuji batasnya. Ana mengepalkan tangannya, hingga mencengkram gaunnya. Ken merasakan gerakan tangan Ana dalam genggamannya. Ia menatap ke arah Ana sekilas, kemudian mengelus punggung tangan Ana yang sedang mencengkram kuat gaunnya. Ia berusaha meredam amarah Ana. Karena ia tau, jika singa betinanya sudah marah, tak ada hal yang akan lebih baik.
Ana menahan geramannya. Dia berusaha menetralisir perasaannya yang mulai tersulut. Sesungguhnya, Ana masih menghormati bahwa saat ini ia masih berada di kediaman orang tua Ken. Dan ia juga masih menahan diri karena orang yang berusaha menyingkirkannya dari lingkup ini adalah bundanya Ken. Ana menghembuskan nafasnya kasar kemudian melanjutkan makannya dengan tenang.
Ken tersenyum melihat respon Ana. Dalam hatinya ia benar-benar bangga bahwa Ana tahu bagaimana mengendalikan dirinya saat ini. Ia tau Ana bisa saja memberontak sejak awal, tapi ia lebih memilih menghindar dan menghormati dimana keberadaan mereka sekarang. Dan biarkan dirinya saja yang melampiaskan amarah ini pikir Ken.
__ADS_1
"Ya tentu saja aku ingat. Dia adalah teman wanita yang selalu menempel padaku bahkan dalam hal prestasi pun", ucap Ken dengan penekanan pada setiap katanya. Tak lupa ia memberikan seringai tipisnya ke arah bunda maupun Joice.