Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 2


__ADS_3

"Sayang! Apa kau ingin jalan-jalan? Beberapa hari ini sepertinya kau tidak kemana-mana!", tanya pria yang tengah duduk di pangkuan istrinya sambil mengelus perutnya yang sudah mulai mmebuncit itu.


Ken dan Ana sedang bersantai di halaman belakang dekat kolam renang. Ana sedang asyik dengan benda pipihnya, melihat-lihat keperluan bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Melihat barang-barang itu membuatnya tak sabar untuk pergi berbelanja perlengkapan anak mereka nanti.


Dan Ken masih sibuk tangannya pada perut wanita itu. Di kehamilan Ana yang sudah memasuki bulan keempat ini, pergerakan bayi mereka mulai terasa. Meskipun tidak sering, namun sesekali Ana masih bisa merasakannya. Jadi karena hari ini adalah hari libur, suaminya itu ingin puas berburu pergerakan bayinya di dalam perut istrinya itu.


Rasanya sulit digambarkan dengan kata-kata. Yang jelas luar biasa. Seperti ada kembang api di dalam hatinya. Suasana hati pria itu terlalu gembira, atau saking gembiranya jika ia bisa mendapatkan kesempatan untuk merasakan gerakan dari calon anaknya itu. Jadi seperti saat inilah, ia sedang menantikannya. Sejak mereka menyelesaikan sarapan mereka pagi tadi, keduanya hanya memilih untuk bersantai dan bermalas-malasan di tempat itu saja.


"Ken, coba lihat? Ini lucu, kan?! Yang ini juga lucu, kan?!", Ana begitu bersemangat saat menunjukkan gambar-gambar pakaian bayi yang pasti lucu dan menggemaskan kepada suaminya itu.


"Iya! Semuanya bagus!", pria itu menjawab seraya tersenyum. Menyenangkan istrinya adalah yang utama. Meskipun di dalam pikirannya tentu semua terlihat sama saja. Memang benar lucu, jadi daripada sibuk memilih sampai kepala pusing, beli saja apa yang ada di toko perlengkapan bayi.


"Ya, memang benar! Lucu sekali! Nanti kita harus membeli ini ya, Ken!", lalu Ana menunjukkan lagi layar ponselnya ke wajah suaminya itu.


"Iya,, menurutku memang lucu!", sebenarnya Ken enggan menjawab lagi, karena ia tadi kan sudah melihat apa yang istrinya itu tunjukkan padanya. Tapi dengan sabar, Ken tetap menjawab pertanyaan istrinya itu dengan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Tapi kau harus melihatnya dulu, Ken!", Ana seolah tak sabar, jadi dia mengguncang sedikit wajah suaminya itu agar membuka mata dan melihat ke arah ponselnya.


"Iya,, tadi aku sudah melihatnya! Bajunya memang ba,, guss!", seraya membuka mata, mulutnya pun bersuara. Tapi suaranya yang bersemangat segera menghilang perlahan saat mengetahui apa yang ditunjukkan istrinya itu kali ini adalah hal yang berbeda. Jika yang tadi adalah beberapa setelan baju bayi laki-laki. lalu sekarang yang ditunjukkan oleh Ana adalah mainan-maianannya.


Kenapa begitu banyak perlengkapan seorang makhluk yang kecil nan mungil saja. Tadi apa, lalu tiba-tiba apalagi yang ditunjukkan oleh istrinya itu. Terlalu cepat, sehingga Ken takut jika Ana sampai mendapati jika dirinya tidak serius dalam menanggapinya. Ana pasti akan marah.


"Oh, mainan-mainan itu sangat bagus! Aku yakin, apapun yang kau pilihkan untuk anak kita nanti, pasti adalah pilihan yang terbaik untuknya. Aku yakin karena aku tau bahwa istriku sangat pintar dan cerdas", dari bawah tangan Ken terulur untuk menyentuh pipi istrinya itu dan mengusapnya. Tak lupa senyuman yang paling indah harus Ken tunjukkan agar Ana lebih yakin padanya.


Ana terdiam sejenak sebelum menanggapi setiap perkataan suaminya. Matanya jelas sedang memindai keseriusan yang suaminya itu miliki. Ia tidak menemukan apa-apa padahal, tapi kenapa hatinya rasanya menjadi kesal?! Seperti merasa suaminya itu sedang berbohong sekarang.


Bibir Ana mulai mengerucut. Dan senyuman Ken perlahan memudar. Bisa dibilang lelaki itu agak panik, takut-talut jika istrinya itu akan memarahinya. Dan beruntunglah dia karena tiba-tiba saja bayinya datang untuk menyelamatkan ayahnya.

__ADS_1


"Ana, lihatlah! Dia bergerak! Aku bisa merasakannya!", dengan wajah yang begitu antusias, Ken mengusap perut bagian kiri Ana. Dimana di sana calon anaknya itu sedang menggelitik perut ibunya dari dalam.


"Ya, kau benar, Ken! Dia memang bergerak! Sayangku, kau harus selalu aktif ya di dalam sana! Ibu akan memakan apapun untuk memebrikan asupan nutrisi yang baik bagimu, sehingga kau terus sehat dan aktif di dalam perut Ibu!", Ana lupa dengan rasa kesalnya. Kini ia terus tersenyum sambil mengikuti gerakan tangan suaminya yang sedang mengusap bagian perut dimana tadi anaknya bergerak itu.


Kedua pasangan suami istri itu saling melemparkan senyum yang bahagia. Terlebih lagi Ken yang merasa lega, karena ia akhirnya selamat dari amukan singa betinanya. Apalagi semenjak hamil ini, Ana makin sering merajuk. Dan hal itu membuatnya harus pandai berakting agar istrinya itu tidak mengetahui keberatan yang sering kali ia rasakan.


Ken mendesah diam-diam, ia merasa berterima kasih karena telah diselamatkan oleh anaknya. Sekarang saja saat masih berada di dalam kandungan, anaknya itu sudah mendukungnya. Pasti saat nanti ia lahir ke dunia, mereka akan jadi sekutu yang cocok untuk menghadapi wanita ini.


Hah! Senangnya Ken, sampai rasanya ia ingin bertepuk tangan. Tapi tentu saja ia harus menyimpan rasa senang ini sembunyi-sembunyi. Jika istrinya itu tau apa yang ada di dalam pikirannya saat ini pasti singa betinanya itu akan menerkamnya bulat-bulat.


"Ken, aku merasa senyumanmu agak aneh!", ujar Ana tiba-tiba dengan tatapan menyelidik. Mata wanita itu memindai seluruh wajah suaminya itu.


"Ah,,, kau terlalu banyak berpikir, Sayang! Aku hanya terlalu bahagia!", Ken mendudukkan dirinya lalu merangkul wanita itu dan menenangkannya. Pria itu memeluk Ana begitu erat sampai wajahnya menempel ke dada bidang pria itu. Ken juga mengecup pucuk kepala Ana sebagai pelengkap alibi yang baru saja ia rekayasa.


Jangan sampai Ana melihat wajahnya lagi! Terlalu bahaya baginya, karena istrinya itu mungkin saja akan bisa membaca apa yang ada di pikirannya saat ini.


***


"Bagaimana? Apa jawaban Kakak ipar?", tanya Sam penasaran pada Sarah yang masih sibuk membalas pesan.


"Dia setuju! Jadi mulai sekarang aku harus memanggilnya kakak ipar juga seperti dirimu?", Sarah sudah mengangkat kepalanya setelah selesai membalas pesan sahabatnya itu.


Baru saja ia dan Sam mengajak pasangan Ken dan Ana untuk makan siang bersama. Dan rencananya kedua pasangan itu akan menemani para wanita mereka berbelanja di salah satu mall ternama.


Tapi, dalam percakapannya, Ana menegur Sarah untuk memanggilnya kakak ipar karena statusnya di dalam keluarga Wiratmadja ini, ia masih berada satu tingkat di atas Sarah. Tentu saja hal itu Ana lakukan untuk membuat wanita itu kesal. Sampai saat ini ia masih sangat suka membuat para sahabatnya itu kesal. Rasanya sangat menyenangkan. Jadi jangan kira jika permintaan Ana itu adalah hal yang serius.


Hanya saja wanita yang menerima pesan itu sedang lurus jalan pikirannya. Jadi ketika Ana menyampaikan permintaannya, Sarah hanya berpikir dengan polosnya. Dan menurutnya itu juga masih permintaan yang wajar. Ana memanglah istri dari kakak dari suaminya. Jadi masuk akal memang jika ia harus memanggil sahabatnya itu dengan kakak ipar. Lagipula ia sudah terbiasa memanggil wanita itu dengan namanya selama bertahun-tahun ini. Jadi cukup canggung rasanya untuk memanggil sahabatnya itu dengan sebutan kakak ipar.

__ADS_1


"Terserah padamu saja, Sarah! Sepertinya Kakak ipar tidak akan keberatan jika kau memanggilnya dengan cara seperti biasanya", bagi Sam tidak ada masalah. Itu hanya pembicaraan di antara wanita saja. Jadi jawaban yang ia buat hanya untuk membuat nyaman istrinya saja.


"Ya,,, aku rasa Ana adalah yang paling cocok keluar dari mulutku untuk memanggilnya! Lidahku terasa kaku untuk memanggil ibu hamil yang jahilnya setengah mati itu dengan sebutan kakak ipar!", Sarah mendengus dengan kekesalannya saat mengingat tingkah menyebalkan sahabatnya itu.


Lalu Sam hanya bisa tersenyum sat ini. Jika ia banyak bicara, takutnya kakak iparnya itu akan mendengarnya dengan cara telepati. Ia masih sayang dengan nyawanya. Mengingat kakak iparnya yang galak itu saja sudah membuatnya merinding.


"Mereka setuju! Ayo kita bersiap sekarang!", ajak Sarah seraya menarik lengan suaminya itu untuk mengganti pakaian mereka.


"Ayo kita ganti pakaian bersama!", lalu tiba-tiba Sam menggendong Sarah ke arah ruang ganti dengan senyum liciknya.


"Jangan macam-macam, Sam! Ini sudah jam berapa?!", wanita itu meronta seraya memukul pelan bahu suaminya itu agar diturunkan. Meskipun ia tau bahwa permintaannya tidak akan dikabulkan.


"Lagipula pingganngku sudah mau patah, tahu!", lalu wanita itu menggerutu dan mengeluh dengan suara yang begitu lirih sambil menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya itu.


Sarah kesal dan begitu malu saat menyebutkan keluhannya yang satu ini. Bukan apa-apa, tadi malam ia sudah di lahap dengan begitu rakusnya. Lalu bagun tidur tadi, kembali suaminya itu sarapan sampai puas di atas ranjang mereka. Jika sekarang pun Sam akan memakannya lagi, mungkin rencana makan siang bersama ini harus dibatalkan. Karena sepertinya setelah itu ia tidak akan sanggup berjalan lagi. Tubuh dan kakinya pasti akan terada lemas tak berdaya.


"Memangnya apa yang akan aku lakukan , Sayang?! Kau ini sekarang sudah seperti peramal saja!", Sam terkekeh setelah berhasil menggoda istrinya itu. Ia memang tidak sedang berpikir ke arah sana. Tapi sepertinya sekarang, ia harus berterima kasih kepada istrinya itu karena telah mengingatkannya.


-


-


**teman-teman,, jangan lupa baca lanjutan novel kedua aku ya 😊


"Hey, You! I Love You!"


lanjutan ceritanya babang ben sama neng rose yang dijamin ga kalah seru dari cerita ini 😀

__ADS_1


keep strong and healthy ya semuanya 🥰**


__ADS_2