Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 215


__ADS_3

Sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti di lobby gedung Glory Entertainment. Seorang wanita cantik nan seksi keluar dari mobil itu. Ia melemparkan kunci mobilnya pada salah satu petugas parkir yang sudah menghampirinya, seperti sudah mengerti dengan apa yang wanita itu inginkan dengan mobilnya. Petugas parkir itu menangkap kunci mobil lantas kemudian memarkirkannya.


Megan Aira dengan tas hitam kecil di tangannya, ia berjalan melenggak-lenggok menyusuri lantai dasar itu menuju deretan lift yang berada di salah satu sisinya. Megan melewati tiga orang resepsionis yang kelihatannya tengah sibuk dengan telpon di tangan mereka. Itu sangat bagus. Lalu wanita itu berjalan ke arah lift khusus presdir dimana lift itu akan membawanya langsung ke lantai dimana kantor Sam berada. Dan kebetulan saja saat itu hanya ada satu petugas kemanan yang berjaga, jadi ia leluasa untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan saat ini. Ia yakin jika mereka lebih banyak dan menyadari kehadiran dirinya, maka menginjak ke lantai selanjutnya pun ia tidak akan bisa. Ia sudah tau mandat apa yang mereka terima. Bahwa ia tidak lagi diperbolehkan menggunakan lift khusus petinggi ini. Megan sudah tidak diijinkan untuk mendekati Sam, bahkan dalam radius satu kilometer saja.


ting


Pintu lift terbuka, setelah melihat semua aman maka Megan melangkahkan kakinya a memasuki lift tersebut. Bersamaan itu pula, Sarah terlihat turun dari mobil yang ditumpanginya.


Setelah berpamitan dengan supirnya, Sarah terlihat tengah mengumpulkan keberanian dan kepercayaan dirinya sebelum memasuki gedung tersebut. Bagaimanapun yang akan ia temui adalah bos besar perusahaan ini. Dengan dandanannya yang masih terkesan sederhana, Sarah ragu ia akan diterima dengan baik di dalam sana. Setelah menghela nafas beberapa kali, akhirnya ia mulai memijakkan kakinya. Terus melangkah hingga melewati pintu kaca yang bergerak otomatis saat ada orang yang akan melewatinya.


"Emm,, Permisi!", ragu-ragu wanita itu menyapa para resepsionis yang terlihat sibuk semua. Suaranya lirih masih terdengar tidak percaya diri.


"Per,, permisi!", ulangnya lagi karena tidak ada yang menjawabnya. Mungkin suaranya tadi terlalu kecil, sehingga kali ini ia meninggikan sedikit intonasinya. Tidak kasar, masih terdengar ramah di telinga orang lain.


"Ya, Nona! Ada yang bisa saya bantu?", salah satu di antara mereka mengangkat kepala untuk menjawab Sarah.


"Itu, aku ingin bertemu Tuan Sam. Dimanakah ruangannya berada?", sedikit meringis jelas Sarah menampakkan ketidakpercayaan dirinya.


"Maaf, apakah Nona sudah memiliki janji?", tanya resepsionis itu lagi masih sopan.


"Itu,, bagaimana ya menjelaskannya!", bisa saja Sarah langsung bicara mengenai bagaimana hubungannya dengan Sam saat ini. Tapi apakah mereka akan percaya, Sarah bingung bagaimana harus mengungkapkan alasannya saat ini.

__ADS_1


"Maaf Nona, untuk bertemu dengan Tuan Sam tidak bisa sembarangan. Anda harus membuat janji terlebih dahulu dengan sekretarisnya", melihat keraguan pada wanita di hadapannya maka resepsionis itu menyangka jika Sarah hanyalah wanita biasa yang sedang mencari perhatian bosnya itu. Seperti wanita kebanyakan yang sering datang ke sana. Semua tau reputasi bosnya yang merupakan seorang playboy insyaf.


"Tapi,,, ", Sarah kembali meragu. Ia benar-benar bingung saat ini. Tak ada pengalaman bagi dirinya untuk memasuki gedung dan bertemu orang penting seperti ini.


"Silahkan Nona menghubungi sekertarisnya terlebih dahulu!", sebenarnya resepsionis itu cukup sopan. Ia hanya menjalankan mandat apa yang harus mereka jalankan. Sarah bisa mengerti itu. Tapi,,, bagaimana dengan masalah dirinya yang harus bertemu Sam sekarang juga. Apalagi mereka memiliki janji dengan anggota keluarga yang lain untuk melakukan fitting baju pengantin. Sarah mencoba menghubungi pria itu supaya bisa membantunya untuk mempermudah urusannya di bawah sini, tapi nomer yang ia hubungi sedang tidak aktif. Ia hampir frustasi saat ini.


"Emmhh,,, bisakah Nona menghubungi kantor Tuan Sam dan katakan bahwa Sarah sudah sampai di sini!", ini pilihan terakhir Sarah. Jika gagal, maka ia akan dengan sabar menunggu pria itu di bawah sini saja. Mau bagaimana lagi, Sarah tak memiliki solusi untuk masalahnya sendiri.


"Maaf tapi Nona,,, ", resepsionis itu segera dipotong oleh resepsionis di sebelahnya.


"Maaf Nona, boleh saya tau nama Nona siapa?", tanya resepsionis kedua dengan sangat sopan sambil menghadang tangannya di depan tubuh resepsionis pertama.


"Nona Sarah?!", resepsionis kedua dan ketiga serempak mengulang nama wanita di hadapan mereka. Resepsionis ketiga bahkan sampai meletakkan pekerjaannya secara mendadak. Ketiganya menjadi berdiri berdampingan, hanya wajah resepsionis pertama saja yang wajahnya sama bingungnya dengan Sarah.


"Selamat Siang, Nona Sarah! Tuan Sam sudah menunggu Anda sejak tadi. Mari saya antar ke kantor beliau", resepsionis kedua langsung keluar dari mejanya. Ia menghela tangannya supaya Sarah mau mengikuti arahannya.


"Ba,, baiklah, terimakasih kalau begitu!", tak lupa ia pun tersenyum berpamitan kepada dua resepsionis yang masih mematung di mejanya. Lalu mengikuti langkah resepsionis kedua yang sudah maju satu langkah di depannya.


"Nona Sarah siapa? Kenapa kalian bisa mengenalnya? Bukankah manajer kita sudah memerintahkan untuk tidak memperbolehkan wanita sembarangan menemui Tuan Sam? Apakah kalian tidak takut dihukum?", tanya resepsionis pertama dengan wajah super polosnya. Ya, dia memang tidak salah. Semua yang ia katakan adalah benar, sesuai dengan perintah yang ia dapatkan dari atasannya.


"Tapi aku lebih takut lagi jika sampai tunangan Tuan Sam itu, Nona Sarah merasa dipersulit oleh kita. Bisa-bisa kita dipecat karena hal seperti ini saja!", acuh resepsionis ketiga duduk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Ap,, apa? Tunangan? Nona Sarah?", resepsionis pertama segera menepuk keningnya dengan keras. Bodoh sekali dirinya hingga melupakan perintah terakhir yang mereka dengan sejam yang lalu bahwa mereka akan kedatangan tunangan bos mereka. Dan jika ada seorang wanita yang datang bernama Sarah, maka mereka harus segera mengantarkannya langsung ke kantor bos besar mereka. Dan melayani Nona Sarah dengan sangat baik.


Resepsionis merutuki kebodohannya sendiri. Ia duduk lemas sambil terus mengutuk tiada henti. Pasrah ia akan nasibnya setelah ini.


***


Di lantai paling atas itu, Megan telah lebih dulu sampai. Dengan percaya diri ia keluar dari lift khusus itu menuju pintu yang biasanya akan leluasa ia masuki. Tapi kali ini sudah tidak semudah itu baginya.


"Nona Megan!", sekretaris Sam segera keluar dari mejanya dan menghadang wanita itu begitu mendengar denting suara lift berbunyi. Ia kira itu adalah Nona Sarah yang sudah ditunggu bosnya. Nyatanya malahan rubah beracun yang datang.


"Bagaimana Anda bisa sampai di sini?!", pertanyaan sekretaris itu terdengar menuntut. Yang ia tau, bahkan wanita ini sudah harus dijauhkan dari jangkauan bosnya sejauh mungkin. Ia tidak diijinkan lagi melangkahkan kakinya ke dalam lift khusus itu.


"Memangnya ada yang salah?!", Megan memainkan tas kecilnya sambil tersenyum meremehkan. Aksinya benar-benar lancar kali ini. Tidak ada hambatan sama sekali. Hal itu membuatnya tersenyum menang, bukan.


"Anda tidak diijinkan bertemu lagi dengan Tuan Sam!", suara sekretaris itu mencegah dengan tegas. Bukan hanya itu saja, tapi calon istri bosnya akan datang sebentar lagi. Ia sangat tau apa yang bisa dilakukan oleh rubah ini. Ia takut hal itu akan menimbulkan kesalahpahaman antara Nona Sarah dan juga bosnya.


"Itu terserah padaku, bukan terserah padamu!", Megan menantang dan tetap berjalan ke arah pintu ruangan Sam berada. Sekretaris Sam merentangkan tangannya membuat pagar bagi Megan saat wanita itu sudah beberapa langkah lagi mencapai pintu.


ting


Suara pintu lift kembali berdenting. Resepsionis kedua keluar beserta Sarah di belakangnya. Wajah sekretaris Sam menjadi panik setelah mengetahui siapa yang datang. Entah perang macam apa yang akan terjadi setelah ini. Ia sangat ingin memanggil pihak keamanan sekarang, sayangnya ponselnya pun tertinggal di meja yang sudah jauh dari jangkauannya.

__ADS_1


__ADS_2