
"Sam, kau berhutang penjelasan kepadaku! Kau tau bukan amukan singa betinaku?!", ucap Ken memberi peringatan pada Sam yang masih menciutkan nyalinya setelah berhadapan dengan singa betina kakaknya itu. Ken mengikuti langkah Ana pergi dari sana.
***
Joice mengendurkan punggungnya yang tegang sejak Sam membawa teman wanitanya. Ia menyenderkan dirinya pada punggung kursi seraya menghela nafas lega. Sungguh kejadian yang sangat di luar dugaan. Perang dingin antara ibu dan anak juga kekasih putranya membuat Joice harus menahan nafasnya agar tidak masuk ke dalam masalah tersebut.
Han memperhatikan tingkah Joice dengan tatapan datar. Saat Joice tiba-tiba memandang ke arahnya, Han tetap memasang wajah datarnya sambil menggeleng pelan. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan berpamitan.
"Saya permisi", ucapnya pada Tuan Dion sambil membungkuk hormat. Kemudian tanpa berucap ia juga memberi penghormatannya pada Nyonya Rima, meskipun setengah hati namun Han tetap melakukan semua demi etika sopan santun yang diterapkannya. Han pun melangkah meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal 4 orang yang masih mematung di posisi mereka sebelumnya. Tuan Dion masih nampak tenang memperhatikan situasi yang berubah sengit sejak tadi. Dan Joice masih menyembunyikan semua topengnya dengan tersenyum. Sedangkan Nyonya Rima terlihat masih memaku tubuhnya sambil memandang ke arah Sam yang juga tengah memandangnya dengan tatapan tajam.
Pembawaan Sam yang ceria hilang sudah, kini wajahnya yang serius menampilkan sisi Sam yang lain. Sam yang tak kalah menyeramkannya dari Ken. Sam menyeringai dan menatap nanar bundanya.
"Beginikah bunda yang aku kenal?! Bunda yang anggun dan terhormat yang begitu menyayangi putranya, dimana dia? Dimana kau sembunyikan bundaku yang begitu aku sayangi?!", ucap Ken seraya mengguncang satu lengan bundanya itu.
"Sam, sadarlah!", Nyonya Rima berusaha menghentikan ucapan Sam yang tidak karuan menurutnya.
"Bunda, setiap orang punya alasan untuk menjalani hidupnya. Dan tidak semua orang bisa beruntung seperti kita yang bisa menikmati kemewahan dan penghormatan dari orang lain. Dan apa bunda lupa 5 tahun lalu jika kakak tidak bersusah payah membangun lagi perusahaan ini, mungkin nasib kita akan sama dengan wanita yang bunda tampar pipinya!", Sam mengucapkan kalimatnya sambil menipiskan bibirnya yang penuh ironi.
__ADS_1
"Dan bunda juga harus ingat! Wanita pertama yang bunda hina itu adalah Keana Winata putri dari Danu Winata, tolong bunda ingat itu baik-baik", ucap Sam berusaha menekankan siapa Ana sebenarnya.
Kemudian ia pergi menyusul semua orang yang sudah beranjak dari tempat yang begitu menyesakkan dada. Begitu pula dengan Tuan Dion yang terperangah mendengar penjelasan dari Sam. Tuan Dion ikut menyusul putranya untuk mendapatkan penjelasan pasti. Mereka meninggalkan dua wanita itu dimana Nyonya Rima nampak lunglai jatuh ke kursinya dan Joice dengan sigap berusaha membantunya. Ia mengusap lengan Nyonya Rima pelan. Saat ini yang ada dipikiran Joice tetaplah sama, ia harus tetap mengambil hati Nyonya besar ini.
***
Di halaman rumah, Ana masih menggenggam tangan Sarah begitu erat. Sedangkan Ken berdiri di belakangnya dengan wajah sendu. Rasanya ingin sekali ia memeluk Ana dan meminta maaf tanpa berhenti akibat perbuatan ibunya itu. Tangannya melayang ke udara ingin menggapai bahu Ana. Namun kekuatannya hilang tiba-tiba saat sedikit lagi mencapai bahunya, tangan Ken jatuh lemas. Ia memundurkan langkahnya untuk memberi jarak dengan wanitanya itu. Perasaan sungkan, canggung, rasa bersalah memenuhi rongga hati Ken saat ini. Ia menundukkan kepalanya dalam.
Ana menyadari pergerakan Ken sejak ia merasakan hawa tangan Ken yang tidak jadi menyentuhnya. Ia memang marah saat ini, ia marah pada ibunya Ken yang sudah menghina dirinya juga sahabatnya. Ia sangat marah, sehingga tak dapat berkata lagi dsn memilih untuk pergi. Ana takut akan mengecewakan Ken jika dia termakan emosinya.
Tapi itu bukan berarti Ana marah pada Ken. Ia hanya sedang melindungi sahabatnya sehingga tak mempedulikan Ken sesaat. Justru Ana sangat bersyukur karena sejak awal Ken selalu mendukung dan melindungi bahkan di saat terakhir pun, saat ibunya itu akan melayangkan tangannya ke wajah Ana. Kem masih melindungi dan membelanya. Ana sungguh bersyukur mempunyai seseorang yang benar-benar melindunginya selain ayahnya tercinta. Ana melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sarah dan membalikkan badannya menghadap Ken.
Ana berjinjit dan menengadahkan wajahnya mendekat dan mengecup lembut bibir Ken dengan sedikit tekanan. Ken sempat membelalak kaget saat Ana menyentuh bibirnya. Namun kemudian senyumnya merekah bersamaan dengan senyum Ana setelah Ana menjauhkan wajahnya.
Ana memeluk Ken dan mengusap-usap bahunya yang bidang. Rasa hangat yang selalu Ana rindukan dan membuatnya nyaman. Emosi Ana pun mereda setelahnya.
"Jangan menyalahkan dirimu, Ken! Aku tidak marah padamu, aku hanya kesal saat ini oke!" ucap Ana di dalam pelukannya. Ia menghirup aroma Ken dalam-dalam yang begitu menenangkannya. Ana sudah bisa mengendalikan dirinya saat ini.
Begitu pun dengan Ken yang amat tersentuh oleh penuturan Ana. Di saat seperti ini pun Ana masih begitu mencintainya. Ken benar-benar tidak salah telah menjatuhkan hatinya yang selama ingin beku pada wanita hebat di hadapannya. Ken melonggarkan pelukannya agar dapat melihat wajah Ana saat ini. Ana mendongakkan kepalanya dan mengulas senyum manisnya.
__ADS_1
"Terima kasih! Aku sangat mencintaimu, sayang! Aku berjanji akan membuat bunda berubah, sehingga...", Ana menempatkan jari telunjuknya di bibir Ken agar Ken menghentikan ucapannya. Ana menggeleng pelan sambil tersenyum. Ken paham, ia pun tersenyum kemudian mengecup kening Ana dalam hingga ia memejamkan matanya.
"Eherm! Bisakah kalian mengasihani diriku saat ini?!", ucap Sarah sambil sesegukan. Ia mengumpulkan tenaga di sisa tangisnya untuk menegur pasangan kekasih yang tak memiliki belas kasihan pada seseorang yang tak memiliki pasangan dan bahkan baru saja selesai dihina itu.
Mendengar ucapan Sarah keduanya menoleh ke asal suara masih dengan posisi yang sama, mereka tak melepaskan pelukan mereka pada satu sama lain. Ana mencondongkan sedikit wajahnya ke arah Sarah.
"Kau harus menjelaskan sesuatu bukan padaku?!", Ana menyipitkan mata dengan tatapan tajamnya.
"Kakak!", Sam dan Han menghampiri mereka di sana. Ken dan Ana pun melepaskan pelukan mereka.
Sam masih ingin sekali tertawa melihat tingkah mesra kakaknya yang tak mengenal tempat dan waktu. Tapi ia urungkan setelah mendapat tatapan tajam dari calon kakak iparnya itu.
Ana bergerak ke arah Sam. Ia berkacak pinggang sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya. Ia memandang Sam dengan tatapan remeh tapi tetap menohok ke dalam mata Sam.
Nyali Sam benar-benar menciut menghadapi singa betina yang akan mengamuk ke arahnya ini. Bahkan kakaknya sekalipun terlihat santai melepas betinanya ke arah dirinya untuk dimangsa. Sam melirik ke arah Ken untuk mendapatkan pertolongan. Dan bukannya pertolongan, tapi Ken malah memandangi dirinya dengan tatapan yang tak kalah tajamnya. Sam pasrah, ia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Habislah aku ini!", ucapnya dalam hati.
Han yang berada di sana berusaha menjaga jarak agar tak mendapat masalah. Ia lebih memilih menikmati pemandangan indah antara calon kakak ipar dan calon adik iparnya. Sebisa mungkin ia menahan senyum dengan satu tangannya.
__ADS_1