
Inara masih diam, menunggu kedatangan Cio dan akhirnya datang juga.
"Maaf ya lama tadi lumayan macet "
"Iya gak apa apa, makasih ya, aku mau ganti dulu "
Inara dengan cepat keluar dari ruangannya dan pergi kekamar mandi, mengantinya dengan cepat lalu keluar dari biliknya, dan masuk seorang perempuan yang tadi bersama Bian.
Namun Inara masa bodo, mencuci tangan dan saat akan pergi tiba tiba.
"Ini perempuan yang Bian suka, kok jelek banget, kenapa sih Abi harus suka sama lo, perempuan yang udah gagal menikah, seharusnya lo gak usah berharap pengen jadi pasangan Abi, gue yang lebih berhak "
"Saya tak mengenal anda, jadi anda jangan mengomentari hidup saya, anda tak tau saya sepenuhnya jadi kalau bicara di jaga ya "
Inara segera pergi meninggalkan Livia sendirian dikamar mandi itu.
"Sial kenapa sih harus kalah dengan perempuan seperti dia, apasih spesialnya itu perempuan , padahal biasa aja, pokoknya harus rebut Abi dari perempuan itu. Pokoknya Abi harus jadi milik gue seutuhnya, kalau Cio gak bilang mungkin gue gak akan tau ya "
"Sekarang udah cantik dan waktunya untuk merayu Abi "
Dengan semangat Livia pergi keruangan Abi lagi dan duduk dengan manis dihadapan Abi.
***
Nara yang baru masuk dikagetkan dengan Cio yang masih ada disini, masih diduk manis di kursi Inara.
"Kau belum pergi, maaf maksudku "
"Belum, aku masih menunggu mu, jangan formal denganku, aku adalah temannya Ana berarti kau juga temannya aku, jadi tak usah sungkan ya "
"Hemm baiklah " Inara yang ingin selesai berbicara dengan laki laki itu menjawab dengan singkat.
"Silahkan bekerja lagi " sambil berdiri lalu pergi meninggalkan Inara, sebelum pergi Cio mengacak rambut Inara.
"Kenapa sih tuh laki. Nyebelin banget sok akrab lagi, ya teman Ana ya teman Ana, ya teman aku ya temen aku harusnya, udahlah jangan fikirin itu lagi mending kerjain tugas lagi deh"
Inara kembali duduk dan fokus lagi mengerjakan pekerjaannya.
**
"Turun gak Livia, kamu ini apa apaan sih duduk di paha aku, emang gak ada tempat lain, kamu ini perempuan "
"Ya gak apa apa dong Abi. Aku kan mantan kamu jadi bebas dong "
"Mantan dari mana udah cepet bangun gak, jangan ganggu aku kerja kenapa sih sama kamu ini "
"Ist gak mau "
__ADS_1
Tiba tiba ada yang masuk dan refleks membuat Bian bangkit dan menjatuhkan Livia kebawah.
"Maaf pak Bian, saya sudah mengetuknya tapi tak ada jawaban jadi saya langsung masuk "
"Iya, ada apa Inara "
"Saya ingin memberikan berkas yang tadi, ini pak silahkan cek dulu "
"Ih Abi, kamu ini tolongin aku dulu dong, jangan ngobrol terus sama perempuan itu " regek Livia.
Namun Abi diam saja mengecek semua dokumen yang dibawa Nara, lalu segera ditandatangani dan diberi cap pula.
Tanpa banyak Bicara Bian langsung memberikannya pada Nara. "Terimakasih pak saya permisi "
"Hemm "
Inara segera keluar, entah kenapa tiba tiba hatinya panas, saat Bian bersama perempuan itu. Kenapa hatinya tak menerima sama sekali.
"Abi tolongin " rengek kembali Livia.
"Kau punya kaki dan tangan berdirilah sendiri, aku bukan pacarmu jadi tak usah meminta tolong padaku atau merengek padaku "
"Tapi sebentar lagi, kau akan menjadi pacarku "
"Bermimpi saja kau "
**
Sudah waktunya pulang, Inara dengan cepat membereskan barang barangnya dan pergi dengan segera, karena takut Ana sudah menunggunya.
Masuk kedalam Lift dan sampai juga dilantai bawah, namun malah berpapasan dengan Bian yang sedang digandeng oleh Livia dan juga Cio yang sedang menatapnya.
Saat Inara akan membuka pintu Cio menahan tangan Inara disaksikan oleh Bian dan juga Livia.
"Kamu pulang sama siapa Inara "
"Aku dijemput sama Ana "
"Dimana Ananya, kayaknya gak akan kesini deh pulang sama aku aja ya "
"Gak gak apa apa aku nanti naik taksi aja "
"Udah lah Cio biarin aja, kenapa sih lu perhatian banget " celetuk Bian sambil memalingkan wajahnya, tak suka melihat pemandangan ini.
Ana yang masih menunggu diluar segera turun dari mobil dan masuk kedalam kantor.
Dengan kasar Ana melepaskan pegangan itu, sambil melihat sinis kearah Bian yang sedang digandeng oleh perempuan.
__ADS_1
"Eh ada Ana, santai dong Ana " sapa Cio.
"Berisik lo, ngapain lo pegang pegang tangan Ara, mau jebrang lo "
"Yaelah gue cuman mau ajak dia pulang bareng aja "
"Gak usah dia juga mampu pulang sendiri gak usah dianterin sama laki laki play boy kaya lu pada " sambil merik Abi.
Dengan cepat Ana menarik Inara dan mengajaknya untuk masuk kedalam mobil, lalu melaju meninggalkan tempat ini.
Ana sedikit melirik pakaiannya yang dikenakan oleh Inara "kenapa pakaian kamu berubah "
"Engga kok, emang yang ini "
"Jangan bohong aku inget kamu tadi pagi gak pake baju ini "
"Iya iya, baju yang itu ketumpahan tinta dan untungnya aku bawa gantinya dan langsung deh pakai yang ini "
"Oke aku sedikit percaya. sama ucapan kamu, tapi engga deh, kapan kamu beli baju yang kaya gini, ini bukan kamu banget deh "
"Ini aku beli pas aku jalan jalan ke mall, waktu aku belum ketemu sama kamu, aku beli baju ini dan emang aku simpen di kantor buat jaga jaga aja, dan berguna jugakan kepake sama aku "
"Hemm gitu ya, kamu gak di jahilin atau ditindas lagi kan sama teman kantor kamu "
"Engga kok, engga aku baik baik aja Ana, aku sama sekali gak di tindas lagi kok, jadi kamu tenang ya relaks aja jangan khawatir aku, aku baik baik aja ya "
"Ok untuk sekarang aku akan percaya "
Inara segaja berbohong agar Ana tak melakukan sesuatu pada Shinta, bisa gawatkan kalau Shinta di samperin Ana. Bisa langsung mati kan dia.
**
"Udah Yu Abi kita pulang " ajak Livia.
"Pulang aja sendiri. lo kesini sendirikan jadi kenapa gue yang harus di leparkan nganter lo, " Bian tanpa kata kata lagi pergi meninggalkan Livia
"Kesel deh sama Abi, kenapa sih dia itu gak bisa baik sama aku Cio "
"Ya karena lo terlalu agresif ke Abinya, biasa aja dong santai jangan dibawa pusing "
"Kalau gak agresif kapan aku bisa dapetin Abi lagi, Udahlah pokoknya aku harus dapetin Abi dengan cara apapun, aku gak akan menyerah "
"Terserah lo aja deh, gue duluan ya "
"Anterin pulang "
"Lo datang sendirikan berarti pulang pun sendiri bayyy "
__ADS_1
"Dasar ya laki laki, kalian itu sama aja gak ada bedanya awas aja ya, pokoknya gue akan bikin kalian ngejar ngejar gue " teriak Livia.