
Abian segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan badannya, lalu keluar lagi menggunakan pakaian tidur doraemon kesukaannya. Meskipun dirinya sudah matang seperti ini tapi masih suka kok sama doraemon.
Bian segera naik keatas ranjang dan menatap wajah Nara yang tenang, namun dengan kedua matanya yang sedikit bengkak. Karena selama perjalan Nara menangis.
"Nara untung mamih tiba-tiba lupa kamar aku dan membiarkan kamu tidur bersama ku. Oh iya aku juga udah kunci pintunya takut tiba-tiba mamih masuk Nara. Kamu tau, aku seneng banget bisa bobo bareng kamu meski tanpa melakukan apa-apa. Kamu jangan nangis terus ya Nara. Aku sayang kamu aku mencintaimu Nara " sambil mengecup kening Nara lalu membaringak. Tubuhnya menghadap kearah Nara dan memeluknya dengan erat.
**
Benar saja papihnya Bian terbangun dan celingak celinguk tak mendapati istrinya ada disebelahnya. Saat akan beranjak pintu kamar sudah terbuka menampakan istrinya yang cantik.
"Mamih dari mana, papih tadinya mau cari mamih, takut mamih hilang nanti papih sama siapa "
"Mamih tadi bantuin Inara ganti pakaian. Bian bawa Nara kesini pih, mamih teh meni seneng pisan tau. Is papih meni romantis mamih mah ada da ga kemana-mana"
"Beneran neng Nara ada dirumah mih. terus suaminya gimana ga marah , iya atuh tua tua gini papih teh masih romantis sama mamih "
"Iya kata Bian, Nara mabuk salah minum. Bian juga salah ngebiarin Nara sendirian dianya malah ngobrol pih, makin sayang deh sama papih"
"Yaudah sini atuh mih, kita bobo sini papih peluk mamih. Biar mamihnya ga kemana-mana lagi ga tinggalin papih tidur sendirian "
Istrinya segera membaringan tubuhnya, lalu masuk kedalam pelukan suaminya, tua tua gini jangan kalah sama anak muda harus selalu romantis dan setia selalu sampai maut nanti yang memisahkan.
**
Namun Inara sekarang sedang ada dalam mimpi indahnya. Dimana dia sekarang sedang ada ditaman bungga. Bungga yang warna warni serta disini sangat sejuk sekali. Rasanya tak ada beban sama sekali berada ditempat ini. Ingin tinggal disini saja kalau begitu. Tak usah kembali pada dunia nyatanya yang menyakitkan.
Namun seketika ada yang memegang pundanya dengan perlahan Nara berputar menghadap orang itu.
"Sayang lihat anak kita, dia ingin bersamamu dan aku juga sama ingin selalu bersamamu " ucap laki-laki itu.
__ADS_1
"Bian, apa yang kau lakukan, lalu ini anak siapa " tanya Inara yang kebingunggan. Tiba-tiba sajakan Bian membawa seorang anak kecil dan menyebutnya bahwa itu anaknya dengan Bian.
"Ini anak kita sayang, kenapa kau menjadi lupa padaku serta anak kita " ucap Bian dengan wajah yang binggung.
"Benarkah ini anakku Bian, maksudku anak kita " tanya Nara dengan wajah senang dan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya sayang, ini anak kita, kau tau aku bahagia sekali memiliki kalian berdua, hidupku sudah sempurna sayang "
"Boleh aku mengendongnya Bian "
"Tentu saja sayang, kenapa aku harus melarangmu untuk mengendong anak kita ini "
Dengan senang Inara segera mengambil anaknya dari gendongan Bian lalu memeluknya dengan erat. Setelah Inara puas memeluk anaknya. Bian mengandeng tangan Inara yang satunya lalu membawanya kedalam tengah-tengah bunga-bunga ini.
Lalu Inara menidurkan anaknya, Bian dan Nara pun segera membaringkan tubuhnya saling berhadap-hadapan dengan anaknya yang ada ditengah-tengah "Aku mencintaimu Nara sekarang dan seterusnya dan hanya maut saja yang bisa memisahkan kita berdua " ucap Bian sambil memeluk mereka berdua.
Inara tak bisa menjawab hanya bisa tersenyum dan menikmati pelukan hangat yang diberikan oleh Bian padanya. Yang sudah lama dirinya dambakan dari sosok Adam suaminya.
Inara yang masih mengumpulkan nyawanya masih tak menghiraukan pelukan Abian. Saat Inara mendongak alangkah kagetnya saat melihat wajah Bian, bosnya sedang memeluknya tertidur dengannya satu tempat tidur.
Nara yang masih tak percaya mengucek kembali kedua matanya, takut salah namun saat membuka kembali kedua matanya ini beneran bosnya Bian "ahkkkkkkk " teriak Nara sambil menampar pipi bosnya itu. Sambil mencoba untuk melepaskan pelukan Bian.
Bian yang sedang enak-enaknya tidur malah di tampar seperti ini, lantas Bian bangun dengan keterkejutannya dan langsung membuka kedua mata buayanya eh salah kedua mata indahnya.
"Sakit Nara apa yang kau lakukan kenapa kau menamparku, apa salahku "
"Kenapa kamu ada dikamarku, kita satu tempat tidur, bagaimana kalau Adam tau "
"Coba kau lihat baik-baik ini kamar siapa, kamarmu atau aku " ucap Abi sambil menaik turunkan alisnya menggoda Nara.
__ADS_1
Nara segera mengedarkan pandangannya. Alangkah kagetnya saat melihat interiornya ini bukan kamarnya. Ini sangat mewah sekali bukan seperti kamarnya.
"Akhhhhhh kenapa kamu ga pulangin aku, tunggu baju aku kenapa udah ganti " teriak Nara sambil memukul mukul bahu Bian.
Lalu dengan kekuatan penuh Nara mendorong dada Bian dan meloncat dari tempat tidur sambil melakukan kuda-kuda. Siap-siap jika nanti Bian mendekatinya.
Bian yang melihatnya malah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Nara yang lucu, pagi-pagi sudah membuatnya tertawa seperti ini. Pemandangan yang sangat menyenangkan.
"Siapa yang ganti baju aku Bian, apa kamu " tanya Nara sambil memelotokan matanya.
"Iya aku yang ganti cantik, kamu marah ga "
"Kamu kurang ajar ya, apa aja yang udah kamu lihat "
"Semuanya lah sayang, semuanya aku sudah melihatnya. Kau tau indah sekali bulat dan padat " belum juga selesai Nara sudah menyerangnya.
Inara yang marah segera berlari kearah Bian lalu menerjangnya dan memukul Bian dengan guling "rasakan ya. Rasakan ini kamu kurang ajar Bian " teriak Inara sambil membabi buta memukuli Bian..
"Ampun sayang, ampun jangan seperti ini sakit sayang sakit"
Abian segera membalikan keadaan sekarang Inara yang ada dibawah. Bian menatap wajah Inara "lepaskan Bian " namun Bian tak menjawabnya malah menatap seluruh wajah Nara.
Lalu mencium kening, kedua pipi, hidung dan yang terakhir bibir Nara. Menciumnya dengan perlahan lalu ********** dengan lembut. Nara yang terbuai akhirnya mengalungkan tangannya pada leher Bian.
Bian segera beralih kearah leher Nara menyedotnya serta menjilatnya sampai meninggalkan beberapa bekas kemerahan. Bian segera mendongakakan wajahnya menatap Inara yang sedang menutup kedua matanya dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Bian.
Segera Bian memangut kembali bibir Nara dan tangannya tak tinggal diam membuka satu persatu kancing pakaian Nara dan beruntung sekali Nara tak memakai bra sama sekali.
Bian dengan lembut meremasnya dan sekarang mengecup kecil bibir Nara, pindah ke dagu leher dan sekarang sudah sampai di depan kedua gunung kembar Inara.
__ADS_1
Bian segera mencumbu gunung kembar itu bergantian agar tak ada yang sirik, sampai Inara mengeluarkan desahannya.
Nah Inara sama Bian akan ngelakuan lebih dari itu ga ya ?