
Happy reading
Aisyah terbangun karena merasa elusan di keningnya, setelah nyenyak tidur akhirnya Aisyah bangun dari tidurnya.
Ia merasakan perutnya ditimpa oleh tangan kekar yang tanpa ditanya pun Aisyah sudah tahu siapa pemilik tangan itu.
Dengan pelan ia menyingkirkan tangan itu dan turun dari kasur. Aisyah menyelimuti tubuh suaminya kemudian berjalan menuju mejanya. Ia mengambil satu potong martabak itu dan memakannya.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Abi yang terbangun karena Aisyah yang menyelimuti tubuhnya tadi.
"Udah Mas. Tumben kok disini, Mbak Zahra gimana?" tanya Aisyah dengan pelan.
Perasaannya sudah mendingan daripada tadi sebelum tidur. Ia tak mau larut larut dalam kesedihan jika seperti ini.
"Zahra sudah tidur," jawab Abi bangun dan berjalan menuju tempat istrinya.
"Mas Abi gak kerja, udah sering Mas Abi bolos kerja. Mas Abi sebagai pimpinan perusahaan juga harus memberi contoh yang baik buat karyawan," ucap Aisyah mengambil kembali martabak itu.
Rasanya masih manis walau sudah dingin, ingin memanaskan martabak itu ia juga mager banget.
"Aku gak mau ninggalin kamu sayang."
Abi berlutut di bawah Aisyah, hingga membuat Aisyah kaget. Kenapa Abi berlutut seperti ini.
"Mas kenapa sih. Bangun Mas," ucap Aisyah membantu suaminya bangun tapi Abi tak mau.
"Maafin Mas ya sayang. Maaf sudah melupakan pesanan kamu, maaf Mas sudah membuat kamu kecewa. Mas lupa sayang, maaf," ucap Abi dengan sesal.
Aisyah yang mendengar itu tersenyum, ia membantu suaminya bangun kemudian menyuruh suaminya duduk.
__ADS_1
"Mas kenapa kok tiba tiba minta maaf cuma gara gara martabak. Aku gak apa apa kok, Mas. Aku tahu Mas bahagia sama kehamilan Mbak Zahra. Aku tahu itu, jadi wajar saja Mas bahagia."
"Aku gak apa apa, aku cuma lagi pengen martabak doang. Bukan susu hamil dan semacamnya, lagian kalaupun aku gak makan martabak juga gak apa apa kan aku gak hamil. Jadi anakku juga gak akan ileran," jawab Aisyah dengan senyum manisnya.
Tapi asal kalian tahu, setelah mengucapkan hal itu Aisyah menangis di dalam hati.
"Aku tetap salah sayang, tak seharusnya kamu melupakan pesanan kamu. Maafin suamimu ini," ucap Abi dan dianggukkan oleh Aisyah.
Aisyah memeluk lembut tubuh besar suaminya, rasanya nyaman sekali pelukan hangat Abi seperti ini.
"Malam ini jatah Mas tidur sama Aisyah kan?" tanya Aisyah pada Abi.
Aisyah ingin memeluk tubuh suaminya sepuasnya.
"Iya sayang hari ini adalah jadwal Mas tidur disini sama kamu," jawab Abi pada Aisyah.
Aisyah tersenyum, ia akan menyiapkan hadiah yang bagus untuk suaminya malam ini. Semoga saja Abi suka, membayangkannya saja membuat Aisyah tersenyum sendiri.
"Angkat dulu Mas siapa tahu penting," ucap Aisyah pada Abi.
"Iya sayang."
Abi mengambil ponselnya dan melihat nama sekretarisnya disana dan mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo."
"Halo Tuan sudah berangkat. Hari ini kan waktunya meeting dengan perusahaan textile di restoran X. Apa Tuan lupa?" tanya sekretaris Abi itu langsung to the poin.
"Astaghfirullah, saya lupa."
__ADS_1
"Lebih baik Tuan cepat bersiap, tak lama lagi saya akan datang ke rumah Tuan."
"Hmm."
Tuttt
"Kenapa Mas?" tanya Aisyah pada Abi.
"Mas ada meeting sayang, maaf ya harus tinggalin kamu lagi," ucap Abi yang bersalah pada istrinya ini.
"Lah ya sudah, biar Aisyah siapin baju kerja Mas Abi. Mas Abi buruan mandi, Mas Abi udah bau keringat," ucap Aisyah yang sebenarnya tak mau sisa tubuh Zahra tertinggal di tubuh suaminya.
Abi mengangguk, kemudian mereka berjalan ke arah yang akan dituju masing-masing. Abi ke kamar mandi sedangkan Aisyah mengambilkan pakaian untuk suaminya.
Tak lama Abi keluar dari kamar mandi dengan bersih, Aisyah ikut mengeringkan rambut suaminya.
"Kenapa pake keramas segala sih hmm?"
"Biar seger."
Aisyah menggeleng, ada ada saja biar seger. Setelah rambut itu sudah kering, Aisyah memberikan pakaian kantor pada suaminya.
"Kamu gak apa apakan Mas tinggal?" tanya Abi dan dianggukkan oleh Aisyah.
"Aku gak apa apa kok. Yang penting nanti malam Mas Abi tidur sini sama aku," jawab Asiyah mengambil sisir dan menyisir rambut suaminya
"Pasti sayang."
Mobil sekretaris Abi sudah sampai, hingga mau tak mau Abi harus meninggalkan kedua istrinya di rumah ini.
__ADS_1
Bersambung