
#Davira Part 4
Author : Ersu Ruang Sunyi
Hujan menenggelamkan asa
Ke egoisan memenuhi jiwa
Rintih, tertatih di ujung letih
Egonya meruntuhkan segenap asa
Ketika di hadapkan oleh dua pilihan yang teramat sulit, ingin rasanya dunia ini berhenti berputar, agar tak harus memilih satu di antara dua.
"Kenapa sayang? Apa yang Ilham katakan?" tanya Alex.
"Dia sungguh biadab," hardikku.
"Kenapa kalian tidak memberi tahuku jika Nindya di culik oleh mas Ilham!" seruku yang kesal kepada semua orang.
Handphoneku yang jatuh berserak kembali di pasang kembali batrenya oleh Alex. Dan tak lama kemudian Mas Ilham menelpon kembali.
Alex mengutuk keras apa yang di lakukan oleh Mas Ilham yang bersikukuh aku dan Alex harus bercerai, maka Nindya akan selamat jika tidak Nindya akan kembali tak bernyawa.
Setan apa yang merasukinya? Cintakah yang membuatnya gelap mata? Atau hanya ke egoisan semata yang membuat dia semakin terlihat seperti orang gila.
Bukan hanya Alex yang mengutuk apa yang di lakukan Mas Ilham, tapi aku lebih dari itu aku tidak akan memaafkan Mas Ilham jika sesuatu terjadi kepada Nindya.
Aku kembali mengambil handphoneku walau Alex berusaha untuk menghalangiku bicara dengan Mas Ilham.
"Mas aku tidak akan memaafkan kamu jika terjadi apa-apa kepada putriku!" Pekikku.
"Jika kamu bercerai dengan Alex maka aku akan melepaskan putrimu ini!" hardik Mas Ilham.
"Bagaimana mungkin aku bercerai dengan Alex."
"Ok jika tidak mau bercerai! kamu dengar suara terakhir putrimu ini."
Terdengar suara jeritan Nindya yang kesakitan, hatiku berasa di iris silet lalu di taburi garam.
"Nindya sayang," panggilku.
"Bunda tolongin aku Bun, aku takut," suara lirih Nindya membuat airmataku tak henti mengalir.
"Mas Ilham tolong jangan sakiti Nindya Mas, aku mohon," pintaku.
"Aku akan kembalikan Nindya jika sudah kudengar Alex menalak 3 kamu," pekiknya.
Apa harus aku bercerai dengan Alex demi menyelamatkan Nindya? Tetapi aku tak ingin kehilangan Nindya. Aku pun tak ingin bercerai.
Aku meminta Alex untuk menalakku. Agar Nindya selamat, aku memohon padanya dengan hati yang sangat sedih kala aku meminta talak tiga dari Alex.
Dan suara Mas Ilham tak henti berbicara, handphoneku di ambil oleh ibuku, dan ayah membicarakan sesuatu dengan Rio. Entah apa yang mereka bicarakan.
Sedangkan aku tak henti menangis dan meminta Alex untuk menalakku.
Rio mengambil handphone yang di pegang oleh ibu, lalu ia mengambil beberapa Lemar tissue, di tutup ke handphone nya lalu ia bicara.
"Ok, kamu ingin jika aku menalak Davira bukan? Aku akan menalak Davira sekarang juga, tapi kamu harus kembalikan Nindya," ucap Rio
"Iya! Aku ingin kamu menalak 3 Davira!"
"Ok, sekarang aku talak 3, Davira! Puas kamu?" pekik Rio.
Terdengar suara Ilham tertawa dengan sangat puas.
"Bagus! Kamu bisa jemput anak ini di alamat yang akan aku kirim di via WhatsApp!" seru Ilham, sambil menutup telponnya.
Tak lama notifikasi wa masuk. Dan alamat yang Ilham berikan tercantum di wa.
"Apa yang kamu lakukan Rio?" tanyaku.
"Kak, yang penting apa yang aku lakukan menyelamatkan rumah tangga kakak, juga Nindya," jawab Rio.
Aku memeluk Rio dengan sangat terharu, ia memiliki ide gilanya yang menyelamatkan rumah tanggaku juga Nindya.
Kami segera menuju ke alamat yang di berikan oleh Ilham.
***
Apa yang dia tertawaan di balik tangisan gadis kecil itu? Sebentar ia marah, sebentar ia baik. Seperti memiliki dua kepribadian.
Setelah ia mengumpat di depan Nindya, lalu ia memeluk Nindya dengan penuh rasa sayang, dengan belaian yang begitu lembut, namun itu membuat Nindya semakin takut terhadap Ilham.
"Sayang, besok kita akan hidup bersama lagi, Ayah akan menikah lagi sama Bunda Davira," kata Ilham sambil mencium kening Nindya.
Namun Nindy tak merespon perkataan Ilham, ia begitu takut dengan orang yang mendekapnya saat ini.
"Kamu tunggu di sini ya, Bunda kamu akan menjemput kamu ke sini, Ayah akan mencari buat mahar dulu, untuk meminang kembali Bunda Davira, Nindya anak Ayah pasti akan bahagia jika nanti Ayah sama Bundamu menikah lagi," lanjut Ilham sambil melepaskan pelukannya, lalu ia keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
***
"Rio buruan bawa mobilnya," teriakku.
"Ini udah cepat kak," jawab Rio.
Alex terus memelukku, sesekali ia pun mencium kening dan tanganku yang di genggamnya, untuk menguatkanku.
Perjalanan terasa begitu lambat menuju ke alamat yang telah di berikan Ilham.
Ayahku yang melapor ke kantor polisi pun, mengabari polisi juga sudah meluncur ke alamat tersebut untuk menangkap Mas Ilham.
Memasuki lift apartemen menuju lantai 37 membuat detak jantungku semakin cepat dan darahku yang mendidih pun ingin segera memaki Mas Ilham.
Beberapa polisi membuka pintu dengan pistol di tangannya, sedangkan langkahku di tuntun oleh Alex, yang tak sedikitpun melepas genggamannya.
"Bunda, Nindya takut." Suara lirihnya terdengar begitu menusuk.
Aku berlari ke ruangan yang terdengar ada suara Nindya.
Tubuh kecil itu duduk di lantai dengan tangan dan kaki terikat, tangisnya pecah saat ia melihatku. Ya ALLAH, sungguh teganya Mas Ilham, memperlakukan anak sekecil Nindya seperti ini. Aku memeluknya dengan erat.
"Nindya takut Bunda."
"Jangan takut sayang di sini ada Ayah sama Bunda," ucap Alex.
Nindya tiba-tiba mengepiskan tangan Alex yang akan memeluknya. Ia sangat ketakutan ketika melihat Alex, Rio dan polisi, ia histeris.
Apa yang telah Mas Ilham lakukan, sehingga Nindya begitu takut kepada semua laki-laki.
***
"Dok apa yang terjadi dengan putri kami?" tanya Alex.
"Ia mengalami trauma yang cukup berat," jawab Dokter.
"Apa yang harus di lakukan Dok, agar traumanya itu hilang?" lanjut Alex.
Dokter pun menjelaskan ada beberapa langkah yang harus di lakukan untuk penyembuhan salah satunya dengan terapi.
Sudah dua bulan bulak balik mengantar Nindya terapi, banyak waktu yang di lewati penuh suka cita, perlahan ia membaik, tak lagi takut dengan Alex dan yang lainnya.
***
Sakila datang ke rumah dengan berderai airmata, meminta agar Ilham tak di penjara setelah nanti keluar dari rumah sakit jiwa.
____
Ia depresi karena perusahaannya yang bangkrut, dan gunjingan dari orang-orang karena memiliki anak yang cacat, dan ia selalu di hantui rasa bersalah terhadap anak yang di kandung Sakila dulu, yang di gugurkan.
Dan yang menyebabkan ia menculik Nindya pun itu karena di sebabkan oleh depresinya.
Sakila pun teramat sangat terpukul ketika Mas Ilham di nyatakan gangguan jiwa, sekarang Sakila tinggal bersama orang tuanya, karena rumah yang di tempatinya di sita.
Aku merangkul Sakila dan menguatkannya, dan memaafkan semua yang telah di lakukan Mas Ilham terhadapku juga Nindya.
Ada satu hal yang membuatku terheran, ketika Sakila bertanya tentang Nindya. Ia mengira jika Nindya adalah anakku dari Mas Ilham, karena Mas Ilham katanya sering meracau, dengan menyebut jika Nindya adalah anaknya dariku.
***
Aku dan Alex berkunjung ke rumah sakit jiwa di mana Mas Ilham di rawat, sungguh miris melihat keadaannya yang terikat, di saat di lepas ikatannya ia mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri. Sedih melihat keadaannya yang seperti itu, namun aku dan Alex hanya bisa mendoakan dia yang terbaik.
___
Nindya kini kembali ceria seperti biasa, liburan akhir pekan di habiskan berlibur di Bandung, menjelajah kota Bandung ke beberapa tempat wisata. Dari Lembang, menuju Kawah Putih, lalu ke Glamping Park, cuaca daerah Ciwidey yang berkabut dan suhu udara sampai 14° membuat Nindya betah bermain di antara alam yang terhampar hijau dengan di selimuti kabut tebal.
Rio dan Risa asyik membuat konten untuk di channel YouTube, begitu pun dengan Alex. Kebahagiaanku begitu sempurna melihat kebahagiaan dari orang-orang yang sangat kucintai.
Uo ... Rasa mual menjalar, mungkin di karenakan mabuk perjalanan yang berhari-hari jalan-jalan terus menerus.
"Kenapa sayang? Apa masuk angin?" tanya Alex, yang nampak khawatir karena melihatku terus menerus mual-mual.
"Iya mungkin yank," jawabku.
Sudah berkali-kali di olesi minyak telon, tapi mualnya tidak juga hilang, namun tak ada yang di muntahin.
"Kak Davira, ayo makan durian, ini duriannya enak banget," ajak Rio, yang membawa duriannya dan menyodorkan nya tepat di hadapanku.
Mualnya semakin menjadi dan aku menutup hidungku.
"Singkirkan, aku gak tahan dengan baunya!" pekikku.
"Kak Davira ini kenapa? kan Kaka paling suka sama Durian?" tanya Rio, heran.
"Sayang apa kamu hamil?" tanya Alex.
Rio menjatuhkan duriannya tepat jatuh di kakinya, sampai ia meringis karena kesakitan.
"Kak Alex, jangan ngomong yang dapat menyakiti perasaan kak Davira!" hardik Rio.
__ADS_1
Aku tak perduli percekcokan Rio dan Alex, karena mualku tak kunjung hilang. Nindya memberikanku manisan mangga yang ia beli dari penjual asongan.
Aku memakannya hingga habis, dan mualku pun hilang.
Alex, Risa dan Rio bengong melihat aku memakan manisan mangga hingga habis.
"Kak Davira gak salah makan manisan mangga di cuaca dingin begini?" tanya Risa.
Risa yang mencoba makan mangga yang aku makan, ia langsung melempar mangganya.
"Ya ampun asem banget," pekiknya.
"Enggak asem," jawabku.
Kembali ke Jakarta dengan wajah ceria Nindya.
Paginya, aku lari ke kamar mandi, karena mual-mual lagi. Alex yang tengah tertidur terbangun.
"Sayang, kamu masuk angin lagi?" tanyanya.
"Huum ..." jawabku.
"Sini olesin minyak telon lagi pundaknya," ajaknya sambil mengambil minyak telon, dan mengoleskannya.
Uo ... Aku lari lagi ke kamar mandi, tapi tidak ada apapun yang di muntahkan, keringat dingin membasahi baju, bahkan dari keningpun basah oleh keringat.
"Sayang, ya ampun kamu sampai begini, ayo kita ke dokter," ajak Alex.
Aku dan Alex pun pergi ke Dokter untuk berobat.
"Sakit apa istri saya Dok?" tanya Alex.
"Sudah telat berapa minggu?"
"Maksud Dokter?" tanya Alex.
"Sudah berapa minggu telat datang bulan?" tanya Dokter.
"Sudah dua bulan saya tidak datang bulan Dok," jawabku.
"Istri anda tidak apa-apa, karena ia sudah telat 8 minggu jadinya selamat anda akan menjadi seorang Ayah dan anda pun akan menjadi seorang Ibu," ucap Dokter.
"A ... apa Dok? Saya hamil?" tanyaku.
Aku seperti mimpi, berkali-kali mencubit tangan, dan Alex memelukku begitu erat.
"Tidak salahkan Dok?" tanyaku lagi.
"Tidak."
Entah bagaimana anugerah terindah ini menghampiriku.
Pulang ke rumah dengan membawa kabar bahagia, tentu itu adalah kabar yang paling menggembirakan bagi seluruh keluargaku. Terkecuali Risa yang belum tahu kabar bahagia ini, karena ia pergi keluar dan belum pulang.
Siangnya Risa pulang dengan memberikan kameranya untuk kulihat. Entah apa yang mau ia perlihatkan di hadapanku dan juga Alex.
Alex membuka kameranya.
[Aku mau meminta maaf karena telah membuat Yunda Davira menderita selama ini, dan aku pun mau meminta maaf karena Mas Ilham depresi karenaku juga, seandainya Mas Ilham tidak tahu, jika anak yang kulahirkan bukan anaknya mungkin ia tidak akan depresi seperti saat ini. Aku menyesal, maafkan aku]
Itu cuplikan dari video tersebut.
"Risa apa maksud kamu," tanyaku kepada Risa.
Lalu Risa menjelaskan panjang lebar, jika Sakila malam menelponnya untuk mengajaknya bertemu, ia menceritakan semuanya, jika anak yang ia kandung bukan anak biologis Ilham, melainkan hasil perselingkuhannya dengan mantan pacarnya. Sakila tahu jika Mas Ilham lah yang mengalami kemandulan, makanya ia ada main dengan mantan pacarnya agar memiliki anak dan berharap akan mendapatkan semua warisan milik Mas Ilham.
****
"Sayang, terimakasih sudah memberikan tanda cinta untukku," ucap Alex dengan lembut sambil mencium keningku.
"Bunda, Dede bayinya lagi apa?" tanya Nindya yang tiba-tiba masuk kamar, dan seketika Alex melepaskan pelukannya.
Nindya menghampiri dan menempelkan telinganya di perutku.
"Bunda Dede bayinya minta makan ice cream," ucap Nindya.
Aku tersenyum mendengarnya.
"Yang minta ice cream itu bukan Dede bayi tapi Bunda," jawabku sambil memeluk Nindya.
"Ya udah Nindya beli di Alfamart depan sama Tante Risa ya," ucapnya sambil keluar kamar.
Alex kembali memeluk dan tak hentinya menghujani keningku dengan kecupan.
_____
Kesabaran akan berbuah kebahagiaan, jika kalian tidak percaya dengan adanya cinta sejati, maka tak akan pernah ada cinta sejati dalam hidup kalian, karena cinta sejati akan tercipta oleh keteguhan dan keyakinan kita sendiri.
The End
__ADS_1
Ruang Sunyi, 24-02-20
Terimakasih untuk semua pembaca setia cerbung ini.