
Anna yang sedang meminum tehnya tiba-tiba saja gelasnya terjatuh . Dengan cepat Ana segera membereskan kekacauan itu, namun tiba-tiba saja tangannya terkena serpihan kaca dan pikirannya langsung tertuju pada Inara.
"Kenapa awak ni, tangan awak berdarah, saya tolong awak sekejap" Zahir segera mengambil kotak P3K lalu mengobati tangan Ana yang terlukan.
"Ana, awak okay"
Ana segera mengalihkan pandangannya kearah Zahir
"Tiba-tiba, saya teringat adik saya dan saya tidak sihat, nampaknya sesuatu telah berlaku kepada adik saya. Ini "
"Cuba telefon dia"
Ana dengan cepat segera menghubungi adiknya Nara, namun tidak dijawab lalu beralih menelpon Abi sama saja tak di jawab, sebenarnya apa yang terjadi pada Inara.
"Bagaimana boleh"
"Tidak dia langsung tidak menjawab"
Awak tenangkan diri anda dahulu, jangan fikir tidak tidak"
Ana segera mengangguk dan tiba-tiba saja ponselnya berdering, ternyata itu dari Leo Ana segera pergi menjauhi Zahir dan mengangkat telepon dari Leo.
" Ada apa kau menelponku lagi"
"Kau masih saja di rumah Zahir, cepat lalukan misi ke-2 jangan mengundur gundur waktu "
"Apakah kau bisa sabar aku sedang khawatir dengan adikku, bukannya anak buahmu selalu memantau adikku lalu sekarang katakan bagaimana adikku"
"Kau ingin tahu Keadaan adikmu maka selesaikan dahulu pekerjaanmu yang ke dua, aku akan memberitahu keadaan adikmu setelah kau selesaikan misi mu itu"
"Terlalu lama kau mau lihat adik ku mati terlebih dahulu lalu kau beritahu padaku. Ayo cepat cek adikku"
"Aku tidak akan memberikan sedikit pun info padamu, kau masih belum menyelesaikan misi ke-2 mu, jadi segeralah bergegas pergi untuk menyelesaikan misi kedua mu itu. Setelah kau selesai dan aku melihat hasilnya baru aku akan memberitahumu bagaimana keadaannya mati atau hidup"
"Kau licik aku tidak akan mau menyelesaikan misi ke-2 ini sebelum tahu adikku dimana dan bagaimana keadannya "
"Ya sudah akan aku buat dia mati bagaimana, pergi sekarang atau adikmu mati dan aku akan kirim video bagaimana aku membunuhnya dengan kejam "
"Baiklah aku akan mengurus semuanya, kau selalu awasi ya Adikku dan jangan kau lakukan apa-apa pada adikku , jangan kau sentuh sedikit pun dia atau nyawa mu taruhannya"
" Baiklah segera selesaikan misi kedua mu jangan lupa pamitan pada Zahir laki-laki yang sekarang kau cinta itu "
Sambungan telepon terputus Ana memukul-mukul kepalanya, karena pusing memikirkan bagaimana keadaan adiknya di sana, orang yang dipercaya untuk menjaga adiknya pun tak bisa dihubungi.
"Hey hey apa yang awak buat, kenapa awak terhantuk kepala" tiba tiba saja Zahir sudah ada dihapan Ana.
"Saya perlu pergi Zahir, saya perlu menyelesaikan misi saya atau adik saya akan mati"
"Apa masalah dengan adik awak"
__ADS_1
"Entahlah, entahlah, kalau aku nak tahu aku kena habiskan misi kedua aku dulu."
"Saya akan tolong awak"
"Tidak jangan ini berbahaya Zahir, saya pergi, maaf saya tidak dapat mengucapkan selamat tinggal kepada mak awak, tolong sampaikan kemaafan saya "
"Tetapi saya tidak boleh meninggalkan awak dalam keadaan ini, saya akan membantu awak"
"Jangan Zahir, saya tak nak apa-apa jadi dekat awak, awak doakan saya saja ok?"
Akhirnya Zahir mengalah dan menganggukkan kepalanya, dirinya tak mau membuat Ana terlalu lama di sini dan untuk sebuah perpisahan, Zahir langsung memeluk Ana dan Ana dengan senang hati membalasnya pula.
"Baik saya akan sentiasa mendoakan awak, awak di sana berhati-hati"
Ana segera melepaskan pelukannya mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Zahir. Sekarang dirinya harus menyelesaikan misi ke-2 mencari tempat orang itu tapi untungnya Leo sudah mengirimnya dan dirinya tinggal langsung saja ke sana.
Sekarang Ana sudah ada di tempatnya, dirinya sedang memotret gedung itu, dari gedung sebelah lalu Ana kembali lagi dan masuk ke ruangan yang memang sudah disediakan Leo.
"Kaca itu sangat tebal, aku harus membuat cairan yang bisa membuat kaca itu pecah ya benar"
Anas segera mengeluarkan peralatannya beberapa cairan mencampurkannya dan memasukkannya ke dalam suntikan , lalu mengambil kaca yang sudah dirinya siapkan dan menyuntikkan sedikit ke kaca itu tak lama tiba-tiba saja kaca itu pecah.
"Berhasil sekarang aku harus melancarkan misi selanjutnya"Anna segera bersiap memakai pakaian rapi memakai jas, rok dan sepatu tak lupa memakai kacamata hitam. Dan membawa koper besar pula.
Ana masuk ke dalam lobi apartemen itu, dan bertemu dengan Jasper, laki-laki yang dirinya incar saat ini.
"Hai Nona Ana, Mari saya akan tunjukkan apartemen yang anda inginkan"
Ana segera mengikuti arah seorang perempuan yang akan menunjukkan apartemen barunya, sudah masuk Ana melihat kolam renang itu ada di samping apartemennya. Ternyata tak jauh dari sampingnya dia akan melakukan disini.
Leo ternyata sudah menyiapkan semuanya dengan sangat lengkap, apastemennya mewah lagi.
"Bagaimana apakah kau suka, disini sudah tersedia 2 kamar utaman dan juga kamar tamu, satu kamar mandi diluar kamar, dan satu lagi didalam kamar, dan juga ruang tamu yang luas, anda juga bisa melihat pemandangan dari atas"
"Yah aku suka, aku mau ambil apartemen ini saja, tapi pacar saya sudah membayarnya kan " sebenarnya engan menyebut itu, tapi bagaimana lagi
"Tentu, tuan Leo sudah membayarnya Jadi anda bisa tenang. Saya tinggal dulu ya selamat menikmati apartemen baru anda"
Ana hanya mengangguk, lalu bergegas mengganti pakaiannya serba hitam, lalu membuka koper nya tak lupa dirinya juga menyiapkan terlebih dahulu semua peralatannya, yang akan digunakannya, karena dia akan melakukannya sekarang juga.
Ana membentangkan sebuah tali dan juga rantai lalu menempelkan sebuah alat yang bisa menempel di kaca menalikannya kesana dan membuka kacanya, dengan sangat perlahan.
Setelah itu Ana memanjat dan dengan perlahan-lahan merangkak menaiki kaca itu. seperti spiderman. Lalu dengan perlahan-lahan Ana melakukan itu.
Akhirnya dia sudah sampai di dekat kolam renang itu, memindahkan alatnya dan dirinya bergelantungan di bawah kolam renang itu.
Ana membolongi kaca itu lalu mengeluarkan suntikan itu dan Jasper yang sedang berenang melihat ke arahnya dengan senyum manisnya Ana langsung menyuntikan kan cairannya.
Dan Ana bergegas mengalihkan alat bantunya ke samping dan melihat kaca itu bocor dan Jasper berteriak untuk meminta bantuan. Namun anak buahnya sama sekali tak ada yang membantunya.
__ADS_1
Air itu berputar-putar turun kebawan, dengan cepat Ana segera kembali ke tempatnya, masuk dengan susah payah ke dalam apartemennya membuka pakaiannya dan menggantinya dengan baju santai dan tak lupa membuka semua peralatannya nya.
Ana segera melihat Jasper yang jatuh ke bawa " Kau terbang ke bawah dengan sangat indah Jasper aku suka sekali, misiku berhasil kau sungguh mudah dikalahkan "
Sekarang yang Ana perlukan adalah menyimpan alat-alatnya dengan aman, dan dirinya langsung mengambil ponselnya untuk segera menghubungi Leo.
" Halo Leo coba kau lihat TV, pasti kau akan segera mendapatkan info bahwa Jasper sudah meninggal"
Leo dengan patuh segera menuruti apa kata-kata dari Ana dan benar saja dia sudah mendapatkan infonya kalau Jaspee meninggal dan polisi mengabarkan bahwa itu ada sebuah kecelakaan.
"Hebat juga kau, langsung selesai misi keduamu dengan cepat. Aku suka dengan pekerjaanmu, sekarang kau segera selesai Kan misi terakhirmu"
"Aku ingin tahu bagaimana keadaan adikku terlebih dahulu sebelum aku menyelesaikan misi ketiga ku "
"Ya ya ya anak buahku sedang berjalan ke sana"
"Maksudmu berjalan ke mana, kalau bicara dengan jelas bukannya bertele-tele seperti ini"
"Adikmu sedang ada di sebuah pegunungan bersama Abian, Livia dan Cio"
"Sekarang bagaimana keadaan adikku. Apakah dia baik-baik saja. Apakah tidak ada yang terjadi dengannya"
"Teenang Sayang tenang, kau harus tenang Jangan terburu-buru seperti itu. Aku akan sesegera mungkin memberitahu kabar adikmu "
" Ya sudah cepat kau beritahu keadaan adikku sekarang bagaimana, jangan macam-macam denganku ayo cepat kau katakan jangan bertele-tele seperti ini"
"Baiklah baiklah kau ini marah-marah saja, adikmu mu didorong oleh seorang perempuan bernama Livia, yang baru saja aku sebutkan tadi adikmu Inara didorong ke bawah tebing olehnya "
Ana yang mendengar itu tiba-tiba saja menjadi lemas dan dirinya sampai menjatuhkan ponselnya. tak tau apa yang harus dirinya pikirkan, pandangannya kosong pikirannya pun sudah tak tahu arah.
"Halo halo Ana " panggil Leo namun Ana tak sama sekali menjawabnya.
Leo yang khawatir segera menyuruh anak buahnya untuk mengeluarkan helikopternya, pergi untuk menemui Ana dia tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan Ana.
"Inara Inara apakah aku kehilangannya lagi, apakah adik ku meninggalkanku lagi " air mata Ana begitu saja mengalir.
"Itu tidak mungkin itu tidak mungkin terjadi kan, pasti Leo berkata tidak benar pasti dia berbohong padaku. Pasti dia ingin membuat aku khawatir dan membuat aku mati juga."
Tiba-tiba saja pintu apartemen Ana terbuka dan memperlihatkan Leo yang sedang mengatur nafasnya. dengan cepat Ana segera berdiri dan menghampiri Leo.
"Kau pasti berkata bohong kan Leo, kau bohong bagaimana keadaan adikku yang sebenarnya. Jangan membuatku menjadi khawatir seperti ini, jelaskan padaku semuanya Leo " sambil memukul-mukul dada Leo dan juga menangis di hadapan Leo. Ini kali pertamanya dia melihat kan kelemahannya di hadapan seseorang.
Leo segera memeluk Ana dan mengelus-ngelus pungguhnya pula menenangkan dahulu Ana, dirinya tak peduli Ana memukul mukulnya yang terbenting Ana tenang terlebih dahulu.
"Cepat kau katakan padaku Leo, Katakan padaku yang sebenarnya jau pasti bohong kan, Inara tidak didorong oleh Livia dari atas tebing kan, kau hanya ingin menakut nakuti ku saja kan, Iya Iya kau benar pasti kau ingin menakut-nakuti ku saja"
"Tidak, itu memang terjadi Inara didorong oleh Livia untuk jatuh kedalam tebing, anak buahku yang melihatnya sendiri dan mereka sekarang sedang mengecek keadaan Inara adikmu, sekarang kau tenang dulu ya semuanya akan baik-baik saja "
"Bagaimana aku bisa tenang , sedangkan adikku saja sekarang sedang dalam keadaan yang aku pun tidak tahu dia kenapa" teriak Ana masih dengan memukul mukul Leo
__ADS_1
Leo yang kasihan dengan keadaan Ana,? segera menyuntikan obat bius dan tak lama kemudian Ana pingsan dengan perlahan Leo mengangkatnya, dan membaringkannya di atas tempat tidur.