Berbagi Suami

Berbagi Suami
Kembali berulah


__ADS_3

"Cio " teriak Inara


Cio sudah ada didepan Inara memegang pisau itu dengan tangannya dan mendorong Livia dengan cukup kasar.


Untung saja Cio datang tepat waktu kalau tidak habis lah, saat Bian akan memberi pelajaran pada Livia Cio menahannya langsung membawa pergi Livia begitu saja.


"Kamu baik baik saja kan " tanya Bian dengan sangat khawatir


"Ya aku baik baik saja, tapi tapi bagaimana dengan Cio apa dia baik baik saja "


"Sudah biarkan dia baik baik saja, mungkin saja ini rencana mereka berdua untuk mencelakai kau, jadi kau jangan ngampang percaya pada orang "


"Tapi apakah tuan lihat tangan Cio berdarah dan sangat banyak "


"Kataku sudah sudah Inara, Jon kau cepat bawa pak satpam kemari ya, aku sudah gatal ingin memarahinya karena lalai telah membuat Livia masuk kedalam kantor ku "


"Baik Boss "


**


"Apa yang kau lakukan Livia, apakah kau sudah gila hah ingin membunuh Inara dimana otak mu " marah Cio saat sudah ada diluar kantor.


"Kau yang gia Cio kau menghalangiku untuk membunuh perempuan itu, padahal sebentar lagi Abian akan jadi miliku, katanya kau ingin bekerja sama dengan ku, tapi apa nyatannya kau menghianatiku "


"Kau menolakku kan, aku menarik kata kata ku tadi, sampai kapan pun aku akan menjadi penghalangmu Livia, ingat itu aku tak akan membiarkan mu menyakiti Inara, sampai kapan pun itu "


Setelah mengatakan itu Cio pergi meninggalkan Livia sendirian "awas saja kau Cio, dasar penghianat "


Livia segera mengambil ponselnya dan mengetik beberapa kata lalu mengirimkannya pada Inara.


Inara yang mendengar ada notif di ponselnya bergegas mengeceknya siapa tau dari Ana, namun bukan itu dari Livia.


Mungkin saja sekarang kau lolos dari ku, namun tidak akan aku lepaskan dirimu sampai kapan pun, kalau bisa aku akan menikan mu dari belakang dan membiarkan dirimu habis kehabisan darah. Oh ya satu lagi sebentar lagi orang yang paling kau takuti akan datang lagi dan meneror hidupmu, aku akan mengembalikan masa lalu mu dan orang itu yang akan membunuhmu dengan perlahan lahan, lihat saja aku tak main main dengan kata kataku


Inara segera menutup ponselnya dan duduk dengan wajah gelisah, apa yang maksud Livia Adam, apa Livia membebaskan Adam ?


"Tuan apa yang kau lakukan kenapa kau dekat sekali denganku "


"Kau dari tadi aku panggil panggil tapi tidak menyaut apa yang kau fikitkan apa ada seseorang yang mencoba menerormu "


"Tidak ada, apakah aku boleh pulang "


"Tidak "


"Kenapa aku ingin pulang saja, aku punya rumah, lalu kenapa aku harus tinggal bersama mu "


"Tetap saja tak bisa Ana sudah menitipkan mu padaku, jadi kau tanggung jawabku, kau boleh pulang saat Ana pulang "


Inara yang kesal segera pergi dari ruangan Abian dan disusul masuknya pak satpam yang menunduk takut.


"Kenapa kau bisa lalai dan membiarkan Livia masuk kemari, keruangamku. Aku sudah bilangkan kalau Livia itu orang jahat dan aku sudah bilang padamu juga awasi dia terus bila kemari "


"Tapi tuan dia menerebos dan membuat saya jatuh maafkan saya tuan maaf, sungguh saya teledor jangan pecat saya "


"Kau ini laki laki masa iya tidak bisa menahan dia, tidak bisa menahan seorang perempuan yang badannya kecil dan mungkin saja tenagannya tak seberapa "


"Iya tuan maafkan saya. Saya mohon maaf tuan "


"Pergi dari ruanyan saya "

__ADS_1


"Tuan jangan pecat saya "


"Pergi "


**


Inara yang sedang berjalan tak tentu arah tiba tiba saja melihat Cio yang sedang membersihkan lukannya, dengan cepat Inara segera menghampiri Cio dan mengambil tangan Cio untuk segera dirinya obati.


"Ara "


Namun Inara tak menjawabnya hanya fokus mengobati tangan Cio yang darahnya tak berhenti keluar.


"Kenapa kau tak kedokter Cio "


"Tidak usah dihadapan ku sudah ada kau, kau kan dokternya jadi kenapa aku harus kerumah sakit "


"Kau ini ada ada saja, aku bukan dokter aku hanya asisten disebuah perusahan "


"Baiklah apaka kau mengikutiku "


"Tidak aku tadi hanya sedang ingin merilekskan tubuh dan fikiranku saja, dan tak sengaja aku melihat mu "


Saat Cio akan menjawab tiba tiba saja ada pot bunga yang jatuh dari atas gedung akan mengenai Inara, Cio segera menarik Inara dan syukurlah tidak kena.


"Ya ampun siapa itu " tunjuk Inara.


Cio segera mendongakan kepalanya dan menghembuskan nafas beratnya "itu Livia, kau harus lebih berhati hati jangan sampai kau kemana mana pergi sendiri karena akan berbahaya sekali, setiap saat Livia mengejarmu dan mengiginkan nyawamu "


"Kenapa seperti itu, aku tak punya salah padannya dan aku juga tak punya urusan dengan nya, sedikit pun aku tak punya urusan "


"Iya aku tau, kau tau kan dia mengiginkan Abian, dan kau adalah penghalang untuk dia jadi dia akan menyingkirkan mu sampai kapan pun itu "


"Iya sama sama, kau tak usah sungkan kau akan selalu aku lindungi, aku antar pulang "


Inara tersenyum dan berbarengan masuk kedalam mobil Cio yang ada dihadapan mereka berdua.


**


"Inara Inaraa " teriak Bian


Namun tak ada sama sekali batang hidung Inara yang ada malahan Jon,


"Ada apa bos "


"Aku bukan memanggilmu, dimana Inara "


"Dia tak ada, entahlah aku tak tau mungkin saja dia keluar "


"Kenapa kau membiarkannya bagaimana kalau sampai dia di celakai oleh Livia lagi, dasar Inara keras kepala "


"Saya juga gak tau bos kapan Inara perginya "


Bian segera pergi meninggalkan Jon yang masih berceloteh manja, "dasar ya tu bos, kalau bukan bos udah tak hajar, sabar sabar Jonathan sabar demi istrimu yang akan melahirkan kau harus tahan dengan bos yang satu itu "


Jon keluar dari dalam rungan Abian dan masuk kedalam ruangannya sendiri.


"Makasih Cio, aku masuk kantor dulu "


"Iya hati hati "

__ADS_1


Saat Inara akan masuk dia balah bertabrakan dengan Abian "kemana kau Nara, kenapa tiba tiba pergi "


"Aku hanya ingin menenangkan hati saja tadinya aku mau pulang langsung tapi gak jadi"


"Yaudah ayo kita pulang, "


"Jalan kaki tuan kan jauh "


"Sekali kali kita jalan kaki kau ini selalu saja manja "


Tanpa banyak bicara lagi, Inara mengikuti Abian dari belakang dengan langkah yang tergopoh gopoh karena ya Abian berjalan dengan langkah yang lebar, sangat sulit untuk dirinya mengejar Abian, sungguh menyusahkan.


"Apakah kau lelah "


"Ya begitulah tuan "


"Ya sudah kita naik taksi saja "


"Lah tadi katanya mau jalan, kan tanggung tuan sedikit lagi "


"Sudah jangan memaksakan aku tau kaki mu sakit Inara, jadi jangan berdebat dengan ku, aku ingin bertanya padamu, apa arti rumah untuk mu "


"Untuku arti rumah adalah sebuah tempat dimana kita bisa jadi jati diri sendiri, tak usah memakai topeng lagi, kau tau aku dulu tak pernah keluar rumah dan aku sudah menganggap kalau rumahku adalah temanku, pelindungku dari marabahaya, namun sekarang pun sama dia adalah tempat ku berlindung "


"Hemm begitu ya, jadi sekarang kau sedang memakai topeng apa "


"Hah topeng "


"Ya katamu kau sedang memakai topeng diluar tapi kalau dirumah kau bisa menjadi jadi dirimu sendiri "


"Emm aku sekarang tak memakai topeng apa apa, tapi aku lebih bebas jika ada dirumah dan lebih menjadi apa yang aku mau, bukan apa yang orang mau. "


"Baiklah baiklah, tapi menurutku rumah bagiku adalah neraka"


"Hah neraka kenapa "


"Karena aku tak bisa kemana mana, pasti mamih akan melarangku pergi saat aku sudah ada didalam rumah, makannya aku memutuskan untuk tinggal diapartemen sendirian agar tenang dan bebas "


"Jangan menyia nyiakan orang tua, mereka sayang padamu, kau tau saat kau nanti kehilangannya kau akan tau rasanga seperti apa, jadi ingat jangan sia siakan itu semua, aku bahkan sudah kehilangan orang tua ku cukup lama dan aku sangat menyesal karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk mereka berdua, meski mereka bukan ibu dan ayah kandungku, aku sangat menyayangi mereka, mereka akan selalu ada didalam hatiku, "


"Ya aku tau maafkan aku, aku hanya ingin sedikit bebas saja "


Bian segera memeluk Inara, dan Inara tak lama kemudian membalas pelukan itu, Bian yang kesenangan memeluk Inara dengan sangat erat sekali.


"Tuan tuan, se sak se ka li "


Bian segera melepaskannya dan cengegesan "maafkan aku ya "


"Ihh nyebelin " sambil memukul dada Bian.


Inara segera menyebrang dan tiba tiba saja didepannya ada mobil uang melaju dengan sangat kencang, Bian segera menarik Inara.


"Aku tak apa "


Inara yang masih syok hanya diam saja, tak bisa menjawab apa apa, sedangkan Bian sedang fokus melihat plat nomor orang itu namun tak kelihatan. "Nara kau baik baik saja"


Kembali Abian menguncang tubuh Inara dan Inara langsung memeluk Abian dengan tubuh yang bergetar.


Livia memukul setirnya beberapa kali, gagal lagi gagal lagi "akhhh punya nyawa berapa perempuan itu , kenapa aku selalu gagal saja saat akan melenyapkannya sial sial sial "

__ADS_1


"Kau Inara aku akan menjadi bayanganmu dan aku akan menjadi pencabut nyawamu, lihat saja kau akan habis ditangku, dan aku yang akan menentukan hidup dan matimu "


__ADS_2