Berbagi Suami

Berbagi Suami
Kau pantas mendapatkan yang lebih dari aku


__ADS_3

Sedangkan dirumah Nara, ibu mertunya sudah datang duduk dengan Iva yang sedang menangis sambil memeluk ibunya Adam. Sedangkan Adam hanya menatapnya dengan nyengah, ternyata istrinya ini jago ekting juga ya.


"Lihat bu, mas Adam wajahnya seperti tak terjadi apa-apa saja. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan anak kita ini " Adu iva sambil tersedu-sedu menangis.


"Adam kamu ini apa-apaan kasar pada istrimu dia itu sedang hamil besar. Seharusnya kamu menjaganya bukan malah kasar padanya. Kamu ini kepala keluarga harusnya jangan seperti itu. Jangan main tangan sama istri kamu. Sesalah salahnya dia jangan sampai kamu main tangan itu ga baik "


"Iya iya bu, kenapa sih ibu harus cape-cape dateng kesini, kenapa ga telfon aja " tanpa rasa bersalahnya.


"Apa ibu tak boleh mengunjungi anak ibu serta menantu ibu. Ibu tak mau ya mendengar kamu pulang malam dan kasar lagi pada Iva istrimu ini "


"Iya iya bu, udah lah aku kelepasan. Maafin aku"


"Oh iya mana pembantu kamu s Inara itu perempuan cacat itu "


"Dia masih dikamar "jawab Iva dengan cepat.


Inara yang sudah sampai didepan rumahnya dan pas juga sarapan mereka berdua habis, segera berpamitan pada Bian dan langsung ngacir dengan mengendap-endap. Untung saja jendelanya dia buka tak dikunci sepertinya sedang ada tamu dirumah.


Dengan perlahan Inara membuka kacanya dan masuk kedalam kamarnya "huuff leganya "


Namun Inara mendengar kegaduhan didepan pintunya ada apa ya.


"Jangan bu, Inara lagi istirahat " ucap Iva menahan ibu mertunya yang menyuruh Adam untuk mendobrak pintu kamar Inara saja.


"Kamu ini kenapa Iva, apa kalian berdua sudah berbaikan sampai-sampai kamu membelanya seperti ini "ledek ibu mertuanya.


"Iya bu, aku dan Inara sudah baik-baik saja. Tak ada masalah " bohong Iva yang tak mau terbongkar tentang perjanjiannya dengan Inara.


Inara segera membukan pintunya "ada apa ya, kok berisik banget "

__ADS_1


"Heh kamu, wanita cacat, udah cacat bangun siang kamu ini istri macam apa. Lihat Iva dia sudah bangun dari pagi tadi. Lah kamu jam segini baru bangun " marah ibu mertunya.


"Lalu apa urusannya sama ibu, toh aku ngagerugiin ibu "


"Kamu ini ya, bukannya berfikir dan lebih patuh sama suami kamu dan ibu malah ngelunjak dan selalu menjawab. Ini baju dari mana bagus gini kamu maling ya "


"Mau patuh bagaimana, mas Adam saja gak pernah tuh dengerin pendapat aku atau larangan aku atau pun keinginan aku. Aku mau nurut gimna sama ibu. Sedangkan ibu sendiri kasar sama aku, apa sih bu, aku ga maling ya "


"Tuh kan, tuh kan ngejawab lagi, ngejawab lagi liat Dam, liat istrimu itu sudah sangat kurang ajar, harus diberi pelajaran yang setimpal. Alah kamu punya uang dari mana bisa kebeli baju sebagus ini mustahil "


"Cukup bu, cukup aku gamau ya di injek-injek terus harga diri aku sama ibu" teriak Inara dengan lantang.


"Berani sekali kau membentak ibu ku " ucap Adam sambil menjambak rambut Inara dan membawa Nara kedalam kamar dan menutup kamarnya tanpa memperbolehkan seorang pun masuk kedalam kamar Inara.


"Ayo Va, kita duduk saja, mendengarkan Inara yang sedang disiksa oleh suaminya " ajak ibunya.


"Ayo bu, aku juga udah muak sama Nara semoga aja dia mati sekarang bu "


Adam masih menarik rambut Inara dengan kasar, tanpa mengiraukan rintihan Inara yang sedang kesakitan. Membanting Inara kelantai "kau ini, makin hari makin berani ya. Kemana kau sebenarnya semalam aku mengetuk pintu kamar mu, namun kamu tak membukanya sama sekali , kau sekarang menjadi pelacur Nara berkeliaran dimalam hari "


"Aku bukan wanita murahan, aku masih punya harga diri, aku tak serendah itu sampai menjual harga diriku. Apakah kau tak bisa baik padaku, tak melakukan kekerasan padaku. Jika memang kau tak membuntukhan ku lagi, ceraikan aku mas, ceraikan aku lebih baik hidup sendiri dari pada hidup seperti di neraka "


"Lalu jika tak mejual diri, kamu memeras laki-laki kaya, sampai bisa membeli pakaian sebagus ini. Aku tak akan pernah menceraikan mu sampai kapanmu. Dan jika kau ingin mengajukan perceraian aku sampai kapan pun tak akan mentandatanganinya "


Inara yang marah segera berdiri. Menantang suaminya "dengar baik-baik aku bukan wanita yang seperti kau fikirkan, kau laki-laki bejat brengsek tak punya hati dan mau enaknya saja"


Adam yang marah segera mendorong Inara sampai terbentur pada tembok. Menonjok pipi Inara bahkan rahang Inara, sampai mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.


Adam segera mencekik Nara dengan sekuat tenaga, Inara sudah tak bisa bernafas sama sekali "dengar baik-baik, jika kau masih ingin hidup menurutlah padaku " segera Adam melepasnya dan melengos pergi.

__ADS_1


Inara langsung terjatuh sambil terbatuk-batuk, mengumpulkan kembali nafasnya yang sudah habis. Menangis kembali merasakan sakit diwajahnya yang terkena pukulan dari suaminya sendiri.


**


Abian yang baru sampai rumahnya entah kenapa mengingat kembali Inara. Hatinya tak tenang memikirkan Inara tiba-tiba saja tak enak.


Abian segera menekan no Inara namun tak ada jawaban sama sekali, Bian terus saja menghubungin no Inara sampai Inara mengangkatnya.


Inara yang mendengar dering telfon segera mengambil ponselnya. Banyak panggilan tak terjawab dari Bian dan sekarang Bian menghubunginya lagi. Inara segera menghela nafasnya mengaturnya agar terlihat baik-baik saja.


Setelah nafasnya teratur Nara segera mengangkatnya "hallo Bian, apa ada yang tertinggal " jawab Nara dengan suara seraknya.


"Tidak Nara, aku tiba-tiba saja khawatir dengan mu, apa kau baik-baik saja. Lalu suaramu kenapa "


"Aku tak apa-apa Bian, entah kenapa suaraku tiba-tiba menjadi serak seperti ini. Apakah kamu sudah sampai dirumah Bian "


"Benerankan kamu gapapa, hati aku gak enak, perasaan ku mengatakan kalau kamu gabaik-baik aja. Jujur Nara sama aku jujur jangan ada yang disembunyiin please jangan kaya gini. Aku khawatir sama kamu"


"Its ok aku gapapa Bian, tenang aja. Nanti kamu liat aja dikantor ya, aku beneran gapapa, mendingan kamu sekarang istirahat. Jangan terlalu fikirin aku, aku baik-baik aja disini "


"Ok pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus bilang sama aku ya Nara. Aku gamau kamu ngumpetin sesuatu dari aku "


"Iya Bian, cerewet deh "


"Satu lagi, kamu ga dimarahin kan sama suami mu itu " dengan suara kesalnya


"Engga Bian, udah yah, aku mau istirahat kamu juga istirahat ya. Jangan terlalu banyak fikirin aku by "


Belum juga Bian menjawab Nara sudah mematikanya. Air matanya kembali mengalir begitu saja. Selama berbicara dengan Abian dirinya menahan sakit disekitar wajahnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Bian, tak jujur padamu. Aku gamau kamu masuk terlalu jauh dalam hidu aku. Kamu pantas mendapatkan yang lebih dari aku "


__ADS_2