Berbagi Suami

Berbagi Suami
Abi Tahu


__ADS_3

Happy reading


Tiga hari berlalu akhirnya Aisyah kembali ke rumah utama, dengan senyum Zahra menyambut mereka berdua di depan pintu.


Layaknya saudara mereka saling memeluk, Zahra merindukan Aisyah begitupun sebaliknya. Sedangkan Abi yang melihat mereka dari belakang itu hanya tersenyum seraya membawa koper milik Aisyah.


Ia berharap kehidupan keluarganya tetap baik baik saja. ia berharap Aisyah dan Zahra akan selalu damai seperti ini.


"Ayo masuk, aku sudah masak banyak buat nyambut kalian," ajak Zahra pada suami dan madunya.


Ketiganya masuk ke dalam rumah besar itu dengan perasaan senang. Zahra kesepian di rumah itu sendirian. Apalagi sepertinya para pelayan terlihat sungkan dengan dirinya yang sudah menjadi istri Abi.


Mereka bertiga berjalan ke ruang makan dan Zahra mengambilkan makanan untuk suaminya. Padahal 3 hari lalu Aisyah yang mengambilkan makanan untuk suaminya. Tapi Aisyah pikir itu bentuk cinta Zahra pada Abi yang sudah menjadi suaminya.


"Makan yang banyak Mas," ucap Zahra dengan senyum manisnya.


"Terima kasih."


Aisyah mengambil makanan untuk dirinya sendiri dengan apa yang ia mau. Entah kenapa ia tak suka dengan ikan yang di masak oleh Zahra.


"Ikannya Ai. Mbak masak buat kamu loh, bukannya kamu suka sama ikan?" tanya Zahra dengan senyum manisnya.


"Aisyah sudah ambil kok mbak. Makanan ini aja belum aku makan," ucap Aisyah dengan senyum.


"Kamu harus makan banyak sayang. Badan kamu lebih kurus setelah ke panti kemarin. Apa kamu kurang makan?" tanya Abi dan di jawab gelengan oleh Aisyah.


"Bagaimana mau naf*u makan kalau yang ada di pikiran aku hanya kamu dan Mbak Zahra Mas. Aku gak tahu kenapa aku jadi gini, aku ingin kamu tapi aku juga ingat jika kamu bukan sepenuhnya milikku," batin Aisyah menatap Abi yang sedang makan.


Mereka bertiga makan dengan tenang, Aisyah masih terdiam dengan banyak yang ia pikirkan tapi tidak dengan Zahra dan Abi yang terlibat banyak pembicaraan.


"Aku ke kamar dulu," ucap Abi pamit pada kedua istrinya. Sedangkan Zahra dan Aisyah membereskan piring piring yang ada disana.


"Gimana mbak malam pertamanya sukses?" tanya Aisyah menggoda Zahra yang terlihat sedikit pucat itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, makasih ya Ai. Mbak tahu ini gak mudah buat kamu, kamu harus rela berbagi suami dengan mbak."


Zahra berucap dengan tulus, ia merasa bersalah dengan Aisyah. Ia juga melihat perubahan dari Aisyah setelah 3 hari mereka tak bertemu.


"Aisyah gak apa apa Mbak. Lagian ini sudah menjadi kewajiban Mas Abi untuk Mbak Zahra."


Zahra yang sudah selesai mencuci tangan itu menghadap Aisyah dan memeluk Aisyah dengan lembut.


"Semoga cepat hadir anak kita ya mbak, Ai gak sabar lihat perut mbak besar," ujar Aisyah mengelus perut rata Zahra.


"Aku juga gak sabar lihat kamu hamil, aku juga mau merasakan kita hamil bareng bareng," jawab Zahra dengan senyum manisnya yang bahkan bisa membuat Aisyah meleleh di buatnya.


Ada rasa sedih dalam hati Aisyah mengingat sampai saat ini ia belum juga hamil, padahal usia pernikahannya sudah 4 bulan lebih. Aisyah juga ingi merasakan mengandung dan melahirkan. Ia ingin melihat perutnya membesar.


"Udah jangan sedih, kamu ke kamar gih. Kasihan Mas Abi nunggu kamu lama. Kamu pasti capekkan baru pulang?" ucap Zahra menyuruh Aisyah untuk ke kamarnya sendiri.


Asiyah mengangguk dan meninggalkan Zahra di dapur itu bersama para koki. Karena rencananya Zahra ingin membuat makanan ringan nanti untuk mereka semua.


Aisyah yang sudah sampai di kamar itu sedikit bingung karena tak mendapati suaminya di kamar itu.


"Mas, kamu dimana?"


Aisyah yang tak tahu dimana suaminya itu langsung mencarinya ke sekeliling kamar itu.


Hingga sampailah Aisyah di balkon, Aisyah melihat Abi sedang duduk di kursi kayu itu dengan asap rokok yang mengebul di udara itu.


"Mas Abi ngerokok lagi?" tanya Aisyah yang membuat Abi menggeleng. Abi langsung membuang puntung rokok itu ke asbak.


"Kok sudah sampai sini. Mas gak lihat kamu masuk sayang?" tanya Abi menarik tangan istrinya agar duduk dipangkuannya.


"Mas belum jawab pertanyaan aku."


"Mas cuma pengen rasain ini sayang, gak ngerokok kayak dulu lagi kok."

__ADS_1


"Mas bohong ya. Aku tahu mas gak akan ngerokok kalau gak banyak pikiran, kenapa Mas gak bilang sama aku," ucap Aisyah mengelus rambut suaminya.


Yah saat ini Aisyah sedang berada pangkuan Abi jadi mudah jika ingin mengamati wajah dan mengelus rambut Abi.


"Kamu juga gak mau jujur sama Mas."


"Hmm."


Aisyah bingung, ia tak jujur soal apa? Kenapa suaminya berbicara seperti ini. Tak mungkin Abi tahu apa alasan dia meminta Abi menikah dengan Zahra kan.


"Jujur soal apa? Aisyah gak pernah bohong sama Mas Abi. Bahkan apa yang Aisyah lakukan saja Aisyah bilang sama Mas Abi."


"Kamu yang selalu di desak Mama buat punya anak. Sudah berapa lama Mama berbuat seperti itu sama kamu sayang? Apa itu yang membuat kamu akhirnya memilih cara agar aku menikah dengan Zahra?" tanya Abi dengan lembut. Tak ada nada tinggi ataupun ngegas pada istrinya tapi nada lembut yang selalu Abi berikan pada Aisyah.


Jangankan berbicara tinggi, menatap tajam Aisyah saja ia tak bisa. Abi tak akan sanggup melakukan itu karena ia tak mau istrinya itu sakit hati.


Deg


Jantung Aisyah berdetak kencang, ia yang tadi ya senyum mulai menurunkan senyum manisnya itu.


"Darimana Mas tahu kalau aku sering di desak Mama buat memiliki anak?" tanya Aisyah pada Abi.


Suaminya itu hanya memberikan senyuman hangat yang selalu dirindukan oleh Aisyah.


"Jadi benar semua yang aku dengar sayang? Kenapa kamu gak bilang sama aku? Andai kamu bilang aku tak akan menduakan kamu dengan menikah dengan Zahra."


Aisyah yang mendengar itu terkejut, ia takut suaminya marah padanya. Karena selama ini Aisyah tak pernah melihat Abi yang marah dengan serius. Tapi sekarang jika dibuat lagi, aura dan raut wajah Abi tak bisa dibohongi.


"Jawab Mas sayang."


Bersambung


Dah dah gak sanggup, lanjutin nanti yak.

__ADS_1


__ADS_2