
Inara melihat jam dinding dan sudah menunjukan jam 12 malam "Ya ampun aku sampai lupa waktu, tapi ini nanggung lagi satu lagi, tapi ngantuk banget lagi masa iya aku harus nginep "
Inara membuka ponselnya dan banyak panggilan tak terjawab dari Cio, lupa ponselnya tadi di mode getarkan dan tak beberapa lama Cio menghubunginya lagi.
"Hallo Ara, kau kemana saja aku dari tadi menelfon mu tapi tak sama sekali diangkat apa kau baik baik saja "
"Ya hallo Cio, aku baik baik saja, maaf tadi tak kedengaran Cio "
"Syukurlah sekarang kau dimana apa masih ada dikantor atau sudah pulang "
Inara diam sejenak, kalau bilang ada disini pasti akan kesini metepotkan lebih baik berbohong sajalah.
"Emm aku sudah pulang Cio, ini aku terbangun karna ada telfon dari mu "
"Maafkan aku ya yang sudah menganggu tidur malam mu, ya sudah sekarang tidurlah kembali, besok aku akan menjemputmu "
"Tak usah aku berangkat bersama Jack "
"Tak ada bantahan Ara, besok aku yang jemput kau "
Sambungan pun berakhir "masa bodo deh "
Inara mengecek tasnya dan ketemu "untung aja tadi bawa alat alat wajahku, besih bersih dulu ah "
Inara segera keluar dari ruangannya dan pergi kekamar mandi satu lampu sengaja Inara nyalakan untuk menerangi jalannya, tak lupa pula lampu kamar mandinya di nyalakan.
"Huhh lelahnya, akhirnya selesai juga pekerjaanku, sekarang tinggal pulang " Bian segera membereskan barang barangnya dan keluar dari ruangannya.
Saat akan masuk kedalam lift Bian melihat ada lampu menyala dan karena takut itu pencuri Bian berjalan kearah sana.
Saat akam membuka pintu kamar mandi muncul juga Inara yang mau keluar "akhh pak Abi ngapain ngagetin saya "
"Kamu yang ngagetin saya, ngapain tengah malem gini masih ada dikantor kamu mau nginep udah bawa perlengkapan kaya gitu "
"Engga saya lagi kerjain tugas saya yang menumpuk jadi lembur hari ini "
"Terus mau pulang sama siapa jam segini, kamu ini perempuan gak baik pulang jam segini"
"Nanti sama Jack, ya kalau tugas saya gak beres nanti bapak akan marah marah sama saya lagi, "
"Ya kamu bisa bilang sama saya, kan saya bakal izinin buat kamu bawa pekerjaan kamu kerumah, terus gimana sekarang apa kamu mau nginep "
"Engga saya pulang kok "
Inara segera pergi dari hadapan Bian dan mengambil barang barangnya mematikan semua lampu dan turun kelantai bawah.
Inara terus saja menghubungi Jack tapi sama sekali tak diangkat "ist kamu tuh kemana sih "
Inara yang tak mau berlama lama lagi dikantor berjalan kaki sambil menendang nendang batu tiba tiba tin tin.
"Astaga siapa itu bikin aku kaget gimana kalau jantung aku copot terus pasanginnnya gimana " gumam Nara sambil membalikan badannya kearah suara yang mengagetkannya.
"Apa kamu yakin mau jalan kaki pulang kerumah "
"Ya saya mau jalan kaki, bapak sana aja pulang jangam banyak tanya "
"Hey kenapa kau menjadi galak seperti kakakmu Ana, cepat sini masuk, cepat "
"Tidak aku pulang sendiri saja "
"Cepat masuk, atau aku yang akan kesana dan membopongmu"
"Selalu saja begitu " Inara yang kesal pergi masuk kedalam mobil sambil memghentak hentakam kakinya bahkan menutup pintu dengan keras.
Bian disampingnya hanya bisa tersenyum saja, jadi begini ya pujaan hatinya saat marah, sangat lucu pengen cubit ginjalnya deh.
"Kenapa berhenti disini pak "
"Untuk hari ini kita bermalam di apartemen ku saja, sungguh mengantuk "
"Bapak kalau gak ada niat buat nganterin saya gak usah pak, udah saya pulang aja sendiri "
"Ehh gak boleh ayo masuk, ini udah malem kamu tau ini malem"
"Saya tau malem dan saya mau pulang "
Namun Abi tak menghiraukannya, setelag mengeluarkan Inara dari dalam mobilnya Bian memangkunya dan membawa Inara masuk kedalam apartemennya.
"Turun kan saya pak, apa apaan ini, turun saya mau turun pak"
"Diam jangan berisik nanti kalau penguni disini bangun bagaimana, cukup diam aku tak menculikmu wahai asisten diamlah "
Inara yang kesal akhirnya diam juga, saat sudah ada didalam apartemen Bian menurunkan Inara dan menariknya untuk masuk, "Kau tidurlah didalam kamarku, biar aku disini tidur dikursi "
"Tidak bapak saja yang tidur di kamar saya disini, "
"Tapi itu gak baik "
"Gak apa apa pak, atau saya pulang nih "
"Hemm oke oke aku ambilkan dilu selimbutnnya ya, jangan saya saya terus aku gak suka "
"Bapak kan atasan saya "
"Inara"
"Ya ya ya akuu puas "
"Ya puas "
__ADS_1
Bian segera pergi kekamarnya membawa selimbut dan memberikannya pada Inara, namun Bian masih saja diam sambil menatap Inara "kenapa dia tak meminta apa apa lagi, padahal aku masih ingin berlama lama dengannya " ucap Bian dalam hati.
"Aku mau tidue pak Bian, silahkan bapak juga segera tidur "
"Kau mengusirku "
"Kenapa aku mengusir bapak, bapak pemilik apartemen ini, punya berhak apa aku mengusir bapak, ini sudah larut malam jafi sebaiknya, bapak segeralah tidur "
Bian mendengus dan langsung pergi meninggalkan Inara, sedangkan Inara yang sudah lelah langsung membaringkan tubuhnya, sambil menyelimuti dirinya.
"Apa dia tak berminat gitu memberikanku sebuah bantal, masa dia gak tau kalau tidur itu harus ada bantalnya " guman Inara.
Namun karena saking lelahnya akhirnya Inara terlelap juga, menghiraukan tentang s bantal itu.
Bian yang dikamar tak bisa tidur akhirnya keluar dan melihat Inara yang sudah terlelap tidur ,dan saat melihat kepala Inara tak memakai bantal Bian kembali lagi kekamar dan membenahi tidur Inara.
"Tidur yang nyenyak ya syanag "
Setelah mengecup keningnya Bian kembali lagi kekamar dan akan menidurkam tubuhnya.
**
Inara yang terbangun karena silau dengan matahari pagi terbangun dan matanya langsung tertuju kearah jam dinding yang menunjukan jam 8 siang.
"Ya ampun aku telat, pasti pak Bian pun sama telatnya denganku "
Dengan tergesa gesa Inara menghampir kamar Bian dan mengetuknya "pak bangun pak ini sudah siang "
"Pak jagan seperti kebo, ayolah bangun pak pak "
Inara segera membuka pintunya dan "Akhh kau mengintipku Inara, ini aku sudah bangun sudah "
"Geer banget sih, aku gak ngintip bapak ya, cuman membangunkan bapak saja, ini sudah jam 8 dan kita sudah terlambat pak "
"Iya iya aku dulu saja bersiap di kursi aku sudah menyiapkan pakainmu, segeralah mandi dan pakai, pakaian itu "
"Baik terimakasih "
Inara bergegas pergi mengambil pakainnya dan masuk kekamar mandi, tak lama kemudian Inara sudah lengkap dengan pakainnya, dan tentu sudah berdan dan juga.
Namun saat menengok kekamar bosnya, dia masih diam mematung sambil memegang satu set pakaian.
"Ayo pak kita berangkat "
"Sebentar aku masih bingguh harus pakai yang mana, menerutmu bagus yang mana " sambil mengacungkan dua set pakaian berbeda.
"Aku lebih suka yang berwarna biru dongker itu "
"Baiklah akan aku samakan dengan pakaianmu, aku akan memakai yang ini yang coklat "
"Ya kalau gitu gak usah nanya "
Inara kembali lagi dan masuk kedalam kabar Abi, membantunya mengancingi kemeja lalu memakai dasi dan terakhir memakaikan jasnya.
"Nah gini dong kalay jadi istri harus bantu suaminya "
"Aku bukan istri bapak "
"Iya iya aku tau, sebentar lagi akan menjadi istriku, ayo sekarang pergi " sambil mengandeng tangan Inara dan turun kebawah.
Saat sudah ada didalam mobil ponsel Inara berdering dan itu panggilan dari Cio, Bian yang memang mengintik tau dan diam saja.
"Hallo Cio ada apa "
"Kamu dimana kenapa gak ada dirumah tadi pas aku jemput "
"Aku udah berangkat " namun sekarang ponsel Inara perpindah tangan kepada Abian.
"Hallo Cio "
"Kenapa jadi lo Abi yang angkat telfon, gue lagi bicara sama Inara "
"Dia lagi sama gue, jadi gak boleh ada yang ganggu, lo tenang aja dia semalem sama gue jadi lo gak risau "
"Apa maksud lo hah "
"Ya Inara sama gue dari malem sampai sekarang ngerti gak loh, apa perlu gue ulang lagi "
"Gak usah "
Sambungan pun dimatikan oleh Bian dan ponsel itu langsung diberikan kembali ke Inara.
"Kenapa bapak bilang gitu sama Cio"
"Kenapa kamu takut sama dia, apa kalian pacaran "
"Engga aku gak pacaran sama Cio "
"Yaudah kenapa takut, dia bukan siapa siapa kamu jadi tenang aja gak usah risau kaya gini "
"Sebentar " mobil berhenti dan Bian keluar tak lama kemudian masuk kembali sambil membawa kopi panas serta roti.
"Makanlah terlebih dahulu kau belum sarapan "
Inara tanpa banyak bicara memakannya dan Bian kembali melajukan kembali mobilnya.
Saat Bian sedang anteng antengnya menyetir tiba tiba ada sebuah roti didepan bibirnya.
"Makanlah pak, aku tau kau pun belum sarapan maafkan aku lancang seperti ini "
__ADS_1
Bian hanya tersenyum melahap roti itu sampai habis, dan Inara langsung saja memberikan minumnya ke arah Bian dan tanpa banyak bicara dia meminumnya.
**
Cio yang kesal segera keluar dari ruangannya dan pergi kekantor Bian.
"Kau mulai berbohong padaku Ara, aku akan kesana lihat saja dan kau Abi sialan "
Dengan cepat Cio masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan cepat.
Bian sudah sampai dari kantor dan Inara segera turun pula dari dalam mobil, namun tiba tiba ada yang menarik rambut Inara dari belakang.
"Berani sekali kau berangkat dengan pacarku "
Bian yang melihat ini segera melepaskan tangan Livia dari rambut Inara, sampai sampai Livia didorong oleh Abi dna terjatuh.
"Kau tak apa kan " sambil mengusap ngusap rambut Inara dan tanpa Abi sadari dia mencium kening Inara dan mengusap ngusap pipi Inara.
"Heyy Abi berani sekali kau melakukan itu pada perempuan lain, apakah kau gila "
"Kau yang gila Livia, aku sudah bilang jangan ganggu aku, pergilah dari sini kau sungguh wanita kasar dan tak tau diri, aku tak suka padamu dan jangan bilang aku pacarmu atau milikmu, aku tak sudi "
"Kau kasar sekali Abi, aku mencintai mu kenapa kau begitu padaku "
"Tapi aku tak mencintaimu pergi lah jangan ganggu kami lagi, jangan berani berani lagi kau menyentuh Inara, "
Bian segera pergi tak lupa membawa Inara, Livia yang akan masuk dihalangi oleh satpam dan malah mengamuk diluar karena tak boleh masuk "awas aku mau masuk, jangan menghalangiku, aku aku mau masuk "
"Maaf Nona tapi pak Abi tak membiarkan ibu masuk, jadi lebih baik ibu pulang jangan membuat gaduh disini kalau tidak saya telfon polisi "
"Silahkan saya tak peduli "
Cio yang baru datang langsung menarik Livia dan memeluknya.
"Tenang kau harus tenang jangan mengamuk disini kau mau orang lain tau tentang dirimu yang sebenarnya.".
Livia mengelengkan kepalanya dan mengikuti Cio yang mengajaknya masuk kedalam mobilnya.
"Ada apa denganmu, kenapa kau menangis seperti itu disini, apakah kau tak takut semua orang tau "
"Abi, Abi dia malah bersama perempuan itu, dia menghianatiku aku tak bisa tinggal diam, aku tak mau, aku tak akan mau mundur "
"Bersama Inara "
"Ya bersama perempuan itu, aku aku sungguh tak bisa melihat Abi bersama perempuan lain, aku gak bisa Cio "
"Kamu harus tenang, apa apa jangan mengamuk. Kalau kamu kaya gitu terus yang ada Abi gak akan mau sama kamu dan malah jauhin kamu nantinya "
Livia hanya mengangguk dan memeluk Cio kembali, menangis disana.
Dan tanpa mereka sadari tadi saat mereka berpelukan diluar dan sampai masuk kedalam mobil Inara melihatnya, dengan jelas dan dia hanya bisa tersenyum melihat itu.
"Kau begitu dekat dengan dia Cio "
"Apa yang sedang kau lihat Nara "
"Ehh Jon, tidak aku hanya ingin melihat saja kebawah ada apa "
"Ini aku ingin memberikan berkas yang perlu kamu pelajari, nanti siang kamu ikut meeting dengan pak Abi ya "
"Oh iya mana sini biar aku pelajari dahulu Jon "
"Ini Nara, oh ya bagaimana hubunganmu dengan bos "
"Baik baik saja, kau denganya baik "
"Bukan maksudku hubungan asmara kalian "
"Emm kenapa kesana aku dan pak Abi tak ada hubungan apa apa "
"Lalu dengan Cio, kenapa kau menatapnya sangat fokus tadi sampai sampai kau tak menghiraukanku yang sudag cukup lama menunggumu "
"Tidak aku pun dengan dia tak ada hubungan apa apa, hanya teman, aku hanya lihat seberapa dekat dia dengan Livia, agar aku tak berharap dengan dia "
"Apakah kau mencintainya Nara "
"Tentu tidak, aku hanya waspada saja, aku tak mau kejadian aku dan Adam dulu terulang kembali, makannya aku mengamatinya bagaimana dia dan seperti apa dia, karena aku tak mau dekat dengan laki laki yang banyak perempuannya "
"Sip baguslah kalau kamu gak suka sama Cio "
"Memangnya kenapa kau menanyakan itu Cio "
"Tidak tidak aku hanya ingin tau saja Nara, karena kau sebagai temanmu tak mau kau salah pilih lagi laki laki, "
"Terimakasih atas perhatian mu ya Jon "
"Ya sama sama Nara sama sama "
Setelah Jon pergi Inara segera mengecek berkas itu mempelajari semuanya tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Bagaimana " tanya Bian saat Jon masuk kedalam ruangannya.
"Bos tenang aja Inara gak suka kok sama Cio, jadi bos ga usah khawatir pepet lagi aja bos lah, sampai dapet jangan sampai lepas bos sekarang mah, "
"Iya bener bener, tenang lah sekarang saaya akan kembali ngejar dia, tapi sikap dia jadi dingin sama saya Jon "
"Salah bos sendiri itu, tanggung aja sendiri "
"Sialan lo " sambil melempar buku tebal kearah Jon.
__ADS_1
"Gak kena gak kena " ledek Jon sambil keluar dari ruangan atasanya itu.