Berbagi Suami

Berbagi Suami
Menyesal jadinya


__ADS_3

Abian yang sedang tertidur entah kenapa malah meraba raba Inara dan membalikan Inara berhadapan langsung dengan nya, tadinya Inata membelakangu tubuh Abian dan memeluk tangannya sendiri.


Tiba-tiba saja abi mencium kening Inara, lalu sedikit meraba ramba wajah Inara dengan bibirnya dan beralih mecium bibir Inara,setelah itu Inara pun membalasnya.


Namun kedua bola mata mereka masih terpejam entahlah mereka sadar atau tidak melakukan itu dan terjadilah hubungan yang tidak seharusnya terjadi diantara mereka sebelum menikah.


**


Inara terbangun dan melihat dirinya tak memakai pakaian apa-apa, lalu dia menatap ke arah Abian yang ternyata tak memakai apa-apa juga Inara dengan histeris langsung berteriak "Akhhh Bi, akhhh "


Abian yang kaget langsung bangun dan malah tak sengaja bertabrakan jidat bersama Inara "apa yang telah kita lakukan Bi kenapa kita tidak memakai pakaian sedikit pun. Apa yang terjadi Bi " Panik Inara


Abian langsung melihat dirinya dan benar saja dirinya tak memakai apa apa, hanya selimbut saja yang mrmbungkus tubuhnya, kenapa ini bisa terjadi coba, Abian segera mengigat ngigat kembali apa yang semalam sudah dirinya lakukan pada sang kekasih.


"Nara sepertinya kita melakukan itu deh, gak mungkin kan kita tiba tiba telanjang."


"Kita melakukan apa Bi, yang jelas kalau bicara jangan setengah setengah, jangan membuat aku takut Bi "


"Kita melakukan hubungan suami istri Nara, kita sudah melakukannya"


Inara memegang kepalanya dan menatap sendu pada Abian"kenapa kita bisa melakukan itu Bi, kenapa apa yang terjadi "


Belum juga Abian menjawab di luar rumah mereka sudah berisik dengan teriakan seorang ibu-ibu, dengan cepat Inara memakai kemeja Abian dan pergi keluar.


Diikuti dengan Abian yang memakai celananya dan juga mengambil kaos di dalam lemari Inara. Untung saja waktu itu dirinya pernah menyimpan pakaian disini saat Inara pergi kerumah Roger.


Setelah itu Abian segera berlari mengikuti pacarnya yang sudah berlari jauh, dan langsung memberhentikan langkahnya saat melihat siapa orang yang sedang berteriak teriak.


Ada Ibu Adam yang sedang marah-marah pada Ana, namun Ana dengan santainya hanya diam saja malah dia malah dia anteng memakan sarapannya sebuah roti selai, disuguhi dengan omelan ibu Adam.


"Kau ini ya dasar perempuan biadab, kau sudah melakukan kekerasan pada anakku, kau harus segera di penjara kau tak boleh enak-enaknya seperti ini, lihat lah Inara kakak kesayanganmu, dia telah melukai mantan suamimu. Apakah kau akan diam saja dengan kelakuannya, marahi dia kau sungguh tak bisa menegakan keadilan, kalian berdua sama saja "


Inara yang diteriaki seperti itu binggung, ada apa ini sebenarnya mengapa ibu Adam marah marah, dan menyuruhnya untuk membela Adam memangnya ada apa dengan Adam sampai sampai dirinya harus membelanya aneh aneh saja deh.


Setelah Ana beres memakan rotinya sampai habis dia menepuk bahu Ibunya Adam dan sedikit meremasnya " Apakah ibu sudah selesai berbicaranya. Bolehkah aku pergi bekerja rasanya aku pusing mendengarkan ocehan ibu yang tak bermutu dan tak ada gunannya, apa sudah selesai berpidato didepan rumahku, apakah sudah bu, biar aku bisa pergi kalau aku disini terus menerus bisa bisa telingaku rusak mendengar ibu yang mengoceh tanpa ada remnya "


"Kau seperti tak pernah punya salah saja, seharusnya kau sekarang sudah mendekam dipenjara bukannya di sin, anak ku dirumah sakit kau enak enaknya berkata sepertibini, kamu harus dimana kekantor polisi, ayo Inara bantu ibu untuk memenjarakan kakak mu yang tak tau diri ini, ayo cepat Nara kau jangan diam saja tegakan keadilan, cepat Nara cepat "


Abian yang tidak mau pacaran dibawa-bawa terus dia menarik tangan Inara dan berlari dari dalam rumah, keluar menhentikan sebuah taksi dan degan cepat segera masuk dan mengusap dadanya.


"Kita mau kemana Bi, kenapa kita harus pergi begitu saja meninggalkan Ana menghadapi ibu Adam sendiri, kita harus kembali lagi, kita harus kembali lagi tak boleh pergi begitu saja Bi, ayo Bi, ayo tak boleh seperti itu bi, tak baik Bi "


"Kita harus pergi dari rumah kalau kamu terus ada di rumah nanti ibunya Adam malah terus-terusan nyalahin kamu udah kita pergi aja dari sana, jangan diam terus Nara yang ada nanti dia malah bilang kalau kamu gak berguna lah punya kakak gini lah gitu lah, udah kita gak usah ikut campur itu urusan Ana sama Ibunya Adam dan kita gak usah ikut campur"

__ADS_1


"Tapi Ana kakak aku. masa iya aku diem aja saat Ana diperlakukan seperti itu oleh ibunya Adam, apa sebenarnya yang Ana lakukan sampai ibunya Adam marah dan datang kerumah seperti itu, sepertinya selamalam ada yang terjadi, tapi kita gak tau itu apa Bi "


"Udah yakin sama aku Ana akan baik-baik saja dan bisa menghadapi ibunya Adam sendirian, kamu jangan terlibat nanti ibunya Adam malah balas dendam nya sama kamu, mending kita sekarang jalan-jalan aja dari pada mikirin itu dan kamu kebawa bawa "


"Masa sih pakai baju kayak gini kita jalan-jalan, kamu ini gimana, ini terus soal yang tadi kita lakuin itu gimana, aku takut Ana tau dan marah sama aku giman Bi, apakah kamu gak mikirin itu, "


"Udah sekarang jangan terlalu difikirin kita kan sebentar lagi akan menikah sayang, tenang aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan, ayo sekarang kamu turun kita udah sampai yu "


"Ini salon mau apa kita kesalon Bi, ada apa kita kesini "


"Sudah sayang ayo masuk "


Bian segera mengandeng tangan pacarnya dan berbicara sesuatu pada yang punya salon, Inara langsung dibawa kesebuh ruangan sedangkan Abian dia menunggu diluar sambil mrmbaca majalah.


Biar gak terlalu bosan kan menunggu pacarnya yang cantik sedang didandani didalam sana.


**


"Ayi ikut saya ke kantor polisi kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya, aku tidak mau Ana kau harus di penjara, kau sudah sangat keterlaluan membuat anak ku dirawat dan kau enak enakan dirumah, kau harus membayar tagihan rumah sakitnya juga "


"Memangnya kamu mempunyai bukti kalau aku yang telah mencelakai anakmu, kalau aku yang telah membuat anak m masuk rumah sakit. Mana buktinya aku ingin tahu .Apakah kau punya bukti sampai-sampai kau jauh-jauh kemari dan menuduh begitu saja. Mana buktinya aku minta buktinya sekarang juga, baru aku akan bertanggung jawab bila ada buktinya "


"Tidak perlu ada bukti aku yakin kau yang telah mencelakai anak ku, meskipun aku tak melihatnya tapi aku yakin itu kau, karena Adam sudah mencelakai Inara dan juga Abian, jadi pasti kau yang melakukannya tak mungkin orang lain aku yakin itu "


Ibu Adam langsung gelagapan "tidak seperti itu kenapa malah Adam yang dipenjara kau yang harus dipenjara bukan Adam, jadi serahkan dirimu pada polisi sekarang "


"Terserah kau saja, sana laporkan aku, aku akan berbicara kalau sudah mengakui anaknya mencelakai dua orang sekaligus, aku tidak peduli kau akan berbicara apa, aku tak akan banyak bicara lagi, sekarang kau pergi, dan jangan ada disini lagi cepat "


"Awas saja Ana kau sudah tak sopan padaku awas saja aku akan membalaskan semuanya awas Ana "


"Ya aku akan menunggu hari pembalas itu, aku akan menunggunya "


Ana langsung masuk kedalam mobil dan meninggalkan pekarangan beserta ibu Adam yang masih mengoceh, biarkan dia seperti itu saja, nanti juga kalau udah cape pasti diam sendirikan, jadi tak usahengiraukan nenek nenek itu.


Nenek cerewet dan juga tak tau diri, dia mengetahui anaknya salah, tapi berani beraninya datang kemari dan menuntut keadilan untuk anaknya yang tak tau diri itu.


**


"Livia kau kemari " ucap Adam dengan senang, namum dirinya melihat wajah Livia di perban.


"Wajah mu kenapa Livia "


"Ini gara-gara kamu Adam kalau aja kamu gak celakain Inara dan gak buat dia sampai mati lihat akibatnya aku yang kebawa-bawa, Ana datang ke rumah dan lukain aku ngancem ngancem aku gara-gara kamu, kenapa sih kamu harus lakuin hal yang gegabah kata aku kan nanti tunggu aku malah bergerak sendiri, jadinya ginikan sial bukan "

__ADS_1


"Jadi Ana datangin kamu juga "


"Ya iyalah dia datangin aku dan ngancem ngancem aku lihat dong aku kayak gini, muka aku jadi hancur gara-gara kamu, gara-gara ulah kamu emang kamu bisa balikin wajah aku kayak semula lagi mulus lagi seperti semula. gak kan aku harus bertahun-tahun menghilangkan luka ini l, kamu biang kerok dari semua ini, sungguh aku menyesal telah mengeluarkan kamu dari penjara jika pada akhirnya seperti ini"


"Kenapa kau malah jadi marah-marah padaku, seharusnya kau berterima kasih karena aku kita bisa mencelakai mereka berdua , ya udah anggap aja ini konsekuensi yang kita dapat dari ulah kita, udahlah kamu bisakan oprasi plastik kenapa sih ribet banget jadi kamu ya "


"Ulah kita, kurasa kau saja aku tidak sama sekali ikut campur tentang kau yang menabrak mobil Inara dan Abian. Aku sama sekali tidak tahu kalau kau melakukan itu, jadi Jangan sebut kata-kata kita karena aku tidak terlibat dalam masalah itu, tapi aku malah kena getahnya kau ini sungguh laki-laki tak berguna pantas saja Inara menceraikan mu dan mempenjaraka mu. Ternyata kau hanyalah laki-laki b******* yang tak pantas untuk dilindungi apa lagi dicintai"


"Jangan membuat aku marah Livia kau sudah keterlaluan berkata seperti itu padaku. Lalu kenapa kau mengajakku kerja sama jika kau menganggapku laki-laki b******* dan tak berguna"


"Karena aku pikir kay bisa diandalkan kau lebih mengenal Inara dan bisa menghancurkannya dengan cepat, ternyata kau malah membuat masalah dan membuat Ana datang ke rumahku dan melukaiku, kalau kerja tuh yang bener dong jangan nampakin diri kalau itu emang bener kamu kesel tau gak sih aku sama kamu apa aku perlu balikin kamu lagi ke penjara"


"Jangan macam-macam ya aku tidak mau masuk penjara lagi, aku bisa mengatakan semuanya pada Inara pada Abian kalau kau telah ingin membuat mereka terpisah dan kau menikah dengan Abian, aku bisa mengatan itu semua pada mereka berdua Jadi kau jangan macam-macam padaku"


"Hah memangnya kau mempunyai bukti, mana buktinya dasar laki laki tak berguna bisannya hanya mengancam saja, apakah itu saja ancaman mu, bahkan aku sama sekali tak takut, aku tak akan mengajihmu sampai wajahku kembali seperti semula "


"Tidak bisa begitu dong Livia aku butuh uang, aku butuh makan kenapa kau begitu licik sampai melakukan itu, aku mempunyai ibu yang harus dibiayayai, setidaknya berikan aku setengah gajih ku, jangan semuanya diambil, apakah kau ingin menbuat aku mati, apakah kau ingin rencana kita berdua gagal semuanya, apakah itu yang kau mau, iya kau mau itu "


"Aku tak peduli kau may makan atau tidak, yang terpenting gajihmu aku potong semuanya, aku akan melakukan perawatan untuk wajahku dan itu sangat mahal jadi aku tak mau mengeluarkan uangku sendiri, kau yang telah membuat aky seperti ini, jadi kau harus bertanggung jawab tentang apa yang terjadi "


"Ya aku akan tanggung jawab tapi tidak seperti ini caranya, tidak dipotong semua gajihku, kau sedkitlah baik padaku, jangan keras seperti ini, kalau aku kerja ditempat lain tak akan ada yang menerimaku, Abian sudah membeklis namaku disetiap kantor tolong "


"Wahh bagus sekali kenapa aku tak mengetahuinya " Livia langsung pergi dari ruangan Adam namun berbarengan dengan ibu Adam yang membuka pintu.


"Livi kau disini, wajahmu kenapa, kenapa diperban seperti itu, apa ada yang terjadi padamu "


"Kamu tidak usah seperti tidak tahu apa-apa, kamu tahu semuanya kalau aku diserang oleh Ana, ini gara-gara anak kamu dasar ibu dan anak sama saja gila kalian berdua ini, aku bodoh telah memberikan kalian berdua harta. Seharusnya dari awal aku tidak memberikan itu"


"Kau mengapa marah marah pada ibu, seharusnya kau tadi ikut dengan ibu berbicara pada Ana dan membicarakannya padanya, bagaimana apakah kau mau kita berdua harus ke sana dan buat Ana menyesal ya, wajah kamu kan rusak kita minta tanggung jawab sama dia ini gara-gara dia kan"


"Aku tidak akan sudi berhadapan lagi dengan Ana kau saja sana yang berbicara padanya, aku akan meminta pertanggung jawaban pada Adam karena ini salah Adam, semuanya gara-gara Adam kalau saja Adam tidak teledor mungkin semuanya tidak akan terjadi"


Livia langsung pergi sambil membanting pintu, ibu Adam langsung mengusap dadanya karena kaget, Livia Livia ada ada saja dia.


"Ibu dari mana kenapa tak ada "


"Ibu habis dirumah Ana dan meminta pertanggung jawaban padanya, enak saja dia diam dan dirumahnya santai santai sedangkan kau dirumah sakit "


"Kenapa ibu malah melakukannya "


"Memangnya kenapa "


"Yang ada urusannya makin panjang bu, ibu gimana sih "

__ADS_1


__ADS_2