
"Ada pa sih sama Bian, aku salah apa coba sampai marah marah, masa sih marah gara gara aku tolak, padahal aku menolaknya secara baik baik "
Saat Inara akan berjalan keruangannya tiba tiba ada yang memegang bahunya "Ana kenapa apa kau ada disini, apakah kau sekarang bekerja sama dengan kantornya Bian "
Inara mengeryitkan dahilnya, "Ana " gumam Inara.
"Iya kau Iriana, masasih kamu udah lupa aja sama aku, kemarin kan kita ketumu, ini aku Cio "
"Emm bukan aku bukan Iriana " Inara segera pergi melenggang meninggalkan Cio yang masih memanggilnya.
Cio yang binggung langsung masuk dan "sudah ku bilang jika ingin masuk ketuklah pintu apakah kau harus ku ajari lagi "
"Hey hey kenapa kau sangat kasar, ini aku Cio, siapa yang kau marahi sebenarnya "
"Sorry, gak gue gak marahin siapa siapa kok "
Cio yang masa bodo segera duduk di kursi sambil selonjoran "Kau tau aku diluar bertemu dengan Ana, apakah Iriana bekerja bersama mu, aku lihat dia masuk ruangan skertaris mu, tapi dia sama sekali tak mengenaliku, apa dia malu karena bekerja denganmu "
"Tidak itu Inara kembarannya Ana atau Iriana, mereka baru ketemu "
"Wah wah pantesan mirip banget, gila gila, apa dia sama kaya Ana, sifatnya "
"Engga dia baik dan lemah lembut, sangat berbeda dengan Ana, bahkan tak ada kesamaann dalam sikap dan sifatnya "
"Oh jadi ini ya, wanita yang sangat kamu cintai, Inara adiknya Iriana, kenapa kau tak bersama Iriana saja kan mereka sangat mirip, sama sajakan "
"Tidak meskipun mereka mirip aku hanya mencintai salah satunya tak keduanya, sudahlah kau jangan mengangguku, aku sedang bekerja. Jika ingin mengangguku jangan disini "
"Iya iya gue diem deh, gue gak akan banyak bicara "
Bian kembali lagi fokus, mengerkan semua tugasnya namun entah kenapa fikirannya terus saja tertuju kepada Inara, rasa bersalah karena sudah memarahi Inara. Tapi tidak tidak jangan ada rasa bersalah, harus tahan agar dirinya cepat cepat lupa dengan Inara.
"Hay semuanya " teriak seorang perempuan sambil berjalan kearah Bian.
"Ngapain kamu kesini Livia, saya lagi kerja " jawab Bian sambil melepaskan tangan Livia yang memeluknya dari belakang.
"Tidak aku tidak akan melepaskan mu, aku kangen banget sama kamu "
"Livia jangan buat aku marah"
__ADS_1
"Baiklah baik, ayo kita makan, apakah kau tak lapar ayo cepat " sekarang menarik tangan Bian dan mengaruskan Bian berdiri, mengikutinya dengan Cio yang juga mengikuti dari belakang dan kebetulan Inara keluar dari ruangannya.
"Eh Inara mau makan ya. Ayo bareng sama kita " ajak Cio
Inara menatap Bian yang sedang berpengangan tangan dengan perempuan, yang kelihatannya mereka sangat akrab.
"Tidak terimakasih, saya duluan pak. Bu "
"Heh maksud lo apa ibu, gue belum jadi ibu ibu ya, panggil gue Nona Livia "
"Maafkan saya. Baik nona Livia saya permisi "
Inara segera pergi meninggalkan mereka semua berjalan sendirian.
"Wah menarik sekali ternyata Inara, tak seperti kakaknya Iriana " guman Cio.
"Lo ngomong apa Cio " tanya Bian yang sedikit mendengar ucapan Cio.
"Engga, gue gak ngomong apa apa, lo nya aja kali yang salah denger "
Mereka bertiga melanjutkan jalannya, pergi ke kantin dengan masih Livia yang memegang tangan Bian.
**
"Bagaimana harimu sekarang tanpa Adam manta suami mu "
Namun Inara hanya diam saja, terus saja makan tanpa menghiraukan Shinta yang bertanya padanya.
"Hemm mulai sombong ya, kau padaku, " Shinta segera mengebrak meja dan melemparkan piringnya, Inara hanya menatap Shinta saja.
Bian dan yang lainnya melihatnya namun mereka hanya diam saja tak memisahkan atau pun menolong Inara karena sudah diperlakukan tak baik oleh Shinta.
"Kenapa apakah kau marah, biasa saja matanya tak usah sinis " pancing Shinta.
Inara segera bangkit dan akan pergi namun rambutnya ditarik oleh Shinta dengan sekuat tenaga Inara berbalik dan langsung menampar Shinta.
"Apa urusanmu dengaku, aku tak menganggu hidup mu, lalu kau kenapa selalu mengusik ku, apakah kau tak punya kerjaan hah, atau kau hanya ingin mecari cari kesalahan ku saja, kau yang sudah menghancurkan rumah tanggaku, untuk kedua kalinya, jadi jangan bangga kau menjadi pelakor sungguh menyedihkan dirimu yang hanya bisa mendapatkan bekas orang lain "
Setelah mengatakan itu semua Inara pergi, Bian hanya menatapnya lalu mengalihkan pandangannya agar tak menatap Inara kembali.
__ADS_1
Inara yang melihat Bian, membuang muka langsung pergi melengos, bahkan sampai menyenggol Bian namun Bian hanya acuh saja.
"Abi, apakah kau tak akan memecat perempuan yang sudah menganggu Inara, kenapa kau diam saja diakan perempuan yang kau cintai "
"Biarkan itu sudah Biasa "
Cio yang kesal dengan kelakuan Bian, segera menyusul Nara yang sudah pergi jauh, dan Bian juga langsung pergi meninggalkan Livia sendirian "ihh Abi mau kemana, kitakan mau makan " teriak Livia.
Shinta menatap semua orang dan langsung pergi saat melihat teman temannya yang mulai mentertawakannya "dasar pelakor " celetuk salah satu karyawan, sambil melempari Shinta dengan makanan nya. Dan itu membuat yang lain juga melakukan itu. .
Namun Shinta sama sekali tak berani melawannya, langsung pergi dan membiarkan orang orang melakukan itu padannya.
**
"Inara, kau mau kemana tunggu aku " teriak Cio namun Inara terus saja berjalan tak menghiraukan panggilan itu.
Cio segera berlari dan memegang tangan Inara "ada apa pak "
"Kamu mau kemana "
"Saya akan membersihkan pakain saya, "
"Tapi itu tak akan membantu, tunggu diruanganmu, aku akan membelikannya untuk mu ya "
"Tak usah pak "
"Tidak apa, jangan sungkan denganku, aku adalah teman kakakmu, jadi kamu jangan formal gini panggil aku Cio "
"Maaf pak, itu tak sopan "
"Sudah sudah, ayo sekarang kau tunggu diruanganmu, jangan membersihkannya nanti akan jelek, maaf nanti Emm itu apa dalaman mu terlihat karena kau memakai baju putih" sambil mengaruk kepalanya.
Inara akhirnya menurut dan pergi keruangannya dengan Cio yang pergi juga untuk membelikan Inara pakaian baru, tak sengaja saat akan masuk kedalam lift bertemu dengan Bian.
,"Mau kemana kau Cio "
"Aku akan pergi membelikan pakain untuk Inara, apakah kau tak lihat, pakaian Inara sangat kotor, dan kalau pun dibersihkan itu akan membuatnya risih, dengarkan aku jika kau tak mencintainya lagi, biarkan aku sekarang yang menjaganya, kau tak usah kasar dengan dia, karena dia seorang perempuan "
"Jangan kau macam macam dekati dia "
__ADS_1
"Lah bukannya kau sudah membuangnya, berarti aku bebas akan dekat dengannya, tak ada masalahkan bahkan kau mengabaikannya tak membantunya sama sekali "
Saat Bian akan melayangkan pukulan tangannya dipegang oleh Livia, "Abi apa yang kau lakukan, "