Berbagi Suami

Berbagi Suami
Hilang dan pergi


__ADS_3

Abian memegang ujung botol itu dan menatap Ana dengan sendu, lalu beralih menatap Inara yang sudah tak bernyawa dengan tertatih tatih Abian berjalan untuk menghampiri Inara namun Livia langsung memegang tangannya Abian.


"Abi perutmu terluka. Ayo kita kerumah sakit " wajahnya sudah khawatir dengan air mata yang mengalir.


Abian segera membalikan badannya kearah Livia dan memegang pipi Livia serta mengusapnya dengan sayang "ini saatnya aku pergi, aku tak bisa bersama mu, cintamu akan aku bawa sampai mati Livia "


"Tidak tidak Jangan katakan itu Abian, kita baru saja menikah. Kenapa kau sudah berkata seperti itu jangan katakan itu dan jangan tinggalkan aku, kita sudah bersusah payah mencapai ini, jangan tinggalkan aku "


"Tidak bisa Livia waktuku sudah habis waktunya aku sekarang pergi. Pergi bersama Inara dan aku tidak bisa bersamamu sampai kapanpun itu "


Dengan perlahan Abian melepaskan cekalan tangan Livia dan berjalan kembali kearah Inara, saat sudah ada dihadapan Inara di cabutnya botol yang menancap padanya. Lalu badannya runtuh menimpa bada Inara.


Livia yang marah menatap Ana dan langsung menerjangan Ana " gara-gara kau Ana, gara-gara kau suamiku mati kalau saja aku tak meminta bantuan pada Inara untuk mendekor semua pernikahanku, mungkin saja ini takkan terjadi. Aku salah aku salah telah meminta pada Inara. Tadinya aku ingin membuat dia sakit hati tapi sekarang aku yang lebih sakit hati karena kau telah membunuh suamiku suamiku Ana "


Ana segera membalikan keadaan sekarang Livia yang ada dibawahnya "Ini adalah balasan untuk mu, karena kau telah menghancurkan kebahagian adikku, kau lihat aku pun kehilangan adiku, maka kau juga harus kehilangan suami mu, jangan mau enak nya saja. Kau rasakan bagaimana kehilangan orang yang kau cintai "


Sebelum Ana bangkit dia sudah memukul wajah Livia cukup keras, lalu beralih kearah adiknya, menyingkirkan tubuh Bian dan dengan sekuat tenaga Ana mengendong adiknya untuk pulang.


"Ayo Nara kita pulang, pasti kalau kau sudah dirumah akan sadar kembalikan, akan menjadi adiku kembali kan "


"Ana kau tidak boleh membawa Inara seperti itu, kita sudah menghubungi ambulans."


"Diam Cio, aku tak butuh ambilans aku tak butuh siapa siapa, yang aku butuh hanya adiku, hanya nyawa adiku untuk kembali tidak lebih hanya itu saja. Kau jangaj ikut campur aku tak butuh kau Cio "


Cio tak bisa lagi menahan Ana jadi membiarkannya pergi begitu saja. Selama perjalanan pulang air mata Ana tak henti hentinya mengalir, mengigat semua kebersamaannya bersama adiknya yang singkat.


"Kenapa kau tega meninggalkan ku sendiri Ara, kenapa saat kau loncat tadi kau tak membawaku sekalian, kenapa kau gegabah seperti ini, aku tidak sanggup kehilangan kamu sampai kapan pun Ara tidak aku tak sanggup "


Sekarang mereka sudah ada didepan gerbang rumah, Jack langsung menghampiri para nonannya.

__ADS_1


"Nona apa yang terjadi pada nona Ara "


Namun Ana tak menjawab pandangannya hanya lurus kedepan dan tak menghiraukan orang kepercayaannnya yanh bertanya.


"Nona Ana, sadarlah apa yang terjadi nona "


Namun tetap saja nihil, Ana langsung masuk kedalam kamarnya menutupnya cukup keras dan menguncinya.


Dibawannya Inara kedalam kamar mandi, Ana membuka seluruh pakaian Inara, membersihkam tubuh itu dan mengobati luka yang tak henti hentinya mengalirkan darah segar.


"Dulu mom sering memandikan kita seperti ini Ara, tapi sekarang kau yang aku mandikan, sebenarnya kau bisa mandi sendiri ya, namun untuk kali ini aku akan membantumu, kenapa aku dulu tak menghabiskan waktu banyak dengan mu Ara, aku malah sibuk kerja dan kerja. "


"Nah sekarang sudah selesai, ayo aku akan memakaikan gaun cantik padamu, kita tidur bersama sama ya seperti dulu kita sering tidur bersama "


Kembali Ana mengendong Aranya dan membaringaknnya ditempat tidur, memasangkan satu persatu pakainnya lalu memakaikan gaun putih yang cantik, dirinya pun sama menganti pakainnya, mengantinya dengan yang sama.


"Lihat kita sudah memakai pakaian sama, kita sudah menjadi kembar lagi seperti waktu kecil kita selalu memakai pakaian sama."


"Aku akan menyusulmu Ara tunggu aku "


Ana memotong nadinya memakai pisau buah yang selalu ada didalam kamarnya, dia tersenyuk bahagia dan pelukan pada sang adik mengendur, tak lagi sekencang tadi.


Akhir hidup kakak adik yang tragis, Ana lebih memilih mengakhiri hidupnya dari pada hidup hanya sendiri kembali, tanpa adiknya tersayang.


Jack yang baru saja berhasil membuka pintu kamar Ana sama sekali tak bergerak, dirinya melihat majikannya bersimpah darah, dengan sekuat tenaga Jack menghampiri majikannya dan duduk disamping Ana.


Mengecek detak jantung Ana yang memang sudah tak ada " nona kenapa seperti ini nonan bangun " teriak Jack


Yang lain yang mendengar teriakn Jack lantas berlari kekamar Ana dan melihat dua adik kakak ini telah meninggal dunia.

__ADS_1


"Nonaaaa " teriak bibi dengan histeris memeluk Ara dan menguncang tubuhnya.


"Apa yang kalian lakukan, Nonoa bangun nona kenapa berakhir seperti ini, kenapa bangun bangun, jangan kalian mempermainkan bibi. Bangun nona jangan sepeerti ini "


Namun tetap saja tak bangun, meskipun sudah digoyang goyangkan tubuh Inara, tetap saja tak bangun, malah mengalir darah dari kepala Inara, darah yang kembali keluar yang tadi sempat Ana obati.


"Bi sudah bi, mereka sudah tak ada, mereka sudah meninggalkan kita semua bi, sudah sudah "


"Tidak Jack tidak, kenapa ini bisa terjadi, pasti ini mimpi bangun bangun bangun "


Namun tetap saja tak ada gunanya, mereka sudah tak ada didunia ini, pergi meninggalkan semua orang, dan hanya akan menjadi sebuah kenangan saja. Kenangan kelam yang tak patut di ingat sampai kapan pun.


**


Sekarang Inara dan Iriana sedang dikebumikan, mereka di kubur dalam satu liang lahat, air mata tak henti hentinya mengalir dari setiap pelayat. Mereka semua tak menyangka, Inara dan Iriana akan mengalami kejadian setragis ini.


Mamih Abian ada disana, dia tak henti hentinya menangis, merasa bersalah atas dirinya yang sudah setuju Abian menikah Livia, bukan menikahi Inara.


Dirinya menyesal, setelah pemakaman selesai orang orang segera pergi meninggalkan peristirahatan Inara dan Iriana namun tidak dengan mamih Abian.


Dia terduduk dan menangis tersedu sedu mengusap nisan mantan calon menantunya dan kakaknya "maafkan mamih Inara maaf mamih bodoh telah merekan Abian bersama Livia, maaf seharusnya ini tak terjadi "


"Mih sudah sudah ayo kita pulang sebentar lagi akan turun hujan "


Mamih Abian hanya mengangguk saja dan sebelum pergi dirinya menciun nisan itu dan berdiri mengandengan tangan suaminya.


Tiba tiba saja hujan turun, seperti mewakili kesediahan mereka, langit pun merasakan apa yang dirasakan mereka. Kehilangan dua anak baik ini. Cio yang baru datang langsung terduduk dan memeluk nisan itu tak menghiraukan hujan yang membasahi dirinya.


"Aku terlabat menyelamatkan mu Ara, dan aku juga terlamat menyelamatkan ku Ana, kalian pergi begitu saja meninggakan duka yang mendalam untuk ku, aku menyesal telah berbaik hati membiarkan Inara bersama Abian.

__ADS_1


Cinta bisa menghancurkan segalanya, cinta bisa membuat seseorang nekat melakukan hal berbahaya, cinta tak seharusnya begini, namun ini sudah terjadi, mencintai boleh asal jangan terlalu bergantung pada cinta seseorang, karena semua itu tak akan abadi, cinta yang abadi hanya kepada Allah sang pencipta.


__ADS_2