Berbagi Suami

Berbagi Suami
Enak saja gak sama yah


__ADS_3

Cio langsung mendudukan Nana, dan dirinya langsung naik dan mengambil jaket yang tadi Nana lepaskan saat akan menolongnya.


"Bapak malah bohongin saya kenapa bapak malah bohongin saya, ternyata bapak bisa berenang "


"Maaf aku tadi bercanda aku kira kau tak akan menolongku "


"Bagaimana aku tidak menolong bapak kalau misalnya Bapak nanti kenapa napa bagaimana aku yang pasti akan disalahkan"


"Kau khawatir dengan ku "


"Tidak aku tidak khawatir dengan bapak kalau misalnya terjadi sesuatu misalnya Bapak tenggelam dan tidak ditemukan bagaimana nanti. pasti aku yang disalahkan nanti orang-orang bilang kalau aku yang membunuh bapak, bapak ini bagaimana sih jangan GR ya pak"


"Engga kok saya gak gr sama sekali "


"Sudah ah saya mau pulang "


Nana berjalan terlebih dahulu meninggalkan Cio dirinya sangat kesal dengan Cio yang melakukan itu, bagaimana kan kalau benar dia mati, nanti dirinya yang akan dipenjara lagi.


"Heyy tunggu aku Nana "


"Tau ahh nyebelin banget ah "


"Jangan marah Nana aku hanya main main saja, beneran aku hanya main main saja "


Cio langsung memberhentikan langkah Nana dan membalikan badannya, memegang bahu Nana.


"Ada apa sih pak ada apa lagi, aku ingin pulang ingin segera pulang bapak ini sudah membuat aku jantungan, aku ingin pulang tidak mau lagi disini nyebelin banget tahu gak sih pak , kalau kenapa-napa gimana saya gak bisa angkat bapak, masa saya mau gusur bapak sih, saya__"


Cio langsung mengecup bibir Nana, dan Nana hanya bisa diam saja masih kaget dengan apa yang bosnya lakukan, tiba tiba Cio kembali mengecup bibir Nana, namun untuk yang kedua kalinya Nana langsung mendorong Cio dan mendorong Cio.


Nana memegang bibirnya dan kembali menatap bosnya itu "bapak anggap saya perempuan apa "


"Maaf saya tidak sengaja, "

__ADS_1


"Saya ini bukan perempuan yang sama seperti yang selalu Bapak pakai untuk memuaskan hasrat bapak, kenapa bapak bisa melakukan itu pada saya, saya tidak sama dengan teman-teman bapak yang bisa Bapak mainkan sesuka hati. Saya sudah bilang kan saya tidak suka kalau seperti ini, tadi Bapak hanya menyuruh saya untuk menemani bapak saja yang sedang kesepian tapi kenapa akhirnya kayak gini Pak saya gak suka ya"


"Maaf maaf saya terbawa suasana saja. Tolong maafkan saya, saya tidak sengaja, saya sama sekali tidak menyamakan kamu dengan perempuan-perempuan yang suka menemani saya, saya tidak menyamakan kamu saya tidak sengaja , ayo kita pulang " sambil memegang tangan Nana


Namun Nana langsung menepisnya "saya pulang sendiri, saya tak usah bawa antarkan "


"Kamu mau pulang memakai apa, di sini tidak ada kendaraan sama sekali kamu mau jalan kaki ke rumah kamu , itu yang kamu mau kamu jalan kaki dari sini ke rumah kamu bisa mati sampai rumah"


Namun Nana sama sekali tak menjawab ucapan Cio dia berjalan saja, Cio yang kesal segera mendekati Nana dan membopongnya "ahh kepaskan saya sialan lepaskan "


Nana memukul mukul punggung Cio, namun Cio sama sekali melepaskannya meski itu sangat menyakitkan namun Cio sama sekali tak melepaskannya.


Cio segera memasukannya kedalam mobil, saat Nana akan keluar lagi, Cio mencium bibir Nana sekali lagi "diam disini jangan kemana mana dan jangan keluar lagi saya bisa melakukan hal lebih padamu selain ini "


Namun Nana yang marah langsung menonjok Cio "emangnya saja takut dengan ancaman bapak "


Cio menghembuskan nafasnya, dia langsung menutup pintu dan menguncinya, "sialan sama seperti Ana, sama kerasnya, hidung gue pasti patah, sabar Cio sabar, lo harus sabar "


Cio langsung masuk kedalam mobil dan melihat Nana yang cemberut saja, Cio segera mengambil tisue dan menyeka darah yang tiba tiba saja mengalir di hidungnya dan langsung menjalan kan mobilnya untuk segera pulang.


Nana langsung menatap Cio dan melihat hidung Cio berdarah "hidung bapak berdarah "


"Gak apa apa kok, hidung saya baik baik saja, jadi kamu bisa tenang "


"Berhenti dulu pak "


"Gak usah "


"Pak berhenti " sambil membelokan stirnya


"Kamu ini bagaimana kalau kita kecelakaan " Cio langsung memberhentikan mobilnya dan menatap Nana.


Nana langsung melepaskan tisu yang menyumbat hidung Cio"Maafkan saya. saya terlalu bersemangat untuk memukul Bapak karena bapak sudah melecehkan saya untuk ketiga kalinya"

__ADS_1


"Iya Iya saya tahu saya salah makanya kamu menghajar saya , saya sudah tahu saya juga mau minta maaf saya salah karena lakuin kayak gitu sama kamu "


Nana mengangguk "Kita tukeran aja pak biar aku aja yang nyetir tenang aku bisa kok nyetir, jadi bapak bisa tenang oke"


"Beneran bisa nih gak pernah kecelakaan kan"


"Gak pernah sih pak tapi kalau nabrak pot bunga, tong sampah dan barang-barang kecilnya sih pernah, aku kan baru belajar nyetir, aku tuh ya kalau belajar mobil kadang suka belok sini belok sana tapi beneran aku bisa kok, aku sekarang yang nyetir ya pak biar kita cepat sampai rumah"


"Gak deh biar saya aja nanti yang ada kita malah nyasar ke rumah sakit. Udah biar saya aja yang nyetir ya. Kamu duduk diam dan jangan melakukan apa-apa"


"Tapi hidung bapak bagaimana berdarah saya obati dulu ya tenang ya pak "


Nana langsung membuat kursi Cio jadi agak terlentang sampai-sampai Cio kaget dan menahan rasa kesalnya pada sang asisten yang mulai menyebalkan ini.


"Maaf pak saya tidak sengaja .Sungguh saya minta maaf ya Pak tenang rileks. Saya akan mencoba mengobati bapak"


Nana langsung menggulung kembali tisu dan menyumpalkannya ke hidung Cio.


"Nah udah kayak gini kata orang tua sih kayak gini jangan sampai darahnya tumpah-tumpah yah, diemin aja kayak gitu Pak bapaknya jangan gerak gerak yah "


"Terus sekarang siapa yang nyetir ini mobil mau jalan sendiri gitu "


"Ya udah diam dulu aja kalau misalnya jalan nanti gimana darah bapak malah makin banyak, ya udah kita diam dulu aja beberapa menit tunggu darah Bapak tuh masuk lagi tuh ke dalam tubuh"


"Emang bisa ya kayak gitu"


"Saya juga gak tahu pak bisa atau enggak ya semoga aja bisa ya , nanti kalau bapak kehabisan darah nanti mau pakai darah siapa coba kalau habis darahnya, udah diem aja deh saya masih marah sama bapak gara-gara tadi meskipun saya sudah memaafkan tapi saya tidak bisa melupakan apa yang telah Bapak lakukan sama saya"


Nana langsung membelakangi Cio dan memakai selimut itu, menutupi tubuhnya yang basah.


Cio yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, ternyata asistennya ini seperti anak kecil ya kalau sedang marah.


Soalnya dia itu kalau di kantor jutek sekali ditanya saja sulit gak jawab cuman seadanya kayak Ana deh pokoknya. Tapi aslinya kayak gini ya kayak anak kecil tapi lucu juga.

__ADS_1


Cio yang ingin segera pulang akhirnya segera membenarkan kursinya dan menyetir kembali, saat ia menengok ternyata Nana sudah tidur.


Biarkanlah anak itu tertidur nyenyak, agar tak ada yang mengoceh dan marah-marah padanya, kalau dia marah lagi hidung ku bisa hilang.


__ADS_2