
#BerbagiSuamiSeason2
#Davira Part 1
Author : Ersu Ruang Sunyi
Pernah tidak kalian jatuh cinta sedalam perasaaan? Tentu pernah iya kan? Jika belum pernah aku yakin kalian belum tahu bagaimana rasanya debar yang mematikan, ah berlebihan rasanya jika di bilang debar yang mematikan. Debar itu membuat aliran darah berjalan lebih cepat, bisa juga membuat detaknya berhenti seketika. Dan di dasar hati seperti ada kuncup-kuncup yang bermekaran, menciptakan pelangi di musim kemarau. Bahkan juga menyuguhkan senja jingga di musim penghujan.
Senja, aku menyukai senja seperti halnya aku menyukai Mas Ilham mantan suamiku, hingga kini aku masih teramat sangat menyukai senja namun tak lagi menyukai Mas Ilham.
Kini aku lebih jatuh cinta dengan teduh matanya Ayunindya bidadari kecilku yang beranjak besar.
Kini aku di sibukkan dengan berjualan berbasis online dengan merk dagang milikku sendiri, sudah setahun ini aku menghabiskan waktu dalam jualan baju, dan aku sendiri yang mendesainnya. Di bantu Risa dan Rio dalam penjualannya. Semua seakan begitu mudah tanpa ada krikil.
Ayunindya pun masuk TK yang selalu kuantar jemput, kadang juga di jemput oleh Rio.
****
"Rio, mana Ayunindya nya?" tanya ibu.
"Nindya? Bukannya sudah di jemput boleh kak Davira?"
"Kakak kamu dari tadi sibuk karena banyak orderan, kan nyuruh kamu yang jemput."
"Tidak ah, kak Davira tidak menyuruh."
Ibuku pun lari ke ruanganku dan memberi tahukan jika Ayunindya belum ada yang menjemput. Tentu itu membuatku kaget dan khawatir, saking sibuknya aku sampai lupa bilang sama Rio jika hari ini harusnya Rio lah yang menjemput Ayunindya. Tanpa pikir panjang aku langsung meraih kunci mobil di meja kerjaku dan langsung menancap gas menuju sekolahnya, sudah 4 jam lambat menjemput, bagaimana dengan keadaan Nindya, apakah masih ada temannya atau gurunya yang masih menunggu Nindya ada yang menjemput? Hatiku begitu khawatir, sangat khawatir.
Aku masuk ke halaman sekolah sudah nampak sepi, bahkan sudah tidak ada seorang pun di sana, aku menelpon Risa dan Rio jika Nindya tidak ada di sekolah, aku menelpon Bunda pengajarnya, beliau bilang semua murid sudah pada pulang semua, dan Nindya pun langsung keluar gerbang dan pas gurunya pulang pun sudah tidak ada di pintu gerbang.
__ADS_1
Ya, karena setiap kali aku menjemputnya Nindya selalu menunggu depan pintu gerbang, lalu kali ini kemana ia pergi.
Dengan khawatir aku pun mendatangi rumah Rani, barangkali Rani yang menjemputnya. Namun nihil, karena Rani pun tidak menjemputnya. Rian pun sangat marah besar di saat tahu jika Nindya hilang.
Aku hendak lapor kantor polisi, Rian dan Rani pun ingin ikut untuk lapor, di tengah perjalanan Risa menelpon agar pulang dulu untuk mengambil foto Risa, biar mudah dalam pencarian.
***
Turun dari mobil, kaki serasa tidak berpijak, bagaimana dengan keadaan Ayunindya, bagaimana jika ia di culik? Pikirkan ini sungguh berkecamuk dengan khawatiran yang ada.
Tangan meraih gagang pintu yang seolah tak bertenaga.
Terbuka.
"Prank ..," teriakan itu membuatku Tersungkur.
Senyumnya membuatku meleleh.
"Bunda, barakallah fi'umrik," ucapnya sambil memeluk.
Binar mata itu, seketika membuatku tersenyum bahagia. Ya, Ayunindya yang biasa kupanggil Nindya ternyata dia tidak hilang.
"Emm ... Nindya ngerjain Bunda ya, sampai Bundanya berasa tak berdetak," protesku sambil mencubit pipi lesungnya.
" Bunda, ada yang mau melamar Nindya, Bunda setuju tidak," canda Nindya.
Aku tersenyum mendengar perkataannya. Apa dia tahu dengan arti sebuah lamaran? Ah ... Gadis kecil itu selalu membuatku tersenyum.
"Em ... melamar? melamar itu apa?" tanyaku pada bidadari kecilku itu.
__ADS_1
"Melamar itu, nanti kalau aku menerima di lamar sama Om Alex, aku boleh manggil Ayah atau Abi kepada Om Alex ..," ucapan polosnya meruntuhkan langit-langit mataku. "Bunda mengijinkan aku kan kalau Om Alex melamarku?" tanyanya lagi.
Emm ... Siapa yang mengajarkan Nindya seperti ini? Riuh senyum dari semua orang yang ada di rumah.
"Ok, karena Ayunindya sudah ijin sama Bunda, sekarang Om mau melamar Bundanya Nindya agar nanti Nindya memanggil Om dengan panggilan Ayah atau Abi," sahut Alex, yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Apa yang mau di lakukan oleh lelaki itu? Melamarku di depan semua keluargaku.
Aku yang tadinya duduk di lantai, beranjak dari duduk dan berdiri.
Entah harus bagaimana supaya lelaki yang bernama Alex itu tidak lagi berharap denganku? Namun ia, semakin aku menjauh semakin saja berusaha mendekat.
"Bunda ... bunda mau ya, supaya Nindya punya Ayah," ucapnya, sambil meraih tanganku.
Sudah sekian lama aku tak pernah menatap wajah Alex, karena setiap kali bertemu dengannya selalu tertunduk. Namun ada debar yang aneh, debar yang menelisik hati hingga ke jantung.
"Davira, untuk ke 7089 kali aku berucap aku mencintai kamu, namun untuk pertama kalinya aku meminta ijin sama Nindya, untuk melamar kamu, maukah menikah denganku?" Alex menyodorkan sebuah cincin di kotak merah kecil.
Aku masih mematung, merasakan desir di relung qalbu.
"Bunda ... terima ya," sahut Ayunindya.
Aku mengangguk sambil menatap binar matanya Nindya.
Bersambung
20-02-20
#Fiksi #BerbagiSuamiSeason2 #Davira #ErsuRuangSunyi
__ADS_1