
Inara yang sedang fokus mengerjakan tugasnya dikagetkan dengan kedatangan Cio yang tiba tiba saja sudah ada dihadapannya, duduk manis diam sambil menatap dirinya
"Cio kamu bikin aku kaget aja sih tiba tiba udah ada disini aja"
"Aku diem loh Nara, sama sekali gak ganggu kamu diem dengan tenang tanpa ada hambatan sedikit pun "
"Ya dengan diam malahan aku jadi kaget, kamu ini suka ada ada aja, dari kapan kamu disini "
"Emm kapan ya, baru tadi kok, aku tuh mau tanya kamu tapi kamunya fokus terus jadi aku biarin aja sampai kamu sadar kalau aku ada disini "
"Ih kamu seharusnya kamu bilang jangan diem kaya gitu, jadi gimana jadi kita makan siang "
"Jadi dong Ara, ayo kita makan, pasti kamu udah laper deh "
"Tau aja kamu, perut aku emang udah laper yu yu yu pergi "
"Ayo " mereka berdua segera pergi, Cio tanpa sadar mengandeng tangan Inara.
Bian yang melihat ada Nara dan juga Cio yang sedang berjalan keluar segera menarik tangan Jon untuk mengumpat ditembak dan sesekali Bian menengakan kepalanya keluar untuk mengecek keadaan.
"Lagi ngapain sih bos, main tarik tarik aja "
"Ayo ikut saya, kita mata matain Inara sama Cio dia mau kemana"
"Yaelah waktu itu marah marah sama Inara, sekarang malah dikejar kejar lagi, kirain udah lupa nih sama Nara "
"Yaelah itu gue kecewa dengan sikap Nara, jadi ya gitu deh tapi sekarang sadar kalau Inara sangat penting dalam hidup gue, dan gue akan dari awal lagi untuk mengejar Inara Ayo "
Bian tanpa sadar menarik dasi Jon, dan menariknya terus menerus sampai di restoran yang Inara dan Cio datangi, dengan mengendap endap Bian masuk dan duduk tak jauh dari kursi Inara dan juga Cio, dengan masih menarik dasi Jon..
"Bos apa gak pegel, saya bukan kambing bos "bisik Jon
"Eh lupa sorey sorry "
Saat Bian sedang anteng antengnya mengawasi mereka berdua datang seorang pelayan, belum juga bicara Bian sudah mengangkat tangannya untuk membuat pelayan itu diam.
Bian segera mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya pada pelayan itu, namun baru juga pelayan itu akan pergi ditarik kembali oleh Jon.
"Mba bagi satu dong uangnya "
Pelayan itu dengan polosnya memberikan satu lebar uang itu pada Jon dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Gak apa apa ya Ara aku pesen makanan ini, soalnya tadi sebelum keruangan kamu aku pesen dulu kesini biar kamu langsung makan "
"Iya gak apa apa kok, kenapa harus bilang gitu aku suka kok "
"Yaudah sini aku potong potong dulu steaknya biar kamu langsung makan "
Inara hanya mengangguk sambil menatap Cio dan entah kenapa sekarang Cio dalam penglihatannya berubah menjadi Bian.
"Aku suapi ya Ara "
"Gak usah Cio"
"Engga pokoknya gak ada bantahan ayo buka mulut mu "
Baru juga Inara akan membuka mulutnya namun makanannya malah sudah masuk kedalam mulut orang lain.
"Lo ngapain sih Bi, ganggu aja tau "
"Gue lapar dan pengen makan nih udah 1 bulan gue gak makan berbaik hatilah sedikit Cio sama gue "
"Kalau gitu lo udah mati dong"
"Ya enggalah ini gue masih hidup sehat kok "
"Yaudah sana Ara makan lo jangan ganggu dia "
"Udah lo tenang aja Ara Ara lo ini gue yang suapi ya "
__ADS_1
Inara yang malu karena bibirnya dan bibir Bian sebentar lagi akan bersentuhan menundukan kepalanya.
Bian yang menyadari itu langsung mengangkat dagu Inara "ayo sekarang makan Ara, aku suami giung giung mobil polisi dateng ayo buka mulutmu "
Inara yang tak mau akan mengambil garpu itu namun Bian mengelengkan kepalanya dan memerintahkan Inara memakannya dengan tatapan mata tamannya, akhirnya mau tak mau Inara memakannya.
Cio yang kesal meilhat adegan itu fokus memakan makannya, saat melihat makanan Inara sudah habis Cio segera bangkit dan menarik tangan Inara.
"Ayo Ara kita pergi disini ada penganggu, seharusnya kita tak makan disini "
Inara dengan patuh mengikuti Cio yang entah akan membawanya kemana.
Sedangkan Bian hanya tersenyum senang. Jon segera beralih tempat duduk "Hebat bos hebat kau sungguh hebat, "
"Tentu siapa lagi Bian, aku akan mengambil apa yang Seharusnya menjadi miliku, aku tak akan menyerah "
"Iya deh iya yang udah gak marah nih "
**
Cio segera mendudukan Inara ditaman belakang kantor Bian dan dirinya menyusul duduk pula.
"Maaf ya semuanya jadi gagal gara gara Bian, makan siang kita jadi gagal padahal aku pengen ngobrol banyak sama kamu, tapi malah diganggu sama Bian, "
"Gak apa Apa Cio, aku gak masalah kok "
"Tapi apa boleh aku meminta untung mengulang lagi, Emm makan malam bagaimana apakah kau bisa"
"Emm sepertinya bisa, tapi jangan malam ini "
"Kenapa "
"Aku sedang banyak kerjaan dan pastinya aku akan lembur "
"Aku jemput ya "
"Gak usah Cio, aku nanti pulang sama Jack aja "
"Iya Cio "
Tiba tiba datang kembali Bian dia duduk ditengah tengah "berdua berduan terus nih. gak seru ah gak ajak ajak "
"Lo Mau ngapain lagi sih Bi, lo tadi belum puas udah ganggu "
"Santai dong Cio, gue kan cuman pengen ngobrol aja sama kalian "
"Mau gue panggilin Livia, biar lo ada temen ngobrolnya, mau gak biar lo gak ganggu gue lagi sama Ara "
"Ogah banget, lo aja sana "
"Bi coba lo terima aja Livia, siapa tau dengan ada lo dia bisa kembali pulih dan baik baik lagi seperti semula "
"Ku kalau bicara gak pernah disaring ya, ogah lo aja sana yang pacaran sama Livia "
"Kan dia sukannya sama Lo, kenapa engga "
Inara yang kesal dan hatinya panas karena pembicaraan ini segera pergi sungguh hatinya harus segera didinginkan takutnya nanti meledak lagi.
"Males, Nara kok diem aja sih "
Bian yang tak mendapatkan jawab segera menegok kebelakang dan tak ada siapa siapa disana.
"Gara gara lo Cio, Inara gak ada "
"Yang ada gara gara lo Bi, pasti dia kesel deh di anggurin, lo sih ganggu aja kenapa sih gak biarin gue tenang berdua sama Nara"
"Ya kalau gak mau ada gangguan gue, lo jangan pdkt disini, sana cari tempat romantis "
"Nah nah bener Bi makasih sarannya, bay gue balik kantor dulu"
__ADS_1
Bian yang merasa salah memukul jidatnya "dasar Bian bodoh kenapa kasih ide yang memberikan Cio peluang dasar Abi bodoh bodoh ah "
Bian yang sudah galau dengan lunglai, pergi masuk kedalam kantor, harus dengan cara apa lagi dirinya mengagalkan misi Cio yang akan mengajak Inara ketempat romantis.
**
"Ayah sampai kapan kita akan seperti ini, hidup miskin tak punya uang, aku malu yah dengan teman temanku, aku sungguh tak bisa hidup seperti ini, aku ingin membeli tas mahal ingin membeli makanan enak " cerocos ibunya Adam.
"Bu seharusnya kamu itu bersyukur, kita sudah diberikan kesehatan oleh gusti Allah, sudah diberi rumah, sudah diberikan kenyamanan kenapa kamu masih mengeluh, diluar sana masih banyak orang yang lebih kekurangan dari kita bu, seharusnya ibu bersyukur "
"Bersyukur bagaimana yah, kita ini serba kekurangan apa apa tak punya, mau makan saja sudah yah, susah, rumah kecil pakaian hanya itu itu saja, ibu pengen seperti dulu lagi yah, gak mau kaya gini, kalau aja ayah gak jual semua harta kita mungkin gak akan kaya gini jadinya "
"Bu ,kau melakukan itu agar ibu keluar dari dalam penjara, kenapa ibu sama sekali tak menghargai apa yang ayah lakukan, bukannya ibu yang ingin sangat keluar karena sudah tak kuat, lalu sekarang saat itu terjadi kenapa ibu mengeluh seharusnya ibu bisa meneriman konsekuensinya bukannya seperti ini bu"
"Iya tapi ibu tak menyangka hidup kita akan semiskin ini, ibu tak terima yah, tidak, ini gara gara Inara, dia yang sudah menghabiskan harta Adam, dia sudah menipu kita yah "
"Kamu kenapa menyalahkan Inara dia tak punya salah apa apa, seharusnya kita yang meminta maaf pada Inara karena sudah membuat hidupnya berantakan oleh anak kita, seharusnya kita mohon ampun padannya bukannya malah mengalahkannya bu "
"Oh sekarang kamu sudah berpihak pada menantu durhaka itu, seharusnya ayah membela ibu bukan menantu mu itu, pokoknya sekarang ibu akan pergi kerumah Inara dan meminta hal ibu pada Nara, dia kan sekarang orang kaya jadi tak masalahkan kalau ibu mengambil kembali uang Adam, "
"Bu kau jangan begitu, jangan membuat dirimu malu bu, aku tak suka dengan itu "
"Masa bodo, ibu akan tetap pergi kesana dan meminta hak ibu pada Inara anak pembawa sial itu "
Ibu Adam dengan tergesa gesa segera pergi tanpa mau dihentikan oleh suaminya, yang terpenting sekarang adalah uang bukan harga diri lagi.
**
Ana yang akan membawa pakainnya dahulu sebelum berangkat mengumpulkan dahulu orang orangnya anak buahnya, mereka semua sudah ada dihadapan Ana berdiri tegap menunggu Ana berbicara.
"Baiklah saya akan pergi beberapa hari keluar kota, saya minta kalian jaga rumah dengan baik, jangan sampai ada orang asih masik kemari dan dengar satu lagi jaga adiku dengan Baik, selalu awasi dan selalu laporkan apa saja yang dilakukan adiku selama aku tak ada dirumah "
"Baik Nona "serentak mereka berucap namun tiba tiba.
"Inara Inara dimana kau, keluar kau jangan bersembunyi saja "
Ana segera bergegas keluar di ikuti oleh anak buahnya dan saat Ana sudah ada dihadapan ibunya Adam, pakainnya Ana ditarik.
Anak buah Ana yang akan menyerang berhenti saat tangan Ana naik keatas untuk mereka tak ikut campur.
"Kau Inara, kembalikan uanga anak ku, uang nafkah anaku, kau sudah menghancurkan keluargaku, kau enak enak disini dan tak ingat kami sekali pun dasar kau wanita jahat wanita kurang ajar "
Ana segera melepaskan cengkraman itu sampai ibu Adam terhuyung akan jatuh namun ibunya Adam segera menangkap sang istri.
"Ya allah nak kenapa kau menjadi kasar kenapa Nara " ucap ayahnya Adam.
"Dengarkan saya, saya bukan Inara, saya Ana, apakah kau sudah gila nenek sihir sejak kapan uang nafkah di pinta lagi, apa kah kau sudah gila hah, mana ada perempuan yang mau saat menikah uang nafkahnya diminta lagi, "
"Tetap saja, Nara sudah memakai uang anak ku, berarti sekarang sudah ceraikan makannya berikan lagi uang yang sudah diberikan Adam pada adik mu itu "
"Dasar gila, tetap saja kalau orang menikah itu harus ninafkahi dan kalau pun sudah cerai tak bisa diminta lagi itu sudah kewajiban anak mu menafkahi adiku ku Saat mereka berumah tangga, "
"Kau ini sudah tua seharusnya lebih tau dari pada saya, sekarang pergi dari rumah saja, atau saya panggil polisi untuk mempenjarakan kamu kembali, saya tak main main ya dengan ucapan saya, kalau kamu ingin uang bekerja lah jangan meminta minta pada mantan menantumu, atau kau minta saja pada anakmu yang sekarang masih pendekam di penjara"
"Kau sama saja seperti Inara sama sama gila dan tak punya hati, aku tak akan tinggal diam aku akan membalaskan semua kesakitan ini aku tak terima aku sama sekali tak akan terima aku akan datang kembali"
"Baiklah baiklah nenek saya akan tunggu pembalasanmu dengan sabar, tapi jika nanti kau mati terlebih dahulu kau tunggu saya di neraka ya karena saya tak yakin kamu akan masuk surga"
Setelah mengatakan itu Ana segera melengang pergi meninggalkan rumah dengan kedua orang tua Adam yang berteriak teriak tak mau di usir dari rumah Ana.
Saat sudah diluar rumah ibunya Adam marah pada suaminya "kenapa kau diam saya ayah kenapa tak membantu ibu berbicara, kau ikut kesini namun tak ada gunanya sama sekali, seharusnya kau membenarkan apa kata kata ibu, bukannya diam saja seperti patung, kalau begitu kau jangan ikut kemari saja "
"Bu ibu hanya membuat diri ibu malu saja, seharusnya ayah tadi mengurung ibu dirumah, ibu sudah menginjak ngenjak harga diri ayah sebagai kepala keluarga, ayah dimata kakaknya Inara seperti tak punya harga diri, sedikitlah berfikir bu hidup bukan tentang uang saja, tapi juga tentang rasa malu, ibu seharusnya malu sudah melakukan hal ini, ayah tak habis fikir dengan jalan fikir ibu yang dangkal dan hanya memikir kan uang uang uang saja, "
"Ya wajar ibu hanya memikirkan uang karna memang uang segalanya dalam hidup ini, kalau tak ada uang kita tak akan bisa makan yah , jadi jangan semena mena kalau berbicara, emang ayah makan tanpa uang, semua harus dibeli yah, makanan gak akan tirun dengan tiba tiba dari langit yah "
"Ya tetap saja kau sudah membuat ayah malu, ayah tak akan mau lagi mengikuti apa kata kata ibu, silahkan sekarang ibu urus apa yang menurut ibu penting, ayah tak mau melakukan hal ini lagi, melakukan hal yang bisa membuat diri ayah rendah dihadapan orang lain "
"Silahkan, silahkan ibu tak akan mau lagi mengajak ayah, awas saja kalau ibu sudah mendapatkan uangnya ayah jangan mau dan meminta pada ibu, sana ayah pergi "
__ADS_1
"Baiklah aku pergi "
Ayah Adam pergi benar benar pergi meninggalkan istrinya sendirian.