Berbagi Suami

Berbagi Suami
Licin sekali


__ADS_3

Livia segera membaringkan tubuhnya, dia lelah dengan apa yang terjadi pada dirinya, sekarang dirinya malah jadi burunan dan harus pergi kesana kemari, sekarang harus kemana lagi setelah dari rumah Cio, dirinya gak akan mungkin kan terus terusan ada disini, lambat laun Cio akan mengetahuinya.


"Ya Tuhan kenapa aku menjadi buronan seperti ini, gara-gara rencana konyol itu aku menjadi terjebak kan, kalau saja aku tidak melakukannya mungkin ini semua tak akan terjadi. Padahal aku hanya ingin membuat Inara takut saja tapi kenapa aku bodohnya malah memasukkan pisau itu ke perut Inara. Ya ampun Livia kau ini bagaimana sih "


"Lebih baik sekarang aku mandi aja kalau anak buahnya Ana datang bagaimana, aku akan habis. Jadi sebenarnya apa yang harus aku lakukan sekarang mengapa hidup ku menjadi rumit, sangat rumit sekali ah "


Livia segera mengganti pakaiannya, lalu keluar dari dalam kamarnya dan akan mengecek. Apakah Cio mencurigainya atau tidak, kalau sampai Cio curiga yang ada habis dirinya ini di amuk oleh Cio dan juga anak buah Ana.


Bisa matikan dirinya ini, dia masih ingin hidup masih ingin melihat Abian dan masih ingin bisa hidup bersama Abian, dirinya tak akan pernah ngoyah dan akan terus mengejar Abian sampai kapan pun.


**


Cio masih berusaha menghubungi Abian dan untungnya saja kali ini Abian mengangkatnya, dirinya sungguh khawatir sekali dengan keadaan


"Bi lo di mana sih kenapa ruangan kerja lo banyak banget darah sebenarnya apa yang terjadi, dan semua orang di sana pingsan ada apa sih sebenarnya apa yang terjadi, gue kok jadi bingung sih mereka itu semua itu beneran pingsan atau gimana gue tadi langsung pulang gue takut"


"Di kantor gue ada sebuah kejadian Cio lu pasti bakal kaget, gue sampai sekarang masih belum percaya kalau semua ini bisa terjadi "


"Gue aik-baik aja kok gue gak kenapa-napa. Emangnya ada apa, apa yang terjadi dan di ruangan lo itu darah siapa, lu juga gak apa-apa kan tadi gue di kamar mandi dan saat gue buka pintu semuanya kok udah pada pingsan, gue bingung sebenarnya apa yang terjadi dan dari tadi gue telepon lo, lo gak angakat angkat, gue makin khawatir "


"Inara udah ditusuk Cio, dia sekarang ada dirumah sakit sekarang gue masih nunggu dia "


"Apa ditusuk sama siapa lu yang bener ini gak bohongan kan ini beneran kan, baru aja tadi ngobrol sama Inara, masa udah kayak gini aja, kejadian kayak gini, dia tadi baik baik aja gak apa apa, kenapa sekarang tiba tiba ada dirumah sakit, berarti darah tadi adalah darah Inara "


"Iya gue beneran gue gak bohong, buat apa gue bohong tentang keadaan Inara, gue takut banget Inara gak selamat gue takut Cio. Gue gak siap buat ditinggalin sama dia dan sampai kapanpun gue gak akan pernah siap buat ditinggalin sama Inara, gue harus gimana apa yang harus gue lakuin sekarang Cio apa, gue buntu banget "


"Hei kenapa lu jadi berbicara kayak gitu, lo yakin dong kalau lo bisa hadapi semua ini dan lo harus yakin juga kalau inara itu kuat dia pasti kuat lo harus bisa dong hadapi semua ini, jangan bicara yang enggak enggak ah gue gak suka, pokoknya lo harus hati hati dengan kata kata lo, sekarang lo sebutin dimana alamat rumah sakitnya gue sekarang kesana "

__ADS_1


"Nanti gue kirim alamatnya, tapi lo harus hati-hati pembunuh ini adalah orang deket, yang selalu ada disekeliling kita, bahkan lo akan kaget kalau denger siapa orang itu "


"Hah maksudnya orang dekat kita sendiri siapa emang, siapa yang bunuhin Nara. Maksudnya yang udah tusuk Inara dan buat dia sekarang masuk rumah sakit, siapa sih laki laki atau perempuan "


"Livia Cio, dia yang udah lakuin semua ini, dia yang lakuin itu "


"Livia lo yakin, kalau iya bener dia ada di sini dia ada di rumah gue, baru aja dia datang dan katanya dia lagi kabur dari rumah, dia bilangnya lagi beranten sama bi San sama gue "


"Ya udah lo tahan aja jangan sampai Livia kabur lo tahan perempuan itu, jangan sampai dia melarikan diri ya tolongin gue ya, jangan sampai dia kabur, dia harus habis ditangan gue, kalau gak dia harus di penjara seumur hidup "


"Ya udah gue matiin dulu ya tenang aja gue pasti akan tangkap dia, dia ada di sini kok, dia gak akan mungkin pergi, lo tenang dulu ya "


Cio segera mematikan ponselnya dan berlari kekamar tamu untuk menemui si pembunuh itu, namun saat pintu dibuka di sana kosong.


Tak ada Livia tak ada siapa-siapa, barang-barangnya pun kosong Cio segera berlari keluar rumah dan dia melihat salah satu mobilnya dibawa kabur oleh Livia.


"Hadang dia jangan sampai dia kabur, cepat hadang dia woy cepet jangan biarin dia kabur halangin halangin" teriak Cio namun Livia malah menabrak pagar rumah Cio sampai rubuh dan dia pergi melarikan diri entah ke mana dia.


Cio segera memakai mobilnya dan akan mengejar Livia namun dia sudah ketinggalan jauh, Livia sudah tidak terlihat bahkan dirinya tak bisa melihat di mana keberadaan mobilnya padahal dirinya memakai GPS di sana tapi sepertinya sudah dirusak oleh Livia, karena sudah tidak terdeteksi lagi mobilnya ada di mana. Cio langsung pergi ke alamat rumah sakit yang sudah Abian kirimkan.


"Kalau aja tadi gue tangkap Livia pasti dia udah dipenjara sialan perempuan itu, gue juga belum ungkapin atas pembunuhan ayahnya pasti ini kelakuan dia, bukan bi San yang bunuh ayahnya, gue harus temuin bi San sekarang juga gak deh gue harus temuin Abian dulu dia lebih penting"


**


" Untung aja aku keluar rumah maksudnya keluar dari kamar kalau gak aku bisa habis ditangkap sama Cio, ya ampun kenapa sih Cio harus telepon Abian. Kenapa sih pelarian gue itu gagal terus, pulang ke rumah gue diincar pergi ke rumah Cio ketahuan juga, terus gue seharusnya pergi ke mana sih, gue harus ke mana sebenarnya ternyata begini ya macam-macam sama keluarganya Ana, gue diburu sama polisi dan juga anak buahnya gue bisa mati dan gue bisa mati konyol gara-gara kelakuan ibunya Adam yang sialan "


"Sekarang gue harus pergi ke mana, ke mana lagi ke tempat apa lagi gak ada tempat yang bisa gue datengin lagi, semua udah tau muka gue pasti muka gue ada ada dimana mana, gue harus operasi plastik gitu sedangkan gue sendiri gak bawa uang banyak, yanga ada cuman buat makan aja sialan sialan sialan kenapa sih gini banget hidup gue "

__ADS_1


Livia terus saja mengerutu menjalankan mobilnya dengan tak tentu arah sama sekali, karena binggung harus pergi kemana lagi, tiba tiba saja dirinya melihat kalau didepan sana ada pemeriksaan.


"Sialan kenapa cuman nusuk Inara aja sampai pemeriksaan satu persatu mobil, lari kemana ini gila banget ini pasti kelakuan Ana, sialan kenapa sih dia harus punya kakak kayak Ana. Kenapa sih dia harus mempunyai kakak yang berkuasa banget gila gue gak bisa kemana-mana"


Livia melirik kearah kiri dan dia melihat ada hutan dengan cepat dia memasukan mobilnya kedalam sana, dan akan bersembunyi disana saja.


**


Cio sudah sampai dirumah sakit dia langsung menghampiri Abian "Gimana Livia ada kan dirumah lo " tanya Ana


"Dia kabur bawa mobil gue, malah gue udah kejar dia tapi dia udaj gak ada dan dia tinggalin mobilnya gitu aja di rumah gue, kayaknya dia tahu deh dan dengar gue saat lagi bicara sama Abian. Gue gak tahu kalau Livia itu orangnya, yang udah tusuk Inara, beneran kalau gue tahu mungkin dari awal dia datang ke rumah udah gue tangkap "


Ana mengusap wajahnya dan menghebuskan nafas beratnya, " Apa saya harus pergi ke sana nona, dan membantu pencarian Livia, "


"Tidak usah kau diam saja di sini, aku sudah menyuruh semua orang orang ku untuk mencarinya, kalau kau pergi bagaimana disini, aku takutnya dia tak bergerak sendirian, pasti ada orang yang membantunya "


"Baiklah Nona saya akan menunggu di sini. Saya tidak akan kemana-mana"


" Baiklah kau di sini saja jangan kemana mana tunggu di sini"


Cio segera menepuk bahwa Bian dan kembali duduk bersama Abian "lo emangnya kemana sampai ninggalin Inara sendirian lo kemana "


"Gue tadi mau beli obat buat dia ke Apotek, tadinya mau ke rumah sakit tapi dia gak mau dan akhirnya ya udah gue aja yang pergi ke apotek dan dia tunggu di ruangan gue buat istirahat, tiba-tiba aja dia nelpon gue dan bilang kalau ada Livia di ruangan gue, dia bawa pisau udah mau nusuk dia. Dia juga bilang kalau dia tuh ada di dalam kamar mandi tapi gue gak tahu kenapa bisa sampai gitu "


"Ya udahlah yang sabar aja pasti Livia cepet ketangkap lihat aja Ana udah kerahin semua anak buahnya buat cari Livia, gak mungkin dia bisa lepas gitu aja tenang aja pasti dia bakal ketemu dan bakal mati sama Ana "


"Gue gak peduli sama dia yang gue peduliin tuh sekarang keselamatan Inara, gue gak mau sampai dia gak selamat gue gak akan pernah siap yang ada gue biasa mati Cio gue bisa mati"

__ADS_1


"Lo yang sabar jangan kayak gitu dong. Lo percaya kalau Inara bisa selamat dan bisa baik-baik lagi sama lo, lo jangan gitu dong pasti dia selamat kok gue percaya dia pasti selamat dan gak akan terjadi apa-apa sama dia"


"Semoga aja ya"


__ADS_2