Berbagi Suami

Berbagi Suami
Menegangkan


__ADS_3

Sekarang Nara sudah pulang dan sedang membereskan semua pakaian yang dibelikan oleh Bian sungguh banyak sampai kamarnya penuh dengan pakaian, sepatu dan juga tas-tas yang banyak. Seumur umur dirinya baru sekarang memiliki barang sebanyak ini.


"Bian ini keterlaluan, lalu aku harus menyimpan dimana coba. Ini kamarku sudah seperti toko saja "


Inara kembali melipat pakain itu satu persatu, lalu disusun dikarpet dan disimpan disana dahulu, sebelum dirinya mengemasnya kembali karena sebentar lagi dirinya tak akan ada lagi disini.


"Nara, Nara kamu dimana aku sudah pulang nih cepatlah kemari " teriak Iva dari luar.


Inara yang mendengar Iva sudah pulang segera keluar dari kamar dan menemui Iva. "Iya Va ada apa "


"Ayo sini cerita, aku udah penasaran banget tuh laki brengsek kenapa bisa sampai babak belur gitu sama kamu, aku kalau ada disana pasti akan membantumu untuk menghajarnya habis-habisan kalau perlu sampai mati saja "


"Yaudah ayo sini-sini duduk " sambil mengandeng Iva dan mendudukannya dikursi ruang tamu.


"Gini, tadikan aku lagi makan sama bos aku, nah aku gak sengaja denger suara Adam sama perempuan lantas aku reflek dong liat kebelang dan ternyata itu Adam dan Shinta. Aku mengancam mereka dan akhirnya begitu lah Adam ingin menamparku "


"Kamu mengancam apa pada mereka Nara "


"Aku mengancam mereka akan dipenjara Va, aku akan mempidanakan mereka "


"Terus, kamu bakal midanain aku juga gak Nara " dengan wajah sedihnya


"Enggalah Va mana mungkin aku pindanain kamu, kamu ini ngaco "


"Hehehe ya takutnya gitu Nara "


**


"Aduh ini ada apa sama kamu Dam kok sampai babak belur begini, anak ibu masa kalah hah" heboh ibunya Adam yang baru datang.


Shinta hanya memutarkan kedua bola matanya, tanpa mau ikut campur dengan keluarga rempong ini.

__ADS_1


"Ini gara-gara pacar Inara, dia juga mau pidanain aku bu "


"Keterlaluan tuh Nara, ayo kita pulang dan beri pelajaran pada perempuan itu, berani-beraninya dia selingkuhin kamu "


Ibu Adam segera membalikan badannya dan langsung bertatapan dengan Shinta. Segera dia mendekati Shinta dan memutari tubuh Shita sampai Shinta pusing sendiri ada apa dengan ibu-ibu rempong ini .


"Kamu siapa "tanya ibu Adam dengan ketus


"Dia temen Adam bu, dia yang nolongin Adam "


"Salim dong sama saya, bukannya diem aja kaya patung gini, kirain saja kamu penampakan dirumah sakit ini "


"Bu. Jangan gitu dong sama temen Adam bukannya makasih sama dia "tegur Adam.


"Yaudah ayo kita pulang, kamu pulang aja gak usah ikut kita, punya ongkoskan kamu . Makasih udah nolong anak saya "


Shinta yang kesal segera pergi tanpa berpamitan sama sekali, sungguh keluarga Adam semuanya menyebalkan. Emangnya dirinya gak punya uang sampai ditannya punya ongkos atau engga.


"Baru tau gue ada keluarga kaya gini. Sungguh menyebakna sekali rasanya pengen gue pitesin tuh leher ibu ibu rempong " saat Shinta akan berteriak dia langsung ingat bahwa dirinya ada dirumah sakit segera dirinya meredamnya dan cepat-cepat pergi dari rumah sakit ini.


**


"Heyy kalian istri istri durhaka. Bukannya lihat suami kalian ada dirumah sakit malah ngerumpi kaya gini, punya otak gak kalian " teriak ibu mertua mereka sambil memapah Adam untuk duduk.


Iva sampai mengusap dadanya saat mendengar teriakan ibu mertuanya yang sungguh menggelegar.


"Bu ibu punya sopan santun tidak " tanya Nara sambil mengambil gelas tehnya lalu menyeruputnya dengan tenang dihadapan ibu mertuanya serta suaminya.


"Kau yang tak punya sopan santun Nara, kenapa kalian berdua bukannya kerumah sakit tengok suami mu yang sedang kena musibah, bukannya enak enak begini, anak saya menafkahi kalian bukan untuk diam seperti ini, terutama Nara kamu itu gak hamilkan pergi kerumah sakit apa susahnya"


"Begini ya ibu mertua yang baik hati serta tidak sombong, bagaimana saya harus peduli pada anak ibu kalau dianya khianati saya terus gak ada yang sudi bu, dulu aku diam sekarang aku tak akan diam bu. Apa kata ibu MENAFKAHI kamu berdua ? " Inara segeja menekankan kata menafkahi didepan mertuanya.

__ADS_1


"Ya iyalah kalau bukan dari anak saya, kalian gak akan punya uang, gak makan gak bisa beli baju pula "


"Hemmn seperti itu buu, begini biar aku luruskan semuanya pada ibu, agar ibu mengerti dan dapat mempertanyakan pada anak ibu tersayang ini, yang selalu dibangga banggakan. Aku sama sekali tak dinafkahi oleh anak ibu, setelah anak ibu menikah dengan Iva, dia hanya menganggapku sebagai seorang pelayan bukan seorang istri, jadi apakah sekarang aku harus mengurus Adam. Oh iya lupa Iva pun sama demikian selama 2 bulan dia tak dinafkahi oleh anak ibu. Jadi sekarang apakah ibu yang akan menafkahi kami berdua "


"Oh ya aku lupa satu lagi, uangnya tuh mengalir pada siapa mas kamu nafkahi siapa, apa ibu bisa menjelaskannya ? "


Ibu Adam hanya diam binggung harus menjawab apa, kenapa tiba-tiba Inara menjadi pintar seperti ini dan berani padanya.


"Kenapa gak bisa jawab, binggung ya. Aku tau jawabannya uang itu habis Adam berikan pada selingkuhan barunya "


"Siapa, kamu yang selingkuh jangan nuduh anak saya selingkuh, dasar pembual "


"Oww aku selingkuh hehehehe sangat mengejutkan, ibu kan tadi sudah bertemu dengan selingkuhan baru Adam, jadi bagaimana aku benarkan. Apa bukti ibu kalau aku selingkuh ayo tunjukan aku ingin sekali melihatnya"


"Kau ini malah memutar balikan fakta ya, apa sekarang kau menjadi wanita licik "'


"Mungkin saja, ibukan yang sudah mengajarkan aku untuk menjadi wanita licik kenapa harus bertanya lagi "


"Dam kamu cepat cerai kan Inara "


"Ohh tak usah Adam yang menceraikan aku, aku sendiri yang akan lebih dulu menceraikan anak kesayangan ibu "


"Baguslah segera lah pergi dari hidup anakku "


"Baik ibu yang tersayang, namun ingat Adam tidak akan hidup bahagia setelah kita becerai aku akan melaporkan Adam dan mempinadanakannya atas kelaluan dia sendiri. Mari kita lihat bersama-sama nantinya saat Adam hancur ibu jangan sampai melewatkannya"


"Inaraaaa kau ini "sambil mengacungkan tangannya ingin menampar Inara namun Inara segera menangkapnya lalu melepaskannya dengan kasar.


"Ibu gak akan bisa sentuh aku lagi, oh iya aku lupa ibu ingin macam-macam denganku, aku juga akan melaporkan ibu karena pernah ingin melenyapkan nyawaku, ibu telah melakukan kekerasan padaku "


"Silahkan kamu gak punya bukti "

__ADS_1


"Oke kalau ingin bukti " Inara segera mengeluarkan ponselnya lalu memutar tentang kejadian silam dimana ibunya yang menjedotkan kepalanya sampai pingsan. Dimana dirinya kedua kalinya bertemu dengan Bian.


__ADS_2