
Ciosegera mengejar Abian dan juga Inara yang sudah pergi, sedangkan Livia dia hanya tersenyum dan duduk "akhirnya berhasil juga rencanaku ini "
Livia tiba-tiba saja mengingat kembali tentang apa yang terjadi kepada Inara, jadi seperti ini ceritanya.
"Ih gimana sih Inara sekarang udah selamat, aku harus jalan kan rencana kedua. Oh ya tadi aku lihat kan Inara itu katanya alergi sama bulu kucing. Aku harus lakuin sesuatu biar Inara mati aja karena alergi "
Livia segera pergi berlari mencari kucing itu, siapa tahu kan masih ada tuh kucing, karena Cio pun tadi menyimpannya tak jauh dari tempat penginapan mereka semua.
"Pust pust kamu dimana "
" Nah akhirnya kamu ketemu, Ayo bantu aku kamu harus bisa bantu aku ya pust "
Livia membawa kucing itu ke dalam villa, lalu mengambil lap di dapur, lap untuk piring dia mengelap kucing itu menggunakan lap itu.
selalu mengelapkan sekarang tinggal di lapkan ke dalam piring sendok dan yang lainnya pula. Agar nanti Saat Inara makan bulu-bulu itu akan termakan olehnya.
Jadi dia nggak akan disalahkan karena dia tak tahu apa-apa itu kan kan ada dalam piring, dan tak ada saksi mata juga ya. Jadi semuanya aman terkendali.
Dan Kebetulan sekali, Abi menggunakan piring yang sudah dirinya lap tadi ke kucing itu, makanya dari tadi dia mengajak Abi mengobrol agar tak fokus dan mengambil piring yang sudah dirinya siapkan.
Kembali lagi pada Livia yang masih ada di dalam kamarnya ,lalu tiba-tiba saja dia ingat "aku harus ke sana. Dan aku harus pura-pura tidak tahu dan pura-pura khawatir juga "
Livia segera mengambil tasnya dan menghubungi Cio untuk tahu di mana rumah sakit yang Inara tempati.
**
" Gimana keadaan Inara "tanya Olivia yang baru saja datang.
"Dia belum sadarkan diri, dia alergi sama bulu kucing. Entah dari mana bulu kucing itu bisa ada di dekat Inara. Padahal dari tadi Irakan kah sama sekali tak memegang kucing ataupun dekat lagi dengan kucing " jelas Cio.
Sedangkan Bian dia sedang mundar mandir, takut terjadi sesuatu dengan Inara, dirinya sangat khawatir.
" Abi apakah kau bisa diam, Inara sedang ditangani dokter udahlah kamu diam "
__ADS_1
"Kamu yang diam, ini tuh benar-benar diluar nalar banget, aku bahkan sama sekali nggak lihat kucing tadi dan aku juga sama sekali udah bersihin piring yang akan aku pakai buat Inara, tapi itu dari mana bulunya dan sampai bisa ke makan sama Inara. Masa iya ada dalam bubur yang aku buat"
"Mungkin ada bulu kucing yang terbang Bi "
"kamu jangan mengada-ngada Livia, bulu kucing itu nggak mungkin terbang kalau nggak dipegang aneh aneh aja kamu ini. "
Cio yang curiga dengan Livia segera menarik tangan Livia, dan mendudukkannya di sebuah kursi yang cukup jauh dari Abi.
" Apaan sih Cio kamu tarik-tarik aku kayak gini"
"Kamu kan yang lakuin ini Livia jujur aja sama aku "
"Apaan sih Cio kamu ini nuduh aku, apa kamu punya bukti kalau aku yang lakuin Ini, aku dari tadi diam aja di kamar dan kamu juga tadi tahu kan aku ngancem ngancem kamu. Mana mungkin aku sempet harus cari cari kucing dulu, Coba kalau kamu nuduh aku Mana buktinya, aku mau sekarang Cio"
"Kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa lakuin ini. Kita bertiga yang benci sama Inara itu cuman kamu aja Livia, jadi nggak akan mungkin orang lain yang lakuin itu"
"Udah aku capek, dari pada aku dituduh kayak gini mending aku sama Abi aja dia lebih percaya sama aku dari pada kamu "
"Abi Ayo duduk, aku bilang Ayo duduk "ucap Livia sambil merik tangan Abian.
"Aku bilang enggak yang enggak Livia, kamu ini kenapa sih jangan ganggu aku kalau kamu pengen disini diam "
"Gak bisa aku gak bisa diemin kamu gitu aja kata aku duduk ya duduk Bi"teriak Livia
" Geyel banget ya kamu "sambil menghentakan tangan Livia dengan kasar.
Tiba-tiba saja dokter keluar dari ruangan Inara lalu menghampiri Abi " Nona Inara masih belum sadarkan diri tapi salah satu dari kalian bisa menunggunya sampai sadar dan kalau ada apa apa bisa panggil saya "
" Terima kasih dok "
"Cio kau bawa Livia pulang , aku akan menunggu Inara di sini ya "
"Tidak Abi aku tidak mau pulang, aku mau disini denganmu kalau tidak kau yang pulang denganku biar Cio yang menemani Inara disini "
__ADS_1
"Jangan membuat drama lagi Livia, ini di rumah sakit cepat pulang dengan Cio sekarang"
Cio yang tak mau terjadi kegaduhan akhirnya menarik Livia pergi dari rumah sakit itu, sambil membekap mulutnya. Takut nanti dia berteriak-teriak dan membuatnya malu.
Abi segera mengusap wajahnya, pusing dengan kelakuan Livia. Dia segera masuk dan melihat Nara yang terbaring tak sadarkan diri.
"Seharusnya aku tak membawamu kemari, seharusnya aku tak menyetujui pergi bersama Livia."
Abi segera duduk di kursi yang sudah disediakan, lalu mengambil salah satu tangan Inara dan menciuminya.
***
"Inara " Ana segera bangun dan dia malah melihat Leo yang ada di sampingnya.
" Bagaimana keadaan adikku Leo, bagaimana dia "
"Kau tenang saja, Abian sudah membantunya dan Inara mu itu sudah selamat Jadi kau tak usah risau. Dan sekarang kau lanjutkan misi ke 3 mu itu ya, jika kau ingin segera bertemu dengan adikmu maka cepat selesai kan semuanya "
" Yah aku akan menyelesaikan semuanya Leo sekarang kau pergi aku tak mau ada dirimu dan aku tak mau ada di dekatmu"
"Tidak mau ini apartemen baru ku kenapa tidak. Aku ada di sini "
"Ya sudah aku yang akan pergi "Ana segera bangkit dan akan pergi namun tiba-tiba saja Leo memegang tangannya
"Tolong jangan seperti itu.Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Sudah lama aku tak bersamamu. Apa kau tak menginginkanku lagi, aku akan memaafkan ap yang telah kau lakukan padaku "
Ana hanya diam tak bisa menjawab apa-apa.
"Ana kenapa diam, Ayo jawab aku. Aku memberikanmu kesempatan lagi untuk ada disampingku kembali, setelah misi ini selesai kau jawab apa jawabanmu untuk ku. Kalau tidak Zahir taruhannya bagaimana ?"
"Kamu ini selalu saja membawa teman-teman terdekat orang-orang terdekatku dalam masalah apapun , kau egois egois"
" Kenapa tidak, aku akan mendapatkan apa yang aku mau ,meskipun kau seorang pembunuh bayaran aku tidak takut sama sekali"setelah mengatakan itu lewat segera pergi dari apartemen yang ditempati oleh Ana
__ADS_1