
Happy reading
Aisyah kini berada di dalam kamar, ia malas untuk ngapa ngapain jika seperti ini apalagi martabak pesanannya tidak dibelikan oleh Abi. Ia sungguh kesal tapi tak bisa mengungkapkannya pada Abi.
Aisyah hanya memendam kesedihannya sendiri, kemudian ia mengambil ponselnya yang ada di sampingnya.
AnneBestie
Halo bestie, lama nih gak kangen kangenan sama lu. Besok ketemuan yuk.
Anda
Besok sekolah sayang.
AnneBestie
Gimana kalau saat lu pulang sekolah sekalian ajak Reva. Kangen gue sama kalian.
Anda
Boleh deh. Besok gue sama Reva tunggu di sekolahan ya.
AnneBestie
Oke siap sayang.
"Gak biasanya tu bocah ngajak dulu," gumam Aisyah menatap ponselnya yang menyala.
"Pengen martabak," gumamnya lagi.
Kemudian Aisyah memutuskan untuk tidur saja, ia malas ingin melakukan sesuatu. Mending tidurkan, tapi rasanya ia ingin menangis entah karena apa. Sisi hatinya sangat sakit saat ini.
Belum juga 5 menit Aisyah tidur, gadis itu langsung membuka matanya saat mendengar sebuah ketukan dari luar.
"Nya," panggil Bibi pada Aisyah.
"Iya Bi bentar ya," balas Aisyah.
__ADS_1
Aisyah turun dari kasur dan membuka pintu kamar itu. Ia tak mau membuat wanita tua itu capek berdiri di depan pintu saja.
Ceklek
"Ada apa ya Bi?" tanya Aisyah dengan sopan.
"Ini Nya, bibi belikan martabak. Nyonya pasti ingin makan martabak kan."
Aisyah yang memang sangat ingin martabak itu langsung senang. Tapi ia jadi sedih kala mengingat yang membelikan ini bukanlah suaminya.
"Ini bener buat Aisyah bi?" tanya Aisyah dan dianggukkan oleh Bibi.
"Bibi tadi lihat Tuan tidak membawakan apa yang Nyonya sudah pesan. Jadi bibi yang akhirnya beli. Gak apa apa kan Nya," ujar Bibi dengan senyumnya di wajah tua.
"Gak apa apa, Bi. Aisyah malah berterima kasih sama Bibi karena udah mau repot-repot beliin Aisyah martabak."
Aisyah menerima sebungkus martabak itu dengan senyum manisnya.
"Bibi tunggu sebentar ya," ucap Aisyah masuk ke dalam kamar dan mengambil uang yang ada di dalam dompetnya. Kemudian kembali lagi dan memberikan uang itu pada Bibi.
"Terima kasih sudah mau Aisyah repotin, Bi."
"Itukan uangnya Mas Abi. Ini buat bibi dari aku."
"Terima kasih Nyonya."
"Sama sama bi. Tapi panggil Aisyah, Bu aja ya. Kalau Nyonya kesannya saya itu jahat dan tua banget loh," canda Aisyah yang membuat Bibi tertawa.
"Iya Bu."
Akhirnya setalah perbincangan itu, Bibi pamit ingin ke dapur sedangkan Aisyah langsung masuk kembali ke dalam kamar karena tak sabar ingin memakan martabak yang ada di depannya ini.
"Bibi baik banget deh," gumam Aisyah membuka bungkus martabak itu dan melihat martabak yang masih hangat itu.
Saat ingin memakannya, Aisyah kembali teringat martabak ini yang membelikan bibi bukan suaminya. Padahal ia sangat ingin makan martabak dengan disuapi suaminya tapi sepertinya ia tak bisa. Saat ini Zahra harus mendapat perhatian dari Abi lebih banyak karena Zahra sedang hamil sedangkan dia apa.
"Ya Allah kenapa sesakit ini," ucap Aisyah menghapus air mata yang keluar dari mata indahnya.
__ADS_1
"Aisyah gak boleh sedih gini. Nanti Mas Abi tahu kalau kamu sedih dan buat dia kepikiran," ucapnya lagi mengambil satu potong martabak dan menyuapkan ke mulutnya.
"Enak banget ini martabak, bibi emang gak pernah salah kalau beli makanan."
Aisyah menghabiskan 5 potong martabak itu, hingga masih sisa berberapa. Aisyah keburu kenyang dengan memakan martabak manis ini.
"Alhamdulillah masih bisa kenyang," ucap Aisyah menutup martabak itu dan meletakkan di atas meja itu.
Karena mengantuk Aisyah memutuskan untuk berbaring di kasurnya itu dengan santai.
"Apa Mas Abi terlalu senang ya, hingga melupakan pesananku? Padahalkan selama ini Mas Abi gak pernah lupa jika aku pesan sesuatu. Bahkan ia rela kembali keluar hanya untuk membelikan pesananku," ucap Aisyah menatap langit langit kamarnya yang berwarna biru langit.
"Kenapa aku merasa sekarang Mas Abi berubah ya sama aku? Apa aku sudah tidak menarik lagi di mata dia?" tanya Aisyah dengan pelan. Ia berulang kali menghembuskan nafas kasarnya.
"Kadang aku berpikir apa aku ini mandul ya? Kenapa sampai sekarang aku belum juga hamil? Apa aku tidak bisa memiliki anak dari Mas Abi?" tanya Aisyah mengelus perutnya yang rata.
Pusing memikirkan hal itu, membuat Aisyah mengantuk dan mulai menutup matanya berharap sakit di hatinya nanti hilang saat ia bangun.
****
Ceklek
Abi masuk ke dalam kamar istri pertamanya dengan pelan. Setelah menemani Zahra sampai tidur tadi, Abi langsung berjalan menuju kamar atas dimana itu adalah kamarnya dengan Aisyah.
Mata Abi tertuju pada seorang yang sedang tidur di atas kasur empuk itu. Abi tersenyum tapi saat ia melihat apa yang ada di atas meja itu membuat ia jadi sadar.
"Aku melupakan pesanannya tadi? Kenapa aku bisa lupa seperti ini sih? Pasti Aisyah sedih karena aku pulang tak membawa martabak manis pesanannya."
Rasa bersalah kini kembali muncul bahkan ia sering sekali membuat salah tanpa sadar hingga membuat hati Aisyah sakit.
Ia berjalan menuju kasur dan melihat Aisyah tidur dengan nyenyak. Kedua tangannya menyentuh perutnya sendiri dengan air mata yang belum kering di pipi Aisyah.
Cups
"Maafkan aku sayang, aku benar benar lupa dengan pesanan kamu. Aku siap kalau kamu mau hukum aku," ucap Abi mengecup kening dan menghapus air Aisyah.
Abi memutuskan untuk tak ke kantor hari ini, karena ia ingin menebus kesalahannya pada Aisyah.
__ADS_1
Bersambung