Berbagi Suami

Berbagi Suami
Rencana


__ADS_3

Sekarang Inara dan juga Bian sudah ada dirumah, selama masuk kedalam apartemen tangan mereka tak pernah lepas seperti ingin menyebrang saja.


"Kamu tunggu disini ya sayang, aku mau ambil sesuatu buat kamu "


"Iya Bi aku disini "


Abian berlari kearah tempat kerjannya lalu tak lama kemudia datang kembali sambil mrmbawa kertas dan memberikannya pada Inara.


"Ini bukannya "


"Iya itu perjanjian kalau kita harus hidup seumur hidup untuk selamanya, kau harus mentandatanganinya, ayi cepat sayang aku akan mengawasi mu"


"Em kalau aku tak mau bagaimana "


"Aku akan menghukum mu, jadi ayo cepat jangan menunggu lama aku sudah membawa alat tulisnya juga kan, jadi ayo "


Inara hanya membolak baliknya kalu menyimpannya dimeja, tanpa ada niat untuk mengikuti perintah Abian.


"Kenapa kau malah membiarkannya seperti itu ayo cepat, aku menunggumu "


"Baiklah baiklah kalau kau memaksa "


Inara segera melakukan apa yang Abian mau, setelah selesai langsung memberikannya pada Abian.


"Bagus sayang, aku akan menyimpannya dengan baik, aku mandi dulu ya. kau tunggu aku "


"Iya kau sangat cerewet Abi "


**


Sekarang Livia sudah ada dirumahnya, sedang mencari sesuatu yang dirinya perlukan, mencari berkas berkas ayahnya.


"Dimana ayah menyimpan berkas berkas itu, kenapa tidak ada, apa ayah menyembunyikannya dariku, tapi kenapa harus disembunyikan seperti itu, dasar ayah kurang ajar, ini sudah direncanakan oleh ayah "


Livia keluar dari ruangan ayahnya dan langsung menghampiri bi San yang ada didapur.


"Bi San, berkas berkas penting ayah dimana "


"Hah kok tanya bibi Non "


"Ya karena bibi orang kepercayaan ayah, jadi dimana bi, ayo cepat bilang sama saya "

__ADS_1


"Saya gak tau non, saya gak tau tuan nyimepnnya dimana "


"Bohong dimana bi " sambil menguncang bahu bi San.


"Ya alloh non pusing, saya beneran gak tau tuan tidak kasih tau saya dimana berkas itu, jangan menanyakan pada saya non "


Livia melepaskan nguncangannya dan mendorong bi San sampai jatuh "awas aja kalau sampai bibi bohong sama saya, saya akan bunuh bibi langsung, saya gak main main ya bi sama ucapan saya ini, jadi bibi jangan ngumpetin apa apa dari saya "


Bi San berdiri sambil meringis karena punggungnya sakit terkena lemari "Saya jujur non, saya gak tau bapak nyimpen berkasnya dimana, seharusnya non yang lebih tau, karena non adalah anaknya, saya disini cuman pembantu jadi non jangan selalu menanyakan sesuatu yang penting pada saya "


Bi San melengos pergi, takut takut nanti nyawannya melayang oleh anak majikannya yang gangguan jiwa ini.


"Sialan dia udah mulai berani ya, ok aku akan membunuh bi San pula nanti karena sudah berani menjawab kata kataku, awas saja, kuburan mu bi San dengan majikan kesayanganmu akan satu liang lahat, awas saja. Kalian berdua tidak akan lepas dari genggamanku, lihat saja "


Livia segera pergi dari sana, dia akan melihat Adam, dan melihat bagaimana perkembangannya apa dia bisa lepas dengan cepat, karena dirinya sudah tak sabar ingin melakukan misi yang selanjutnya.


**


Inara yang ada dikamae mendengar suara peletuk peletuk, segera keluar dari kamar dan melihat Bian yang memasak dengan tutup panci menghalangi wajahnya.


"Apa perlu aku membantumu "


"Tidak sayang kau jangan membantuku, kau duduk lah biar aku yang memasak untukmu ya, aku mempunyai resep baru semoga kau menyukainya, aku tadi lihat di internet kau pasti sangat suka, aku akan memasak beberapa makanan ayo kau duduk saja nonton TV saja, cepat-cepat Jangan ganggu aku yang sedang memasak sayang biarkan kali ini aku yang masak, Masa setiap hari kamu yang memasak terus"


"Tiak sayang aku sudah bilang aku akan memasak sendiri dan memotong motongnya sendiri, kau hanya perlu duduk dan menonton TV saja aku yang akan membuat semuanya kau tenang saja pasti enak aku takan mengecewakanmu sayang"


"Baiklah aku akan duduk dan menunggumu "


Inara duduk dan menonton tv menunggu Bian yang sedang memasak, sebenarnya Inara tak menonton tv dia menatap Bian yang sedang memasak,


Bian menata semua masakannya dan menghidangkannya kemeja makan, lalu menarik Inara untuk segera duduk dan memberikannya nasi dan juga lauk pauknya.


"Ayo sayang kau cobalah "


Inara menyendoknya dan memakan satu suapan lalu tersenyum pada Abian dengan wajah yang sedikit menahan sesuatu.


"Kenapa sayang "


"Tidak ini enak "


"Tapi kenapa ekspresimu seperti itu sayang, akan aku coba ya, soalnya aku lupa tadi tak mencobannya terlebih dahulu "

__ADS_1


Bian menyomotnya dan langsung menyemburkannya "asin sekali, kenapa kau bisa menelannya sayang, ini sungguh tak enak,"


"Tidak ini enak "


"Tidak tidak kau jangan memakannya, ini aku sudah menyiapkan sayur, ayo makan makan "


"Tidak sini biar aku sendiri saja Bian tak usah disuapi "


"Tidak biar aku suapi "


Dan pre mangkoknya terjatuh dan membuat sayurnya berceceran.


"Maafkan aku Bi, aku akan mengambilnya lagi dan memakannya, sebentar aku akan membereskan pecahannya dulu "


"Jangan Nara biar aku saja yang membereskannya, kau makan saja, ini makan lah sayur mu, aku sudah menyiapkan beberapa mangkok, ayo makan "


Inara memakannya dan menuangkannya pada nasi, "bagaimana apa itu enak "


"Tentu enak, kau pun makan Bi "


Bian mengangguk dan memakan sayur yang dia buat, ini tidak terlalu parah dengan yang tadi, yang penting tidak terlalu asin meskipun tak seenak makan Inara,.


**


"Adam bagaimana apakah kau senang sebentar lagi akan keluar dari jeruji besi ini, bagaimana "


"Tentu aku senang terimakasih atas bantuannya, apakah aku boleh tau namamu "


"Tidak perlu nanti juga kau tau namaku, jadi untuk sekarang tak usah tau, satu minggu lagi kau akan bebas dan aku akan memberikan pekerjaan pertamaku padamu jadi kau harus siap siap."


"Baik nona, saya akan melakukan apapun untuk nona saya akan membantu nona "


"Baiklah bagus, segeralah masuk kembali kesana "


Livia pergi disusul dengan Adam yang masuk kembali kedalam penjara dam Sandi langsung menyambutnya dengan senyum yang mengejek.


"Lihat lah orang itu, dia akan keluar dari sini, rasannya tak seru kalau tidak main main dulu ya "


"Jangan ganggu aku sandi, aku muak dengamu, aku tak suka kau menginjak nginjak ku "


Sandi hanya mengangkat bahunya saja dan mendekati Adam sambil membawa sesuatu dari belakangnya.

__ADS_1


Sedangkan Adam dia terus saja mundur, dia sudah punya firasat kalau Sandi akan melakukan sesuatu padanya.


Dan benar saja Sandi menusukan pisau kearah Adam, Adam yang melihat darah bercucuran tak bisa berkata apa apa hanya bisa menatap darah itu mengucur.


__ADS_2