
"Dadah Bi hati hati "
Inara segera masuk kedalam rumah namun belum juga mencapai pintu sudah dihadang oleh Roger yang mukannya seperti habis di pukuli.
"Ada apa dengan wajah mu Roger, apa terjadi sesuatu"
"Em bisa kau bantu aku "
"Yah tentu aku bisa membantumu. Memangnya apa yang harus aku bantu sampai wajahmu seperti itu, maksudku sih tidak lebam seperti berdarah tapi tidak seperti darah. Gimana sih luka kamu itu aku kok jadi bingung ya"
"Udah kamu nggak usah bingung kamu panggil kakak kamu ke sini ya bilang kalau aku ini lagi babak belur nih butuh diobatin gimana caranya kamu minta dia datang ya "
"Oh iya iya iya aku mengerti kau pura-pura kan hanya untuk memancing Ana saja kan, iya aku mengerti mengerti baiklah aku akan coba membujuk Ana tapi kalau tidak bisa ya sudah kau jangan menangis atau menyalahkan aku ya"
"Baiklah baiklah tapi aku yakin kau bisa melakukannya, aku yakin kau bisa semangat nara aku butuh bantuan mu, kau pasti mau kan kakak kamu bisa menikah, kau tidak mau kan kalau kakak kamu menjadi perawan tua"
"Ya tentu aku tidak mau tapi Ana harus menikah dengan laki-laki yang tepat"
__ADS_1
"Iya aku inilah laki-laki yang tepat jadi bantu aku oke"
"Hemm baiklah "
Inara segera masuk kedalam rumah dan mengetuk pintu kamar Ana dan saat dibuka Ana sedang menonton film, Inara segera duduk disamping kakaknya.
"Ana aku tadi melihat Roger wajahnya berdarah. Apakah kau tidak mau melihatnya sepertinya dia sudah bertengkar coba kau cek dia "
Ana melihat sekilas lalu kembali lagi menonton filmnya "Apakah kau percaya padanya, itu bohong dua tadi baik baik saja lalu kenapa tiba tiba jadi seperti itu mukannya "
"Tidak aku tidak mau Ara aku tidak mau menemuinya biar kan saja dia kan punya tangan dua jadi biarkan saja dia obati sendiri"
"Ana kau tidak boleh seperti itu lebih baik kau temui saja dia kasihan. Ayo cepat temuin dia meskipun dia mempunyai tangan dua tapi tetap saja dia butuh seseorang untuk mengobatinya, cepat temui saja dia sebentar siapa tau itu memang benar"
"Hemm baiklah baiklah "
Ana segera bergegas keluar dan Inara juga sama keluar dan masuk kedalam kamarnya, sedangkan Roger yang melihat Ana segera duduk dan memegang pipinya.
__ADS_1
Roger pura pura tak melihat Ana saat Ana duduk disampingnya "jadi ada apa dengan dirimu sampai menyuruh adik ku untuk memujuku "
"Aku sama sekali tidak membujuk adikmu "
"Hemm "
Ana langsung mengelap pipi Roger "ini yang dimaksud dengan luka " Ana mengendusnya " ini bukan bau darah kau berbohong ya "
"Benarkan bohongan " Roger segera mengelapnya juga dan tersenyum pada Ana.
"Sungguh tak penting kan aku percuma datang kemari kalau bukan adiku yang menyuruhnya aku tak akan mau "
Ana langsung bangkit dan masuk lagi kedalam rumah "Ana tunggu dulu "
"Jangan mengikuti aku lebih baik kau pulang dan bersihkan wajah cemong mu, apakah kau tak malu dengan anak mu "
"Lah susah amat ya dapetin Ana pulang ah, aku harus mencari cari yang lain "
__ADS_1