Berbagi Suami

Berbagi Suami
Ingin melupakan semuanya


__ADS_3

Kita akan kembali kepenjara mrlihat bagaimana Adam yang sengsara disana. Didalam tahanan segaja lampun dimatikan semuanya, Adam yang sedang nyenyak nyenyak nya tidur tiba tiba dibangunkan oleh seseorang dan digusur.


"Lepaskan apa yang kalian lakukan" teriak Adam


"Diam kau laki laki pengecut, jangan membuat sipir bangun kau ini kenapa sih bisanya hanya berteriak teriak saja "


"Lepaskaan "teriak Adam lagi.


Lalu salah satu orang mengambil lap dan membekapkannya kedalam mulut Adam "rasain bau bau, kotor kotor suruh siapa berisik terus "


Mereka semua terus saja mengusur Adam sampai mereka sampai disuatu ruangan dan mendorong Adam sampai tersungkur, namun ditahan oleh Sandi.


Adam segera membuka penutup mulutnya itu menatap sengit kearah Sandi "adaa apa kenapa kau menatap ku seperti itu "


"Apalagi mau mu, apa hah aku sudah muak dengan permainanmu yang makin kesini makin tak seru malahan aku sama sekali tak merasakan sakit lagi, karena sering kau siksa "


"Baiklah jika ingin lebih menantang sebentar "


"Teman teman pukuli dia, jangan sampai dia mati, tapi sampai dia berdarah darah dan puas "


Mereka semua mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Sandi, mereka menendang, menonjok bahkan menginjak meludahi sampai benar benar Adam tak bisa melakukam apa apa, sampai darah bercucuran dari Adam.


"Stop ayo kita tidur, biarkan laki laki ini disini sendirian, meratapi hidupnya yang tak adil serta banyaknnya musuh, ayo cepat cepat tidur sebelum sipir mengetahuinya "


Mereka semua berhenti dan berbondong bondong meninggalkan Adam yanh sekarang sedang batuk batuk.


"Bagaimana apakah kau sudah puas laki laki pengecut, aku sudah mengabulkan keinginanmu "


"Hahaha ini belum seberapa Sandi, kenapa tak sekalian saja kau bunuh aku hah, kenapa tidak lebih baik aku mati dari pada terus bersama mu "


"Bermimpilah kau Adam bermimpilah aku tak akan pernah mengabulkan kemauanmu "


Sandi segera pergi dan meninggalkan Adam sendirian Adam yang sudah sendirian malah tersenyum lalu "Hahahahah hhahaah lucu sekali kau tuhan mempermainkan hidupku, hidupku yang sempurna kau buat menjadi neraka seperti ini "


Adam tiba tiba pingsan dan tak sadarkan diri, entah akan sampai kapan, entah akan masih hidup atau akan mati..


***


Ana yang memang sudah penasaran dengan adiknya segera masuk kedalam kamarnya dan duduk ditempat tidurnya, sedangkan sang adik hanya diam mematung sambil melihat kearah luar rumah.

__ADS_1


"Apa yang kau fikirkan apa Ara "


Inara yang kaget sampai terlonjat dan membalikan badannya kearah Ana, "Ana sejak kapan kau disini"


"Apakah kau tak melihatku, ada apa denganmu Ara "


"Entahlah. Aku juga tak tau ada apa dengan diriku ini, aku tak tau anak "


"Apakah kau tak bisa memahami dirimu sendiri, apakah kau masih memikirkan Abian yang bersama wanita "


"Entahlah, aku sudah kehilangan diriku yang dulu, mungkin saja, karena aku tak rela bila Abian didekati oleh perempuan lain, tapi sikapnya sekarang sudah berubah tak seperti Bian yang dulu "


"Apa yang bisa kau harapkan dari laki laki seperti dia yang 11 12 dengan suami Adam, apa yang harus kau banggakan dari dia apa sebutkan padaku "


"Dia baik, pengertian dan tau apa dan tidak yang aku mau, dia orangnya tak memandang fisik serta harta dia baik sekali "


"Hemm semua orang pun sama baik, tak ada yang jahat Ara, banyak laki laki yang tak memandang fisik dan juga harta, dengarkan aku, aku tak mau mendengar kau memikirkan laki laki itu, aku tak suka dan sampai kapan pun aku tak akan suka, jika kau masih berharap dengan laki laki itu, aku akan membunuh Abian "


"Kau gila Ana,"


"Memang aku gila "


***


Pagi tiba, Inara sekarang sudah ada didepan kantor seperti biasa diantar oleh Ana, dia tak pernah meninggalkan dirinya sendirian, Shinta yang lewat mentertawakan Inara.


"Nara Nara kau ini seperti anak kecil masih diantar jemput, hadeuh ada ada saja, teman kantor ku ini "


Ana yang memang kebetulan masih ada disini menatap sangar pada Shinta, sampai sampai Shinta ciut melihat kembaran Inara, berarti tumar itu benar dan Inara emang ada dua.


"Apa maksudmu, apa ada yang salah bila adiku, diantar jemput olehku, apa yang salah "


"Hemm ya tidak, aku hanya bercanda saja slow slow "


Ana segera menutup pintu mobil dan menatap kearah Shinta, memegang kerah depan Shinta dan mendorongnya kearah tembok.


"Ana Ana sudah, jangan lakukan itu jangan "


"Sudah diam Ara, kau segeralah masuk kedalam ruangamu, biarkan aku yang mengurus tikus nakal ini "

__ADS_1


"Tapi Ana "


"Apakah mulai sekarang kau akan membantahku sayang adiku, cepat patuhi perintah kakakmu ini "


Inara dengan susah payah akhirnya meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam Lift, bahkan Ana belum memulai aksinya sebelum sang adik pergi dan masuk kedalam ruangannya.


"Lepaskan aku " teriak Shinta.


"Berani sekali kau berteriak padaku, aku tak menyuruhmu berbicara atau pun melawanku, kau jangan sampai menganggu adiku lagi, kulihat kau menganggunya habis kau ditanganku, kalau pergi akan kumakan daging alot mu itu didepan matamu langsung "


"Silahkan aku tunggu tangtanganmu, aku tak akan pernah bisa membiarkan Inara hidup dengan damai, emang saja dia hidup dengan damai sedangkan aku sengsara"


"Baiklah aku terima tantanganmu, tunggu saja tanggal mainnya, aku tak akan membiarkan orang yang mengusik hidup adiku hidup dengan tenang "


Sebelum pergi Ana memberikan salam perpisahan dengan menonjok pipi Shinta dan langsung pergi meninggalkan Shinta yang terkapar kesakitan namun tak ada satu orang pun yang mau menolong Shinta.


***


Bian yang baru turun sudah disambut dengan raut wajah ibunya yang tidak bersahabat, bahkan tak menyapanya sama sekali.


"Mamih kenapa, ada apa kenapa wajahnya seperti itu "


"Mamih mau tanya, siapa perempuan itu, apa benar dia adalah pacarmu siapa dia sebenarnya "


"Mih percaya sama aku, aku sama sekali gak ada hubungan sama dia, dia itu ngaku ngaku kalau dia adalah mantanku tapi beneran aku gak pernah pacaran sama dia, mamih tau kan aku gak pernah pacaran "


"Iya mamih tau, tapi kamu seringnya mainin hati perempuan, yang akhirnya jadi beginikan, dan kamu ada apa dengan Inara kenapa seperti tak akur "


"Aku tak apa dengan Inara kami berdua baik baik saja mih, tapi aku sedang mencoba untuk melupakan dia "


"Ada apa denganmu, kenapa kau ingin melupakan dia, ibu sudah bilangkan ibu sangat ingin Inara menikah dengamu "


"Tadi dia gak mau sama Bian mih, dia gak mau "


"Kamu gak pernah denger ya, mamih bilang sabar tunggu jangan gegabah kamu ini kenapa sih gak pernah percaya sama mamih kenapa sih gak pernah mau nunggu, mamih bilang dia lagi kumpulin keberaniannya lagi untuk bisa menerima kamu , dia perempuan yang udah disakitin sama suaminya, jadi kamu temang dan tunggu dia "


"Entahlah mih, aku pusing Abi pergi dulu berangakat kerja " Abi segera menyalimi mamihnya dan pergi begitu saja.


Selama perjalanan Bian hanya bisa melamun dan melamun tak bisa berfikir dengan jernih, hatinya ingin mempertahankan Inara namun fikirannya ingin menjauhi Inara.

__ADS_1


__ADS_2