
"Nara apakah boleh aku bertanya sesuatu padamu "
"Apa itu Rani, kau ingin bertanya apa "
"Apakah kau punya sodara kandung atau kembaran "
"Tidak Rani, aku anak tunggal aku anak satu satunya "
"Apakah kau ingat sesuatu, seperti dulu kau pernah di culik, atau bagaimana gitu "
'Engga aku gak pernah diculik kok Rani, aku selalu ada disamping ibuku, ibuku dan ayahku selalu menjagaku dengan sangat baik, namun aku waktu kecil selalu dilarang main keluar harus didalam rumah terus "
"Kenapa kau tak boleh keluar "
"Kata ibu diluar sana banyak orang jahat, jadi aku harus diam selalu dirumah gak boleh kemana mana dan waktu ibu dan ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan aku bisa keluar rumah "
"Lalu sekolah bagaimana "
"Ya aku tetep sekolah, punya teman namun selalu diantar jemput oleh ayahku mereka sangat menyayangiku "
"Hemm baiklah "
"Ada apa kau bertanya itu padaku "
"Tidak aku hanya ingin tau saja bagaimana kau dulu "
"Kehidupanku sama seperti yang lainnya kok. Aku bahagia dengan orang tuaku meski didalam rumah terus menerus, aku tak pernah mempermasalahkan itu, toh aku didalam rumah juga dengan orang tuaku jadi aku tak perlu takut "
Tanpa Nara sadari dari tadi Rani sedang menelfon Ana, dan Ana mendengar semuanya. Setelah itu Ana segera mematikan ponselnya.
"aku yakin kamu Inara kembaranku adiku, aku yakin itu, kau orang yang sama dulu diculik, aku yakin sebentar lagi kita akan berkumpil dik "
"Aku akan menebus semua waktu yang belum pernah kita laluin dulu. Aku akan membantu kasusmu dengan sukses tak akan aku biarkan orang itu hidup dengan tenang "
Iriana Zharifa Wijaya adalah seorang pengacara yang juga sedang mencari sosok adiknya yang dahulu menghilang dan diculik oleh pengasuh mereka.
Mereka berdua terpisah sampai sekarang, mom dan daddy nya meninggal saat kecelakan mengejar seseorang, entah siapa dirinya tak sempat melihat orang itu, mereka juga sama suami istri meninggal ditempat.
Mom dan daddy nya bilang sudah menemukan adiknya namun tak sempat karena sebuah tragedi itu, sekarang dirinya harus mencari adiknya.
Ana segera memijat keningnya, memikirkan semua ini sungguh sangat pusing dan membuat kepalanya selalu migran.
**
Adam yang tau siatuasi sedang aman segera mencari bukti-bukti yang Inara punya bahkan Adam membuka setiap lemari namun semuanya hanya sebuah pakaian saja tak ada yang lain.
"Kau sembunyikan dimana Inara bukti itu, kau sungguh licik "
__ADS_1
Adam yang kesal segera mengacak-ngacak semua barang-barang Inara, membuang buangnya dengan sembarangan namun tak ada satu pun foto atau apa pun yang dirinya temukan.
"Aduh, kenapa nih luka makin sakit aja ya, tapi gak boleh menyerah harus temuin semua bukti itu "
"Adam kamu sedang apa dikamar Inara, kenapa berantakan seperti ini, apa kau sudah setres dan akhirnya mengacak ngacak barang orang lain, atau tidak kau akan mencuri ya Adam "
"Berisik kau Iva, jangan ikut campur, aku tak akan mungkin mencuri dirumahku sendiri apakah kau sudah gila sampai berkata seperti itu "
"Ya karena salahmu sendiri yang seperti ini, cepat kau bereskan kembali barang Inara, nanti dia pulang marah, apakah kau ingin habis oleh dia "
"Ah masa bodo, pergi jangan ganggu aku Iva, kau memecahkan konsetrasiku saja '
"Biarin aja gimana aku, kau pasti ingin mencari tanda buktikan, kau tak ingin di penjarakan "
"Itu tau sana jangan ganggu aku "
"Baiklah aku tak akan mengganggumu aku akan langsung menelfon Nara saja, oh iya berpose dong siap siap ya " cekrek Iva memfoto Adam dan langsung mengirimkannya pada Inara.
"Apa yang kau lakukan bodoh " Adam segera berjalan dengan tertatih mengejar Iva dan Iva yang memang kesulitan untuk naik kelantai atas akhirnya masuk kekamar mandi dan Adam langsung mengucinya dari luar.
"Rasakan kau, aku tak akan melepaskan mu" ucap Adam setelah masalahnya selesai Adam segera pergi kembali ke kamar Inara untuk mencari kembali bukti bukti yang ada.
Inara yang memang sudah ada didepan rumah segera masuk, namun kenapa rumah sepi dan kamarnya pintunya terbuka lebar. Inara hanya diam menatap apa yang sedang Adam lakukan, kamarnya sudah berantakan.
"Apa yang kau sedang lakukan "
"Apa aku tak boleh masuk kekamar istri ku sendiri "
"Boleh boleh saja, tapi apa perlu kau mengacak ngacak semua pakaian dan barangku, dimana sopan santun mu, emm aku tau pasti kamu mencari bukti kan untuk menghilangkannnya, jangan berharap kamu akan menemukannya. Sebentar lagi ku tunggu kau dipengadilan"
"Apa maksud mu, aku bilang aku tak mau cerai, aku tak datang kesana "
"Gak masalah kalau kamu gak dateng nanti polisi yang langsung seret kamu kesana dan juga kamu bakal langsung masuk penjara "
"Kamu gila ya, apa kamu mau hancurin karir aku, hidup aku "
"Kamu yang gila, kamu nyadar gak kalau kamu sendiri yang udah hancurin hidup aku, dan sekarang adalah pembalasannya, aku gak peduli karir kamu mau hancur atau pun kamu bakal menderita aku gak peduli, kamu aja dulu waktu nyakitin aku gak mikir-mikir dulu kan lalu sekarang kenapa aku harus memikirkan semua itu gak adil banget "
"Ya tetep aja, gimana sama keluarga aku "
"Aku gak peduli, aku sudah bulat dengan semua keputusan yang aku punya jadi kamu sama sekali gak bisa buat bujuk aku untuk tidak menuntutmu dan menceraikan mu, jadi nikmati saja hidup barumu nanti"
Inara yang samar-samar mendengar teriakan Iva segera mencari asal suara ternyata ada didalam kamar mandi "Va apa kamu didalam "
"Iya aku didalam Inara, Adam di kurung aku disini"
"Sebentar Va"
__ADS_1
Inara segera mencari kunci kamar mandi dan akhirnya ketemu, Iva segera keluar lalu mencari Adam dan setelah bertemu dengan Adam Iva langsung saja menampar pipi Adam dengan sangat keras.
"Sialan kau " maki Iva
**
Semua orang sudah pulang dari kantor, Bian yang sengaja pulang terlambat segera membereskan semua barangnya , ada orang yang harus dia beri pelajaran karena sudah berani mengancam wanitanya
Bian segera turun lalu berbelok kearah kanan, masuk kedalam sebuah ruangan dan duduk menunggu orang itu yang dia yakinin dia sedang lembur.
"Bapak kok masih disini kenapa gak pulang " tanya Shinta yang kaget melihat bosnya yang tiba-tiba ada diruangnya padahal dirinya hanya meninggalkannya kekamar air.
"Kenapa, apa aku tak boleh ada diruanganmu, ini kan kantor punyaku "
"Eh bukan gitu, maksud saya bapak ada perlu apa dengan saya "
Bian segera berdiri dan langsung berhadapan dengan Shinta mentap Shinta dari atas sampai bawah.
"Kau masih ingatkan perjanjian kita "
"Masih pak " .
"Coba kau sebutkan "
"Bapak menyuruhku untuk merayu Adam dan membuat Adam tergoda padaku, membuat dia korupsi dikantor ini, dan aku jangan sampai mendekati Inara atau pun melukainya sendikit pun apalagi sampai menyentuhnya "
"Ternyata kau masih ingat " sambil mengelilingi tubuh Shinta
"Tentu pak "
"Lalu kenapa kamu melanggar "
"Melanggar yang mana pak, saya gak pernah melanggar apapun perintah dari bapak "
"Oh jadi sekarang kamu mau pura-pura lupa hah"
"Point mana yang saya lupakan pak "
Bian segera berhenti lalu mendorong Shinta kearah tembok dan mecengkram dagu Shinta.
"Kau telah mengancam Inara, kau sudah berani melanggarnya, apa kau ingin habis ditanganku sekarang atau mau ku lenyapkan sekarang juga "
"Maafkan saja pak, saya hanya terbawa emosi, saya tak akan melakukan kesalahan kembali "
"Awas saja kalau kau terlihat menyentuh Inara, aku tak akan segan segan membunuhmu "
Bian segera melepaskan cengramannya lalu pergi meninggalkan Shinta sendirian.
__ADS_1
Untuk adam dan Inara yang akan cerai ditunggu aja ya 1 atau 2 bab lagi.