Berbagi Suami

Berbagi Suami
Marah besar


__ADS_3

Ana sudah sampai dirumah, dia sudah ada diruangan biasa yang selalu dirinya kujungi, untuk mencoba mangsa yang baru saja dia dapatkan tadi. Apakah akan lezat atau akan biasa biasa saja seperti yang waktu itu sampai sampai dirinya enggan memakannya lagi.


Ana mengeluarkan perempuan itu dari dalam freezer dan mengangkatnya menyimpan di sebuah meja "kenapa kau mau bersama ayahnya Cio dia sudah kakek kakek pasti karna uangkan, kalau saja kau tak ada disana mungkin kau masih hidup dan tak akan menjadi makanan malamku, kau begitu bodoh kau memang cantik tapi kau salah memilih jalan hidup mu "


Ana memotong daging paha perempuan itu menatapnyanya lalu membolak-balikkannya, membasuhnya dengan air dan memotong-motongnya kotak-kotak seperti daging sapi.


Setelah menyalakan kompor dan mengoseng-oseng bumbunya terlebih dahulu, dan bumbunya cukup matang Ana memasukkan daging itu menunggunya sampai matang sambil memotong-motong kaki, tangan ,kepala, semuanya Ana potong tanpa ada yang terlewat dan memasukkannya kembali ke dalam freezer.


Untuk nanti agar dirinya tak mencari lagi yang lain, cukup perempuan ini untuk stoknya mungkin, karena dirinya tak setiap hari memakan daging seperti ini, kadang kadang saja sih kalau mau itu pun.


"Mungkin kau akan tahan beberapa minggu, jika aku merasa dagingmu yang hari ini tidak enak aku akan langsung membakarmu. Tenang saja kau tak akan kesakitan lagi Oke, tapi kurasa kau tak akan pernah kesakitan karena kau sekarang sudah mati, apa yang membuat mu sakit ya kalau kau sudah mati seperti ini


Ana kembali berjalan dan memindahkan makanannya yang sudah matang, duduk sambil menatap televisi yang ada di sana memakannya dan mengunyahnya dengan perlahan, hemm cukuplah untuknya.


"Cukup enak jika dagingnya dimasak seperti ini ,jika biasanya aku memakan mentah tapi yang ini cukup enak lah sedikit manusiawi, tidak ada bedanya ternyata rasanya tapi tidak terlalu amis "


Ana langsung menghabiskan makanannya itu tanpa tersisa sedikitpun , Ana mematikan tv-nya dan berjalan keluar namun dirinya dari tadi tidak melihat sang adik keluar dari kamar.


Apakah dia sudah pulang atau jalan-jalan dulu bersama Abian, saat pintu dibuka kamar adiknya kosong tak ada siapa-siapa, Ana segera mengeluarkan ponselnya dan menghubunginya namun sama sekali tidak terhubung Ana dengan cepat segera menghampiri Jack, Abian juga sama tak mengangkatnya.


"Saat tadi pulang apakah kamu melihat Ara dan juga Abian "


"Bukannya tadi Nona menyuruhnya pulang terlebih dahulu, aku sama sekali tak melihatnya nona "


"Iya aku menyuruh mereka untuk pulang terlebih dahulu tapi Nara tidak di kamarnya, dia tidak ada aku telepon pun dia tidak aktif. Aku menelpon Abian pun sama tidak diangkat ke mana mereka berdua, tidak seperti biasannya mereka seperti ini, cepat kari mereka aku mempunyai firasat jelek, aku takut terjadi sesuatu dengan mereka "


"Saya akan menelusuri jalan pulang tadi dari rumah Cio dan saya akan menyuruh Sandi untuk mengecek ke rumah tuan Abian dan juga ke apartemennya, agae lebih cepat kan Nona, siapa tau mereka ada didua tempat itu, takutnya ponsel mereka mati "


"Baiklah cepat aku tidak mau sampai terjadi apa-apa pada Inara Adikku jangan lama, selalu kabari aku, cari mereka sampai ketemu "


"Iya Nona Saya pergi sekarang, mencari mereka berdua "


Jack langsung pergi dan dia bertemu dengan Sandi menyuruh Sandi untuk pergi ke rumah Abian dan juga ke apartemennya untuk mengecek semuanya.


Untung kan Sandi lewat, kebetulan sekali jadi dirinya tak perlu mencari Sandi dulu, orang nya sudah ada dihadapannya.

__ADS_1


**


Sedangkan Abian dan juga Inara mereka terluka, kepala mereka berdarah Abian langsung melihat keadaan sang pacar yang masih lemas mobilnya sudah mengeluarkan percikan percikan api.


Abi segera keluar dan menghampiri pintu sebelahnya dan menarik pacarnya dari dalam mobil. Tak lama kemudian mobilnya meledak. Untung saja mereka berdua sudah keluar.


Abian segera menggendong Inara keluar dari hutan itu menelusurinya dengan tubuh yang masih lemas, namun dia harus keluar jangan sampai mereka berdua mati terbakar di sini, kan di sini banyak pohon dan juga tumbuhan yang lain pasti api akan cepat merambat dan membakarnya.


"Inara bangunlah kau jangan tinggalkan aku bangun, Nara sayang jangan membuat aku khawatir setidaknya buka kedua bola matamu jangan membuatku takut, ayolah sayang jangan begini "


Abian dengan cepat berlari untuk bisa segera membawa pacarnya ke rumah sakit karena Inara sudah sangat lama tak sadarkan diri, dirinya panik sekali dengan keadaan Inara,jangan sampai terjadi apa, dirinya tak akan pernah sanggup menerinya.


Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti ternyata itu adalah Jack, Jack langsung keluar dan membantu Abian untuk memasukkan Inara ke dalam mobil.


"Ada apa tuan Abian kenapa kalian berjalan seperti ini l, mobil kalian mana" tanya Cio saat Abian sudah ada di mobil


"Aku juga tidak tahu Jack di belakang ada yang mengikuti mobil kami, tiba-tiba saja dia menabrak belakang mobil kami dan membuat aku tak konsentrasi dalam menyetir dan malah masuk ke hutan dan menabrak pohon karena itu kami begini "


"Apakah tuan mengingat warna mobil atau plat nomor mobil orang itu, agar bisa cepat dilacak kita laporkan saja dia ke kantor polisi jangan sampai orang seperti itu dilepaskan begitu saja, tak akan baik nantinya yang ada akan mencelakai tuan dan Nona lagi"


"Baiklah kalian tenang dulu ya aku akan ngabarin Noan Ana dulu pasti dia sangat khawatir dengan keadan adiknya "


"Baiklah kau kabari dulu saja kakaknya, agar dia tak khawatir "


Sambungan sudah terhubung denganAna " Kenapa bagaimana Jack, Apakah ketemu Inara dan Abian, bagaimana apakah kau mempunyai hasilnya, "


"Ya saya ketemu, tak jauh dari rumah Ciomereka kecelakaan ada yang menabrak mobilnya Nona. Sekarang saya sedang membawa mereka ke rumah sakit. Apakah anda ingin ke sini"


"Baiklah aku akan menyusul kalian ke sana. Tunggu aku tak akan kesana, aku akan melihat CCTV yang ada di jalan itu, kurasa di dekat rumah Cio banyak CCTV yang terpasang aku akan ke sana kau urus saja Inara dan juga Abian jangan sampai mereka kenapa-napa, aku mempercayakan semuanya padamu "


"Baik nona saya akan ke rumah sakit sekarang "


Setelah sambungan terputus, Jack kembali fokus melajukan mobilnya, sesekali melihat kearah belakang dan kembali fokus menyetir dan lebih mempercepat lagi laju mobilnya, agar cepat sampai rumah sakit dan mereka berdua segera di obati dan dirawat.


Semoga saja nonanya bisa mendapatkan orang itu, menampatkan orang yang telah mencelakai mereka berdua, tapi nonya tak pernah gagal pasti dia akan menemukan pelakukannya dan menghabisinya atau sekedar memeberikannta pelajaran.

__ADS_1


**


"Dari mana saja kau Adam sampai kau tidak menjemputku kau pergi ke mana, apakah kau sengaja tak menjemputku, kau inu ya tak ada gunanya sekali, menyebalkan sekali aku menunggumy cukup lama, emangnya aku patung apa "


"Maafkan aku Livia, aku tidak menjemputmu aku sedang menjalankan rencanaku sendirian tanpamu, dan akhirnya berhasil juga, hebatkan aku tanpa dirimu saja aku berhasil mengerjakannya sendiri, kau akan memberiku hadiah apa atas kemenangan kita ini ayo apa yang akan kau berikan padaku "


"Apa yang kau lakukan tanpa diriku. Apakah kau melakukan sesuatu pada Bian, apa yang kau lakukan pada dia, jangan sampai kau membunuhnya jawab aku bajingan, apa yang kau lakukan pada Abian jangan dian saja begini, ayo bicaralah jangan tersenyum seperti itu aku tak suka, sungguh sangat mrnjijikan ayo bicara sialan"


"Come on aku melakukan pada keduanya aku menabrak mobil mereka dari belakang dan mungkin saja mereka sudah mati terpanggang di dalam mobil, karena yang aku tahu, mobil mereka sudah mengeluarkan asap, yang pasti mereka sudah mati sekarang, kita tinggal tunggu saja kabarnya, pasti akan sangat menghebohkan bagaimana aku hebat sekali kan, kau harusnya memujiku bukannya malah memarahiku "


Livia yang kaget langsung menampar Adam, dan memukul mukul dada Adam dengan keras, belum puas dengan itu, Livia menendang Adam dan mendorongnya.


"Kau sudah gila kenapa kau membuat Abian pun terluka. Kenapa harus ada Abian di sana . Aku sudah bilang kan kalau aku ingin mencelakai Inara saja jangan ada Abian di sananya, kau ini bodoh atau bagaimana . Ayo kita ke sana dan cek keberadaan Abian aku tidak mau sampai kehilangan dia, aku tak mau yang ada hidupku akan hancur dasar kau bodoh, kenapa kau melakukan ini bodoh, kau bodoh sialan"


"Itu adalah kesempatan besar, tak ada Sandi, dia tidak mengikuti mereka berdua ,jadi aku menghabisinya sekalian saja l, menghabisi mereka berdua kau ini bagaimana sih kita ini akan balas dendam, kau terlalu mencitai Abian jadi seperti ini, sangat lemah sekali, seperti aku dong yang senang Inara mati, jadilah orang jahat yang baik sepetiku, sudahlah kita tak usah kesana, bagaimana kalau ada orang yang mengenalku aku tak mau ah, mending tidur aja lah "


"Kau saja yang akan balas dendam, aku tidak sama sekali akan balas dendam pada Abian. Aku hanya ingin memilikinya. Aku ingin dia menjadi pasanganku, bukan dengan cara mu yang melenyapnya seperti ini, jika kau ngin membunuh Inara bunuh saja dia sendiri, jangan sampai membawa-bawa Abian, kau ini sungguh bodoh bodoh aku marah padaku"


"Kau mengatakan aku bodoh, lalu dirimu lebih bodoh dariku karena tidak melakukannya dengan cepat lebih baik mereka mati saja dari pada mereka bahagia diatas penderitaan kita, kau ini bagaimana sih, mengataiku bodoh tapi dirimu sendiri lebih bodoh, ada ya orang sepertimu "


"Aku sungguh bodoh telah melepaskanmu dari penjara lebih baik kalau kau dipenjara saja, kalau pada akhirnya kau malah membunuh Abian. Dasar gila kau"


Livia langsung pergi dari hadapan Adam dan engan lagi melihat wajah Adam yang menyebalkan. Kenapa harus Abian kenapa. Kenapa mereka berdua harus bersama sama terus, jadinya sepeti inikan dirinya kehilangan Abian untuk selamanya.


Kalau saja Adam tak gegabah seperti ini, ini semua tak akan terjadi, semua ini tak akan terjadi, awas saja Adam, kalau memang sampai benar Abian mati dirinya sendiri yang akan menghabisi Adam s bedebah itu.


"Kenapa dia menjadi marah, seharusnya dia senang dong aku sudah melenyapkan dua orang yang menghalangi sekaligus, aku sudah puas membalaskan dendam kepada Inara dan dia juga puas sudah membalaskan kekesalannya pada Inara, lalu apa yang salah biarkan mereka mati dari pada mereka hidup dan membuat aku cemburu saja kan "


"Itu padahal kan memang kesempatan yang bagus semoga saja mereka sudah terpanggang dan besok aku akan mengunjungi kuburan mereka berdua dan mobilku tidak ditemukan oleh siapa-siapa"


Adam segera keluar dari markas mereka berdua dan pulang ke rumahnya. Tentu dengan jalan kaki karena mobilnay semua ada dirumah nya, tak ad ayang disimpan di markas.


Sedangkan di Livia dia sedang menangis tersedu-sedu sambil menjalankan mobilnya, untuk ke arah tempat kejadian.


"Kenapa harus menjadi seperti ini seharusnya aku dan Abian bahagia kenapa di harus celaka bersama Inara, Adam bodoh aku percuma mempekerjakan nya tapi dia malah seneng telah menghabiskan Abian kekasihku, dia sudah mengambil keputusan sendiri kalau tahunnya begini aku pasti akan menghalanginya, semoga saja Abian masih ada tapi aku yakin dia masih ada tak mungkin dia mati dalam kebakaran itu"

__ADS_1


__ADS_2