Berbagi Suami

Berbagi Suami
Kupersiapkan Pernikahan Suamiku


__ADS_3

Setelah hari lamaran, kupersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mas Ilham dan Sakila. Tiga bulan waktu yang cukup singkat bagiku di tengah kesibukan, untuk mengurus segalanya, mulai dari WO ( wedding organizer), catering, dll. Hari itu tak lama lagi akan tiba. Kupersiapkan juga batinku.


"Sayang, kenapa mas akhir-akhir jarang mendengar celoteh manjamu," ujar suamiku yang kala itu lagi menyeruput wedang jahe yang kubuat.


"Ah mas ini, bagaimana bisa aku bermanja padamu, sedangkan dirimu sendiri penuh dengan kesibukan," ucapku sambil menghampiri dan mencium pipi kanannya, lalu ia membalasnya dengan menjatuhkan kecupan di keningku.


"Maafkan mas-mu ini yank, karena sebuah kesibukan sampai melupakan kewajiban mas terhadapmu," ucap mas Ilham


"Yank, siang ini aku mau pergi beli buat mas kawin, bisakah kamu menemaniku untuk berbelanja ke toko emasnya, takutnya kan pilihanku tak cocok dengan seleranya Sakila," ucapku sambil tersenyum padanya.


Rumah sebesar ini terlalu sunyi untuk di tempati berdua saja, mungkin nanti jika Sakila sudah sah dinikahi oleh suamiku, akan sedikit ramai, setidaknya jika nanti mas Ilham ada kegiatan ke luar kota, aku punya sahabat untuk mengobrol.


"Aku cape banget hari ini yank, mau tiduran saja di rumah, tidak apa-apa kan kalau beli sendiri, mas yakin jika pilihanmu akan cocok buat Sakila," ucap mas Ilham sambil beranjak dari duduknya dan naik ke lantai dua menuju kamar. Ia terlalu lelah nampaknya, sehingga menolak ajakanku untuk beli maharnya.


Aku pun berlalu dari meja makan menuju taman belakang rumah, untuk sekedar melepas penat, kututup kedua bola mata, dan merasakan kedamaian di balik desir angin yang menyapa.


Aku masuk ke dalam kamar dengan sangat pelan-pelan tidak ingin kalau suamiku terbangun oleh langkahku. Untuk bersiap membeli emas/mahar pernikahan mas Ilham.


"Sayang, mas ikut mengantar kamu," ucap mas Ilham, mengagetkanku.


"Mas, kamu bangun? Langkahku terlalu kencang ya, sehingga mas terbangun," ucapku sambil mengambil tas di lemari.


"Tidak sayang, mas sudah terbangun sedari tadi, kemarilah, tolong pijat kepala mas yang sedikit pening," seru mas Ilham menarik tanganku, hingga aku terjatuh dalam pelukannya.


Cukup lama aku menatap wajah tampan itu, mata teduhnya selalu mampu mengalihkan duniaku ke dalam keindahan dunia. Ah ... aku terlalu lemah jika sudah jatuh kedalam tatapan nya.


"Mas ... mau berapa lama mendekapku seperti ini? katanya mau di pijat kepalanya," bisikku sambil memalingkan pandanganku darinya.


"Jika mas melihat wajah seorang bidadari sakit kepala mas sekalipun langsung sembuh," goda nya.


"Mas ini,"


"Sayang, maafkan mas jika mas melukai hati dan perasaanmu," ucap mas Ilham, sambil membelai kepalaku.


"Mas ini bicara apa? Mas tidak pernah sekalipun melukai perasaanku," jawabku sambil menahan bulir yang tiba-tiba tergenang di kelopak mata.


"Kenapa kamu begitu antusias menyiapkan segala kebutuhan pernikahan Mas, di tengah kebanyakan perempuan yang menentang ketika suaminya menikah lagi," tanya mas Ilham sambil menatapku lebih dalam.


"Karena aku butuh kehangatan di dalam rumah ini Mas, aku rindu suara tangis anak bayi di rumah kita, begitupun dengan Mas, pasti sudah merindukan hadirnya seorang bidadari kecil ataupun jagoan kecil kan?" ucapku.


"Tapi kan, mungkin suatu saat kita akan mendapatkan momongan dari rahim kamu juga?" ucap mas Ilham.


"Mas, jangan terlalu berharap dariku, sekarang mas persiapan saja untuk menikah dan aku akan persiapan segalanya yang tinggal 10% lagi. Karena persiapan sudah 90% nan," ucapku sambil melepas pelukan mas Ilham.


"Em ... Bidadari Mas ternyata lebih cantik jika sedikit sendu," goda mas Ilham yang menyadari ada bulir bening yang hampir terjatuh dari sudut mataku.


Ia mengusap sudut mataku dengan jempol tangannya, dan membingkai wajahku dengan kedua tangannya.


"Jangan berpura-pura tegar, jika ingin menangis, menangis lah di bahuku," lagi-lagi mas Ilham malah membuat bendunganku jebol.


"Aku mencintaimu Mas," bisikku, sambil memeluknya.


"Mas juga mencintaimu, dan tidak akan pernah berkurang rasa cinta mas sama kamu," ucap mas Ilham sambil mengecup keningku.


Siang itu aku dan Mas Ilham pergi ke toko perhiasan, memilih seperangkat emas dengan model terbaik yang ada di toko itu.


Lagi asyik memilih perhiasan ada seorang wanita menghampiri kami.


"Ilham ya? Wah, kamu punya simpanan perempuan bercadar ya di belakang Davira," ucapnya, yang membuat Mas Ilham terperangah.

__ADS_1


"Kamu, siapa kamu?" tanya mas Ilham


"Aku kakak kelas Davira, Salma?" jawabnya.


"Kak Salma?" sapa ku.


"Eh ... Kamu, kamu Davira?" tanya kak Salma yang tidak mengenaliku.


"Iya aku Davira, istrinya Mas Ilham, bukan simpanannya," ucapku sambil tertawa kecil.


"Ampun, maafkan aku ya Ilham, Davira, di kira Ilham punya simpanan lagi selain kamu, terakhir ketemu kan pas kalian menikah, dan penampilan kamu juga berubah banget," ucap kak Salma.


"Iya gak apa-apa, kami maafkan," ucapku dan mas Ilham.


Kami pun bercengkrama dengan kak Salma cukup lama, sampai nyeletuk sebuah perkataan.


"Anak kalian tidak di bawa?" tanya kak Salma.


"Kami belum punya anak kak," jawabku.


"Ya ampun, kirain sudah punya, kalian kan menikah sudah ada kali ya dua tahunan," celetuk kak Salma.


"Belum di beri kepercayaan kali kak," ucapku dengan sedikit rasa tidak nyaman.


Dan pegawai toko emas nya memberikan emas dan nota pembayarannya, dan aku pun mengeluarkan kartu Atm ku untuk membayarnya.


"Davira, hati-hati loh, takutnya nanti suami kamu cari perempuan lain jika kamu tidak bisa memberikan keturunan," bisik kak Salma di telingaku.


Entah apa yang kupikirkan saat ini, tapi, ya sudahlah, memang mas Ilham akan menikah lagi kan beberapa hari lagi.


***


Kenapa kubiarkan hati dan pikiranku terkontaminasi oleh ucapan Salma? sedangkan aku sendiri sudah mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari , jika suamiku akan menikahi perempuan lain.


Kupilih beberapa buah naga yang terlihat masih segar, dan mangga harum manis yang terlihat sudah matang. Ketika aku memilih beberapa mangga, ada sepasang suami istri yang membeli buah juga. Kulihat mereka begitu bahagia, tersenyum penuh harapan.


"Yank, aku kan mau buah itu,"


"Sayang, uang nya gak cukup, hanya cukup buat beli mangga aja,"


"Tapi Dede bayinya mau buah pir itu,"


"Aku janji, bulan depan setelah gajian aku belikan buat Dede bayi kita,"


Kudengar bisik-bisik mereka berdua yang saat itu memilih mangga juga, yang nampaknya tak lebih dari sekilo, seperti nya mereka pasangan baru yang tengah ngidam. Aku dengan gesit memasukan beberapa buah pir, mangga, buah naga, dan belimbing. Segera aku meminta penjual itu untuk menimbang buah yang terpisah dari yang sudah kupilih sebelumnya. Dan meminta penjual tersebut untuk memberikan nya kepada pasangan suami istri tersebut, setelah aku membayarnya. Setelah selesai membayar aku segera masuk ke mobil.


"Sayang, lama banget beli buahnya?" tanya Mas Ilham yang terlihat bete.


"Iya maaf yank, aku milihin buah yang bagus-bagus, jadi rada lama," jawabku.


***


Malamnya kumasukkan perhiasan buat mahar kedalam kotak, ku tata serapih mungkin. Mas Ilham menghampiri dan duduk di sampingku, menatapku penuh iba.


"Yank, Mas menikah kan seminggu lagi, kenapa kamu sudah merapikannya dari sekarang," tanya Mas Ilham.


"Gak apa-apa yank, kan kalau di rapikan dari sekarang, nanti pas hari H tidak tergesa-gesa," jawabku sambil tersenyum simpul.


"Kamu yakin, mengijinkan Sakila serumah sama kita, di sini?" tanya Mas Ilham, penuh selidik.

__ADS_1


"Iya Mas, kalau tidak tinggal di sini sama juga bohong, ya aku gak punya teman ngobrol dan curhat selain kamu dong kalau beda rumah," seruku sambil memeluk mas Ilham yang terlebih dulu mendekap tubuhku yang tidak terlalu besar ini.


"Terimakasih ya sayang, Mas beruntung banget punya istri sebaik dan secantik kamu," seru Mas Ilham, sambil mengecup keningku.


Aku pun beruntung banget karena memiliki suami sebaik dan setampan mas Ilham, walau dalam waktu dekat Mas Ilham akan membagi waktu dan hatinya, semoga perhatian dan kasih sayang mas Ilham tidak akan berkurang padaku, walau nanti Sakila sudah di nikahinya.


Selama dua tahun pernikahan, hari-hari ku selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, aku merasa menjadi wanita paling sempurna karena mas Ilham selalu menyempurnakan kebahagiaanku.


***


Hari H pernikahan Mas Ilham pun tiba, aku pun bersiap sedari subuh, karena ijab Kabul akan di laksanakan jam 8 pagi, maka kamipun harus berangkat lebih awal. Kerabat Mas Ilham dan mertuaku atau orang tua Mas Ilham pun sudah di rumah, dan orang tuaku pun baru tiba, ibu menghampiriku ke kamar.


"Davira," ibu memanggil dan memelukku.


Kulihat ibu meneteskan airmata, cuma aku pun tak ingin ikut berlarut dalam kecamuk hati.


"Umi, kenapa tidak datang kemarin sore?" sambutku sambil mencium pipinya.


"Abi mu ada urusan yang harus di selesaikan, makanya Umi sama Abi tidak bisa datang kemarin sore," jawab ibu.


"Oh, dimana Abi sekarang?" tanyaku sambil mencari keberadaan Abi.


"Davira, kamu yakin akan menghadiri pernikahan suamimu sendiri dengan perempuan lain?" cecar ibu.


"Iya Umi, aku akan menghadiri pernikahan Mas Ilham, kenapa Umi lagi-lagi bertanya hal yang sama?" tanyaku.


"Nak, sekuat apapun hati dan perasaan kamu, Umi yakin kamu pun seperti perempuan lainnya, punya hati kecil, yang mungkin akan merasa hal yang menyakitkan," seru ibu, sambil membingkai pipiku dengan kedua tangannya.


"Umi, aku ini putri Umi, Umi selalu mengajarkan tentang keikhlasan, aku ikhlas Mas Ilham menikah lagi, namun aku akan sakit hati jika Mas Ilham berzina dengan perempuan lain. Mas Ilham saat ini bukan mau berzina tapi menunaikan syari'at Agama," ucapku meyakinkan ibu, yang saat ini terlihat lebih cemas dari aku.


"Umi, tidak tahu hatimu terbuat dari apa, ketika banyak perempuan lain di luar sana menentang perempuan lain menikah dengan suaminya, tapi kamu malah mengijinkan jika suami kamu menikah dengan wanita lain," sahut ibu sambil jari tangannya mengusap pipiku.


Mas Ilham masuk ke kamar dan melihat aku dan ibu bercengkrama cukup serius, ia pun meminta ijin untuk berganti pakaiannya di dalam kamar mandi.


Aku pun bersiap untuk berganti pakaian karena sudah mandi sebelum shalat subuh, ibu pun mengobrol di ruang keluarga dengan besannya, dan kerabat lainnya.


Mas Ilham keluar dari kamar mandi sambil menghampiriku yang tengah memakai cream wajah.


"Sayang, kamu terlihat sangat cantik," ujar Mas Ilham sambil mengecup keningku.


"Mas pun terlihat sangat teramat tampan pagi ini," ucapku sambil tersenyum padanya.


"Sayang, Mas berniat membatalkan pernikahan nya," ucap mas Ilham yang membuatku terperanga.


"Mas, Mas jangan main-main semua orang menanti kedatangan Mas di rumahnya Sakila,"


"Tapi sayang, Mas sudah memiliki istri yang begitu Soleha sepertimu,"


"Mas, jangan mematahkan penantian Sakila dan keluarga nya, begitupun di sini, kamu lihat di ruang tengah sana, semua kerabat kita telah hadir untuk mengantar pernikahanmu, persiapan yang selama tiga bulan aku siapkan buat pernikahanmu pun sudah 99%. Tinggal ijab qobul nya mas," ucapku sambil menatap mata beningnya.


"Sayang, Mas berasa sudah menyakiti hati dan perasaanmu," ucap mas Ilham lirih, sambil memeluk erat.


"Mas tidak pernah menyakiti hati dan perasaanku," bisikku di telinganya.


Entah apa yang Mas Ilham pikirkan dimana ijab qobul akan di laksanakan ia malah berpikir akan membatalkan pernikahannya. Sudah terlambat bukan? jika membatalkan di waktu yang tinggal berapa jam lagi menikah?


Kuraih tangan Mas Ilham, kukecup tangannya, kudoakan langkahnya yang keluar dari kamar.


Bersambung

__ADS_1


Ruang Sunyi, 10-02-20


#CerbungBerbagiSuami #fiksi #ErsuRuangSunyi


__ADS_2