
Abian diam dibelakang rumah sakit dia masih memikirkan tentang anaknya yang belum lahir namun sudah harus meninggalkan dunia ini gara gara kelakuan Livia, kalau saja dirinya tak meninggalkan Inara mungin tak akan seperti ini.
"Maafkan ayah mu ini nak, gara gara ayah kamu harus pergi dari dunia ini, kalau saja ayah tak meninggalkan ibu mu, mungkin tak akan seperti ini, mungkin semua ini tak akan terjadi mungkin sekarang kau akan tumbuh sehat di rahim ibu mu nak maafkan ayah yang tak becus menjaga kalian berdua"
Abian hanya bisa menangis tak bisa melakukan apa apa, ditambah lagi dengan kekasihnya sekarang baru beres melakukan oprasi ditambah dengan anaknya yang meninggal.
"Aku gak bisa gini terus aku harus bangkit aku gak boleh kelihatan sedih didepan orang banyak, pokoknya aku harus terlihat baik baik saja, seperti tak terjadi apa apa saja, dan nanti saat Inara sadar aku jangan kelihatan sedih, aku harus hibur dia jangan sampai dia tau tentang kematian anak kita, pokoknya aku jangan sampai buat dia sedih lagi, gak boleh pokoknya "
Abian segera berjalan kembali kearah IGD, dia harus terlihat kuat dirinya harus terlihat baik baik saja pokoknya harus seperti itu tak boleh seperti ini.
Cio yang melihat Abian segera segera menghampirinya "lo dari mana, kemana dulu, ayo Inara udah sadar gue tadi disuruh sama mamih lo buat tungguin lo dulu disini, ayo cepet kesana yu, kasian tu orang orang pada nunggu, terutama Inara dia nunggu loh, ayo "
Abian langsung saja berlari tanpa berbicara apa apa lagi, dia sangat senang kekasihnya sudah sadarkan diri, Abian langsung saja menatap Inara yang sedang diam sambil diusap oleh kakaknya.
Mereka saling tatap dan Abian dengan perlahan menghampiri Inara, Ana masih menatapnya dengan garang, namun Abian sama sekali tak takut biarkan saja, yang terpenting dirinya bisa melihat kekasihnya, bisa memegangnya dan bisa melihat dia berbicara kembali.
"Heyy bagaimana keadaan mu apakah kau sudah baik baik saja sayang, apa yang sakit sayang ayo bicara padaku, apa yang sakit "
Inara tersenyum dan mengelengkan kepalanya "untuk saat ini tak ada yang sakit Bi " ucap Inara dengan suata serak.
__ADS_1
Abian segera mengambil air minum dan memberikannya pada Inara, tenang saja memakai sedotan. "jika ada yang sakit kau beritahu aku ya "
Inara kembali mengangguk dan Abian segera menyimpan air minumnya dengan perlaha.
**
"Kenapa Adam ada apa dengan mu, kenapa kau pulang pulang dari jalan jalan mu malah memperlihatkan muka jutek mu, muka masam mu, ada apa ini "
"Bu ibu pasti akan terkejut, Inara selamat dan dia baik baik saja, gila tidak bu kuat sekali dia, dan ibu harus tau kalau dia mengandung mengandung anaknya Abian, tapi anaknya mati gara gara Livia "
"Apa ternyata tusukan pisau saja masih bisa membuatnya hidup, hebat juga perempuan itu, sepertinya kita harus melakukan rencana baru lagi Dam, kita tidak bisa diam saja dan dia bisa mengandung, hebat hebat dia menjadi perempuan nakal ya, hamil diluar nikah "
"Yang sabar pasti dia akan ada apesnya, dia pasti akan mati ditangan kita, berarti Livia tusuknya kurang dalem, kita susun lagi rencananya, sekarang kita yang lakukan karena tak mungkin kalau Livia, dia sudah tak ada dan masih menjadi burunan, kita tak bisa mempengaruhinya lagi "
"Benar bu, akan sulit, baiklah kita fikirkan lagi ya bu rencaannya dan harus berhasil bu jangan sampai kita gagal lagi, aku gak mau ah liat dia masih hidup dan bahagai, apa lagi dia dapetin laki laki yang bisa beri dia anak gak kayak aku "
"Sabar sabar kay jangan risau pasti rencana kita kali ini akan berhasil, kita harus memikirkannya terlebih dahulu, memikirkan bagaimana mengusir orang orang yang ada disana ,agar rencana kita lancar dan tak ada kegagalan lagi "
"Akan sulit bu, pasti Inara akan dijaga 24 jam oleh Ana, oleh anak buahnya kita gak akan bisa bergerak dengan leluasa kita harus selalu hati hati, sekarang Inara bukan orang biasa dia sekarang adalah adik dari orang kayak dan orang paling di takuti pula di kota ini "
__ADS_1
"Hemm benar kau benar, memang akan sulit dan itu akan membuat kerja kita melambat sudahlah lebih baik fikirkan dulu kesembuhan mu, jadi kalau kita ketahuan kita bisa lari dengan leluasa, kalau kamunya kayak gini yang ada malah repotkan fan ketangkep "
"Hemm iya bu bener juga perkataan ibu selalu benar tak pernah ada yang keliru atau salah "
**
Sedangkan Livia dia masih ada didalam hutan, dirinya masih terjebal disini kalau misalnya keluar yang ada dirinya tertangkap "bagaimana ini, aku lapar sekali, apa yang harus aku akan , tak ada makanan sedikit pun disini, kenapa sih hidup ku menjadi seperti orang utan "
Livia segera turun dari dalam mobil dan berjalan menyusuri hutan, saat melihat pohon apel, Livia sangat senang dia memetik beberapa buah lalu memakannya dengan rakus, sangat lapar sekali, kemarin dirinya tak sempat makan sedikit pun.
Namun dirinya haus ingin minum, dimana ya menjari air minum, kembali Livia berjalan dan melihat ada sungai, dia ragu apakah meminum air itu akan baik baik saja.
"Apa aku tak akan mati bila meminum air ini, air sungai, apa aku tak akan sakit perut tapi kalau tidak begitu aku haus ingin minummm "
"Ahh boda lah yang penting aku minum, aku haus dan aku butuh air kalau aku tak minum yang ada aku dehidrasi dan mati karena tak minum "
Livia segera mengambil air itu mengunakan tangannya sebelum meminumnya dia melihat dahulu air itu dan mengendusnya, namun tak ada baunya, dengan cepat Livia meminumnya.
"Emm hampir sama layah, sama mungkin biarlah yang penting aku bisa minum, aku harus melakukan penyamaran, ya aku harus melakukan penyamaran , aku tak mungkin diam terus disini, aku tak mungkin jadi orang utan, aku harus mengantikan mobil Cio dengan mobil yang lain, aku harus bisa melarikan diri dari sini dan mengambil uangku yang ada dirumah ya aku harus melakukan itu, biarlah aku sekarang menjadi pencuri "
__ADS_1