
Abian yang sudah sampai kerumah segera dibantu untuk segera masuk kedalam kamarnya. Mamihnya yang memang menunggu anaknya pulang segera menghampiri Bian yang sedang dibantu naik oleh pak Darma.
"Ada apa ini Darma, Bian kenapa " tanya mamihnya dengan panik.
"Tuan muda mabuh nyonya, tadi pulang kerumah non Inara dan saya disuruh menjembut tuan"
"Ya alloh anak ini kebiasaan udah cepet bawa kekamarnya ya Darma "
Segera Darma memapah kembali Bian untuk masuk kedalam kamarnya dan meletakannya diatas tempat tidur, dengan masih mengigau menyebut-nyebut nama Inara.
Mamihnya segera membuka sepatu, jaket dan membenarkan tidur anaknya.
"Kamu ini Bian, selalu saja bengini. Inara gak ada disini nak. Semoga kalian berdua berjodoh ya sayang, tidur ya " setelah mengusap kepala Bian, mamihnya segera pergi untuk kekamarnya kasian suaminya sendirian.
***
Pagi ini Inara memasak, untuk keluarganya dan juga untuk Bian. Ya semoga saja diterima. Dia hanya ingin membuat Bian memaafkannya saja. Tak lebih hanya ingin itu saja tak ada maksud apa-apa.
Inara segera menyiapkan semua masakannya yang sudah matang dan tak lupa sudah membuatkan bekal untuk Bian. Tak lama turum Iva dan juga Adam.
Mereka berdua segera bergabung dengan Inara bersama-sama sarapan. Awalnya hanya hening saja tapi Adam tiba-tiba bertanya pada Inara dengan wajah yang menyebalkan.
__ADS_1
"Semalam kau menemui siapa Inara. Sampai masuk mobil kau selingkuh " tanya Adam sambil memelototkan matanya.
Ternyata semalam yang ada diatas itu adalah Adam, dia memantau setiap gerik -gerik yang dilakukan oleh Inara.
"Bukan urusanmu " Inara segera bangkit baru juga beberapa langkah Adam sudah mencekal tangan Inara dengan erat.
"Kau berani selingkuh dari ku Nara"
"Dengan sekuat tenanga Nara segera melepaskan cekalan Adam "Kau saja selingkuh lalu kenapa aku tak boleh selingkuh. Dasar laki-laki licik maunya kau saja yang enak. memangnya aku gak bisa kaya kamu " lawan Nara
"Kurang ajar kau , mulai berani denganku "sambil melayangkan tamparannya kepada Inara. Namun Inara kali ini melawannya dan menangkap tangan itu. Lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Aku bukan boneka yang akan terus diam saat kau akan berbuat kasar padaku, aku ini manusia yang mempunyai batas kesabaran. Kau jangan main-main denganku mas. Orang seperti ku yang selalu diam bisa menjadi buas bila disakiti terus menerus" setelah mengatakan itu Nara segera pergi meninggakan Adam yang menatapnya tak suka.
"Kau pasti yang sudah mengajarkan Inara kan. Inara tak seperti dulu" bentak Adam.
"Tak perlu aku mengajarkan Inara. Mana ada wanita yang mau disakiti seumur hidupnya oleh laki-laki brengsek seperti mu. Bagus sekali Inara sekarang melawanmu tak tinggal diam seperti dulu. Sekarang dan dulu itu beda Dam beda. kau jangan menyama nyamakannya "
Adam yang kesal segera mendorong Iva namun untungnya tak lama dari itu Inara menangkapnya. Inara tadi keluar kamar lagi karena bekalnya ketinggalan saat melihat Iva di dorong dengan refleks dirinya berlari dan menangkap Iva.
"Apa kau gila mas, Iva sedang hamil kau malah mendorongnya otakmu dimana hah. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Iva dan anaknya. Apa kau akan bertanggung jawab. Atau akan berlari dengan selingkuhan barumu " marah Nara sambil membantu Iva untuk duduk kembali.
__ADS_1
Adam sama sekali tak menjawab perkataan Inara, hanya menatapnya dengan kemarahan yang akan meledak dengan besar seperti gunung meletus.
Nara segera maju kehadapan Adam dengan wajah garangnya "kau tau aku salah selama ini selalu diam saat kau sakiti, aku kira kau akan berubah ternyata tidak. Kau memang laki-laki yang tak pantas untuk dipertahankan. Sungguh bodoh aku dulu mencintaimu menerimamu sebagai suamiku andai saja waktu bisa berputar kemasa lalu aku pasti akan menolakmu mentah-mentah. Bahkan mungkin aku akan menendangku "
"Nara,kau ini belajar dari siapa, untuk melawanku. Seorang istri tak pantas berprilaku seperti ini pada suaminya. " marah Adam.
"Apa aku tak boleh melawanmu, enak sekali berbicara seperti itu. Coba kau sekolahkan lagi mulutmu itu agar kembali waras. Bagaimana aku akan berkata baik padamu jika kau sendiri padaku kasar. Kau imamku jadi aku akan mengikuti apa yang dilakukan oleh imamku. Sekarang apa kau ingin kasar lagi dengaku ingin main tangan lagi silahkan aku akan melaporkanmu atas tindakan mu padaku"
Adam yang tak mau sampai dilaporkan segera pergi meninggalkan kedua istrinya yang sekarang malah makin berani padanya. Sialan mereka menjadi bumerang untuknya. Kenapa dirinya menjadi takut dengan ancaman Inara. Seharusnya dilawan saja.
Dibelakang Inara Iva sedang menangis. Dirinya salah telah menyakiti Inara dahulu. Inara yang mendengar isak tangis dari Iva segera membalikan badannya lalu berjongkok dan menatap Iva sambil terseyum.
"Kau kenapa menangis, apa ada yang sakit. Apa perutmu terbentur sesuatu ayo katakan padamu. Kalau tidak langsung kerumah sakit saja ya " tanya Nara sambil mengusap berut besar Iva.
"Tidak Nara tak ada yang sakit, aku hanya malu padamu, saat aku kesusahan seperti tadi kau menolongku sedangkan dulu aku hanya diam dan malah memojokan mu saja maafkan aku. Aku sangat menyesal telah melakukan semua hal ini padamu. Seharusnya aku tak begitu padamu. Aku sangat besar padamu "
"Gapapa Va, aku tulus kok bantuin kamu. Gak usah minta maaf mungkin ini udah jalan hidupnya aku. Kamu sekarang fokus aja buat kelahiran anak kamu yang sebentar lagi akan lahir kan. Jangan banyak fikiran. Ucapan Adam jangan dimasukan kedalam hati ya Va. Nanti kalau ada apa-apa kamu bilang sama aku ya?"
"Iya tapi aku makin menyesal saat melihat sikapmu padaku yang baik sedangkan aku sebaliknya Nara "
"Sudah jangan difikirkan sekarang kamu istirahat ya, jangan kecapean kasian dede bayinya. Kalau kamu memang menyesal jangan lakuin hal seperti ini lagi pada wanita-wanita lain Va, cukup padaku saja. Nanti kamu selalu lindungin anak kamu ya jangan kamu sia-siakan, banyak yang ingin mempunyai anak namun karena allah belum memberikannya harus menunggu dengan lama sama seperti aku yang tak kunjung diberi kepercayaan oleh allah"
__ADS_1
Iva segera mengangguk lalu berdiri dan memeluk Inara dengan etat, menangis dibahu Inara. Menumpahkan semua penyesalannya pada Inara. Sungguh dirinya sangat sangat menyesal. Andai waktu diulang dirinya tak akan mau.
Adam yang bodoh telah membuang berlian dan menyia-nyiakannya begitu saja. Padahal seharusnya Adam beruntung bisa mendapatkan Inara yang baik hati serta parasnya yang cantik ini. Untuk urusan anak seharusnga kan bisa mengadopsi terlebih dahulu.