
Livia sudah ada didalam kedung tua itu, membawa beebrapa makanan yang tadi dia dapatkan, masuk kedalam satu ruangan yang menurutnya lebih bersih dari yang lainnya.
"Sampai kapan gue ada disini, sampai kapan coba, gue harus keluar dari sini dan gak diam disini terus menerus, masa iya harus oprasi pelastik gak mungkin kan "
Livia segera mengambil apelnya dan memakannya lagi, dan untuk minumnya dia meminum air dari sungai tadi.
"Hidup gue jadi sengsara kayak gini sih, seharusnya gue gak kayak gini, kenapa sih jadi gini terus gimana harta gue dan perusahaan gue, gimana ya gak akan bangkrut kan, pokoknya janagn samapi deh ah "
Livia mencari sebuah alas dan segera berbaring disana, menatao langit langit yang bolong "kesalahan terbesar gue adalah lukain Inara gue salah orang, gue malah jadi berurusan dengan kakaknya yang punya anak buah yang banyak banget. "
"Udah lah tidur dulu aja gue, dari pada mikirin itu cape ah dikejar kejar kayak gini tuh cape cape cape."
**
"Bi ini punya kamu "
"Eh kenapa, apa ini "
"Bukannya lo pesen makanan ya, tadi kasian gojek cari cari ruangan ini, makannya gue tanya ternyata buat lo "
"Yaudah yu kita makan "
"Gak ah gue udah kok tadi sebelum kesini "
"Yang lain dimana "
"Masih disana, ayo ngobrolnya disana Bi takutnya Nara malah bangun dan denger perkataan kita "
__ADS_1
"Yaudah ayo "
Abian segera membuka makanannya dan segera melahapnya "lo beneran gak mau "
"Engga lo aja, gue udah maakan lo tenang aja"
"Ok deh "
Abian segera melahap makananya , karena memang dirinya sangat lapar sekali, perutnya belum di isi dari tadi pagi, dirinya sangat khawatir dengan keadaan sang kekasih.
**
Sedangkan orang yang dari tadi mengintip segera kembali lagi kekamar inapnya "Gimana kamu berhasil "
Adam menutup pintunya lagi dan mengelengkan kepalanya " aku sama sekali gak berhasil aku kalah aku kembali kalau dan melihat Nara baik-baik saja bersama calon suaminya. Bagaimana ini Bu .Dia dijaga dengan ketat . Aku tidak akan pernah bisa masuk ke dalam kamarnya kalau begini caranya"
"Kamu yang sabar nanti juga ada waktunya dia ditinggalin sendiri, ya udah yang terpenting kamu udah lihat kan kondisinya gimana dia sehat-sehat aja atau gimana gitu. Beneran udah sadar perempuan itu, kenapa cepat juga ya kesembuhannya udah sadar aja dia, kamu harus membuat mentalnya itu tuh down "
"Hemm jadi kesel ya ibu "
Ibu Adam segera menyalkan Tv dan ternyata berita tentang burunan Livai dia dicari "Lihat Livia jadi buronan udah ibu bilangkan dia tidak akan pernah kemari dan membawa-bawa ibu, dia yang ada kabur kan sekarang jadi buronan sudah dicari orang polisi dicari juga oleh anak buah Ana hebat kan ibu bisa menjebak dia"
"Iya ibu hebat, lalu untuk hartanya bagaimana bu, pasti dia meninggalkan perusahaannya dan juga uangnya, apakah Adam harus mengambil alih saja "
"Ide yang bagus, boleh kamu ambil alih saja kantor kantor Livia, dari pada bangkrut kan lebih baik kamu yang mengurusnya dan kita lebih baik pindah kerumahnya yang besar ,gimana gimana kamu setuju gak kalau gitu "
"Ayo bu Adam juga udah kangen diem dirumah mewah, entah kapan kan dia akan balik, dia juga pasti akan kabur kaburan terus, kalau gak kabur dia akan mendekam dipenjara kenapa engga kita aja yang miliki semua milik Livia "
__ADS_1
"Setelah kamu sembuh kita pindah kesana Dam ibu sudah sangat tak sabar dan ingin sekali menempatinya, pasti akan nyaman sekali dilayani kembali dan juga tidur di tempat tidur yang lebih empuk "
"Tapi bu kita harus mencari ayah, aku tak mau kalau ayah malah luntang lantung tak karuan seperti itu, kita cari ayah ya bu, aku gak mau hidup senang tapi ayah gak menikmatinya "
"Kenapa sih kamu Dam masih mikirin kakek tua itu udahlah biarin aja dia sendiri luntang lantung, salah siapa fia gak mau hidup sama kita, dikasih yang nyaman malah nolak, nanti juga kalau udah cape kerja dia akan balik lagi, udah kamu gak usah hirauin dia ya biarin aja "
"Bu tatap saja dia adalah ayahku, aku akan mencari ayah meski ibu tak mau aku tak masalah , Adam swndiri yang akan mencarinya kalau ibu tak mau membantu mencari ayah, apa iby tak aksian demgan ayah hidup sendirian tanpa kita keluarganya, dia hanya punya kita bu"
"Ya salah dia sendirikan ibu udah kasian sama dia, tadi dianya gak kasian sama dirinya sendiri "
"Harusnya ibu membujuk ayah, karena semua uang ayah harta ayah habis karena mengeluarkan ibu dari dalam penjara , kalau ayah tak mengeluarkan ibu mungkin ibu sekarang masih dalam penjara "
"Iya iya ibu tau, ibu tau yaudah kita nanti cari ayah, kita cari dia ok ibu akan ikut cari aja, udah kamu tidur aja sana jangan ngoceh terus nanti kamu makin lama disininya "
Adam segera membaringkan badannya dan menatap langit langit dirinya iri pada Inara karena dia sudah mendapatkan pasangan lagi, sedangkan dirinya sama sekali tak punya.
Inara memiliki kakak yang kayak, dia ketemu dengan keluarganya yang sebenarnya dan sekarang kakaknya sangat berkuasa, ditambah lagi laki laki yang bersam Inara adalah pengusaha besar juga, yang dulu pernah jadi atasannya sendiri.
Kenapa keberuntungan mendatanginya terus, namun dirinya sama sekali tak mendapatkan itu, hanya musibah saja yang dirinya dapatkan ,kenapa sih kenapa menyebalkan sekali
"Adam kenapa kamu malah melamun, melamun kan apa kamu sebenarnya "
"Aku hanya sedang iri pada Inara ,dia mempunyai segalanya setelah bercerai dengan Adam, bahkan dia bisa mempunyai anak berarti surat yang Iva beri benar kalau adam itu mandul, bukan Inara yang mandul"
"Hey dikeluarga kita tak ada yang mandul, kau sama sekali tak mandul itu dokter yang salah, mungkin kalian tak dirstui mempunyai anak, namun ibu yakin kamu setelah menikah dengan wanita yang tepat kamu pasti akan mempuyai keturunan dan memberikan ibu cucu, kamu harus yakin itu "
"Mungkin mana mungkin salah bu aku menikah dengan Inara sudah 5 tahun, masa iya selama itu aku tak punya, sedangkan mereka baru saja pacaran namun tak lama kemudian Inara bisa hamil "
__ADS_1
"Ya tetep aja mereka punya anak tapi tapi hasil Zina, mereka melakuakn Zina kamu tidak usah syirik nanti juga kamu juga bakal punya yakin deh sama ibu, kamu harus yakin pokoknya "
Adam hanya mengangguk dan membelakangi sang ibu